Danau Api

Danau Api
antara lembek man dan kutil badak


__ADS_3

"Aduh...gak sabar pengen ketemu sama dedek dedek gemes." Kata Deru dengan menangkup wajahnya sendiri menggunakan tangannya, sambil digoyang goyangkan lebay.


"Ehh. Otak lo gak usah mikir yang begituan deh, " Mika menyahut. "Kita ke SMA Dharma Wijaya buat sosialisasi bukan buat PDKT sama dedek dedek gemesss. " Lanjut Mika dengan nada bicara meledek.


"Iya nih, si Heru lebay BGT lo, " Timpal Jaya. "Bukan lo doang yang ada di sini kita juga, tapi gak segitunya tuh cuman sosialisasi doang. " Lanjutnya lagi.


"Ya iyalah, orang adek lo sekolah di sini, pasti malu punya abang yang ganjen sama anak SMA. " Kata Deru sebal karena dipojokan sedangkan sedari tadi para rekannya sendiri yang paling heboh.


"Udah gak usah pake acara drama deh! Mending lo pada siap siap bentar lagi bel istirahat," Lerai Hilman melihat Deru dan Jaya saling meremas kerah baju lawan satu sama lain.


Terlihat lima orang dengan keempat dari orang-orang tersebut memakai seragam berwarna abu-abu kecoklatan lengkap dengan lencana serta atribut lainnya yang menempel pada seragam mereka. Berjalan di koridor sekolah menengah atas, mereka terlihat seperti para pemeran film action seolah ada efek 𝘴𝘭𝘰𝘸 𝘮𝘰𝘵𝘪𝘰𝘯 saat mereka berjalan.


Karena bel istrahat pertama sudah berbunyi, para siswa SMA tentu saja melihat mereka dengan berbagai celotehan khas anak SMA yang membuat para anggota kepolisian yang kebetulan hari ini mendapat undangan untuk memberikan sosialisasi kepada para murid terkekeh sombong. Terlebih lagi Deru.


***


Dua gadis remaja dengan pakaian putih serta rok kotak-kotak biru khas SMA Dharma Wijaya sedang berjalan menuju aula utama sekolah. Tidak hanya mereka berdua namun para murid lain juga sedang berjalan menuju tempat yang sama seperti mereka.


Hari ini akan ada sosialisasi dari anggota kepolisian atas undangan dari sekolah.


"AAA...! Masa bodo sama sosialisasi, emang apa pentingnya sih! Gue laper, pengen makan, pengen ke kantin malah dipaksa ikut dengerin hal-hal yang KATANYA berguna dari polisi. Tau gini gue mending bolos, ajak Rain aja sekalian pasti mau tuh kutu satu. " Gerutu Silvia. Memang gadis yang baru menginjak umur 18 tahun itu sangat benci dengan hal-hal berbau sosialisasi, apa pentingnya itu? Menurut Silvia hanya membuang buang masa saja, mending dia di kantin adu 'pedes pedesaan bakso' bareng Rain.


"Belum tentu juga kan ada yang mau jadi polisi gara-gara denger filsafatnya pakpol (pak polisi), orang murid-murid disini pada taik semua. Boro boro jadi polisi yang mengayomi rakyat , jadi preman yang meresahkan rakyat, iya. " Silvia terus menerus ngedumel.


Sadar akan gadis seusianya yang berjalan beriringan dengannya tidak menyaut, Silvia lantas menoleh kearah gadis itu. Silvia mengangkat sebelah alisnya heran akan kelakuan sahabatnya itu. Alif, gadis yang bulan depan genap berumur 18 tahun tersebut tampak berseri seri entah karena apa. Wajahnya tak hentinya menampakkan deretan gigi kelincinya yang tampak imut dengan kedua tangan yang masing-masing menempel pada pipinya.


"Vi, GILA GILA GILAAA! " Kata Alif heboh sendiri. "Kakak kakak polisi nya ganteng ganteng bangeeet. "


"Ck, apaan sih Al. Lo kesambet apaan? Jangan bilang kalo lo kesambet setannya Mbak Noni? " Ucap Silvia bergidik ngeri menyebut nama 'Mbak Noni' yang katanya hantu penunggu pohon besar yang berada dibelakang kantor Guru. Lalu mengecek kening Alif dengan tangannya takut jika Alif kehabisan obat.

