
Episode Sebelumnya..
"Mulai sekarang anggap saja kita tidak pernah bertemu dan saling kenal lagi."
Rudy yang mendengar itu hanya mengernyitkan dahinya bingung. "Loh! Memangnya kenapa? Ada apa Dev?"
"Kamu tanyakan saja pada sahabat kamu ini," ucap Devina dengan tatapan datarnya. Sembari menunjuk ke arah laki-laki yang sedang duduk di kursinya dengan kepala menunduk.
Rudy hanya melirik ke arah sahabatnya dan bersuara. "Dimas?"
Namun, gadis itu langsung pergi dari hadapannya dengan menarik tangan sang sahabat keluar dari kafe itu. Dan segera masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi meninggalkan pekarangan kafe itu.
Rudy yang sudah memanggil gadis itu namun tak dihiraukannya membuat laki-laki itu mengusap wajahnya dengan gusar. Lalu laki-laki itu menatap ke arah sahabatnya. "Dim.. sebenarnya ada apa sih? Kamu kenal sama gadis itu?"
Dimas hanya diam tak menjawab pertanyaan Rudy yang sudah duduk di kursinya. Kemudian Rudy menggoyang-goyangkan tangan sahabatnya agar pertanyaannya di jawab oleh laki-laki itu.
Namun, sepertinya laki-laki tetap mengabaikan pertanyaan tersebut dan hal itu membuat Rudy harus menghembuskan nafasnya dengan kasar. Laki-laki itu mendekatkan dirinya pada sang sahabat.
"Apakah, kamu tidak akan mengatakan sesuatu kepada Dim?" ucap Rudy dengan mencoba menahan diri untuk tidak marah kepada sahabatnya itu.
"Dimas jawab aku sekarang!" ucap Rudy mulai geram terhadap sahabatnya itu.
"DIMAS!" Rudy sudah kesal dan langsung menggebrak meja di depannya itu. Tidak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitarnya.
...****...
Karena sang sahabat mulai kesal karenanya. Dimas pun mendongakkan kepalanya menatap ke arah Rudy yang sudah terlihat begitu kesal kepadanya. "Lalu, apa yang harus aku katakan kepada kamu?"
"Hais! Sebenarnya kalian itu kenal atau tidak? Itu saja pertanyaan ku padamu Dimas." ucap Rudy dengan suara sedikit keras. Sehingga suaranya terdengar di seluruh sudut ruangan itu.
__ADS_1
"Ada apa ini?" ucap gadis yang baru saja keluar dari arah dapurnya.
"Rudy! Dimas! Ada apa?" tanya gadis itu yang merupakan Alexa temannya.
Rudy yang melihat gadis itu pun langsung pergi ke tempat itu meninggalkan sang sahabat dengan gadis itu. Tentu saja hal itu membuat gadis itu menjadi semakin bingung dengan kedua temannya itu.
Kemudian gadis itu pun langsung menepuk pundak Dimas dan langsung memilih untuk duduk di hadapannya. "Dimas. Kalian kenapa? Kalian lagi ada masalah?"
Dimas yang masih dengan posisinya menatap wajah gadis itu dengan senyuman kecil. Kemudian, laki-laki itu pun bangkit dari tempat duduknya dan menepuk pundak gadis itu. "Aku pulang dulu."
"Dimas," ucap Alexa dengan wajah yang sedikit terlihat sedih itu menahan tangan lagi itu. "Aku mohon. Tolong jangan bertengkar lagi seperti dulu ya. Aku benar-benar tidak ingin kalian seperti dulu lagi."
Dimas dengan tangannya yang masih bertengger di puncak gadis itu hanya menganggukkan kepalanya. "Iya, aku sama Rudy tidak akan begitu kok. Lagian ini hanya hal sepele. Jadi... kamu jangan khawatir ya."
