Danau Api

Danau Api
pertemuan


__ADS_3

_______


Dua hari yang lalu...


Silvia baru saja keluar dari kamar kecil atau yang sering kita sebut WC. Kembali Ia teringat kata kata Alif ketika berada di aula mendengarkan sosialisasi.


"Ya ampun Vi! Lo beruntung banget ketemu sama tuh cowok, ternyata dia anggota polisi yang sosialisasi disini juga." Kata Alif begitu antusias.


"Paan sih! Beruntung apanya! Sekarang mau ditaroh dimana muka gue." Kata Silvia frustasi sampai mengacak-acak rambutnya.


"Kata orang orang nih ya, kalo kita ketemu sama cogan tiga kali artinya kita itu berjodoh sama orang itu." Kata Alif membuat Silvia menyentil jidat Alif.


"Cih jodoh apanya." Silvia melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Namun terhenti ketika Ia melihat sesosok orang yang tak asing baginya. Itu kan?! Orang yang ada di apartemen kemarin. Kata Silvia dalam hati.


Silvia langsung dapat mengenali orang yang menyebabkan kebakaran di apartemen nya setelah melihat tato pada punggung lehernya. Lalu Ia mengikuti orang tersebut. Orang tersebut memasuki lorong gelap menuju gudang sekolah. Sebenarnya Silvia agak ngeri melihat gelapnya lorong itu namun Ia tetap mengikuti orang tersebut sampai seseorang tiba-tiba menahan bahu orang bertato itu. Silvia yang melihat hal itu langsung bersembunyi di balik tembok.


"Mau kemana kamu?! " Kata seseorang itu pada orang bertato tersebut. "Akhirnya saya bisa menangkap kamu tanpa susah payah." Lanjutnya kemudian mengunci kedua lengan orang bertato itu.


"LEPAS!!" Ucap orang bertato sambil berusaha melepaskan diri.


"JANGAN HARAP!! "


"SAYA AKAN MEMBAWA KAMU KEKANTOR POLISI! SIAP SIAP SAJA MEMBUSUK DIPENJARA!.." Lanjut seseorang itu yang ternyata adalah seorang Polisi.


Sambil menyeringai seram orang bertato itu berkata kembali. "Memang anda ada bukti? Mau memenjarakan saya sekarang pun, besok juga saya akan bebas. Polisi tidak berguna seperti Anda yang kerjanya hanya mengurusi orang orang seperti kami mana mungkin punya cukup bukti. Kami punya banyak koneksi sampai POLISI seperti anda bahkan tidak mampu berkutik dihadapan kami."


"Saya akan cari buktinya. Bukti bahwa kalianlah yang menyebabkan kebakaran selama dua tahun ini. Dan kebakaran apartemen kemarin, saya tau kalau kalian jugalah pelakunya." Jelas Polisi tersebut.


Silvia yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka dibalik tembok lantas membekap mulutnya dengan tangannya sendiri dengan mata yang terbuka lebar. Ia tidak percaya bahwa orang yang menyebabkan kebakaran di apartemennya kemarin benar benar orang dengan tato dipunggung lehernya. Selama ini Silvia hanya menduga duga saja dan ternyata dugaannya itu benar. Air bening di mata Silvia tak dapat Ia bendung lagi namun masih dapat Ia tahan agar tidak tumpah semuanya.


BUGH... PLAK.. . BUGH...


Suara orang berkelahi terdengar. Silvia yang tadi sibuk menghapus jejak air matanya langsung menoleh ke asal suara tersebut dari balik tembok. Ia mencondongkan kepalanya dan melihat dua orang sedang adu jotos.


Si pria bertato yang Silvia tak dapat kenali wajahnya karena masker yang menempel di mukanya kini posisinya berbalik dari yang terakhir Silvia lihat. Jika tadi si Polisi yang mengunci tangan si pria bertato itu namun posisi sekarang sang Polisi yang tangannya terkunci dibelakang dengan badan mencium tembok.


"Zora, pasti Anda masih ingat kan?" Ucap pria bertato tepat ditelinga polisi itu. Polisi tersebut yang tadinya berusaha melepaskan diri dari pria bertato itu langsung berhenti setelah mendengar kata katanya.


"Jangan khawatir 'DIA' masih bernapas dengan jantungnya. Kami juga masih memberi 'DIA' makan dengan BAIK." Bisik orang bertato itu lagi. Lalu memukul perut Polisi itu beberapa kali.


