Danau Api

Danau Api
adik


__ADS_3

***


Surya keluar dari kamarnya setelah jaket Jins hitam kini melekat di badannya kemudian Ia meraih kunci motor yang tergantung dibalik pintu kamar.


Malam ini Surya bersiap untuk keluar setelah mendapat pesan singkat dari nomor tak dikenalnya. Bukannya Surya mudah percaya pada orang asing namun ini menyangkut nyawa orang orang yang Ia sayang, dimana isi dari pesan singkat tersebut adalah suatu ancaman dan peringatan jika sampai Surya tak mau bertemu dengan si pemilik nomor tak dikenal itu.



Sebelum berangkat, seperti biasa Surya akan mengecek keadaan adiknya terlebih dahulu. Dibukanya pintu kamar sangat adik. Pemandangan pertama yang Ia lihat adalah wajah tanpa beban adik kesayangan nya ketika terlelap. Surya menyungging senyum melihat satu satunya keluarga yang Ia miliki tertidur dengan memeluk sebuah bingkai foto. Surya mendekat kearah kasur sang adik, membelai rambutnya dengan hati hati takut jika mengganggu mimpi indahnya. Lalu tangannya beralih meraih bingkai potret yang dipeluk adiknya.


Sebuah keluarga kecil berpose dalam gambar tersebut. Dalam gambar itu terlihat sepasang suami-istri dengan sang istri tengah menggendong bayi yang baru berusia sekitar 12 bulan, bayi itu adalah Langit Pitaloka adik Surya. Serta sang suami yang dipunggung nya sedang menggendong Surya kecil yang saat itu berusia lima tahun. Lalu ada juga seorang wanita paruh baya yang duduk di kursi rotan sendiri. Wanita tersebut tak lain ialah nenek Surya dan Langit adiknya, ibu dari ayahnya.


Kebakaran yang terjadi ketika Ia berusia lima tahun masih membekas di memori nya. Bahkan tak akan terlupa. Peristiwa yang merenggut nyawa Ayah serta Ibunya benar benar membuat trauma.



Ditambah lagi nenek satu satunya yang merawat mereka sepeninggal kedua orang tuanya juga kehilangan nyawa karena sebuah kebakaran serupa ketika Surya menginjak umur sepuluh tahun. Beruntung Surya serta Langit selamat antara dua kebakaran mengenaskan tersebut.


Surya mungkin trauma berat akibat kebakaran itu namun ketika usianya menuju 18 tahun, Surya mengetahui bahwa penyebab kebakaran kedua orang tuanya serta sang nenek bukanlah suatu kebetulan melainkan rencana sebuah organisasi yang ditentang oleh keluarga nya. Ayah Surya memang salah seorang petinggi pemerintah Daerah Sumatera, serta sang nenek yang memiliki banyak anak perusahaan sehingga membuat beberapa pejabat dan perusahaan saingan keluarga Pitaloka membenci mereka. Bahkan membentuk sebuah organisasi rahasia yang Surya sendiri masih belum tau nama organisasi tersebut.


Surya kembali fokus menatap sang adik. Surya sangat menyayangkan kondisi Langit adiknya itu. Jika saja Langit normal seperti remaja yang lain. Mungkin Surya akan sering berdebat dan adu jotos dengan adik laki-laki nya seperti abang dan adik kebanyakan. Di umur Langit yang sudah 18 tahun seharusnya postur serta otot tubuhnya akan lebih berisi namun karena suatu penyakit 'Autisme' membuat pertumbuhan tubuhnya tidak terlalu menarik seperti anak remaja lainnya.


Autisme sebuah penyakit yang dimana si penderitanya tak dapat mengontrol emosi nya,daya tangkap otaknya juga tidak seperti orang normal,terkadang yang mengidap penyakit langka tersebut juga bertindak kasar meski itu adalah bentuk perlindungan diri namun orang-orang yang berada disekitarnya mungkin terluka walaupun itu tidak disengaja.


Mungkin juga, jika bukan karena penyakit yang diderita Langit, pasti sekarang Langit sudah mengenal kata 'cinta' meski sekedar cinta monyet. Apalagi wajah Langit yang sebenarnya di atas rata-rata mungkin adiknya itu akan jadi rebutan cewek cewek bahkan Surya berpikir Langit bisa saja seperti remaja nakal yang hanya mempermainkan perempuan alias playboy.


"Dek, abang keluar dulu sebentar." Ucap Surya sambil mengelus pucuk kepala sang adik lalu mengecup keningnya. Kemudian Surya keluar dari kamar.


"Bi Noni! " Panggil Surya pada asisten rumah tangga yang bertugas mengurus Langit serta rumah selagi Ia bekerja.


"Iya, Den." Jawab Bi Noni setelah sampai didepan Surya.

__ADS_1


"Titip Langit ya, Bi. Kalo ada apa apa langsung kabarin saya." Ucap Surya lalu dibalas anggukan oleh Bi Noni.


Setelah berpamitan Surya langsung melajukan motor sport hitam miliknya menembus dinginnya langit malam Jakarta. Dengan kecepatan yang lumayan, Surya menuju tempat pertemuan yang dimaksud orang asing tersebut.


Motor Surya memasuki kawasan gedung tinggi yang tidak asing baginya. Lalu berhenti diparkiran bawah tanah gedung tersebut.


Setelah beberapa kali berusaha mengingat tempat yang tampak tak asing itu akhirnya Surya tau bahwa gedung yang sedang menjadi lokasi pertemuannya dengan pemilik nomor tak dikenal itu adalah gedung apartemen yang beberapa waktu lalu diselamatkan oleh Surya serta anggota damkar lain.


