Danau Api

Danau Api
Api lagi


__ADS_3

****


Alarm tanda adanya keadaan darurat berbunyi di kantor Damkar. Semua anggota Damkar termasuk Surya segera menuju ke area lapangan kantor Damkar.


Semua peralatan seperti Hydra Valve. Siamase Connection. Noozle. Serta alat penting lainnya sudah terpasang pada badan mobil Damkar.


Setelah mendapat perintah dari Kepala Dinas Damkar. Pak Satria namanya. Mobil Damkar yang dikendarai oleh para anggota Damkar sudah melesat menuju TKP.


Api sudah melahap sebagian besar badan gedung. Lebih tepatnya Apartemen dua puluh lantai tersebut.


Para anggota Damkar yang melihat kobaran api di tempat kejadian itu panik. Mereka langsung melakukan tugas masing-masing.


Ada yang bertugas menangani api. Ada yang mencari korban kebakaran lalu menyelamatkan nya.


Menurut mereka ini adalah kebakaran sebuah Gedung Apartemen terbesar serta terparah yang pernah mereka hadapi. Sebelum ini biasanya hanya kebakaran kecil yang dihadapi oleh para anggota Damkar tersebut.


Surya yang dua bulan lalu juga ikut menangani kobaran api di sebuah pabrik kecil namun akhirnya pingsan ketika mencoba menyelamatkan korban. Kini ikut kembali. Namun Ia hanya ditugaskan mengawasi tangga darurat dalam mobil Damkar saja. Takut jika Surya pingsan lagi . Hal itu juga adalah perintah Kepala Dinas Damkar di Kantor.


Sebenarnya Surya sempat menolak perintah dari atasannya itu. Namun Surya tidak bisa membantah nya. Ia juga ingin turun tangan langsung.


Air pada Hydra valve bahkan hampir habis. Saking besarnya kobaran api . Siamase Connection langsung digunakan untuk menggandakan air pada Hydra valve.


Tak tanggung-tanggung enam mobil Damkar dikerahkan untuk memadamkan api.


Setelah menghabiskan waktu kurang lebih dua setengah jam. Akhirnya api pada gedung tersebut padam secara total.


Para korban juga sudah dibawa oleh mobil Ambulance. Beruntung tidak ada korban jiwa. Hanya luka akibat api saja yang mengenai beberapa penghuni Apartemen yang tidak sempat menyelamatkan diri.


Namun di tempat lain. Surya justru merasakan sesuatu yang mengganjal pikiran nya. Melihat seorang nenek tua yang di papah oleh Rika anggota tim nya. Surya merasa de ja vu . Seperti pernah mengalami hal serupa di masa lalu.


"Kenapa Sur? " Tanya Rika dalam mobil.


Surya terkejut.


"Gak papa". Jawabannya.


" Buset... Ini pertama kalinya gue liat sama nanganin api segede gitu. Sumpah. Gua kira bakal mati di dalam apartemen itu tadi. " Kata Galang. Dengan nada suara yang diberatkan.


"Ehhh.Leo.Surya. Lo berdua gak papa kan? " Tanya Galang lagi.


"Hmm". Leo dan Surya bersamaan.


" Salah gue ngomong sama duo kulkas." Kesal Galang.


"DIEMM!!!l" Bentak Rika pada Galang.


Galang yang mendapat itu langsung dalam seketika.


Suasana dalam mobil besar berwarna merah itu hening. Tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Semuanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.


***


Di Rumah Sakit...


Silvia terbaring di ruang ICU. Ia ternyata juga salah satu korban kebakaran Apartemen yang ditangani oleh Surya hari ini. Ralat. Bukan Surya. Tapi temannya.

__ADS_1


Apartemen yang terbakar itu adalah rumah Silvia. Salah satu lantai yang terbakar itu milik keluarganya. Ia tinggal bersama Mamanya di sana.


Wajah cantik Silvia terlihat pucat. Matanya tertutup rapat.


Memang tidak ada luka bakar serius yang dideritanya. Hanya saja Ia sangat syok. Dan lagi Ia terlalu banyak menghirup asap.


Setelah setengah jam Silvia tertidur.


Ia akhirnya tersadar.


Dilihatnya Alif dan Rainno sedang berdiri di pinggir ranjang bangsal nya.


Dokter datang memeriksa keadaan Silvia. Setelah mendapat laporan dari Alif.


"Vi.... lo gak papa kan? " Tanya Alif.


"Lo gak ada yang luka kan? Gak kenapa-kenapa kan? Gak lupa ingatan kan? Gak lupa sama gue kan? Masih inget sama cowok kece dan tamvan badai di depan lo ini kan? Lo jangan kemana-mana. Gue beliin Lo minum dulu sebentar. Ehhh Lif jagain Via yang bener. "


Tanya Rainno panjang kali lebar. Bahkan bicaranya sudah seperti seorang Paparazzi yang menanyai artis incarannya.