Silvia masih terus memerhatikan interaksi keduanya namun ia tak tau apa yang dikatakan pria bertato itu lagi karena berbisik. Mata Silvia melebar kembali melihat pria bertato itu terus memukuli perut Polisi tersebut tanpa ampun, bisa bisa Polisi itu mati ditangan pria brengsek itu. Silvia tidak bisa diam saja melihat penganiayaan di depan matanya. Ia keluar dari tempat menguping nya tadi lalu berteriak.


"WOI! ALIF SINI! CEPETAN DIPANGGIL PAK JEKI TUH! KATANYA KITA DISURUH NGAMBIL MANEKIN APAAN TUH DI GUDANG!" Silvia berteriak didepan lorong gudang, tangannya Ia lambaikan lebay seolah olah ada lawan bicaranya.


Karena teriakan Silvia pria bertato itu lantas berhenti memukuli dan melepaskan Polisi itu. Kemudian beranjak dari tempat tersebut. Ia berjalan keluar dari lorong gelap itu, Silvia yang melihat pria bertato itu hendak menuju kearah nya langsung berpura-pura pergi menghampiri seseorang. Ia takut bertemu pria bertato tersebut.


Setelah pria bertato itu benar benar pergi, Silvia langsung menghampiri Polisi yang sedang duduk sambil menghapus darah yang keluar dari bibirnya. Silvia menarik tangan Polisi itu tanpa permisi. Lalu membawanya ke UKS.


"Duduk!" Perintah Silvia yang dituruti oleh Polisi itu.


Silvia kemudian mencari kotak P3K namun tak dapat juga Ia temukan. "Si Joko sinting anak PMR itu naro P3K nya dimana?" Gerutu Silvia pada dirinya sendiri. Setelah mengelilingi ruang UKS akhirnya Silvia menemukan benda yang dicarinya namun ketika dilihat ternyata benda kotak tersebut berada paling atas rak lemari. Silvia berjinjit berusaha meraih kotak bertuliskan 'P3K' tersebut namun nihil Ia tidak dapat meraihnya.


Sedangkan Polisi yang Silvia tarik menuju UKS tadi hanya memerhatikan apa yang Silvia lakukan. Rasa sakit pada tubuhnya sudah biasa Ia rasakan toh ini memang resiko sebagai Oknum Polisi namun yang membuatnya heran mengapa gadis yang tidak sengaja Ia temui dua kali ini ada disini membantunya. Apa Ia tidak masuk kelas? Bolos mungkin, namanya juga anak sekolah terlebih lagi gaya Silvia yang seperti preman sekolah, lengan baju yang Ia lipat keatas, rambut yang dikuncir asal asalan, dan luka kecil pada lutut mulus gadis itu.


Silvia masih sulit meraih kotak di atas rak tersebut. Ia heran kemana semua kursi yang biasanya ada di ruangan ini. Mungkin dibawa ke aula sekolah saat ada sosialisasi tadi pikirnya. Kembali Ia berjinjit sekuat tenaga sampai Ia kehilangan keseimbangan kakinya. Silvia berbalik karena tidak mungkin Ia jatuh kearah depan yang jelas jelas adalah rak besi bisa bisa kepalanya benjol lebih baik jatuh ke lantai mungkin jika masih bisa Ia tahan dengan tangannya. Dasar Silvia masih sempat Ia berpikir jernih disaat seperti ini.


Silvia memejamkan matanya siap jika harus mencium lantai. Namun ada tubuh yang menahan berat tubuhnya dan tangan yang melingkar di pinggangnya. Tangan Silvia juga tidak sengaja Ia kalung kan pada leher si empunya. Silvia kemudian mengangkat kepalanya dari bahu orang yang menahannya itu, Silvia meneguk ludahnya samar. Jarak mereka berdua begitu dekat. Silvia mengerjapkan matanya. Hidung keduanya bahkan saling bertautan. Jika Polisi itu bergerak sedikit saja bibir mereka pasti bersentuhan.

__ADS_1


**


Setelah kejadian yang membuat jantung Silvia hampir copot,kini Silvia sedang mengobati luka pada wajah Hilman. Ya, Polisi muda dan tampan yang pernah menolong Wulandari dari preman namun kalah itu, juga cowok yang pernah memberikan sapu tangannya pada Silvia ketika menangis di taman. Namanya Hilman.


Bagaimana Silvia tau namanya ya, karena mereka sempat berkenalan setelah terjatuh tadi. Dan juga Silvia sudah mengetahui namanya ketika sosialisasi tadi. Dan bagaimana Silvia mengambil benda kotak yang tadi ingin diraihnya, tentu saja Hilman juga yang mengambil kotak P3K itu tanpa halangan.


Hening.


