Ciuman Pertamaku

Ciuman Pertamaku
Episode - 09.


__ADS_3

Episode Sebelumnya..


"Bibi...," panggil Dimas saat laki-laki itu sedang menuruni anak tangga.


"Iya, den." sahut bibi Darma yang muncul dari arah dapur dan menghampiri sang majikan.


"Bibi nanti malam bibi tidak usah masak ya. Soalnya aku mau ke kafe bareng sama Rudy. Jadi.. bibi Darma istirahat saja di kamar." ucap Dimas sembari tersenyum kecil kepada bibi Darma.


Bibi Darma pun hanya mengangguk. "Baik, den."


"Yaudah kalau begitu aku ke atas dulu ya." pamit Dimas. Kemudian laki-laki itu kembali menaiki tangga menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri karena sebentar lagi ia akan segera ke kafe bersama dengan sahabatnya itu.


Dimas pun masuk ke dalam kamarnya dan melihat ke arah sahabatnya yang sedang tersenyum saat menatap layar ponselnya yang di pegangnya itu. Dimas pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya.


"Kamu kenapa senyam-senyum sendiri begitu?" tanya Dimas sembari menyentuh dahi sahabatnya yang masih cengengesan itu. "Kamu gak sakit kan Rud?"


Rudy yang mendengar perkataan Dimas langsung menghempaskan tangan laki-laki itu dengan tatapan jengah. "Yang sakit itu kamu bukan aku! Kampret ini orang dari tadi ngerjain aku mulu!"


"Hahahaha!" Dimas pun tertawa lepas sembari bangkit dari duduknya menuju ke arah kamar mandinya. Kemudian, laki-laki itu pun mandi dengan bersiul di bawah guyuran shower.


...****...


"Habisnya, kamu kelihatan aneh deh sejak datang kesini. Ucuk-ucuk datang, duduk, main hp terus senyum-senyum sendiri sama ponselnya. Ada apa sih, kamu ngeliatin apa?" ucap Dimas dengan berbagai celotehannya kepada sang sahabat yang masih sesekali melirik ke arah ponsel yang ada di genggamannya.


Rudy yang mendengarkan ocehan sahabatnya, langsung mendekatkan dirinya kepada Dimas. Lalu, menunjukkan ponselnya pada laki-laki di sampingnya itu dengan memperlihatkan isi pesan yang ada di ponselnya itu kepada Dimas.


Dimas yang melihat isi chat dari sahabatnya dengan seseorang itu langsung memicingkan matanya saat melihat nama dari orang itu. "Devina?"


Rudy langsung meletakkan ponselnya ke atas meja yang ada di sampingnya itu dan melihat ke arah Dimas sembari mengangguk. "Iya, namanya Devina."


"Terus, kenapa kamu malah menunjukkan isi chatting itu kepada ku?" tanya Dimas yang masih bingung.


"Hagh ini anak!" ucap Rudy sembari geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang selalu tidak pernah peka terhadap sesuatu.


"Tadi, kamu bertanya kan sama aku? Kenapa aku senyam-senyum sendiri sejak tadi. Ya karena ini. Aku senyum-senyum sendiri itu gara-gara aku lagi chatingan sama cewek yang namanya Devina ini." ucap Rudy dengan menjauhkan sedikit posisinya dengan Dimas.


Dimas yang sekarang sudah faham dari maksud sahabatnya itu, mengangguk kecil. "Kamu sudah punya pacar?"

__ADS_1


Rudy yang mendengar pertanyaan sahabatnya, hanya menghembuskan nafasnya. Lalu, menggeleng Kecil. "Belum sih, soalnya kita juga baru ketemu sekali."


"Terus gimana ceritanya, ketemunya sekali sama tuh cewek, tapi sudah chat-chattan."


"Oh itu. Kemarin waktu aku nganterin dia pulang. Dia ngasih tau namanya sendiri terus kita ngomong sedikit habis itu aku cuma iseng-iseng aja ngetes pura-pura minta nomernya dia kira-kira di kasih apa enggak. Eh, taunya malah dikasih meskipun ada drama-drama nya." ucap Rudy panjang lebar. Dan sesekali membalas pesan yang baru saja masuk itu.


"Jadi.. kamu mau buat dia cuma sebagai mainan doang?" tanya Dimas.


Rudy nampak diam saat selesai membalas pesan itu. Sehingga sesaat kemudian laki-laki itu menggelengkan kepalanya dan menatap wajah sang sahabat dengan menepuk-nepuk punggung laki-laki itu. "Kayaknya itu bukan sifat aku deh Dim.. Aku gak mungkin melakukan hal itu, bukannya hal itu akan membuat aku di cap sebagai laki-laki jahat ya."


Keduanya pun tertawa bersama saat kalimat Rudy yang membuat keduanya tertawa. Keduanya nampak terlihat geli satu sama lain dengan Dimas yang menggosok-gosokkan tangannya dan sedangkan Rudy sendiri mengusap-usap tengkuk lehernya.