Belum sempat Alif serta Silvia menjawab kata-kata Rainno. Ia sudah melesat keluar. Mencari minum katanya.


"Aduhhh capek deh. " Kata Alif seraya menepuk jidatnya.


"Lo. Kok bisa sih temenan sama modelan kayak gitu Vi? " Lanjut Alif.


Alif dan Rainno memang sudah mengetahui tentang kebakaran itu. Sebab mereka juga berada di TKP pada saat kebakaran itu terjadi.


Mereka juga yang menelepon Kantor Damkar.


Kebakaran itu terjadi setelah acara ulang tahun Silvia.


*Happy birthday to you....


Happy birthday to you....


Happy birthday Anita Silvia*....


Happy birthday.. to you.....


Hari ini Silvia merayakan ulang tahun nya yang ke delapan belas. Acara yang kecil-kecilan yang hanya dihadiri oleh orang terdekat nya itu sengaja dibuat oleh Mamanya.


"Potongan pertama buat Mama. "


Silvia menyuapi Mamanya kue yang telah Ia potong lepas.


"Potongan kedua buat siapa Vi? " Tanya Alif.


Alif juga turut hadir di acara ultah Silvia. Tidak lama setelah Silvia pulang dari kafe tempat Ia dan Silvia nongkrong tadi siang. Alif pulang untuk mengganti bajunya. Lalu berangkat menuju rumah Alif. Tak lupa juga Alif membeli hadiah untuk Silvia terlebih dahulu.


"Potongan kedua buat..... " Silvia menggantungkan kalimatnya.


"Nungguin ya? " Lanjut Silvia.


Sontak saja Rainno yang kesal dengan kata-kata Silvia. Langsung menyentil jidat nya.

__ADS_1


"Awww... Sakit ege. " Adu Silvia. Sembari mengusap keningnya yang terasa perih .


"Soalnya Lo kelamaan. Kesel gue jadinya. Sini! "


Rainno mengambil kue ditangan Silvia tanpa permisi. Lalu memakannya dengan sekali lahap.


"Kue gue.... RAIN... KOK MALAH LO YANG MAKAN SIH? ITU BUAT PAPA GUE... LEMBEK.. SINI GAK LO!! AWAS LO! "


Teriak Silvia penuh kesal. Lalu mengejar Rainno.


Mama dan Alif yang melihat aksi kejar-kejaran antara Silvia dan Rainno hanya bisa geleng-geleng kepala dan tertawa lepas.


Acara ulang tahun serta makan-makan di Apartemen rumah Silvia akhirnya selesai. Rainno serta Alif juga telah pamit pulang satu menit yang lalu.


"Ma. Makasih udah ada buat Silvia. Makasih udah rawat Via selama delapan belas tahun ini. Maaf juga karena Via suka durhaka sama Mama. "


Kata Silvia dalam pelukan Mamanya.


"Iyaa. Sayaang. Makasih juga karena udah jadi anak Mama. Maafkan Mama juga karena sering kekang kamu. Itu Mama lakukan juga buat kebaikan kamu sendiri sayang. " Kata Mama sembari mengusap pucuk kepala Silvia.


"Ma.Via mau ke depan dulu ya. Mau beli batagor nya Mang Wanto. "


Setelah berpamitan Silvia menuju Lift di depan pintu masuknya.


Silvia sempat melihat seseorang dengan pakaian serba hitam. Dengan topi hitam yang menutupi setengah wajahnya. Orang tersebut juga memakai masker. Sehingga sulit untuk mengetahui siapa dia.


Namun satu yang mencurigakan menurut Silvia. Orang itu menggandeng tas ransel nya.


"Bukannya ransel dipakai di punggung? Kenapa malah ditenteng?"


Tanya Silvia pada dirinya sendiri.


Ada satu lagi yang menyita perhatian Silvia. Ketika orang itu membungkuk. Silvia melihat tato pada. punggung leher orang tersebut.


Sebelum orang tersebut berdiri. Silvia sudah tahu gambar apa pada punggung leher nya.


Karena merasa apa yang diperhatikan nya tidak penting. Silvia melanjutkan memencet tombol pada dinding sebelah Lift tadi.


Silvia menoleh kembali.


DUARRR......


Lalu ada api yang berasal dari ransel orang berpakaian serba hitam tadi.


Silvia menjauhi api serta asap yang sudah bertebaran dimana-mana.


Uhuk.. Uhuk...


Karena terlalu banyak menghirup asap. Silvia akhirnya terbaring dan memejamkan matanya.


Ia sempat mendengar suara seseorang memanggil namanya. Sebelum akhirnya Ia pingsan.


****


**Gimana ceritanya seru gak?

__ADS_1


Nanti aku kasih visualnya Wulandari**...


****See you again ****


__ADS_2