Tak ada satupun kata yang keluar dari mulut masing-masing. Canggung yang dirasakan keduanya. Kembali Silvia fokus mengobati luka Hilman. Kapas yang berada ditangan Silvia menyentuh luka dibibir Hilman membuat si empunya sedikit meringis kesakitan ketika obat merah pada bibirnya terasa perih.


"Sorry." Ucap Silvia merasa bersalah lalu dengan refleks meniup luka tersebut.


Hilman melihat Silvia dari jarak yang begitu dekat meneguk salivanya. Wajah mungil Silvia Ia perhatikan satu persatu bagiannya. Mulai dari mata lentiknya, hidung mancungnya, lalu yang terakhir bibir pink Silvia yang tengah meniup luka miliknya. Ah, apa yang dipikirkan oleh Hilman, segera Ia membuang segala pikiran kotor yang terlintas di benaknya begitu saja. Hilman menggelengkan kepalanya berkali-kali. Silvia yang melihat kelakuan Hilman mengerutkan keningnya.


"Ngapain lo? " Kata kedua Silvia yang menghapus keheningan diantara mereka.


"Ekhem.. " Hilman berdehem berusaha menguasai dirinya yang tadi salah tingkah. "Gak papa." Lanjut Hilman.


"O." Silvia hanya menanggapi Hilman dengan mulut membentuk huruf O. Kemudian mengemasi kotak P3K yang ada di ranjang UKS tersebut.


"Udah selesai? " Tanya Hilman.


"Eh iya." Jawab Silvia.


"Makasih kalo gitu saya keluar dulu." Kata Hilman lagi lalu beranjak dari ranjang UKS tempat Silvia mengobatinya.


"Eh tunggu! " Ucap Silvia menahan tangan Hilman.


"Kenapa?!" Tanya Hilman dengan mengangkat satu alisnya.


"Ngomong yang jelas! Dari tadi 'gue, emm, ee', mau ngomong apa sih kamu?! "


"Gue pengen jadi partner lo. Ma.. Maksudnya gue pengen ikut lo nyelidikin tentang orang yang tadi mukulin lo." Jelas Silvia.


"Ha?! Apa? Gak, ngapain saya bawa bawa anak sekolah kayak kamu ikut penyelidikan. Yang ada saya dipecat dari pekerjaan saya. Lagian ini bukan kasus kecil. Bukan urusan anak kecil kayak kamu." Bantah Hilman. Lalu meninggalkan Silvia.


"GUE EMANG ANAK SEKOLAH YANG GAK BISA APA APA. GAK BERGUNA. TAPI GUE CUMAN PENGEN MENANGKAP ORANG YANG UDAH NGEBAKAR APARTEMEN DAN BIKIN MAMA GUE KOMA DI RUMAH SAKIT. APA SALAHNYA?! HIKS... GUE.. GUE GAK BAKAL GANGGU LO KOK, SEENGGAKNYA GUE BISA JADI ANAK BERGUNA JUGA. GUE GAK MAU ADA ANITA SILVIA YANG SAMA KAYAK GUE DI LUAR SANA KALO TUH ORANG BRENGSEK BELUM KETANGKEP JUGA! " Kata Silvia berhasil membuat Hilman memberhentikan langkahnya. Hilman lantas menoleh pada Silvia yang kini menunduk dengan tangan yang meremas kotak P3K yang belum sempat disimpannya.


Hilman menghela napas berat. Kemudian maju menghadap Silvia.


"Gak bisa. Saya tidak ingin melanggar peraturan." Ucap Hilman membungkukkan sedikit badannya agar sejajar dengan Silvia. Silvia lalu mengangkat kepalanya menatap Hilman tepat dikedua matanya. Hilman yang mendapat tatapan seperti itu seketika tubuhnya seolah terkunci. Ia tak tau harus apa dan melakukan apa.


"Plissss... Ya, Pak Polisi GANTENG. Ijinin gue ikut ya ya ya. " Ucap Silvia dengan muka memelas. Dan entah dirasuki apa, Hilman tidak dapat menolak wajah memelas Silvia yang terlihat imut di matanya. Hilman lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju.


YES! Silvia melompat kegirangan. Dan tanpa sadar memeluk leher Hilman. Hilman yang mendapat pelukan tiba-tiba dari Silvia hanya mematung ditempatnya.


Setelah kesepakatan Silvia dan Hilman disekolah kemarin. Silvia sedang berada di atas jok motor Hilman, malam ini mereka akan memulai penyelidikan pertama mereka.


"Kamu sudah minta izin sama Papa kamu? " Tanya Hilman dibalik helm full face nya.