"Eh, sumpah! Geli banget sama perkataan aku sendiri," ucap Rudy dengan masih mengusap-usap tengkuknya yang terasa bulu-bulunya berdiri.


"Hehehe... nggak kok bro! Apa yang kamu katakan itu sebenarnya benar kok. Cuma karena kamu yang bilang, itu yang membuat aku jadi geli dengarnya."


"Kampret elu!!" ucap Rudy dengan mendorong tubuh sahabatnya itu hingga Dimas harus jatuh ke lantai kamarnya itu.


"Beneran deh!" ujar Dimas dengan masih dengan ketawanya.


"Udah ah! Sebaiknya kita keluar yuk! Bosen di kamar kamu terus, nggak ngapa-ngapain." ujar Rudi sembari bangkit dari tempatnya dan hendak keluar dari kamar sahabatnya itu.


Rudy yang sudah diujung pintu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Dimas yang masih duduk di tempatnya yang juga menatapnya. "Nggak tau! Pokoknya kemana gitu asal jangan di sini mulu. Ke supermarket, ke supermarket lah, terserah!"


Rudy kemudian keluar dari kamar Dimas dan sebelum laki-laki itu pergi dari sana. Ia kembali berkata. "Aku tunggu di mobil, jangan lama-lama! Aku beri kamu waktu 15 menit, kalau sampai di waktu itu habis kamu gak keluar juga. Aku anggap kamu gak ikut! Maka aku akan tinggal."


Brak!! Pintu pun akhirnya ditutup oleh Rudy dengan sangat keras sehingga suara tersebut terdengar sampai ke arah bawah. Membuat bibi Darma yang berada di dapur mendengarnya.


"Den Rudy ada apa?" tanya bibi Darma saat sahabat majikannya itu sudah turun dari atas.


Rudy yang mendengar penuturan wanita paruh baya itu hanya menampilkan senyumannya. "Bukan apa-apa kok bibi. Tadi aku gak sengaja menutup pintunya terlalu keras."


Bibi Darma hanya mengangguk. "Oh, begitu ya den."


"Kenapa bibi? Bibi Darma mengira bahwa aku sama Dimas lagi berantem ya?" tanya Rudy yang tau bahwa bibi yang merawat sahabatnya itu khawatir, takut ada apa-apa.


"Hehehe iya den. Bibi mengira den Rudy sama den Dimas lagi berantem. Jadinya.. bibi khawatir." ucap bibi Darma dengan mengusap tengkuk lehernya yang tidak gatal.

__ADS_1


Rudy mengusap lembut lengan wanita paruh baya itu. "Bibi jangan khawatir! Kita berdua nggak mungkin berantem. Ini kita juga sebentar lagi mau keluar cari angin adem."


"Ada apa?" terdengar suara Dimas dari arah tangga sedang menuruni anak tangga.


Rudy dan bibi Darma menoleh ke arah laki-laki itu yang kini sudah berada di antara mereka. "Ini bibi Darma khawatir karena tadi mendengar suara pintu yang keras itu. Jadi bibi Darma mengira kalau kita itu berantem."


"Benarkah?" tanya Dimas saat mendengar penuturan sahabatnya.


"Maaf den Dimas. Habisnya tadi suara pintunya keras sekali. Jadi saya pikir den Dimas sama den Rudy berantem." balas bibi Darma jujur.


Dimas tersenyum menanggapi perkataan wanita paruh baya itu. "Enggak kok bibi. Jangan khawatir ya."


"Iya den."


"Yaudah, kalau begitu. Aku sama Rudy keluar dulu ya bibi dan mungkin nanti aku juga pulangnya malem. Jadi bibi Darma gak usah masakin aku, karena nanti kita juga akan makan malam di luar." ucap Dimas dan mendapat anggukan kepala dari sahabatnya.


"Baik, den." balas bibi Darma dengan membungkukkan badannya. Lalu, wanita itu pun pergi.


Setelah itu keduanya pun pergi menuju ke arah mobil milik Rudy. Dan keduanya pun sudah masuk ke dalam mobil berwarna hitam milik Ruby.


"Kita sebenarnya mau kemana sih Rud? Ini juga masih siang loh!" ucap Dimas bertanya kepada Rudy yang sudah menjalankan mobilnya dan meninggalkan pekarangan rumah Dimas.


"Kan aku sudah bilang tadi, nggak tau." sahut Rudy tanpa mengalihkan pandangannya ke arah depan.


"Terus, kalau kita gak ada tujuannya. Kenapa kita harus keluar sih!"


"Cerewet deh kamu Dim! Bisa diem nggak sih! Kita jalan-jalan aja telusuri jalanan dulu, siapa tau ketemu arahnya mau kemana." ucap Rudy dengan fokus pada mengemudinya.


"Jadi kita gak jadi nih ke kafe nya?" tanya Dimas lagi.


"Astaga!! Dimas. Yaudah! Oke! Kita ke kafe sekarang! Jadi kok!" ucap Rudy yang mulai geram terhadap sahabatnya yang terus mengoceh.


.


.


.

__ADS_1


...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....


...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...


__ADS_2