
Worry gives a small thing a big shadow
Swedish proverb
Langkah kaki alice terhenti saat melihat gerombolan orang berkumpul membentuk lingkaran.
"gue ngak akan pernah maafin lo al" ucap seseorang dari salah satu gerombolan tersebut dengan lantang.
"dan gue ngak perlu di maafin samo lo, lo kira gue apaan? Udah gue bilangin dari kemarin bukan gue yang ngelakuinnya" ucap orang yang di panggil al.
"alah,, bacot lo. Lo pikir kita percaya sama lo hah? "
Alice diam berdiri tidak jauh dari mereka berada. Dia memutar otak nya memikirkan gimana cara menyelamatkan orang yang di panggil al. Dia memutar cepat otaknya sebelum si al al itu habis di keroyok sama gerombolan tersebut. Kira-kira sekitar delapan orang termasuk si al al tersebut.
BUGH
BUGH
"ARRGHHH, Sialan lo lang"
Alice terkejut saat tiba-tiba gerombolan itu menyerang si al.
Dengan cepat alice berdiri di antar mereka merentangkan tangan nya.
"STTTOOOP" Teriaknya kencang sambil menutup matanya, bahkan mereka harus menutup telinga jika tidak ingin tuli.
"heh lo siapa?" tanya salah satu dari mereka.
"eeeh" alice seakan baru tersadar dari apa yang di lakuinnya.
"mampus gue ngapain ada di sini? Terus apa yang harus gue lakuin?. Mengapa gue harus peduli sama si al al itu sih? MATI GUE MATI " batin alice bicara.
"heh melamun lagi, lo siapa?"
"hehehe maaf ya bang, maaf. Lanjutin atuh berantemnya, jangan peduliin gue" alice salah tingkah, tak tahu apa yang harus di lakuin, sambil menyengir.
"GILA ya lo? Tiba tiba datang teriak ngak jelas, udah pergi sono, gang..." ucapan pria itu terhenti kala alice bicara.
"maaf ya bang sekali lagi maaf, gue refleks tadi. Lanjutin aja berantemnya, gue mau nelpon kakak gue bentar minta jemput, mumpung dia lagi tugas di sini"
"..gu, alah sana pergi" usir si pria tadi.
"abang tau ngak, tuh liat ada mobil polisi,. NAAH di dalam tu kakak gue, dia paling ngak suka sama orang yang suka berantem, pernah dulu gara-gara ada tetangga gue yang berantem kakak gue tiba tiba datang ngikat mereka di batang pohon besar, terus di ceramahin sama kakak aku panjang kali lebar kali volume, terus di tambah sisi kali sisi kali sisi kali sisi sampe sekarang mereka pada lari kalau liat kakak gue, bentar ya gue panggil" cerocos alice dan melangkah mendekati mobil polisi tersebut, langkah alice terhenti saat merasa ada yang mencekal pergelangan tangannya..
"ee eeh ehh berhenti, maafin kita ya. Yok guys cabut" ucap pria itu menggigil ketakutan. Kentara sekali gerombolan itu takut, mereka pergi menaiki motor masing-masing.
Alice terkikik saat melihat wajah pias mereka.
BRUM BRUM BRUM
__ADS_1
tinggal si al sendiri sembari memandang alice bingung. Seperti pernah melihat tapi lupa entah di mana. mungkin cuma perasaan al aja.
"lo siapa? " tanya si al untuk memastikan, alice memandang sekitar mencari apakah ada orang lain selain dirinya dan si al itu.
"gue? " tanya alice polos, menunjuk dirinya sendiri.
Al mengggeram melihat tingkah gadis didepannya.
"bukan, noh yang di atas pohon" tunjuk al di atas pohon sambil kesal pada alice.
"oooohh" sahut alice dan melenggang pergi dari sana, meninggalkan si al yang terbengong melihat tingkah alice.
"ya ammpun itu orang apa bukan sih, udah tau nanya sama dia. Gila kali tu cewek. Main pergi aja. Tapi ngak papa sih, makasih ya cewek aneh udah nyelamatin gue dari si gilang bangsat tuh. Eh eh bentar deh, tadi katanya kakaknya mau jemput, kok dia pergi jauh ninggalin tuh mobil polisi" batin si al
Al tersadar "ngapain gue bicara sendiri sih, gila gue ya ketemu sama tuh cewek aneh"
"Mending gue pergi dari sini"
***
"welcome to the hell alice " gumam alice saat melangkah pagar rumah mewah masuk kedalam rumah.
