Cukup, Aku Saja Yang Sakit

Cukup, Aku Saja Yang Sakit
4


__ADS_3

Semenjak kejadian seminggu lalu, tak ada yang berubah dari hubungan Adam dan Alice. Semuanya baik-baik saja.


Bagi alice yang lalu biar berlalu, terpenting untuk dia sekarang adalah kedepannya.


Sampai mana alice bisa bertahan.


***


Di rumah megah, surganya bagi orang-orang tapi neraka nya Alice.


Terdengar canda tawa dari ruang keluarga. Bahagia mereka tak mampu mengikut sertakan Alice untuk bahagia juga.


"sakit" itu yang dirasakan Alice. Ada keluarga tapi tak dianggap sebagai keluarga.


Kalau bisa memilih lebih baik terlahir dari keluarga sederhana tapi saling melindungi daripada keluarga kaya tapi saling melukai.


Hanya karna harta dan martabat semua menjadi musuh.


Alice hanya korban ketidakberdayaan. Harta mampu menghancurkan kehidupan seseorang.


Harta juga mampu menghidupkan iblis dari diri seseorang.


Karna yang paling berbahaya di dunia ini bukan diri sendiri, tapi harta dan tahta.


Demi tahta orang rela menjadi munafik. Dan demi tahta rela menjadi iblis.


Alice berjalan melewati mereka, tanpa sapa tanpa tanya. Seolah mereka hanya angin tak terpengaruh apakah harus ada atau tidak.


Tak menoleh sedikit pun.


"percuma sekolah tapi ngak punya sopan santun " sindir indira mama tiri Alice.


Langkah Alice terhenti tak menoleh , mendengar suara mama tiri nya.


Senyap,seketika.


"mana punya sopan santun, ibunya aja suka keluyuran tiap malam"sambung reyga kakak tiri Alice.


Genggaman alice kuat, menahan amarah. Mata nya menajam.


"dasar pembawa sial, ngak tau diri"


"plaaak"


Tamparan kuat di pipi reyga, memerah. Tak kuasa Alice menahan amarah nya. Tanganya spontan menampar reyga. Api didalam diri Alice berkubu.


"dasar kurang ajar"


"plak plak plak"


Tiga kali tamparan tepat di pipi mulus Alice. Indira membalas karna anak kesayangan nya di tampar oleh Alice.


Darah segar mengalir di sudut bibir Alice.


"beraninya kamu nampar anak ku" tarikan kuat pada rambut Alice.


Alice meringis menahan sakit di pipi, dan kepalanya.


"akhh, aku ampun ma, aku ngak sengaja"


"ngak sengaja kata mu, liat reyga, pipinya merah karna mu"


Sekali lagi


"plak"


Tarikan rambut Alice semakin kuat.


"pa, maaf. Tolong aku sakit pa hiks"


Papa diam, sedikitpun tak ada komentar. Seolah kejadian didepan nya ini bukanlah kejadian besar.


Alice hanya bisa menangis, memohon ampun agar siksaan padanya usai.


"dasar kurang ajar"


"tuk" dengan kuat indira mendorong Alice hingga tersungkur. Lengan kanan alice terbentur sudut meja yang tajam.


Darah merembes dari balik lengan baju Alice.


Belum sempat Alice berdiri, reyga kembali mendorong Alice. Alice terjatuh lagi.


***


"akh sakit kak"


"hush, diam sebentar lagi selesai"


"kenapa bisa begini? "


"ngak sengaja,tiba-tiba aku nampar kak reyga"


"parah? "


"ngak, cuma sekali doang"


"syukurlah "


"iya kak, untung ngak keluar semua tenaga, kalau ngak kak reyga sekarang di rumah sakit"

__ADS_1


"kamu mesti bisa kontrol diri kamu lice, kakak ngak mau liat kamu begini lagi"


"iya kak"


"kamu setiap kesini pasti ngak pernah utuh"


"hm"


"lainkali kalau kakak liat kamu begini lagi, kakak bom itu rumah sekalian sama orang didalamnya"


"iihh sadis"


"biarin yang penting adik kakak selalu utuh, ngak ada lecetnya"


"aaalah,di kasi kecoa kakak langsung loncat, gimana mau ngebom"


"keduluan kakak yang gosong"


"heii, menghina kamu cepat ya"


"biarin wlee"


"awas kamu ya"


Alvaro mengejar menggelitiki Alice.


"hap kena kamu lice"


"hahahhahaha"


"haha udah kak udah, stoop"


"ngak bisa kamu harus dibalas"


"stoop kak aku kebelet "


Alice lari ke toilet.


Tawa Alvaro makin keras, lucu liat Alice lari kencang ke toilet.


