
****
Masih dengan Silvia.
Gadis itu kini duduk sendirian di sebuah gazebo taman. Taman yang hanya ada rerumputan seperti lapangan bola, di sinilah tempat Silvia kerap menuangkan segala resah, sakit, kecewa, dan semua yang membuat air matanya tumpah.
Sudah lama sekali ia tidak pernah datang kesini. Terakhir kali saat Mamanya ingin mendaftarkan Silvia les balet, saat itu ia masih kelas XI IPS yang berarti satu tahun lalu.
Kali ini Silvia datang lagi. Bukan karena rasa kecewa lagi yang membawa datang ke tempat ini seperti tahun sebelumnya. Namun kali ini ia merasa tidak berguna, marah, dan benci pada diri nya sendiri.
Mengapa Silvia merasa seperti itu?
Jarang sekali ia menangis bahkan bisa dihitung dengan jari berapa kali ia meneteskan air matanya.
Apa yang terjadi padanya?
Silvia mengingat kembali kata kata yang membuat nya sakit hati namun juga tersadar.
Sore tadi Silvia berangkat menuju tempat les balet nya.Untuk pertama kalinya Silvia merasa senang hati mengikuti lesnya. Jika biasanya ia setengah hati menari balet, kali ini Silvia benar benar akan melakukan nya sepenuh hatinya.
Baru saja Silvia selesai mengganti bajunya dengan baju balet di ruang ganti. Seseorang lalu menarik tangannya tanpa permisi. Lalu membawanya ke toilet.
"Mau lo apa sih! " tanya Silvia kesal.
"ck.mau gue lo itu MATI. " kata orang yang menyeret paksa Silvia. Ia menekankan kata MATI pada kalimatnya.
"Maksud lo apa Kila? " tanya Silvia tidak percaya akan penuturan gadis seumurannya yang bernama Kila itu.
Kila adalah salah satu gadis yang ikut les balet ditempatnya.
"Gak usah sok beg* deh lo. Dasar pembawa SIAL! " ucap Kila.Emosi entah karena apa.
"Ehh.. kalo ngomong itu di jaga ya! Sembarangan ngatain orang. Emang lo pikir lo siapa? Jangan mentang-mentang lo sepupu gue bisaa seenaknya nyebut gue kek gitu ya! " Silvia mulai ikut tersulut emosinya.
"hmm, emang lo itu PEMBAWA SIAL tau gak. Gara gara lo tante Ratih jadi koma. Gara-gara lo juga gue gak bisa jadi pemeran utama di Swan Lake. "
Silvia berdecak meremehkan Kila.
__ADS_1
"Jadi lo itu iri sama gue cuma karena bu Mia milih gue jadi pemeran utama tarian Danau Angsa alias Swan Lake-Swan Lake di acara kemarin? "
Silvia memang pernah menjadi pemeran utama dalam tarian Danau Angsa bulan lalu. Silvia terpilih bukan tanpa alasan. Memang ia berbakat dalam menari meskipun gayanya yang agak bar bar. Namun ia di akui oleh bu Mia pelatih balet ditempatnya. Bahkan Silvia pernah ditawarkan beasiswa di Italia oleh seorang dari sana karena bakatnya tersebut. Hanya saja Silvia tidak tertarik dengan balet, benar benar tidak tertarik.
"Gak usah iri sepupu gue yang gak deket ama gue yang tersayang, lo itu narinya lebih bagus daripada gue. " lanjut Silvia.
"Alah gak usah muna deh lo. Gue tau lo itu keenakan di puji sama Mr.Albert ya kan? " kata Kila lagi.
"Aduh capek gue ngomong sama lo. Gak ada faedahnya tau gak. " ucap Silvia. Lalu melangkah pergi.
Baru saja beberapa langkah ia berjalan tiba-tiba Kila mengatakan sesuatu yang membuat Silvia menghentikan langkah nya.
"LO ITU EMANG PEMBAWA SIAL! TANTE RATIH MASUK RUMAH SAKIT SAMPAI KOMA GARA-GARA LINDUNGIN ELO! HARUSNYA LO SADAR DIRI SETIAP ORANG YANG DEKAT AMA LO ITU PASTI CELAKA! SEKARANG TANTE GUE LO BIKIN KOMA, BESOK SIAPA LAGI? RAIN, ALIF, ATAU OM BIMA? EMANG DARI KECIL LO ITU GAK PERNAH BERUBAH. UDAH SONGONG, SUKA NGAMBIL HAK ORANG LAIN, LO UDAH NGEREBUT RAIN DARI GUE. LO TAU GUE ITU SUKA SAMA DIA TAPI MASIH AJA LO GEBET.DAN HAL YANG PALING GUE GAK SUKA DARI LO ADALAH UDAH NGEHANCURIN PERSAHABATAN GUA SAMA ALIF! GAK BERGUNA,!!LO SELALU MEMBANGKANG SAMA ORTU LO, DAN SEKARANG LO PASTI SENENG KAN? UDAH GAK ADA LAGI YANG LARANG LO INI ITU . SIAL LO EMANG. DAN SATU LAGI, GUE SAMA SEKALI GAK IRI SAMA LO. MESKIPUN NYOKAP GUE SIBUK, SEENGGAKNYA GUA GAK BIKIN DIA HAMPIR MATI DI HARI ULANG TAHUN GUE SENDIRI! Ck. Ck.Ck." Kata Kila dengan nada suara yang cukup keras sambil menggelengkan kepalanya. Lalu melangkah pergi meninggalkan Silvia yang mematung di tempat nya.Masih sempat Kila menyenggol bahu Silvia menggunakan bahunya.