Gedung apartemen yang dahulu terbakar ini menjadi lokasi pertemuan mereka, tapi kenapa? Surya sendiri bingung.


Surya merogoh benda pipih hitam disaku jaketnya lalu melihat jam yang kini menunjukkan pukul 20.00 tepat.


Sudah lebih dari tiga puluh menit Surya menunggu orang tersebut namun tak kunjung datang. Merasa dipermainkan Surya kembali menyalakan mesin motornya namun cahaya dari lampu motornya menyorot seseorang yang tengah berdiri tak jauh dari lokasi motor Surya.Segera Surya turun dari motor tanpa sempat mematikan mesin pada benda beroda dua tersebut.


Karena tempatnya yang gelap Surya tak dapat melihat dengan jelas siapa yang ada di depannya sekarang.


Tapi dengan adanya cahaya dari lampu motor miliknya sehingga Surya masih mampu melihat sekitar meski dengan sedikit penerangan. Surya berjalan menuju orang berpakaian hitam itu meski Ia sendiri tidak yakin apakah benar warna pakaian orang itu hitam atau bukan karena minimnya cahaya. Orang tersebut tidak bergerak sedikit pun membiarkan Surya yang mendekatinya lebih dulu. Mata Surya terbelalak setelah melihat siapa orang itu dengan jelas.


***


"Kamu?" Ucap Surya tidak percaya.


"Kenapa kaget? Kamu akan lebih kaget lagi setelah pertemuan ini." Lanjut orang itu. "Oh iya. Bagaimana keadaan adik kamu Langit. Masih sama atau sudah semakin memburuk?"


Surya mengepal kedua tangannya Ia benar benar kesal dengan orang yang ada didepan matanya ini. Ia masih ingat betul sahabat masa kecilnya ini yang kini menjadi musuhnya.


"Mau apa kamu sebenarnya. Tidak perlu berbelit-belit. Langsung ke intinya saja!" Kata Surya dengan emosi yang hampir tidak dapat Ia kontrol.


"Kamu ternyata belum berubah ya. Tidak suka berbasa-basi." Kata yang itu. "Apa kamu tidak rindu masa masa dulu. Apa kamu juga tidak penasaran, alasan aku tidak di Sumatera malah ada disini di Jakarta." Lanjutnya.


"Tidak. Jadi cepat katakan apa tujuanmu mengancam ku jika tidak mau bertemu dengan mu." Kata Surya. Matanya kini memerah menahan amarahnya.

__ADS_1


"Ah.. Kau begitu penasaran rupanya. Baiklah, sepertinya kamu tidak ingin berlama-lama reuni denganku. Oh iya, kamu masih ingat Nabila kan, kau tak mungkin lupa dengan gadis malang itu bukan? " Kata orang itu sengaja memancing emosi Surya.


"JUNA!!" Teriak Surya dengan tinju yang hampir mengenai wajah mulus lawan bicara Surya, jika saja Surya tidak menghentikan tinju yang akan diberikan pada orang yang Ia panggil Juna tersebut tepat didepan hidungnya.


Juna menyeringai. Lalu melemparkan tinju di pipi kiri Surya. Surya tersungkur kebelakang lalu mengusap darah segar yang keluar dari ujung bibirnya. Kemudian berdiri dan menendang perut Juna tidak terima dipukul oleh pria berdarah Amerika-Melayu itu. Mereka berdua akhirnya saling adu kekuatan. Surya dan Juna sama-sama tidak ada yang ingin mengalah keduanya saling serang membabi buta.


Kini posisi Juna berada dibawah Surya. Surya menindih perut Juna kemudian meninju wajah Juna yang sudah babak belur berkali-kali. Tanpa memberi ampun. Ketika Surya akan melayangkan tinjunya lagi tiba-tiba ada tangan yang menahan kepalan tangannya di udara. Surya menghentikan apa yang dilakukannya kemudian menoleh pada pemilik tangan yang menahannya.


Surya menyipitkan matanya melihat siapa yang menahannya. "Sil... via? " Melihat Surya yang lengah Juna meninju Surya kemudian berdiri setelah Surya tersungkur kebelakang.


"Kak Surya gak papa?" Tanya Silvia sembari membantu Surya berdiri. "Kak Surya ngapain disini? " Tanya Silvia lagi. Ya, tangan yang menahan kepalan tinjunya adalah tangan kecil milik Anita Silvia.


" Aku ada urusan.Kamu sendiri sedang apa disini?" Jawab Surya. Surya lalu teringat oleh Juna, Ia berbalik melihat pria yang beberapa detik tadi hampir Ia bunuh. Matanya mengelilingi seluruh area parkir bawah tanah tersebut namun tidak menemukan Juna kembali.


"Kak Surya cari siapa?" Tanya Silvia mengagetkan Surya.


"Orang yang tadi aku lawan dimana?" Tanya Surya balik dengan mata masih mencari keberadaan Juna.


"Oh orang yang tadi kakak abis gebukin udah pergi pas kak Surya balik badan. " Jelas Silvia.


"Ekhem... " Pria dibelakang Silvia berdehem.


"Siapa Vi? " Tanya Surya sambil menunjuk pria itu dengan dagunya.


Silvia lupa dengan pria dibelakangnya. Bagaimana ia akan menjelaskan pada Surya tentang pria yang umurnya hampir sama dengan Surya. Silvia merapatkan bibirnya lalu menggigit bibir bawahnya.


BERSAMBUNG


****


*see you again*

__ADS_1


__ADS_2