"sst bi, bi lani " panggil alice ke bi lani yang kebetulan lewat tak jauh dari alice berdiri.
"eeh non alice, ada apa non?" kaget bi lani.
"di rumah ada siapa aja bi?"
Alice menghela nafas beratnya tatkala mendengar jawaban bi alice. Alice kecewa disaat keluarganya bahagia tanpa dirinya.
"oooh"
"yaudah bi, aku kedalam duluan ya bi."
"iya non"
Alice melangkah menuju halaman depan, niat untuk masuk kedalam rumah sirna di hembus angin malam yang kian menyenjuk ditiap detik yang di lalui.
Keadaan yang tenang tanpa hiruk pikuk kendaraan yang lewat, memang di perumahan yang alice tempati ini sangatlah sepi. Bagaimana tidak, rata-rata penghuni kompleks tersebut orang-orang yang berada, jarang mereka keluar rumah untuk hal yang tidak penting. Bahkan jika di tanya siapa tetangga di sebelah rumah maka mereka akan menjawab "saya ngak tau itu rumah siapa, saya ngak pernah liat penghuni rumah itu, bahkan saya juga ngak perduli itu rumah siapa, mereka juga ngak bakalan tahu juga siapa penghuni rumah saya"
Bagaimana mau tahu, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing, tak menghiraukan keadaan sekitar.
Hal itu membuat alice semakin sepi, sendiri sudah menjadi hal yang lumrah bagi alice.
Lamunan alice buyar saat getaran disaku celananya semakin menjadi, berteriak meminta tolong-meminta alice mengangkat handphone nya.
"halo"
"................"
__ADS_1
"dirumah"
".............."
"biasa, ada apaan sih? "
"............."
"Hah?"
"..............."
"oo"
Alice memutuskan panggilan secara sepihak, tak berminat lagi dengan apa yang di bicarakan si penelpon.
"haaaiiisss, baru aja gue tenang. Udah ada yang menggangu pikiran gue. Ngak bisa apa gue hidup damai, kalau begini caranya gue bakalan mati perlahan" gumam alice menggerutu kerena kesel akan apa yang di dengarnya tadi. Langkah kaki alice berhenti tepat di ruang tamu, pandangannya menajam tepat di foto keluarga yang tampak bahagia. Orang luar akan mengira keluarga alice adalah keluarga terbahagia se antero jagat raya,.
"ciih, dasar drama queen lo lice. Bahagia heh? " kesal alice pada dirinya sendiri. Kenapa di foto itu dia terlihat sangat bahagia?
Karena tipuan.
Ya tipuan, tipuan untuk orang awam yang mengenal keluarga mereka.
Itupun orang-orang yang dekat dengan keluarga mereka pun, tak terlalu banyak tahu tentang apa yang terjadi dengan keluarga mereka.
Keluarga alice sangat pandai merekayasa. Sangat pandai menutupi rahasia besarnya.
Bahkan jika awak media tahu, maka dunia akan gempar dengan berita tentang keluarga mereka.
Oke fix, lupakan tentang keluarga alice, jika di ceritakan bagaimana, tidak akan habisnya.
"bahagia?? Kapan gue bakalan rasain bagaimana itu bahagia" dengan wajah datar alice melangkah menuju surganya alice, air mata menetes tanpa henti. Tidak ada isakan dari sang pemilik mata. Suaranya seakan tak merestui untuk alice meraung-raung di ruang gelap tanpa cahaya sedikitpun, ruang sempit lebih sempit dari kamar pembantu, tak ada jendela, tak ada pintu.hanya fentilasi udara yang membawa sedikit cahaya dari sang dewi malam.
Tak ada pintu? Pasti kalian akan bertanya-tanya. "bagaimana alice bisa masuk kalau tidak ada pintu?"
Jawaban nya cuma satu, yaitu lewat tangga kayu yang akan turun jika kalian tarik tali yang menjuntai di atas langit-langit di samping pintu balkon.
Kalian pasti sudah tahu ruang apa itu.
Ya loteng,
Disana lah alice selama ini tinggal. Pengap? Jangan ditanya lagi.
Dari sekian banyak nya ruangan, di rumah sebesar bak istana ini, kenapa alice di sana?
Itu dari sekian banyaknya jawaban tentang tipuan tadi.
Protes? Tidak akan bisa. Keras kepala sudah mendominasi penghuni disini.
__ADS_1
Termasuk sang tokoh utama.
Takemetogone-@anira_satia