Danau Api

Danau Api
Wulandari


__ADS_3

***


Hari ini cuacanya lumayan panas. Namun tidak bagi Silvia gadis yang akan berulang tahun tepat hari ini.


Silvia sedang jalan-jalan untuk mengurangi rasa bosannya di rumah.


Malas rasanya jika harus berada di ruangan yang sama dengan orang-orang yang ingin merayakan ulang tahunnya.


Menurutnya itu hanya membuang uang dan waktu saja.


Tidak penting saja pikirnya.


Ia heran. Mengapa orang-orang sangat semangat untuk merayakan ulang tahun seseorang. Toh dirayakan atau tidak, umurnya tetap akan bertambah.


Apalagi menurutnya ia tidak yakin akan umurnya akan menginjak delapan belas tahun. Sedangkan Silvia sendiri masih abu-abu. Bukan. Lebih tepatnya hitam.


Iya Silvia masih belum tahu apa yang diinginkannya. Apa yang menjadi cita-cita nya. Apa tujuan hidupnya. Apa impian yang ingin diraihnya.


Selama dua bulan ini Silvia sudah memikirkannya.Setelah mendapat pertanyaan tentang impiannya dari Mama.


Silvia terus melangkahkan kakinya tanpa arah tujuan yang pasti.


Cuaca juga semakin panas. Saat matahari semakin naik. Silvia merasa dahaga. Melihat gerobak pedagang kaki lima yang menjual es doger, membuatnya haus seketika.


Setelah selesai dengan ritual kehausan nya.Silvia berjalan kembali. Berharap ada sesuatu yang dapat membantu nya mencari mimpi yang Ia sendiri tak tau apa.


Silvia berhenti ketika mendengar suara teriakan seseorang. Ia mencari sumber suara itu yang Ia rasa seorang wanita.


Ternyata benar. Suara itu dari seorang wanita.


Ada seorang wanita yang sedang diganggu oleh dua orang preman. Preman tersebut juga tampak ingin mengambil tas kecil milik wanita tersebut secara paksa.


Melihat hal tersebut. Silvia tidak bisa diam saja.


Ia berlari menghampiri para preman dan wanita tersebut.


Baru sekitar sepuluh langkah Ia berlari. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang memukul punggung salah satu preman itu menggunakan tongkat kruk. Hingga membuat preman itu tersungkur ke depan.


Laki-laki tersebut dan kedua preman itu saling memukul dan menendang.


Dua lawan satu.


Sebenarnya laki-laki tersebut cukup kuat melawan kedua preman itu. Namun Silvia melihat kaki laki-laki tersebut sedang diperban di bagian telapak kaki hingga betisnya.


Mau tidak mau Silvia akhirnya berlari kembali melanjutkan niatnya untuk menolong wanita tadi yang sempat terhenti.


Silvia maju.


Memukul dan menghajar para preman itu.


Preman yang hanya jago menggertak itu. Tentu saja kalah. Mereka tidak dapat bertanding melawan Silvia.


Yang menguasai Taekwondo dari kecil.


Sebelum para preman itu kabur Silvia sempat mengunci salah satu dari mereka. Menggunakan teknik khusus.


Lehernya dikunci oleh Silvia menggunakan kakinya.


Membuat si empunya leher mengadu kesakitan.


Wanita dan Laki-laki yang dari tadi hanya menonton aksi Silvia. Hanya membulatkan matanya.


"Kak... Hei?


Tanya Silvia. Sambil menggerakkan tangannya di depan wajah wanita itu.


" Ehh.. Maaf." Kata Wanita tersebut.

__ADS_1


" Silvia? Kamu Anita Silvia kan. Teman nya Alif? "


Lanjut Wanita tersebut setelah benar-benar sadar dari keterkejutan nya.


"Iya.Ehh... Kak Wulan? Kak Wulan. Kakaknya Alif? Wahh.... Kakak gak papa? Ada yang luka gak? Mau Via antar ke Rumah Sakit?" Tanya Silvia lagi bertubi-tubi.


"Iya. Ini aku Wulandari. Kakaknya Alif. Enggak. Kakak gak papa kok. Justru Kakak yang harusnya nanya itu sama kamu. Kamu gak papa? " Jelas Wulandari.


"Kamu tadi ngapain sih sampai segitunya nolongin Kakak. Aku yang liat aksi kamu tadi merinding tau gak. Guling-gulingan sama preman. Untung kamu gak kena pukul. Coba tadi kamu kena? " Lanjut Wulandari lagi.


Sambil mengecek tubuh ramping Silvia. Wulandari memutar badan Silvia penuh khawatir.


"Via gak papa Kak. Lagian tadi preman nya cemen. Udah tau gak bisa bela diri. Sok sokan pengen mau hajar Via. Gak tau apa. Silvia kan udah pro. Udah pegang sabuk hitam. Hehe".Jawab Silvia. Sambil melipat kedua tangannya di dada.


" Kamu ini. Dari dulu gak pernah berubah sombongnya. "


Kata Wulandari sambil mengacak rambut Silvia gemas.


Tanpa mereka sadari. Laki-laki yang tadi juga ikut menolong Wulandari. Kini sudah tidak berada di tempat nya. Laki-laki itu telah meninggalkan mereka sejak berbincang ria.


Karena asyik dengan obrolannya.


Mereka bahkan lupa kalau tadi tidak hanya Silvia yang menghajar preman tersebut. Tapi, ada Laki-laki yang menolong Wulandari pertama kali.


Meskipun Laki-laki itu kalah.


Karena kondisi kakinya yang sedang sakit.


***


Wulandari kini sedang berada di sebuah kafe.


Ia tidak sendiri.


Wulandari ditemani oleh Silvia dan Alif adiknya. Alif datang ke kafe tersebut setelah ditelepon oleh Wulandari.