Alexa pun hanya mengangguk kecil seakan mengatakan bahwa dirinya tidak akan khawatir kepada kedua temannya itu. "Yaudah! Tapi kamu janji ya, akan menyelesaikan permasalahan kalian."
Dimas pun mengangguk. "Iya, aku janji."
Dimas pun pergi meninggalkan gadis itu sendirian. Kemudian, Dimas mencari taksi untuk pulang. Dan tidak butuh waktu yang lama taksi pun datang dan membawa laki-laki itu pergi dari sana.
Sedangkan di sisi lain. Devina dan Tamara pun telah sampai di depan rumah Tamara. Mereka berdua masuk dengan Devina yang tidak melepaskan tangannya dari lengan Tamara.
"Loh! Non Tamara, non Devina? Kok cepat sekali?" tanya bibi Darma saat wanita paruh baya itu ketika melihat sang majikan dan sahabatnya itu sudah berada di sana hendak naik menuju kamar majikannya itu.
"Iya, bibi Darma. Kami sudah kembali," ucap Devina dengan tersenyum ke arah wanita paruh baya itu.
"Kita naik dulu ya bibi." kali ini suara Tamara yang menyahut.
Bibi Darma yang mendengar perkataan majikannya itu hanya menganggukkan kepalanya. "Iya non silahkan."
__ADS_1
Keduanya pun akhirnya naik menuju ke arah kamar gadis itu. Dan segera menutup pintu kamar tersebut saat keduanya sudah masuk ke dalam kamar.
Devina langsung melepaskan tangannya dan segera mendekatkan dirinya pada sang sahabat dengan perasaan jengkel. "Tam.. sekarang kamu katakan sama aku siapa laki-laki yang sudah membuatmu kacau kemarin?"
"Laki-laki itu kah?" tanya Devina lagi.
Tamara masih diam tidak menjawab pertanyaan sahabatnya yang sudah menunggu jawabannya. Namun, gadis itu seperti enggan untuk mengatakannya. Devina yang memang memiliki kesabaran setipis tissue itu langsung menggenggam kedua bahu Tamara dengan sangat erat. Dan itu membuat gadis itu meringis menahan sakit.
"Jadi benar! Kalau laki-laki itu yang sudah-"
"Itu benar!" ucap Tamara dengan cepat. Gadis itu kini sudah meneteskan air matanya dan menatap sahabatnya dengan air mata yang mengalir ke pipinya. "Itu benar! Laki-laki itu yang aku temui di klub dan laki-laki itu juga yang membawaku ke rumah itu."
Devina yang mendengar penuturan sahabatnya itu hanya menganga tak percaya. Namun, sesaat kemudian Devina langsung memeluk tubuh sang sahabat yang kini sudah menundukkan kepalanya dengan deraian air mata.
"Maafkan aku Tam. Maafkan aku." ucap Devina dengan memeluk erat tubuh sang sahabat. Tamara pun terlihat membalas pelukan tersebut dengan tak kalah eratnya.
"Hiks!" isak Tamara terdengar di telinga Devina yang memeluknya. Gadis itu juga ingin ikut menangis, tapi di satu sisi dirinya harus menguatkan hati sahabatnya yang kini sudah terluka kembali karena ingatannya tentang kemarin diingatnya lagi.
"Kamu jangan khawatir ya Tam. Ada aku di sini yang akan tetap menemani kamu di segala apapun yang terjadi. Aku akan tetap menemanimu." ucap Devina mencoba menenangkan sang sahabat yang kini sudah terlihat rapuh itu.
"Terimakasih Dev. Kamu memang sahabat terbaikku. Terimakasih." ucap Tamara dengan suara parau-nya akibat tangisnya itu.
Devina pun hanya mengangguk dan terus mempererat pelukannya agar sahabatnya bisa lebih tenang di dalam pelukannya. Karena gadis itu ingin berguna untuk sahabatnya yang rapuh itu.
.
.
.
__ADS_1
...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....
... Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...