
Vyna dan Gita berjalan dengan cepat, kembali ke kantor di mana ruangan sang bos perusahaan mereka.
Kembali Gita mengetuk pintu ruangan itu. "Permisi, Pak."
"Ah, silahkan masuk!" ucap Bintang.
Gita membuka pintu itu dan mendorongnya. Segera ia masuk diikuti oleh Vyna yang berjalan di belakangnya.
"Pak, ini orangnya."
Vyna hanya tertunduk. Ia merasa kesal jika berhadapan langsung dengan Daniel. Orang yang ia kira adalah bos perusahaan ini.
"Oke. Gita, kamu bisa ke luar," ucap Bintang menyuruh Gita ke luar.
Gita terpaksa menuruti perkataan bosnya itu. 'Ah padahal gua penasaran gimana si Vyna akan dimarah-marahi sama bos. Tapi, ya sudahlah. Turuti aja. Biar bos melihatku sebagai wanita yang penurut.'
'Hmm, kalau didengar-dengar suara pria aneh itu berbeda ya? Apa telingaku aja yang rusak? Atau emang suara pria aneh itu ...?'
Belum sempat Vyna berpikir dalam hatinya, lagi-lagi Bintang berbicara. "Eh? Kenapa kau menunduk? Ayo duduk di sofa sana."
Vyna segera mendonga. Menatap ke arah suara yang sedang berbicara dengannya. Betapa terkejutnya ia, saat mendapati orang yang ada di depannya bukanlah Daniel, melainkan orang yang sudah sangat lama tidak berjumpa dengannya.
"Ketua kelas?! Apakah itu kau?" tanya Vyna yang terkejut sekaligus 'tak percaya.
Daniel hanya menyimak percakapan mereka. Ia masih berada di kursi kebesaran perusahaan tersebut. 'Eh? Ternyata mereka saling mengenal. Kita lihat seberapa dekatnya mereka.'
"Hmm, iya. Aku Bintang. Ternyata kamu masih ingat ya denganku. Tapi, ayo duduk dulu. Nggak bagus berbicara berdiri," ajak Bintang.
Vyna 'pun mengiyakan ajakan Bintang untuk duduk di sofa. Membiarkan Daniel sendirian 'tak diajak berbicara.
'Sialan! Emang aku ini apa di sini? Melupakan 'ku setelah ada wanita lain? Sebenarnya apa hubungan mereka? Jadi penasaran.'
Vyna masih bingung sebenarnya untuk apa ia dipanggil kembali. Dan masalahnya, yang membuat ia lebih bingung adalah saat Bintang yang mencarinya, bukanlah Daniel yang ia kira adalah bos perusahaan ini.
"Hmm, Ketua kelas. Sebenarnya, apa yang ingin Anda cari dariku?" ucap Vyna memulai percakapan.
"Oh itu. Tapi, sebelum itu jangan panggil aku dengan sebutan ketua kelas. Panggil aja namaku langsung. Bintang. Sebut aja itu," ucap Bintang.
__ADS_1
"Hmm okelah, Bintang," ucap Vyna sedikit enggan mengatakannya.
"Hahaha okelah. Nggak usah segan kali. Kitakan uda lama kenal. Jadi begini, aku butuh sekertaris baru di perusahaan ini untukku ...," ucap Bintang terpotong.
"Tunggu dulu. Bukannya sudah ada sekertaris Gita dan beberapa yang lain? Kenapa mencari lagi? Dan tunggu lagi. Kamu sebenarnya siapa di perusahaan ini? Kok aku rada bingung ya," oceh Vyna.
"Astaga kau ini. Aku belum selesai bicara tahu. Emang iya sekertaris di perusahaan ini uda banyak. Tapi, buat bos yang dulu. Aku mau merekrut sekertaris baru buatku," jelas Bintang.
"Sedikit mengerti. Terus ... jangan-jangan kamu bosnya? Bukan dia?"
Jika dilihat Vyna emang sedikit bodoh saat menangkap hal-hal yang berhubungan dengan pria. Mengapa? Karena dia sungguh grogi saat berdekatan dengan kaum adam tersebut.
"Iya. Aku bos perusahaan ini. Dan kau kenal dia?" Tangan Bintang menunjuk ke arah Daniel.
Mata Vyna mengarah ke arah yang dituju oleh Bintang.
Saat itu Daniel sedang mengamati mereka. Vyna yang melihat ke arahnya, membuat dirinya tertangkap basah sedang menguping percakapan mereka.
'Ah sialan! Buat apa si Bintang ini menunjuk ke arahku. Pakai ketangkap basa lagi sama wanita gila ini.'