Kata kata Kila memang mengusik pikiran Silvia. Di taman ini Silvia menatap langit senja mengambil napas dalam-dalam lalu menangis kembali.
"Apa benar gue ini gak berguna? Gue pembawa sial. Hiks... "
Silvia menangis dalam sendiri nya. Tangannya terus menghapus air matanya dengan kasar berkali-kali. Berkali-kali juga air matanya terus jatuh.
"Nih." ucap seseorang di samping Silvia. Silvia menoleh lalu melihat sapu tangan sedang di arahkan padanya.
"Hapus air mata lo. " suara berat orang itu membuat Silvia kembali menoleh padanya.Silvia tadi tidak melihat kearah orang tersebut saat pertama kali ia bicara namun kali ini ia menatap wajah orang tersebut. Ternyata ia seorang pria, ya lumayan tampan menurut Silvia. Ah apa yang dipikirkan nya, cepat cepat ia berhenti menatap pria itu.
"Gue bilang gak usah. Makasih gue gak butuh, gak perlu juga. " ucap Silvia pada pria tersebut.
Silvia mengusap air matanya kembali.
"Lo pake nih! Gih! " entah apa yang dipikirkan pria itu hingga nada bicaranya seakan memaksa.
"Gue bilang gak, ya gak! Kok lo malah nyolot sih? " ucap Silvia meskipun masih sesegukan.
"Gue bisa apus air mata gue sendiri. " lanjut Silvia sambil menghapus jejak air matanya lagi.
Melihat Silvia yang tengah menghapus air matanya. Pria tersebut lantas berkata kembali.
"Air mata lo bisa lo hapus pake tangan. Tapi liat tuh ingus lo mau lo apain? mau pake tangan juga? "
__ADS_1
kata pria tersebut dengan wajah datarnya.
Silvia yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung mengambil sapu tangan dari pria tadi tanpa aba aba. Tangannya merampas sapu tangan yang berada ditangan pria itu secepat kilat.
Pria itu lalu berlalu pergi meninggalkan Silvia yang tengah mengeluarkan ingusnya. Silvia memang sudah kehilangan urat malunya. Hehe.
Sebelum pria itu menjauh ia berbalik lalu mengatakan sesuatu pada Silvia.
"Bisa ngalahin dua preman lo jago. Tapi ngalahin diri lo sendiri lo gak bisa. Dasar BOCIL! " katanya. Lalu kembali membalikkan badannya.
Silvia yang mendengar hal tersebut lantas berpikir hingga akhirnya ia sadar bahwa pria tersebut adalah cowok yang menolong Wulandari waktu itu. Kini ia ingat wajahnya.
"Woiii! Tunggu ! " ucap Silvia seraya bangkit dari duduknya lalu berlari mengejar pria tersebut.
Sebenarnya Silvia tidak perlu berlari dengan kencang hanya untuk mengejar pria tersebut yang hanya beberapa meter di depannya. Karena saking cepatnya Silvia berlari ia tidak dapat nge-rem kakinya hingga tubuhnya yang ramping itu menubruk dada bidang pria yang kebetulan berbalik akibat teriakan Silvia tadi.
Silvia memejamkan matanya, siap jika bokongnya harus terpaksa mencium tanah yang setengahnya lagi aspal. Pasti sakit pikirnya.
Namun sepasang tangan menangkap tubuhnya. Merasa tubuhnya ringan, Silvia membuka matanya.
Dilihatnya pria tadi tengah menaruh tangannya di pinggangnya dan tangan lainnya ada di punggung Silvia.
Tatapan keduanya kini bertemu. Wajah mereka hanya berjarak sekitar 20 cm. Ya kalian bisa bayangkan sendiri bagaimana adegan mereka, sudah seperti dalam adegan drama Korea saja.
Lama mereka saling menatap. Hingga pria tersebut sadar terlebih dahulu.
"Hmmm... mau sampe kapan dipeluk sama gue. Lo kenyamanan? " ucap pria tersebut dengan wajah dingin serta ekspresinya yang datar.
Silvia masih setia menatap iris mata pria yang menangkap nya.
"Mau ngajak gue jadi partner balet lo? " katanya lagi.
Kata 'balet' yang didengar Silvia mampu menyadarkannya. Kini wajahnya memerah mirip udang rebus. Silvia blushing. Ia baru sadar bahwa sedari tadi ia menangis dengan baju balet yang masih melekat pada tubuhnya.
Mana baju itu berwarna kuning cerah pada bagian atasnya serta warna ungu cerah juga pada bagian roknya. Benar benar perpaduan warna yang sangat amat norak. Dan tentu saja Mamanya lah yang memberikan baju tersebut pada Silvia. Mamanya memang tidak tau style pikirnya.
"He? kok bengong? " Silvia tersentak lalu berdiri memperbaiki posisinya yang tadi agak membuat Silvia dag dig dug dalam hati.
__ADS_1
****
**see you Again**