Ciuman Pertamaku

Ciuman Pertamaku
Episode - 15.


__ADS_3

Episode Sebelumnya..


Tapi, mau tidak mau ia harus menghampiri sahabatnya itu. Meskipun ia harus meninggalkan sahabatnya di sini sendirian. Tapi, gadis itu juga tidak membawa mobil. Dengan perasaan jengkel terhadap sahabatnya itu, ia harus menahannya. Dan melanjutkan langkahnya ke arah ketiga orang yang berada di kursi tersebut dengan satu laki-laki yang memakai Hoodie hitam sedang membelakanginya. Alhasil, gadis itu tidak dapat melihat wajah laki-laki itu.


"Oh, jadi kamu temannya Devina?" tanya Rudy saat gadis itu sudah berada di depannya sembari menyodorkan tangannya untuk berkenalan.


Tamara yang melihat laki-laki itu menyodorkan tangannya. Dengan berat hati ia pun membalas sambutan tangan laki-laki itu. "Iya, aku sahabatnya Devina."


Devina yang melihat ke arah Tamara hanya menampilkan gigi nya dengan kedua tangannya yang menangkup di depan dadanya. Seakan mengatakan bahwa ia meminta maaf atas dirinya yang sudah membohonginya.


"Oh, iya silahkan duduk." ucap Rudy kemudian dan mempersilahkan gadis itu untuk duduk. Dan di saat bersamaan dengan itu, saat Tamara hendak duduk. Laki-laki yang membelakanginya tadi mendongakkan kepalanya sehingga kedua mata keduanya saling bertatapan dan..


DEG!!!!


...****...


"Kamu...," ucap Dimas dan Tamara serentak. Mereka berdua nampak membulatkan matanya saat melihat keduanya bertemu di kafe itu.


Devina dan juga Rudy yang melihat keduanya saling membulatkan mata. Membuat Devina dan Rudy saling bertatapan satu sama lain, mempertanyakan apakah mereka saling mengenal? Namun, keduanya pun hanya mengangkat kedua bahunya bersamaan.


"Kalian saling kenal ya?" tanya Rudy setelah beberapa saat mereka tetap dengan posisinya.


"Tidak!!!" ucap Dimas dan Tamara bersamaan. Dan itu membuat, kedua sahabatnya yang mendengar perkataan mereka berdua pun langsung kembali saling bertatapan.

__ADS_1


Rudy kemudian, mendekatkan wajahnya pada Devina yang masih melihat ke arah sahabatnya yang masih berdiri di tempatnya. Kemudian, gadis itu pun menolehkan kepalanya saat Rudy mendekatkan wajahnya ke arahnya.


"Sini deh," bisik Rudy kepada Devina. Laki-laki itu menyuruh gadis itu untuk mendekatkan telinganya. Dan Devina pun hanya mengangguk kecil dan langsung mendekatkan telinganya ke arah laki-laki itu.


"Ada apa?" tanya Devina dengan berbisik. Agar suaranya tidak terdengar oleh kedua orang yang ada di depannya.


Rudy pun mulai mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu dan mulai membisikkan sesuatu kepada gadis itu. "Sepertinya, mereka berdua saling kenal deh! Kamu lihat kan, kalau mereka berdua nampak terkejut saat mereka saling pandang."


Devina pun hanya mengangguk menyetujui perkataan laki-laki itu. Karena Devina juga nampak merasa ada yang aneh dengan tatapan sahabatnya yang sedang menatap laki-laki di sampingnya itu. Dan begitu juga dengan tatapan laki-laki itu kepada sang sahabat.


'Eh, tunggu dulu! Dari arah pandang Tamara yang melihat laki-laki ini. Sepertinya, seperti sedang menahan amarah? Jika benar begitu, Tamara marah karena apa?' batin Devina mulai memikirkan perihal sang sahabat kemarin sedang mengalami masalah.


'Ah, benar! Jangan-jangan laki-laki di depanku ini adalah orang yang membuat Tamara..' gumam Devina kemudian. Dan gadis itu langsung bangkit dari tempatnya dan segera menghampiri Tamara yang masih mematung di tempatnya.


"Eh, tunggu! Kalian mau kemana? Kok langsung mau pergi begitu saja? Ada apa?" tanya Rudy yang melihat kedua gadis itu hendak pergi dari sana. Sedangkan, Dimas yang masih di tempat duduknya hanya diam tanpa mengucapkan apapun.


Devina melepaskan tangannya dari lengan Tamara. Dan langsung menghampiri Rudy. "Mulai sekarang anggap saja kita tidak pernah bertemu dan saling kenal lagi."


Rudy yang mendengar itu hanya mengernyitkan dahinya bingung. "Loh! Memangnya kenapa? Ada apa Dev?"


"Kamu tanyakan saja pada sahabat kamu ini," ucap Devina dengan tatapan datarnya. Sembari menunjuk ke arah laki-laki yang sedang duduk di kursinya dengan kepala menunduk.


Rudy hanya melirik ke arah sahabatnya dan bersuara. "Dimas?"

__ADS_1


Namun, gadis itu langsung pergi dari hadapannya dengan menarik tangan sang sahabat keluar dari kafe itu. Dan segera masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi meninggalkan pekarangan kafe itu.


Rudy yang sudah memanggil gadis itu namun tak dihiraukannya membuat laki-laki itu mengusap wajahnya dengan gusar. Lalu laki-laki itu menatap ke arah sahabatnya. "Dim.. sebenarnya ada apa sih? Kamu kenal sama gadis itu?"


Dimas hanya diam tak menjawab pertanyaan Rudy yang sudah duduk di kursinya. Kemudian Rudy menggoyang-goyangkan tangan sahabatnya agar pertanyaannya di jawab oleh laki-laki itu.


Namun, sepertinya laki-laki tetap mengabaikan pertanyaan tersebut dan hal itu membuat Rudy harus menghembuskan nafasnya dengan kasar. Laki-laki itu mendekatkan dirinya pada sang sahabat.


"Apakah, kamu tidak akan mengatakan sesuatu kepada Dim?" ucap Rudy dengan mencoba menahan diri untuk tidak marah kepada sahabatnya itu.


"Dimas jawab aku sekarang!" ucap Rudy mulai geram terhadap sahabatnya itu.


"DIMAS!" Rudy sudah kesal dan langsung menggebrak meja di depannya itu. Tidak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitarnya.


.


.


.


...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....


...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...

__ADS_1


__ADS_2