Ciuman Pertamaku

Ciuman Pertamaku
Episode - 06.


__ADS_3

Episode Sebelumnya..


Flashback On..


Tamara menarik tengkuk leher laki-laki itu saat keduanya sedang berciuman dengan sangat lama. Sehingga beberapa saat, gadis itu mendorong tubuh Dimas. Sehingga ciuman keduanya terlepas.


"Bibir kamu boleh juga," ucap gadis itu dengan nafas yang terengah-engah akibat ciuman mereka berdua.


"Karena semua orang itu sama saja.. sama-sama jahat!" ucap gadis itu lagi dan membuat Dimas yang melihatnya menatapnya dengan bingung.


'Apa yang dia katakan? Siapa yang di bilangnya jahat? Aku kah? Bukankah, dia yang sudah menciumiku lebih dulu.' gumam Dimas dalam hatinya.


Kemudian, laki-laki itu menepuk-nepuk pundak gadis itu. "Hei!! Kamu tinggal di mana, biar aku antarkan kamu pulang."


Tidak ada jawaban dari gadis itu. Sehingga membuatnya kembali menepuk kembali pundak gadis itu. "Hei! Kamu tinggal di mana? Biar aku antarkan pulang."


"...."


Karena tidak mendapatkan respon dari gadis itu. Dimas pun mendekatkan dirinya dan mengambil rambut yang menutupi wajah gadis itu ke belakang. Dan rupanya gadis itu sudah tertidur.


"Rupanya dia tidur. Patut saja aku tanya dia hanya diam saja." ucap Dimas sembari geleng-geleng kepala. Namun, saat laki-laki itu menatap dengan seksama wajah gadis itu. Keluar air mata yang mengalir ke pipinya. Dimas yang melihat itu langsung mengusap air mata itu.


"Dia sebenarnya kenapa?" gumamnya.


Sehingga laki-laki itu mau tidak mau membawanya pulang ke rumahnya. Dan membantunya untuk tidur di tempat tidurnya. Dimas juga menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimutnya, kemudian laki-laki itu masuk ke dalam kamar mandinya.


Flashback Off..


Dimas menghela nafasnya dengan berat saat mengingat semalam itu. Ia juga belum sempat menanyakan siapa nama gadis itu. Namun, gadis itu malah pergi tanpa secarik kertas pun.


"Sudahlah, Dimas. Apa yang kamu pikirkan." ucap laki-laki itu pada dirinya sendiri.


... ****...


Tamara menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Apa yang di pikirkan nya selalu terbersit di benak gadis itu tentang kejadian semalam.


"Hagh.. kenapa aku jadi seperti, tinggal oleh kedua orang tua ku saja sudah cukup membuatku merasakan bagaimana rasanya terluka yang dalam. Dan sekarang... kenapa harus terjadi kepada ku." ucap Tamara dengan terus menatap langit-langit kamarnya dengan air mata yang menetes.


Sekarang hidupnya sudah hancur. Karena semua yang terjadi kepadanya membuatnya sudah tidak punya harapan lagi untuk masa depannya. "Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Semuanya telah hancur. Hiks!!"


Dimas pun telah keluar dari kamar mandinya dan sudah siap untuk turun ke bawah menghampiri sang bibi yang sudah menyiapkannya sarapan pagi untuknya di bawah. Dimas pun langsung keluar dari kamarnya dan segera turun menuju ke arah meja makan.


"Bibi...," sapa Dimas pada ART-nya itu. Lalu, duduk di kursi sembari meraih sepiring nasi goreng yang telah bibinya sudah siapkan tadi.

__ADS_1


"Bibi Darma.. bibi sudah sarapan belum?" tanya Dimas kepada sang bibi yang sedang memotongkan buah apel untuk majikannya itu.


"Bibi nanti saja den. Lagipula, bibi tidak biasa sarpras pagi," ucap bibi Darma sembari meletakkan piring yang sudah berisikan beberapa potong apel itu di depan sang majikan.


Dimas yang sambil menyuapkan sesendok nasi goreng pun langsung bangkit dari duduknya dan mengambil dua lembar roti dengan polesan selai stroberi diatasnya. Lalu, diletakkan kembali roti lagi diatasnya. Lalu, menyerahkannya kepada sang bibi roti tersebut.


"Den Dimas tidak usah! Saya bisa ambil sendiri nanti," ucap bibi Darma sembari menggelengkan kepalanya. Tapi bukan Dimas namanya jika tidak bisa membujuk bibi Darma untuk memakannya.


"Bibi Darma harus sarapan! Aku mau bibi menemani Dimas buat sarapan, aku sudah bosen bibi jika harus sarapan sendirian." ucap Dimas sembari memberikan roti tersebut kepada wanita paruh baya itu dan menyuruhnya untuk duduk di dekatnya.


"Ta-tapi den...,"


"Sudah jangan bibi Darma duduk saja di sini bareng sama Dimas. Biar aku ada temannya buat sarapan. Ayo bibi kita sarapan." ucap laki-laki itu sembari melihat ke arah sang bibi untuk segera memakan roti buatannya itu.


Bibi Darma pun mau tak mau harus memakan roti tersebut atas perintah sang majikannya juga. Ia langsung langsung memakannya dengan Dimas yang terus melihatnya hanya untuk memastikan rotinya di makan.


"Enak den." ucap bibi Darma setelah memakannya. Kemudian, dengan lahap wanita paruh baya itu memakannya kembali sembari tersenyum kepada anak majikannya itu.


"Enak, kan? Bibi Darma mah gak pernah percaya sama aku," ucap Dimas dan dirinya juga menyendok makanannya ke dalam mulutnya.


"Bibi...," panggil laki-laki itu saat beberapa saat kemudian.


