Dadakan Jadi Pasutri

Dadakan Jadi Pasutri
Bab 6, Surat Perjanjian:


__ADS_3

Tiba-tiba aja, ada seseorang dari belakang Vyna berjalan. "Ehem. Siapa pria aneh di rumah ini maksudmu?"


Segera Vyna berbalik badan ke arah suara tersebut. Yang 'tak lain ada di belakangnya itu. Betapa terkejutnya ia, melihat orang yang ada di belakangnya adalah Daniel.


"Heh? Siapa pria aneh yang kamu maksud?" tanya Daniel lagi.


"Hmm, nggak ada kok. Pasti kamu salah dengar," ucap Vyna berbohong.


"Masa?"


"I, iya!" ucap Vyna gugup.


Tiba-tiba saja Dilla ikut menyambung pembicaraan mereka berdua. "Non Vyna, nggak boleh bohong loh. Kata mbok 'ku dosa kalau bohong. Nanti masuk neraka."


"Eh. Emang aku ada ya bohong?" ucap Vyna gugup.


"Iya, Non. Tadi, Non Vyna emang bilang pria aneh. Masa, Non Vyna lupa," ucap Dilla dengan jujur. Maklum Dilla orangnya terkadang suka keceplosan.


"Nah itu apa katanya Dilla? Mau bohong lagi kamu?" ucap Daniel menyambung.


"Hmm, kalau emang iya kenapa? Kamu kege'eran ya?" ucap Vyna yang tertuju ke arah Daniel.


"Cih." Daniel mendecakan lidahnya pelan.


Vyna tersenyum puas karena Daniel 'tak bisa berkata apa-apa lagi.


*


"Dilla, masakan itu uda selesai belum? Ni sayur tinggal dimasak," ucap Vyna.


"Oh uda toh, Non. Sini sayurnya, biar Dilla aja yang masak. Non Vyna, duduk aja bareng tuan Daniel di sana." Dilla menunjuk ke arah meja makan.


Saat itu Daniel lagi memandangi Vyna yang sedang masak. Karena Vyna dan Dilla berbalik melihat ke arahnya, segera Daniel berpaling wajah sambil bersiul pelan.


'Idih. Ketahuan lagi mandangi aku langsung buang muka. Dasar pria aneh!'


"Ogah ah. Mendingan bantui kamu, Dill." Vyna masih tetap membantu Dilla.


"Oke deh, Non. Terserah, Non Vyna aja," ucap Dilla pasrah.


Sekarang Vyna sedang menyiapkan peralatan makan di atas meja makan. Menatanya dengan rapi. Terkadang Daniel diam-diam melirik Vyna.


Tak berapa lama, akhirnya masakan mereka telah selesai. Dilla mulai menyajikan masakan tersebut di atas meja, tidak lupa dibantu juga oleh Vyna.


Setelah mereka selesai menyajikan Vyna segera duduk. Sedangkan Dilla hanya dia berdiri di pojok.


"Dilla, sini bareng makan sama kami," ajak Vyna.


"Oh ndak usah toh, Non. Dilla nanti aja makannya. Tunggu, Non Vyna dan tuan Daniel selesai makan," tolak Dilla merasa segan.


Daniel hanya melirik dan melanjutkan makannya.


"Aduh, Dilla. Kenapa mesti pakai nanti-nantian segala? Udah ayuk makan! Aku maksa ni!" ucap Vyna memaksa. Sebenarnya Vyna sengaja membuat cara begitu agar Dilla ikut makan bersama mereka.

__ADS_1


"Okelah, Non. Dilla ikut makan. Makasih ya, Non Vyna."


Mereka 'pun makan bersama-sama tanpa ada sepatah kata 'pun.


Tak berapa lama mereka selesai makan. Dan segera Dilla membereskan meja makan tersebut. Selesai itu, Dilla langsung segera mencuci piring.


"Dilla, sini aku bantu." Vyna berjalan menuju ke arah Dilla.


Belum saja Dilla ngomong, Daniel uda ngomong duluan. "Kamu nggak usah cuci piring."


"Lah emang kenapa? Aku 'kan mau bantui Dilla. Emang salah? Daripada diam-diam aja. Bosan tahu."


"Kalau gue bilang nggak usah, ya nggak usah. Karena pembantu gue gaji bukan untuk dibantu lagi," ucap Daniel dingin.


"Ya uda. Terserah kamu. Gue nggak peduli." Vyna yang kesal berjalan meninggalkan dapur.


"Eh tunggu dulu. Aku masih mau ngomong sesuatu yang penting buat kamu," ucap Daniel memberhentikan langkah Vyna.


"Ada apa? Apa yang mau kamu bilang?" ucap Vyna penasaran.


Daniel diam sejenak dan melirik ke arah Dilla. Ia sedikit berpikir. "Hmm, sebaiknya bicaranya di kamar saja."


'Ehh, apa yang mau dia katakan ya? Kok mesti di kamar? Jangan-jangan .... Ahh, Vyna pikiranmu parno banget sih!'