"hahaha dasar Alice, kerjain ah"


Alvaro mengambil air di atas meja, menumpah kan nya di kursi tempat dimana Alice tadi duduk


"aahh lega nya"


Alice datang kearah alvaro.


Mengendap Alice, pas Alvaro membelakangi Alice.


Jalan mengendap, di tangan alice sudah ada kain yang sudah di rendam dengan air dingin..


"hmmp hmpp"


Dari belakang Alice langsung membekap Alvaro dengan kain yang sudah di rendam dengan air dingin.


"hahaha rasain lo kak"


"hmm alice lepasin"


Sekuat tenaga Alvaro melepaskan bekapan Alice.


"nakal kamu ya" Alvaro memeluk Alice dengan kuat.


"akh kak sakit, lepas"


"ah maaf kakak lupa"


Alvaro memindahkan alice di atas kursi.


"eh kok basah" alice spontan berdiri karna kursi yang diduduki nya basah.


"kan tadi kamu ngompol lice, maka nya kursi basah"


"mana ada, aku ngak ngompol ya"


"tuh bukti nya " tunjuk Alvaro ke kursi.


"kalau bukan kamu siapa lagi yang ngompol? Masa basah tiba-tiba. Sebelumnya kan kamu yang duduk Disitu "


"ah iya ya, iihh tapi bukan aku yang ngompol kak"


Pukul alice ke tangan Alice.


"hiks bukan aku"


"lah kok nangis sih? "


"aku ngak ngompol tau"


"masa? Kakak ngak percaya tuh"


"mau aku bukti kan? Nih aku tanggal celana aku"


Alvaro gelagapan


"eeh eehh jangan, bukan kamu yang ngompol, iya kakak percaya,itu kaka.. "


"emang bukan aku wleee, ihh kak varo ngompol "

__ADS_1


"ngak mau dekat dekat kak varo, jorok"


"eh bukan kakak yang ngompol"


"ngak percaya wlee"


"dadadada"


"kak varo ngompol kak varo ngompol "


Lari alice sambil bernyanyi kak varo ngompol kak varo ngompol


Alvaro yang melihat tingkah Alice hanya menggelengkan kepala.


Masa anak seceria itu bisa memiliki beban yang sangat berat.


Mungkin kalau itu Alvaro, sudah mati duluan karna ngak sanggup.


Alvaro bangga sama Alice.


Alvaro rela apapun itu hanya untuk Alice.


Nyawa pun sanggup alvaro kasi asalkan alice bahagia.


***


Ada bertanya siapa itu Alvaro?


Kalian ingat di part 2? Ada segerombolan orang yang berkumpul? Yang di keroyok bernama al?


Dia adalah Alvaro? Semenjak kejadian itu alvaro sungguh penasaran sama gadis polos yang membantu nya dari gilang dkk.


Flashback


Alvaro mengikuti Alice diam-diam. Demi rasa penasaran nya itu.


Alice berenti di pedagang kaki lima jualan nasi goreng


"mang Alice pesan satu ya, biasa telornya banyakin"


"siap neng"


"oh jadi namanya Alice, namanya cantik kayak orangnya" alvaro


Lama Alvaro mengintai Alice,


Puk,


"kak? Ngapain ngintip disini? Ayok masuk? Mau makan? Aku bayarin deh, mumpung lagi banyak duit ni"


Alvaro terkejut, kok tiba-tiba Alice di belakang nya?


Alvaro gelagapan


"eh eh "


Langsung Alice menarik alvaro menuju meja makan nya tadi.


"jadi? " tanya alice, mengintrogasi Alvaro


"jadi apa?"


Alvaro masih ngeblank.


"jadi kenapa kakak ikutin aku? " geram Alice karna dari tadi Alvaro sedikitpun tak mengindahkan pertanyaannya


"eh jadiiii ehm jadi"


"ah lama, aku pulang aja deh"


"ehh tunggu, ehm nama kamu siapa? "


"oh nama? Alice, kakak? "


"aku Alvaro , hi Alice salam kenal"


"hi kak varo"


"lagi?? "


"lagi apa? "


"lagi makan, ya lagi apa mau ditanyakan"


"ohh, hehehe "


Sungguh Alvaro terlihat bodoh didepan alice


Semenjak kejadian di warung nasi goreng, mereka dekat.


Saling komunikasi.


Alice menganggap alvaro sebagai kakak nya. Setiap ada masalah alice lari ke Alvaro. Cukup alvaro yang selalu mengobati nya.


Alvaro seorang dokter di rumah sakit swasta milik keluarga alvaro.


Alvaro sebagai teman, kakak, saudara, keluarga bahkan dokter pribadi Alice.


Takemegone-@anira_satia

__ADS_1


__ADS_2