
Vyna yang berteriak membuat Daniel terkejut. "Sialan ni wanita. Ngapai lagi berteriak keras?"
Sedangkan Vyna yang baru saja berteriak segera bergegas naik ke atas. Menuju kamarnya. Vyna membuka pintu kamar tersebut. Dan mendapati Daniel yang sedang melonggarkan dasi kerjanya tersebut.
"Kamu! Pasti kamukan yang lakukan ini semua?!" tanya Vyna dengan marah.
Daniel yang mendengar itu pura-pura nggak mendengarkan ucapan Vyna.
"Hey, Pria aneh! Kenapa malah diam? Aku tanya kamu loh!"
Daniel yang dibentak oleh Vyna merasa 'tak senang. Segera ia berbalik badan dan melihat ke arah Vyna.
Tiba-tiba saja Daniel tertawa lepas melihat wajah Vyna yang penuh dengan coretan pulpen. Ditambah lagi dengan wajah Vyna yang cemberut menambah kelucuan di sana. "Pufft!"
"Hey! Kenapa malah ketawa? Beneran kamu 'kan yang lakukan ini?" Vyna menunjuk ke arah wajahnya.
Daniel berpura-pura bodoh dan nggak tahu apa-apa. "He ... tu wajah memang dasarnya jelek. Ngapai kamu permasalahkan?"
"Apa kamu bilang? Jelek? Kamu aja itu! Ngaku kamu! Pasti kamu 'kan?!" marah Vyna.
"Eleh. Jangan fitnah kamu! Kamu memangnya punya bukti? Hah?"
Vyna sedikit berpikir dan terdiam sejenak. "I, iya! Tadi kamu pegang wajah aku! Hah mau ngelak lagi kamu?"
"Heh. Buat apa aku coreti wajah kamu yang nggak ada sedikitpun cantiknya? Nggak guna kali. Kamu nggak usah kege'eran."
Vyna lagi-lagi terdiam sejenak buat berpikir. "Heh! Kamu yang jelek! Masa Vyna yang tampan begini, dibilang jelek. Uda ah. Awas aja kalau kamu ketahuan bohong. Cape ngeladeni om om."
'Dasar wanita aneh. Cantik dibilang tampan. Eh ... nggak cantik. Otak kamu mikir apaan sih? Cewe aneh manggil gua om om lagi. Memang beneran cewe aneh yang gila.'
Vyna yang kesal segera ke luar kamar. Belum saja menutup pintu tersebut. Daniel sudah memanggilnya. "Tunggu dulu!"
Vyna berhenti dan berpikir. 'Ah. Pasti dia mau ngaku kalau dia yang lakukan ini semua.'
Segera Vyna berbalik ke arah Daniel. "Ada apa? Apa kamu ngaku juga? Aku tahu kamu itu pasti akan ngaku secepatnya. Mana ada pria yang berani bohong sama cewe semanis aku ini."
Daniel yang mendengar tersebut segera menjawab. "Hello wanita aneh. Aku nggak akan pernah mengaku. Btw kamu kalau jadi orang itu jangan kenarsisan."
Vyna yang mendengar itu sedikit malu. "J, jadi apa yang sebenarnya, yang ingin kamu ucapkan padaku?"
"Nanti aku kasih tahu kamu. Aku mau mandi dulu." Segera Daniel pergi menuju kamar mandi. Sebelum itu ia mengambil handuknya terlebih dahulu.
'Dasar pria aneh! Tadi manggil gue. Giliran gue datangi, eh malah katanya nanti. Memang pria aneh plus sebleng!'
*
__ADS_1
Vyna berjalan menuju ke bawah. Menuruni anak tangga rumah tersebut. Karena sekarang sudah sore, Vyna berniat ingin memasak. Vyna lanjut berjalan menuju ke dapur.
Saat hampir tiba di dapur, Vyna mendengar suara seseorang sedang memotong sesuatu dari dalam dapur. 'Suara apa itu? Bukannya pria itu berada di atas sedang mandi? Kenapa ada suara orang sedang memotong? Apa jangan-jangan ada hantu? Ah nggak mungkin ada hantu di sore hari. Eh, apa jangan-jangan maling ya?'
Vyna yang penasaran segera mengambil vas bunga yang ada di dekatnya. Berjalan mengendap-endap. Dan sampailah ia di belakang orang tersebut.
Jarak mereka sekitar 1 meter lebih. Vyna berniat menepuk pundak orang tersebut. Eh orang tersebut malah berbalik ke arahnya.
"Ahhh! Penjahat!" teriak mereka berdua bersamaan.
Gimana tidak? Saat itu posisi mereka berdua berdekatan. Dan yang lebih parahnya, orang tersebut sedang memegang pisau dapur dan Vyna sedang memegang vas bunga yang ingin memukul orang tersebut.
Sekali lagi Vyna berteriak, "Ahhh! Pembunuhhh!"
"Mana? Mana pembunuh?" orang tersebut malah berputar melihat ke arah kanan kiri dan belakangnya. "Eh kamu ya?"
Vyna sedikit bingung melihat orang yang ada di depannya tersebut. "Eh? Kamu siapa? Kenapa ada di dapur?"
"Saya ya?" tanya orang tersebut.