"Hmm oke," ucap Vyna.


'Mereka ini seperti bukan sepupuan. Kenapa lebih mirip dengan hubungan suami istri tapi nggak ada akrabnya sama sekali.'


Dilla sedikit memikirkan sesuatu. Tapi karena bukan urusan 'nya, maka ia 'tak melanjutkan pemikiran 'nya tersebut.


*


Tampak Vyna sedang duduk di atas tempat tidur sembari menunggu Daniel yang sedang membuka laci lemari miliknya.


Dan 'tak berapa lama, Daniel sudah ada di depan Vyna. Memegang sebuah amplop besar.


"Ni buat kamu." Daniel memberikan amplop tersebut ke Vyna.


Vyna sedikit bingung. Ia menaikan satu alisnya yang menandakan bingung. "Apa ini?"


"Baca aja. Nanti kamu juga tahu," ucap Daniel dengan santai.


Vyna yang mendengar aba-aba dari Daniel, segera ia membuka amplop tersebut secara perlahan-lahan.


'Apa ini ya? Penasaran banget. Hmm, surat apa ini?'


Vyna membaca isi surat tersebut. Kira-kira seperti inilah isinya.


SURAT PERJANJIAN


SURAT INI MEMBERITAHUKAN DAN JUGA PERJANJIAN KEPADA PIHAK B BAHWA:


JIKA PIHAK B TIDAK ADA TANDA-TANDA MENGANDUNG ATAU HAMIL ANAK DARI PIHAK A DALAM DUA BULAN INI, MAKA BULAN KE TIGANYA PIHAK A AKAN MENCERAIKAN PIHAK B.

__ADS_1


JIKA DALAM 2 BULAN INI ADA KABAR BAHWA PIHAK B MENGANDUNG ATAU HAMIL ANAK DARI PIHAK A, MAKA PIHAK B HARUS MENURUTI SEMUA PERATURAN YANG DIBUAT OLEH PIHAK A.


INILAH BEBERAPA PERATURAN DARI PIHAK A:



PIHAK B TIDAK MELAWAN PERINTAH DARI PIHAK A.


DILARANG BERDEKATAN DENGAN PRIA LAIN KECUALI DENGAN PIHAK A ATAU KERABAT DEKAT.


DILARANG KE LUAR RUMAH SEBELUM ADA PERIJINAN DARI PIHAK A.


JIKA PIHAK A DEKAT DENGAN WANITA LAIN JANGAN CEMBURU.


HARUS DIKETAHUI, BAHWA PIHAK A MASIH MEMPUNYAI KEKASIH YANG TERPAKSA DIDUAKAN.


JIKA ANAK DARI PIHAK B TELAH LAHIR, HAK ASUH ANAK BERADA DI PIHAK A.


BELUM ADA KELANJUTAN TENTANG PERMASALAHAN SETELAH ANAK LAHIR.


TERAKHIR TIDAK DIPERIJINKAN UNTUK PIHAK B MEMINTA PERCERAIAN SEBELUM ANAKNYA LAHIR.



SURAT INI DISETUJUI OLEH KE DUA PIHAK. TANDA TANGAN DI BAWAH:


PIHAK A: DANIEL MAHENDRA


PIHAK B:


"Apa-apaan ini? Kamu pikir aku akan menandatangani surat perjanjian aneh ini?" ucap Vyna yang terkejut setelah membaca isi surat tersebut.


"Jika kamu tidak menandatangani surat tersebut, aku tidak akan menganggapmu sebagai istriku. Biar kamu malu," ucap Daniel mengancam Vyna.


Vyna terdiam sejenak. "Tapi ini tidak adil buat aku! Kenapa kamu bisa dekat dengan wanita lain, sedangkan aku tidak?! Apa kau pikir aku ini tidak mempunyai hak sama sekali?"


"Iya. Kamu emang nggak punya hak sama sekali. Sudah cukup aku masih menberimu tempat tinggal dan masih mengganggapmu sebagai istriku," ucap Daniel dengan santainya.


"Okelah! Aku akan tanda tangani surat ini! Aku berharap 2 bulan ini tidak ada kabar apapun. Supaya aku bebas dari peraturan aneh darimu!" Vyna menandangani surat tersebut.


Setelah ia menandatangi, ia mencampakan surat tersebut ke wajah Daniel. Lari ia ke luar kamar. Turun ke bawah. Dan berlari ke luar rumah.


Sedangkan Daniel mendecakan lidahnya. "Cih!"


*


Bersambung dulu ya teman-teman!


Maaf kalau episode kali ini nggak seru.


Semoga dapat menghibur kalian ya.


Tolong tinggalkan saran atau kritik di kolom komentar ya. Yang belum klik tombol favorit, yuk segera diklik. Supaya tahu kalau novel Dadakan Jadi Pasutri sudah up!

__ADS_1


Tunggu episode selanjutnya ya!


__ADS_2