"Iya udah kok.Papa ijinin saya keluar padahal nih ya Pak, Papa saya itu orangnya ribet gak bisa diajak bercanda." Kata Silvia sembari memandangi kota malam Jakarta. Hilman menatap Silvia dari balik kaca spion motornya menyunggingkan senyum. "Cantik." Ucap Hilman yang masih bisa didengar oleh Silvia.


"Ha? "


"Pemandangannya." Sarkas Hilman.


"Oh.kalau saya cantik gak Pak?" Goda Silvia. Silvia kini berbicara sopan kepada Hilman karena perintah dari Hilman sendiri yang tidak suka dengan cara bicara Silvia yang menurutnya kurang sopan santun itu. Silvia sebenarnya tidak suka diatur atur namun demi ikut penyelidikan Hilman Ia rela menurunkan sedikit egonya.

__ADS_1


'Iya cantik banget' gumam Hilman dalam hati. "Emang kamu bicara apa sama Papa mu sampai anaknya diizinkan keluar larut malam begini? " Tanya Hilman mengganti topik pembicaraan.


"Saya bilang 'Pa, Via keluar bentar ya sama pacar. ' terus Papa jawab ' pacar? pacar kamu yang mana, perasaan Papa gak pernah liat kamu punya pacar' terus saya bilang 'Via udah gede kali Pa, udah punya pacar namanya Kak Hilman dia itu Polisi tau', gitu terus Papa izinin saya deh. " Jelas Silvia. Hilman mendadak memberhentikan motornya. "Aduh! Pak jangan berenti mendadak dong! Saya kejedot helm nih! " Gerutu Silvia.


"Kamu bilang saya pacar kamu!? " Tanya Hilman.


"Iya." Jawab Silvia polos.


"Kamu kok.... " Belum sempat Hilman melanjutkan kata katanya Silvia mendadak menyuruhnya berhenti.


"Shut!! Pak jangan ngomong dulu! " Perintah Silvia. Kak Surya? Iya bener itu kak Surya, gumam Silvia dalam hati.


"Pak, pak ikutin motor didepan! " Ucap Silvia sembari memukuli punggung Hilman.


"Ngapain? Kita ada urusan lain." Kata Hilman.


"Iya ini juga urusan penting. Tadi saya liat abang saya kearah sana. " Kata Silvia lagi sambil menunjuk arah yang dimaksud.


"Tapi.. "


"ihh pak cepetan! " Silvia melihat Surya menaiki motor sport miliknya dengan kecepatan tinggi. Silvia khawatir dengan Surya tidak biasanya Ia melajukan motornya seperti pembalap jika tidak ada sesuatu yang membuatnya begitu.


Motor Hilman memasuki area parkir bawah tanah. Silvia heran untuk apa Surya masuk ke kawasan bekas apartemen yang terbakar ini. Apartemen tempat tinggalnya dulu.


Hilman sendiri tidak banyak tanya namun tangannya terus menggenggam Silvia takut jika terjadi apa apa maksudnya.


Silvia tidak terlalu ambil pusing dengan apa yang dilakukan Hilman toh Ia juga sebenarnya takut dengan gelapnya parkiran tersebut. Namun gara-gara langkah Hilman yang terkadang berhenti hanya untuk memperbaiki genggaman tangannya membuat Silvia kehilangan jejak Surya.


Ketika hendak melanjutkan langkahnya Hilman serta Silvia mendengar suara teriakan seseorang. Lantas mereka segera mencari arah suara tersebut. Hingga akhirnya Silvia samar samar melihat bayangan seseorang dari lampu motor.


Segera Ia melangkah menuju orang yang Ia yakini adalah Surya dan ternyata benar Surya tengah duduk di atas perut seseorang dan melayangkan tinjunya berkali-kali.


Silvia yang melihat Surya memukuli lawannya secara membabi buta langsung menghampiri Surya. Kemudian menahan kepalan tinju Surya yang akan diberikan pada lawannya lagi.


Surya menyipitkan matanya melihat siapa yang menahannya. "Sil... via? " Melihat Surya yang lengah Juna meninju Surya kemudian berdiri setelah Surya tersungkur kebelakang.


"Kak Surya gak papa?" Tanya Silvia sembari membantu Surya berdiri. "Kak Surya ngapain disini? " Tanya Silvia lagi. Ya, tangan yang menahan kepalan tinjunya adalah tangan kecil milik Anita Silvia.


****


**see you again**


Hilman Adriansyah



Wulandari



Alif Nissa



Rainno Adriansyah


__ADS_1


__ADS_2