Vyna memandang tubuh orang tersebut dari bawah sampai ke atas. "Hmm, kamu bukan penjahat. Melainkan orang aneh yang ada di rumahku."
"Eh? Rumahmu? Apa jangan-jangan ini rumah Anda ya?" tanya orang tersebut seperti orang yang bodoh.
"Aduhh. Maaf ya, Non. Saya kirai tadi orang jahat. Soalnya, Non lagi pegang tu vas bunga."
'Cepet amat ni berubah sikapnya.'
"Oh gitu. Kalau kamu siapa? Kenapa ada di rumahku?" ucap Vyna.
"Hmm, saya pengurus rumah tangga, Non. Lebih jelasnya seorang pembantu di rumah ini," jawabnya.
"Oaleh. Saya kirai kamu seorang pembunuh. Soalnya pegang kamu pegang pisau sih."
"Haha iya, Non. Maafi saya ya. Pasti tadi Nona takut ya?" tanya pembantu tersebut.
"Nggaklah, aku nggak penakut. Malahan tadi aku mau mukul kamu hahaha," tawa Vyna pelan.
"Hehehe, ngomong-ngomong, Nona adiknya tuan Daniel ya? Kok baru tahu saya kalau tuan Daniel punya adik. Cantik lagi seperti, Non."
Vyna berpikir sejenak. 'Adik? Apa benar dia nggak tahu kalau aku ini istrinya pria aneh itu? Apa pria itu memang sengaja merahasiakan 'nya? Hmm, kalau itu kemauan 'nya, maka harus aku ikuti aja. Biar dia puas.'
"Hehehe, iya. Aku sepupu jauhnya. Panggil aku Vyna aja. Dan satu lagi, siapa namamu?"
"Oh sepupu jauh toh. Nama saya Dilla, Non Vyna," ucap Dilla sambil memperkenalkan namanya.
__ADS_1
Kalau dilihat usia Dilla hampir seumuran dengan Vyna. Cuman beda dikitlah.
"Oh oke, Dilla. Tapi tolong jangan panggil aku dengan sebutan nona ya."
"Hehehe, kalau itu maaf toh, Non. Saya nggak bisa panggil nama langsung. Apalagi, Non Vyna adalah pemilik rumah ini. Masa aku nggak sopan sama pemilik rumah. Soalnya kata mbokku yang di kampung, nggak boleh kurang sopan sama orang yang ada di atas kita, Non," ucap Dilla dengan sedikit berlogat jawa.
"Oh gitu. Ya uda. Seterah kamu aja deh. Btw kamu lagi ngapai, Dill?"
"Lagi masak, Non Vyna. Kan uda sore. Nanti Non dan Tuan mau makan apa kalau Dilla nggak masak, hehehe," ucap Dilla yang sedikit rada malu-malu.
"Oh sini aku bantu." Vyna mulai ikut memotong sayur.
"Nggak usah toh, Non. Nanti tuan marah ke Dilla. Non, duduk aja," larang Dilla.
"Nggak bakal. Uda deh, kamu fokus aja ke masakan itu. Biar aku yang motong sayurnya." Vyna menunjuk ke arah kuali yang berisi masakan.
Akhirnya Dilla menuruti permintaan Vyna.
Mereka memasak tanpa ada bicara satu sama lain. Maklum kalau Dilla 'kan orangnya pemalu. Sedangkan Vyna masih melamunkan sesuatu sambil memotong sayur.
"Btw, Dilla kamu kapan ada di rumah ini? Kok aku nggak tahu ya?" ucap Vyna memulai percakapan mereka lagi.
"Oh itu, Non. Dilla kemarin pagi uda ada di sini. Ya tapi kemarin Dilla nggak masak. Cuman nyapu halaman dan beresi pakaian Dilla di kamar bawah," jelas Dilla.
"Oh gitu. Pantesan aku nggak tahu. Tapi kok dia nggak kasih tahu aku kalau ada kamu di rumah ini? Sampai-sampai aku kira lagi sendirian di rumah. Bosan lagi. Kalau tahukan aku bisa ajak kamu ngobrol-ngobrol," ucap Vyna sedikit kesal dengan Daniel.
"Hehehe Dilla tadi nggak di rumah, Non. Dilla dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore masih di rumah nyonya, mamanya tuan Daniel. Ngomong-ngomong dia itu siapa, Non?"
"Oh, dia itu pria aneh yang ada di rumah ini, Dilla," ucap Vyna.
Tiba-tiba aja, ada seseorang dari belakang Vyna berjalan. "Ehem. Siapa pria aneh di rumah ini maksudmu?"
Eittsss bersambung dulu ya teman-teman!
Gimana cerita kali ini? Seru apa buat bosen?
Maaf ya kalau Author lama upnya. Soalnya Thor lagi sibuk. Apalagi Thor lagi ujian. Semoga episode kali ini dapat menghibur kalian yang uda nunggu lama up novel ini ya!
Jangan lupa selalu dukung AUTHORnya ya!
Dukungan dari kalian adalah sebuah motivasi buat sang author. Makasih buat yang uda baca.
Tolong tinggalkan jejak ya, buat yang uda baca. Salam manis dari Author Ceria Desvany.
Tunggu episode selanjutnya ya!
__ADS_1