Ciuman Pertamaku

Ciuman Pertamaku
Episode - 08.


__ADS_3

Episode Sebelumnya..


"Terus?" tanya Dimas penasaran.


"Terus.. ya aku antar pulang." ucap Rudy singkat.


Dimas yang mendengarkan perkataan sahabatnya itu nampak mengernyitkan dahinya tak percaya. Rudy yang tau bahwa sahabatnya tak mempercayainya itu langsung menggelengkan kepalanya.


"Semalam itu ada cewek lagi cari sahabatnya yang katanya ada di sana. Tapi di cari-cari sahabatnya itu gak ada, dan saat aku melihatnya kaya orang gelisah. Aku melihat dari seberang kirinya tuh ada orang yang kaya ingin menggoda nya. Jadi daripada dia kenapa-kenapa, aku langsung samperin dan mengajaknya keluar dari klub itu. Sehingga ya.. aku akhirnya mengantarkan gadis itu ke rumahnya. Ya walaupun awalnya nyusahin." ucap Rudy panjang lebar sembari mengerucutkan bibirnya saat di kalimat terakhirnya.


"Terus?"


"Terus! Terus! Pala lu terus mulu!! Ya ceritanya cuma segitu doang, lu maunya aku cerita kaya gimana." ucap Rudy dengan kesalnya.


"Iyah. Takut aja kamu nganterin dia pulang. Tau-tau nya di bawa ke hotel." ucap Dimas menggoda sang sahabat.


Rudy yang kesal pun langsung melemparkan sendok makan yang ada di depannya itu ke arah sang sahabat. "Gila lu!! Gini-gini aku masih punya hati ya."


Dimas pun langsung tertawa terbahak-bahak karena sudah membuat sahabatnya terlihat kesal. "Kampret!"


...****...


~Hanya terpaan angin lembut yang dapat menyejukkan hati serta keringat yang membasahi tubuh yang dapat mengeringkan nya. Terpaan angin lembut juga bisa merefleksikan pikiran seseorang yang lelah akibat aktivitas sehari-hari.


"Tenanglah, sayang. Aku akan melakukannya dengan sangat pelan. Kau hanya diam dibawah tidak perlu ikut melakukannya, kau hanya perlu mengangkang lebar di bawahku." suara laki-laki yang terdengar berbisik di telinga gadis yang berada di bawahnya dengan air mata yang sudah mengalir deras.

__ADS_1


"Hiks! Aku mohon tolong lepas aku," ucap gadis itu memohon agar laki-laki yang berada di atasnya itu melepaskannya.


"Oh! Aku yang menginginkan tubuhmu yang begitu lama. Dan setelah aku mendapatkannya dengan susah payah, kau mau menyuruhku melepaskan mu. Oh! Tidak bisa sayang. Hahahahah." ucap laki-laki itu kemudian tertawa terbahak-bahak hingga memenuhi ruangan itu.


"Hiks aku mohon jangan," ucap Tamara lirih.


Laki-laki itu pun tak mendengarkan ucapan gadis itu. Laki-laki itu kemudian langsung memasukkan miliknya dengan cepat sehingga membuat gadis itu memejamkan matanya.


"TIDAK!!!!!"


"Hagh! Hagh! Astaga rupanya hanya mimpi," ucap Tamara dengan keringat yang sudah bercucuran di seluruh tubuhnya. Kemudian, gadis itu menarik nafasnya panjang dan meringkuk sembari menangis.


"Hiks! Apakah benar mimpi itu yang terjadi kepada ku kemarin. Hiks!" lirih Tamara dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya.


Drrtt! Drrtt! Drrtt!!


"Nomor tidak kenal? Siapa ya?" tanya Devina pada dirinya sendiri saat melihat nomor yang tidak dikenalnya menghubungi gadis itu.


"Angkat nggak ya," ucap gadis itu lagi. Ia nampak ragu untuk mengangkatnya namun, gadis itu juga penasaran siapa yang meneleponnya itu.


"Yaudah deh di angkat aja siapa tau penting," ucapnya kemudian. Lalu, gadis itu langsung mengangkat tombol hijau di layar ponselnya itu dan meletakkannya di telinganya.


"Halo!"


. . . . . . .

__ADS_1


"Bibi...," panggil Dimas saat laki-laki itu sedang menuruni anak tangga.


"Iya, den." sahut bibi Darma yang muncul dari arah dapur dan menghampiri sang majikan.


"Bibi nanti malam bibi tidak usah masak ya. Soalnya aku mau ke kafe bareng sama Rudy. Jadi.. bibi Darma istirahat saja di kamar." ucap Dimas sembari tersenyum kecil kepada bibi Darma.


Bibi Darma pun hanya mengangguk. "Baik, den."


"Yaudah kalau begitu aku ke atas dulu ya." pamit Dimas. Kemudian laki-laki itu kembali menaiki tangga menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri karena sebentar lagi ia akan segera ke kafe bersama dengan sahabatnya itu.


Dimas pun masuk ke dalam kamarnya dan melihat ke arah sahabatnya yang sedang tersenyum saat menatap layar ponselnya yang di pegangnya itu. Dimas pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya.


"Kamu kenapa senyam-senyum sendiri begitu?" tanya Dimas sembari menyentuh dahi sahabatnya yang masih cengengesan itu. "Kamu gak sakit kan Rud?"


Rudy yang mendengar perkataan Dimas langsung menghempaskan tangan laki-laki itu dengan tatapan jengah. "Yang sakit itu kamu bukan aku! Kampret ini orang dari tadi ngerjain aku mulu!"


"Hahahaha!" Dimas pun tertawa lepas sembari bangkit dari duduknya menuju ke arah kamar mandinya. Kemudian, laki-laki itu pun mandi dengan bersiul di bawah guyuran shower.


.


.


.


...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....

__ADS_1


...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...


__ADS_2