Bibi Darma yang di panggil oleh majikannya pun menoleh ke arahnya. "Iya, den? Den Dimas mau yang bibi buatkan lagi?"


Dimas menggeleng. "Tidak! Aku hanya ingin jika saat pagi, bibi Darma kalau masak jangan masak hanya buat aku saja ya. Tapi bibi masak lebih supaya bibi juga bisa sarapan dan makan bareng sama Dimas di sini."


"Selama papa dan mama gak ada di sini. Bibi Darma temani Dimas ya setiap kali mau makan? Dimas kesepian bibi jika harus makan setiap hari sendirian di sini," ucap Dimas dengan wajah yang terlihat murung.


"Den.. bibi akan menemani den Dimas." ucap sang bibi karena wanita itu tidak tega jika melihat anak majikannya terlihat sedih setiap kali mengingat kedua orang tuanya yang sering tidak pernah ada di rumah karena sebuah pekerjaan yang mengharuskan keduanya harus bolak-balik ke luar negeri.


"Makasih bibi Darma," ucap Dimas dengan tersenyum kecil.


Ting Tong! Ting Tong!


Dimas dan bibi Darma yang mendengar suara bel pintu berbunyi langsung membalikkan badannya melihat ke arah pintu utamanya. Bibi Darma yang mendengar itu langsung bangkit dari tempatnya dan berlari kecil menuju ke arah pintu untuk membukakan pintu tersebut.


Setelah pintu tersebut di buka. Terlihat lah seorang laki-laki yang tak kalah tampan dengan sang majikan tengah tersenyum manis kepada bibi Darma.


"Selamat pagi bibi Darma," sapa laki-laki itu saat pintu itu telah terbuka.


"Selamat pagi den Rudy. Mau ketemu sama den Dimas ya?" ucap bibi Darma saat tau siapa yang datang ke rumah majikannya itu.


"Iya, dong. Masak Rudy mau ketemuan sama bibi Darma," ucap laki-laki itu dengan kekonyolannya.

__ADS_1


"Hehehe, den Rudy bisa aja. Oh, iya silahkan masuk den. Den Dimas ada di ruang makan lagi sarapan," ucap bibi Darma mempersilahkan laki-laki itu untuk masuk ke dalam.


Dengan senang hati pun laki-laki itu langsung masuk ke dalam rumah itu dan menuju ke arah di mana orang yang dicarinya itu di ruang makan. Dan benar adanya. Laki-laki itu sedang asyik memakan nasi gorengnya dengan lahap.


"Hei bro! Pelan-pelan saja makannya, aku gak bakal ambil kok!" ucap Rudy menggoda sahabatnya itu.


"Apaan sih, lagian siapa juga yang mau nawarin kamu buat makan." ucap Dimas tanpa melihat ke arah sahabatnya yang sudah memasang wajah cemberutnya.


"Huh dasar kecombrang!" ucap Rudy dengan kesal. Lalu, laki-laki itu pun duduk di depan sahabatnya yang lagi sarapan itu. Kemudian, terlihat bibi Darma berjalan ke arah dapur, namun Dimas mencegatnya dengan menyuruhnya kembali ke meja itu.


"Nggak apa-apa bibi. Bibi Darma ga usah malu sama aku, aku juga sudah sarapan kok sebelum berangkat ke sini." ucap Rudy saat melihat wanita yang merawat sahabatnya dari kecil itu merasa tidak enak saat makan di meja di sana.


"Semalam pulang jam berapa kamu?" tanya Dimas saat laki-laki itu sudah menyelesaikan sarapannya.


"Tidak lama setelah kamu pulang itu." ucap Rudy dengan menyenderkan tubuhnya di belakang kursi itu.


"Kok cepat! Biasanya kamu pulangnya harus di seret dulu baru mau pulang." ucap Dimas dengan menyipitkan matanya heran karena sahabatnya yang ada di depannya itu tidak akan pulang secepat itu.


"Semalam itu aku bertemu sama seorang gadis yang lagi cari-cari sahabatnya." ucap Rudy sembari meminum air putih yang ada di depannya.


"Terus?" tanya Dimas penasaran.


"Terus.. ya aku antar pulang." ucap Rudy singkat.


Dimas yang mendengarkan perkataan sahabatnya itu nampak mengernyitkan dahinya tak percaya. Rudy yang tau bahwa sahabatnya tak mempercayainya itu langsung menggelengkan kepalanya.


"Semalam itu ada cewek lagi cari sahabatnya yang katanya ada di sana. Tapi di cari-cari sahabatnya itu gak ada, dan saat aku melihatnya kaya orang gelisah. Aku melihat dari seberang kirinya tuh ada orang yang kaya ingin menggoda nya. Jadi daripada dia kenapa-kenapa, aku langsung samperin dan mengajaknya keluar dari klub itu. Sehingga ya.. aku akhirnya mengantarkan gadis itu ke rumahnya. Ya walaupun awalnya nyusahin." ucap Rudy panjang lebar sembari mengerucutkan bibirnya saat di kalimat terakhirnya.


"Terus?"


"Terus! Terus! Pala lu terus mulu!! Ya ceritanya cuma segitu doang, lu maunya aku cerita kaya gimana." ucap Rudy dengan kesalnya.


"Iyah. Takut aja kamu nganterin dia pulang. Tau-tau nya di bawa ke hotel." ucap Dimas menggoda sang sahabat.


Rudy yang kesal pun langsung melemparkan sendok makan yang ada di depannya itu ke arah sang sahabat. "Gila lu!! Gini-gini aku masih punya hati ya."


Dimas pun langsung tertawa terbahak-bahak karena sudah membuat sahabatnya terlihat kesal. "Kampret!"


.


.


.

__ADS_1


...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....


... Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...


__ADS_2