"Hmm, tidak. Aku tidak mengenalnya," ucap Vyna berbohong.
Bintang sedikit berpikir. "Hmm, okelah. Kirai kau kenal dia. Ya sudah. Nanti sepulang kerja apakah kau mau ikut bersamaku makan siang? Kuharap kau menerimanya."
"Hmm." Vyna melihat ke arah Daniel dan sedikit berpikir. "Baiklah. Aku akan ikut. Lagian di rumah juga buat apa?"
Vyna sedikit menekan kata-kata yang di rumah juga buat apa? Sepertinya dia sedang menyindir suaminya itu. Yang 'tak memedulikan 'nya di rumah.
"Makasih banyak ya, Ana. Aku suka jika kau mau ikut bersamaku," ucap Bintang.
"Haha iya, Bintang. Ternyata kau masih ingat dengan nama itu."
"Ya harus dong. Kan aku suka ...," ucap Bintang terpotong. Sepertinya ia sedang keceplosan.
"Suka apa? Hahah jangan-jangan kau suka mengingat ya?" ucap Vyna dengan polosnya.
"Hahah iya benar. Ternyata kau pandai juga, Ana." Setelah berucap begitu, tampak di wajah Bintang sedikit wajah yang sedang senduh.
__ADS_1
'Sial benar aku. Dikacangi, nggak diajak ngobrol. Eh, malah ketawa-ketiwi di depan aku. Nasip-nasip. Kacang mahal oi!'
"Hmm ya sudah, Bin. Kalau nggak ada hal yang lain yang harus ku kerjakan. Sebaiknya aku undur diri. Soalnya masih banyak kerjaan yang belum aku kerjakan."
"Oke, Ana. Semangat bekerja ya. Dan ingat kamu akan aku jadikan sebagai sekertaris utamaku. Jadi kau harus bersiap-siap," ucap Bintang.
"Apa? Sekertaris utama? Aku? Kenapa kau tiba-tiba memilihku?" ucap Vyna terkejut.
"Ayolah, Ana. Masa sih kau 'tak peka dari tadi? Coba kau pikir, buat apa aku panggil kau ke sini kalau bukan mau aku rekrut jadi sekertaris." Bintang berusaha sabar dengan sikap Vyna yang terkalu lemot berpikir. Yang lebih jelasnya orang yang terkalu susah untuk peka.
"Hehe, okelah, Bos. Trima kasih sudah rekrut aku jadi sekertarismu. Tapi apakah itu 'tak masalah buat yang lain?" ucap Vyna cengengesan.
"Tentu saja tidak. Kau 'tak usah banyak berpikir." Bintang tersenyum.
Senyumnya bagaikan buah yang manis. Membuat semua orang yang melihatnya akan jatuh hati. Begitupulah dengan Vyna. Maklum walaupun Vyna sedikit tomboy, namanya juga wanita pastinya juga akan tersipu malu jika menatap pria yang bagaikan buah manis tersebut.
"Hmm, sebaiknya aku pergi saja." Segera Vyna berjalan dengan cepat. Sepertinya ia sedang tersipu malu.
'Dasar wanita genit. Lihat begituan aja langsung malu-malu.'
Daniel benar-benar menyimak setiap tindakan mereka tersebut. Hingga ia mulai bersuara karena Vyna telah pergi dari ruangan itu.
"Kenapa kau melupakan 'ku saat ada wanita itu? Kau sungguh kejam. Mengacangi sahabatnya sendiri demi seorang wanita."
Bintang tertawa lalu berbicara. "Ayolah. Kenapa kau seperti wanita? Pakai acara cemburuan lagi. Hahaha. Kau akan tetap menjadi sahabatku. Dan tadi aku benar-benar harus berbicara berdua dengannya. Kau 'tak usah cemburu."
"Terserah. Hmm, kenapa kau seperti orang bodoh? Senyam-senyum entah karena apa?" ucap Daniel.
"Ya, karena aku bisa makan bersama dengan Ana dari sekian lamanya aku menunggu momen-momen ini."
"Apa kau menyukainya?" tanya Daniel penuh selidik.
*
Bersambung dulu ya teman-teman!
Jangan lupa tinggalkan jejak seperti saran dan kritikan ya! Dukung terus Authormu supaya semangat nulisnya!
__ADS_1
Wew sepertinya uda pada tahu ni jawaban dari bab sebelumnya. Kayanya Author harus siap-siap ni mau kasih hadiahnya buat yang uda jawab di kolom komentar pada bab kemarin. Hmm siapa ya? Wkwk.
Tunggu episode selanjutnya ya!