__ADS_1


"ihh.. Bukan Vi, amit-amit lah. " Protes Alif sembari menepis tangan Silvia yang berada di keningnya. Silvia meringis. Lalu Alif kembali ke mode gilanya lagi. "Mimpi apa gue semalem. Via, mimpi apa gue siih? " Kata Alif lagi.


"Mimpi digigit kuyang kali. " Jawab Silvia asal. Ia terkekeh sendiri membayangkannya.


"Ya kali, Vi. Lo mah dari tadi ngomonginnya setan mulu. Dengerin gue curhat napa. "


"Iya iya, mau ngomong apa sih sampe kegirangan kek orang stress aja lo. Tuh liat murid murid lain merhatiin lo ngeri sendiri. Tuh tuh liat. " Kata Silvia mengangkat jari telunjuknya, lalu menunjuk para siswa yang memperhatikan Alif prihatin, mata mereka seolah mengisyaratkan kata 'tuh anak obatnya habis atau apa' 'kasian abis putus kali makanya stress' dan masih banyak lagi yang bisa Silvia tafsirkan dari tatapan mereka. Alif hanya mengangkat bahunya tidak peduli.


"Via! " Panggil Alif. "eung." Silvia sekenanya. Menatap lurus ke depan sambil berjalan.


"KakPol nya ganteng ganteng bingit, Vi. Sumpah bikin hatiku meleyot. Apalagi yang gayanya kayak intel, aww pengen gue karungin trus dibawa pulang rasanya. Tau gak Vi, cuman dia yang gak pake seragam kepolisian nya.Udah kayak oppa oppa Korea pas ditengah empat polisi lainnya, Dia kayak pemeran utamanya serial Korea, Vi. Udah punya istri belum sih, pacar, tunangan? Umm (memanyunkan bibir bawahnya), kalo gue sepik gak papa kali ya. "Cerocos Alif. Silvia yang mendengar penuturan sahabatnya itu tidak kaget. Alif memang hobi memandangi cogan(cowok ganteng) mau itu anak sekolah maupun om om, ia sikat juga.


" Kalo mau dicap PELAKOR ya gak papa. Tapi sorry marry strawberry nih ya, gue gak mau jadi temennya P. E. L. A. K. O. R. "Ucap Silvia dengan menekankan dan mengeja kata 'pelakor'.


Wajah Alif yang tadinya sumringah langsung kendur mendengar bicara Silvia.


" Becanda Vi, lo mah gitu orangnya. " Kata Alif cemberut.


Setelah beberapa langkah Silvia berjalan Alif lalu tersadar dan berlari menghampiri Silvia.


"Sil sil sil, tungguin ihh. " Panggil Alif.


"Sil Sil, emang nama gue Sisil. " Protes Silvia kesal.


Alif mematung didepan Silvia yang sudah berbalik kearahnya dan menatapnya kesal.


Alif meneguk ludahnya berat. Ia lupa bahwa Silvia tidak suka dipanggil potongan nama 'sil' bukan 'Via'. Bukannya tanpa alasan Silvia benci hal itu, toh 'Sil' adalah potongan nama depannya juga. Namun rivalnya Silvia juga dipanggil demikian. 'Sil' alias 'Sisil' kapten cheerleaders sekolahnya, gadis seangkatan Silvia dengan rambut sebahu yang memiliki wajah yang cantik juga ramah pada semua cowok. Catat semua cowok. Benar benar membuat Silvia muak, apalagi make up nya yang menor seperti mau kondangan saja.


Gadis yang menjadi most wanted nya SMA Dharma Wijaya tersebut selalu saja cari gara-gara dengan Silvia sejak masa MPLS sampai sekarang, bagaimana Silvia tidak kesal coba. Ditambah lagi karakter Sisil yang bertolak belakang 360 derajat dengan Silvia. Kalau Sisil bak 'Angel' nya Dharma Wijaya, Silvia adalah 'Devil' nya Dharma Wijaya.