Dinding kafe tersebut terdapat gamba-gambar tokoh terkenal Indonesia serta Internasional.


Juga ada lukisan abstrak. Membuat kafe tersebut lebih Instagramable.


Silvia. Wulandari. Serta Alif adiknya. Mereka bertiga berbincang ria.


Membicarakan masa kecil Silvia dan Alif.


Pekerjaan Wulandari yang saat ini menjadi seorang Perawat di salah satu Rumah Sakit.


Kejadian yang baru saja menimpa Wulandari serta Silvia.


Dan yang terakhir. Cerita Alif yang baru saja selesai dari pertukaran pelajar di Korea.


Iya. Alif adik tiri Wulandari . Gadis yang seumuran dengan Silvia itu. Telah selesai menjalani tugas yang dipercayakan Sekolahnya padanya untuk menjadi perwakilan Indonesia dalam pertukaran pelajar selama enam bulan di Korea.


Baru kemarin Ia kembali dari Korea.


"Silvia. Nanti kamu nginep di rumah Kakak aja ya? "


Tanya Wulandari di tengah makan.


"Mmmm.... Boleh deh Kak. Via juga lagi malas pulang. Soalnya di rumah lagi ada acara ulang tahun nya Via. Ada Rainno juga yang nyebelin. Bikin Via tambah gak mood datang. " Jawab Silvia. Sambil menopang dagunya mengunakan satu tangannya.


"Kok gitu sih Vi? Gak baik tau gak. Nyokap lo udah capek-capek nyiapin. Lo malah kayak anak kecil gini. " Timpal Alif.


"Tapi... gue beneran males. Ngapain coba ultah gue harus banget di rayain. Kan tetep juga gue jadi sweet eighteen . " Kata Silvia lagi.


"Lo beruntung Vi. Masih punya orang tua yang lengkap. Harusnya itu lo bersyukur. Allah masih kasih lo kesempatan berbahagia sama ortu lo. Gak kayak gue. Mama kandung gue udah gak ada lagi di dunia ini. Ibu juga udah berpulang tahun lalu. " Kata Alif menceramahi Silvia


Mendengar hal tersebut. Silvia lalu memeluk Alif. Menenangkan Alif yang sudah sesegukan.

__ADS_1


Mama Alif memang sudah tidak ada sejak Ia berumur lima tahun.


Ayahnya lalu menikah dengan Ibunya Wulandari. Saat Alif berumur 12 tahun.


Alif merasa mendapatkan sosok Ibunya kembali. Ia kembali merasakan kebahagiaan dan kehangatan sebuah keluarga yang utuh setelah bertahun-tahun Ia rindukan.


Sebelum takdir akhirnya berkata lain.


Ibunya Wulandari. Ibu tiri Alif meninggal akibat serangan jantung satu tahun lalu. Saat itu adalah hari ulang tahun nya. Hari di mana Ia akan menginjak umur tujuh belas tahun. Sweet seventeen nya Alif.


Hal itu membuat Alif terus menceramahi Silvia yang terus saja membangkang pada orang tuanya.


Terkadang Silvia juga kabur dari rumah karena tidak ingin les balet.


Tentu saja Alif yang mengetahui hal tersebut akan langsung ngebacot dari sabang sampai merauke. Dari A sampai Z.


Namun kata-kata dan semangat Alif jugalah yang membuat Silvia berubah sedikit demi sedikit.


Silvia mulai mengikuti les balet sesuai keinginan Mamanya. Meskipun setengah hati Ia lakukan.


Sepulang dari kafe tempat Silvia nongkrong dengan Alif dan Wulandari. Silvia mendapat panggilan telepon dari seseorang.


Silvia merogoh kantongnya.


Tertera nama "Si Lembek Rain".Ia lalu memencet tombol hijau pada layar benda pipih hitam itu.


"Halo... ? Oiiiii bar-bar. Lo di mana? Cepetan sini pulang! Bonyok lo udah nungguin dari tadi sampai lumutan ini kaki! " Teriak Rainno di seberang sana.


"Apaan sih. Gak usah ngegas juga kali." Kata Silvia kesal.


"Lagian elo. Gue teleponin dari tadi gak diangkat-angkat"


"Ck. Iya. Iya. Sorry. Ini juga lagi di jalan mau balik. "


"Kalo gitu lo harus bawain hadiah ulang tahun buat gue. Gue pengen hadiah kucing. Kucingnya itu harus yang lucu .Yang imut . Yang gemes..... "


"Tunggu.... Kok jadi elo yang gue yang harus ngasih lo hadiah ultah. Kan yang hari ini gue? "


"Lo lupa? Sebulan lalu kan gue juga ultah. Lo gak kasih hadiah apapun ke gue. Jadi sebagai gantinya.... lo yang kasih gue hadiah. Kemarin-kemarin kan lo udah janji buat kasih hadiah ke gue. Ini udah sebulan tapi gak ada sinyal apa-apa dari elo. Jadi..... gue tagih deh sekarang." Jelas Rainno.


"Iyain aja deh .Biar cepet. " Jawab Silvia.


Dasar Lembek Man. Awas aja Lo. Gue c***k juga itu leher Lo lama- lama.


Kata Silvia bergumam di sepanjang jalanan.


Entah kebetulan atau tidak.


Tapi setelah Rainno memutuskan panggilannya secara sepihak. Silvia menemukan seekor anak kucing di pinggir jalan.


Teringat permintaan Rainno perihal kucing tadi.


Silvia akhirnya memungut kucing tersebut.


Tampaknya kucing itu tidak mempunyai pemilik. Terlihat dari bulu-bulunya yang seperti tidak terurus.


****


visualnya Anita Silvia





**See You Again**

__ADS_1


__ADS_2