
***
Sudah dua hari Surya berbaring di ranjang bangsal rumah sakit Ia masih belum membuka matanya sejak ia pingsan kemarin.
Rekan tim Surya yang lain juga sudah kembali bekerja.
Dokter dan perawat kadang datang memeriksa keadaan pria dengan papan nama Surya Pitaloka itu.
Tak lama setelah dokter kembali memeriksa keadaan Surya.
Ia akhirnya membuka matanya.
"Syukurlah. Akhirnya anda siuman Pak Surya".
Kata Dokter.
" Saya ada di mana? "
Tanya Surya pada Dokter tersebut.
Sambil mengerjapkan matanya berulang kali.
Dan melihat sekeliling ruangan bercat putih itu.
"Anda sedang ada di ruang inap rumah sakit Pak Surya. Anda di bawa oleh rekan tim anda karena pingsan saat sedang akan menolong korban kebakaran. Anda juga sudah dua hari ini terbaring di rumah sakit. "
Jelas Dokter.
Surya hanya menganggukkan kepalanya dan membentuk kata "Oh" di bibirnya.
"Kalau begitu saya permisi keluar. Jika ada yang Pak Surya rasakan atau butuhkan bisa memanggil saya atau perawat yang ada di sini".
Lanjut Dokter itu lagi.
Lalu keluar dari ruangan Surya.
Surya merubah posisi tidurnya menjadi terduduk.
Tak lama setelah itu datang seorang perawat menghampiri bangsal Surya.
Perawat itu tampak cantik dengan balutan seragam khasnya.
Jika diperhatikan perawat itu memang cantik. Tidak sangat cantik.Kulitnya putih. Iris matanya berwarna cokelat. Badannya juga bisa dikatakan tidak kalah dengan model papan atas.
Surya yang melihat perawat tersebut juga tidak bisa berhenti menatapnya.
Pria yang biasanya dingin dengan para wanita tersebut. Kini kedua sudut bibirnya terangkat. Ia tersenyum.
"Pak Surya Pitaloka. Bagaimana perasaan Bapak
sekarang?"Tanyanya.
" Ohh...Sepertinya dada saya sesak Suster."
Jawab Surya sambil memegangi dada sebelah kirinya.
"Baiklah.Kalau begitu. Saya akan memanggil Dokter. "
Surya segera bangun lalu meraih tangan perawat itu ketika ia hendak pergi.
Setelah perawat itu menghadap ke arahnya. Surya memasang wajah memelat seperti anak kecil yang akan ditinggal Ibunya.
"Ada apa Pak Pasien Surya?"
Tanyanya setelah menghadap Surya. Alisnya
__ADS_1
terangkat .
"Aku mau diperiksa sama kamu aja. "
"Saya ini cuma PERAWAT Pak Pasien. Saya gak tau
tentang bagaimana caranya menyembuhkan Pak
Pasien. "
Lalu mereka berdua saling menatap dan akhirnya tawa mereka pecah.
***
Di kamar Silvia.
Silvia baru saja mendapat panggilan telepon dari seseorang.
Tertera nama *Alif😍* pada kontak panggilan.
Setelah berbincang kurang lebih sepuluh menit Silvia memutuskan panggilannya sepihak.
Lalu merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya.
Ia mendengus kesal. Setelah mengingat perdebatan dengan Ibunya kemarin.
"Ma...Via gak mau ikut les ballet lagi. Ma. "
Pinta Silvia pada wanita yang berumur sekitar 45
tahun tersebut.
"Masalah ini lagi? Udah berapa kali Mama bilang.
penari ballet profesional. " Jawab Mama.
"Tapi.Ma.. Via gak suka menari Ma. Via gak minat
sama ballet. Via gak punya cita-cita jadi Ballerina.
Via lebih suka sama... "
"Taekwondo? " Potong Mama.
"Apa sih bagusnya Taekwondo Taekwondo itu? Ha?
Cuma bikin kamu cedera aja. Terus apa? Gak
bercita-cita jadi Ballerina?Hahaha.Terus kamu mau
jadi apa? Ha... Sekarang Mama mau tanya. Emang
kamu punya cita-cita. Emang punya tujuan buat
masa depan kamu? "
Tanya Mama bertubi-tubi.
Silvia terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Semua yang dikatakan oleh Mamanya memang benar adanya.
Ia memang tidak punya cita-cita. Tidak punya rencana untuk masa depannya.
Silvia hanya menjalani tujuh belas tahun hidupnya sesuai keinginan Mamanya. Tidak pernah terlintas di benak Silvia akan jadi apa Ia kelak.
Saat Silvia duduk di bangku Sekolah Dasar. Ketika Guru meminta muridnya untuk menulis cita-cita nya. Silvia akan terang-terangan menjawab "Via belum tau".
__ADS_1
Silvia sendiri heran tentang dirinya yang seolah tidak punya tujuan hidup. Rainno sahabatnya saja ingin menjadi Jaksa atau pengacara atau apapun asal ada ilmu hukumnya kata Rainno.
Sedangkan Silvia sendiri?
" Kenapa diam? Ayo jawab Mama! "
Suara Mama tiba-tiba mengagetkan Silvia yang sedang berpikir.
"Silvia mau ikut Olimpiade Taekwondo tingkat
Sekolah. "
Tiba-tiba Silvia mengatakan apa yang sejak beberapa hari ini mengusik pikirannya.
Mama kaget dan langsung berdiri.
"APA? Kamu mau apa,? "
Teriak Mama mengagetkan Silvia kembali.
"Via mau ikut Olim....".
Belum sempat Silvia melanjutkan kalimatnya. Mama langsung memotong bicara Silvia.
" Gak. Gak boleh. "
"Tapi... Ma.. Via... " Lanjut Via.Sebelum Mamanya
memotong bicara Silvia lagi.
"Mama gak pernah larang kamu ikut ekskul
Taekwondo kesukaan kamu itu. Tapi, kalau ikut
Olimpiade seperti itu Mama gak bisa ijinin kamu
Via." Kata Mama.
Kini suara Mama terdengar lebih lembut. Ini membuat Silvia menjadi takut mengangkat kepalanya.
"Kamu ini anak Mama satu satunya. Mama gak
mau kehilangan kamu Sayang. Jadi Mama harap
Via ngertiin Mama. Ya...? " Lanjut Mama lagi.
Air mata Silvia jatuh tanpa diminta. Mama yang melihat hal tersebut langsung membawa Silvia ke pelukannya.
Hiks. Hiks. Hiks.
***
Ini visualnya Surya Pitaloka. Maaf kalo gak sesuai ekspetasi ****kalian****.
Ini kalo lagi senyum 😊
See You
__ADS_1