__ADS_1


Sebenarnya Silvia juga termasuk salah satu most wanted nya sekolah, hanya saja pembawaannya yang kasar serta acuh tak acuh membuat cowok cowok lebih memilih mendekati Sisil dibanding Silvia. Namun tidak sedikit juga anak cowok yang notabennya adalah most wanted sekolah terang-terangan mendekati Silvia. Contohnya saja Muhammad Haikal Si kapten basket, idolanya cewek cewek sering mengantar Silvia pulang, mentraktir makan di kantin, mengajak jalan, dan lebih mengherankan lagi cowok jangkung itu bahkan rela masuk ekskul taekwondo yang diikuti oleh Silvia. Mungkin itu yang membuat Sisil ilfeel dengan Silvia, pikir Alif.


Namun memang dasar Silvia itu hatinya terbuat dari apa, jika saja yang digebet Haikal itu Alif pasti Kapten basket itu sudah ia pacari sekarang. Tapi ini Anita Silvia, cewek bar bar yang sama sekali tidak tersentuh hatinya oleh Muhammad Haikal idolanya Dharma Wijaya.


"Apa tadi lo bilang. Lo panggil gue apa tadi? " Tanya Silvia benar-benar kesal setengah mati.


"Eh, maaf Vi. Jangan marah ya ya ya. " Silvia hanya memutar matanya malas kemudian berbalik lagi melanjutkan jalannya. Alif juga ikut berjalan disisi Silvia lalu merangkul lengan Silvia manja.


"Tapi, Vi. Gue heran sama lo, masa iya lo gak tertarik sedikit pun ama Haikal sih. Padahal tuh anak ya, udah ganteng, tinggi, kulitnya sawo mateng, baik, pengertian, penyayang juga lagi. Perfect deh pokoknya. Cocok sama lo yang___" Ucap Alif menggantungkan kalimatnya.


"Yang apa? Ha? Belok lagi lo? habis dari kakPol belok ke kutil badak lo."


"Hehe, maksud gue tuh, cocok sama lo yang cantik, lemah lemb___" Lanjut Alif sebelum kata katanya dipotong oleh Silvia. "Udah gak usah caper lo ama gue. Lo kayak si nenek Sisil tau gak. " Kesal Silvia.


"Iya iya maaf, lagian gue gak bakal sepik gebetan lo kok si Kutil badak.Gue bukan temen makan temen, Vi." Jelas Alif.𝘠𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘰 𝘭𝘰 𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘪 𝘏𝘢𝘪𝘬𝘢𝘭 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘩 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘨𝘶𝘦 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘰 𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘬 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘦𝘮𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘷𝘪, Alif membatin. Memang tipe tipe teman luck nut Alif ini.


"Lagian siapa juga sih yang mau sama kutil badak kayak Haikal. Kalo gue disuruh milih seandainya cuma ada dua cowok di dunia ini yang harus gue pilih salah satunya buat nerusin generasi gue, yaitu Si kutil badak ama Si lembek man. Mending gue pilih opsi yang kedua. " Jelas Silvia. Alif yang mendengar penjelasan Silvia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.


"Via, j -jangan bilang lo suka sama Si Rain? (lembek man, opsi kedua Silvia) Ya ampun Vi... Masa tipe lo kayak Rain sih. " Protes Alif.


"Kenapa emang? " Tanya Silvia memancing Alif.


"Ya kali cowok kayak anak ayam yang nempelin lo mulu tipe lo. " Kata Alif memberi jeda pada kalimatnya. "Gak gue aminin ya lo berjodoh ama tuh anak ayam lembek, yang ada lo jadi suami dia jadi istri. Kan kebalik. " Lanjutnya ngeri membayangkan apa yang dikatakannya sendiri.


Bwahahaha. Silvia yang mendengar kejujuran polos Alif tertawa terbahak-bahak Alif sendiri langsung manyun 10 senti setelah mengerti bahwa Silvia hanya mengerjainya.


"Amin ya Allah...AMIN YA RABBAL ALAMIN. " Silvia dan Alif menoleh pada asal suara tersebut.


__________

__ADS_1


*see you again*


__ADS_2