
Masih di hari yang sama, Alif masih setia berada di rumah sakit menemani Silvia. Rainno sendiri, kalian tahu kan anak tengil itu sedang keluar membeli minum untuk Silvia.
"Vi.. gue mau ngasih tau lo sesuatu, tapi lo jangan ngelakuin hal buruk ya? " kata Alif takut.
"Mau ngomong apa emang? " ucap Silvia sembari menatap pergelangan tangannya yang terdapat selang infus.
"Oh iya! Mama! Mama gue gimana keadaan nya? Nyokap gue gak kenapa napa kan, Al? " lanjut Silvia setengah teriak.
Alif yang mendapat pertanyaan tersebut lantas menunduk. Air bening tiba-tiba jatuh ke pipi nya. Silvia yang melihat itu mengerutkan keningnya.
"JAWAB AL!! MAMA GUE GIMANA? DIA DI MANA SEKARANG? JANGAN BIKIN GUE KHAWATIR DONG!!! " kini Silvia berteriak sambil menggoyang goyangkan bahu Alif.
"Al, jawab dong jangan diem aja.... " Silvia memelas.
"Tan.. tante R.. ra.. tih... hiks... di.. a.. hiks... di... a... " jawab Alif sesegukan.
"Mama kenapa? " tanya Silvia lagi.
"Ko.... ma.... hiks hiks" lanjut Alif langsung memeluk Silvia.
Silvia yang mendengar berita mengenai Mamanya dari mulut Alif, hanya dapat diam mencerna kata kata Alif. Takut jika Ia salah dengar. Namun sedetik kemudian Ia langsung histeris.
"Gak...! gak mungkin Al... Mama gak mungkin... aaaaaaaa!! " Silvia menangis sejadi-jadinya dalam dekapan Alif. Ia sudah seperti orang g**a saja. Kenapa tidak, Silvia meraung, berusaha melepaskan selang infus yang tertancap di lengannya.
"Lo yang sabar Vi. Tante Ratih pasti bangun lagi kok. Lo mau ngapain Vi? Via... Silvia lo jangan nekat gini! Keadaan lo masih belum stabil." ucap Alif menenangkan Silvia namun ia langsung kaget melihat Silvia berusaha melepas infus nya.
"LEPAS!! ALIF!! LEPASIN GUE! GUE MAU LIAT KEADAAN MAMA! " teriak Silvia berusaha lepas dari genggaman Alif.
"Iya gue tau, lo pasti khawatir sama nyokap lo. Tapi liat dulu kondisi lo sekarang Vi. Lo masih drop."
"LEPASIN GAK! ATAU KITA BUKAN SAHABAT LAGI!" Silvia menggila.
__ADS_1
Alif tak tahu harus berbuat apa sekarang. Ia paham betul perasaan Silvia sekarang ini bagaimana. Alif juga pernah berada di posisi Silvia, bahkan tidak hanya sekali namun dua kali Alif kehilangan.
"Via! lo jangan gini dong. Mama lo pasti sembuh. Kalo dia liat lo kayak gini, dia pasti bakalan sedih. "
ucap Rainno dengan lembut. Sangat lembut.
Rainno tiba-tiba saja datang dan beralih mendekap Silvia yang sudah tidak bisa di tahan oleh Alif. Air mineral yang tadi dibelinya ia biarkan begitu saja. Tergeletak di lantai rumah sakit.
"Mama Rain.... hiks hiks hiks Mama gue... " tangis Silvia dalam pelukan Rainno.
"iya.iya.gue tau, tapi lo jangan nangis mulu. Masa cewek bar bar kek lo jadi cengeng gini sih. " ucap Rainno lagi sambil menguasap rambut Silvia.
"Apaan sih hiks.. bercanda lo gak lucu dasar LEMBEK. " Ledek Silvia ditengah tangis nya.
"Nah gitu dong. Baru namanya Anita Silvia. " kata Rainno. "Udah jangan nangis lagi. Lap itu ingus lo jijik gue ntar kena baju gue. " ledek Rainno sambil berlagak sok jijik.
"Ihhh Rain mau gua tabok. " Kata Silvia tidak terima.
"Sekarang lo istirahat dulu, nanti kalo infus lo udah abis kita minta izin ke dokter buat liat keadaan Mama lo. ok? " kata Rainno lagi.Silvia mengangguk. Rainno lalu mengecup pucuk kepala Silvia agak lama dengan lembut. Namun si empunya kepala tidak sadar akan perlakuan Rainno yang manis tersebut.
Alif yang melihat secara langsung apa yang Rainno lakukan lantas memukul punggung orang itu. Rainno yang terkejut karena tiba-tiba ada tangan yang mendarat sangat keras di punggung nya, lalu melepaskan pelukannya pada Silvia.
"Aww.. Sakit Al. Lo apa apaan sih? "
"Gue apaan? Lo tu yang apaan. Ngapain lo ke Via? " tanya Alif kesal.
"ck.ganggu aja lo. Kalo cemburu bilang seyenk. " goda Rainno sambil menaik turunkan alisnya.
Alif hanya memutar bola matanya malas.
"Via? lo liat tadi si Rain ngapain lo... " saat Alif mengarahkan pandangan nya ke Silvia. Ternyata Silvia sudah tertidur. Alif dapat melihat kerutan pada wajah mulus Silvia. Tanda Silvia sangat takut kehilangan Mamanya bahkan dalam tidur nya sekalipun.
__ADS_1
***
Seminggu sudah berlalu. Namun Mama Silvia masih setia terbaring di ranjang rumah sakit. Silvia juga sudah seminggu tidak bersekolah karena ingin menjaga Mama. Pihak sekolah yang mengetahui keadaan keluarga Silvia turut mengerti sehingga memberi Silvia cuti sementara.
Papa Silvia juga sudah kembali dari dinasnya di luar kota. Papa memang tidak bisa langsung terbang setelah mendapat kabar mengenai anak dan istri nya karena pekerjaan yang menumpuk. Bahkan saat perayaan ulang tahun Silvia kemarin, Silvia hanya mendapat ucapan selamat lewat panggilan video.
"Sayang, bangun. Kamu gak sekolah? " tanya Papa seraya membangunkan putri semata wayang nya.
Silvia terbangun. Ia mengusap matanya serta menguap.
"Woamm gak deh Pa. Via mau jagain Mama aja. " ucap Silvia dengan suara khas bangun tidur.
"Loh kok gitu? Udah kamu ke sekolah aja biar Mamamu Papa yang jagain. Kamu kan udah seminggu gak sekolah. Inget kamu udah kelas berapa sekarang? "
"Kelas XII IPS Papa.. " jawab Silvia dengan muka cemberut.
"Nah itu kamu tau. Udah sekarang kamu mandi terus pulang ke hotel dulu ganti baju. Papa udah siapin seragam baru buat kamu. " perintah Papa.
"Siap..! Dan! " Silvia menaruh tangannya di kepala, dengan gaya hormat pada Papanya ala ala komandan pasukan.
Papa hanya mengacak-acak rambut putri nya itu dengan gemas.
Silvia melakukan semua perintah Papanya dengan senang hati. Sehabis mandi ia berpamitan pada Papanya lalu menuju ***** Hotel tempat tinggalnya dan Papanya untuk sementara.
Apartemen keluarganya yang kebakaran kemarin masih dalam penyelidikan polisi. Menurut polisi ada yang mengganjal pada kebakaran gedung apartemen mewah tersebut. Silvia pun merasakan hal serupa.
Setelah selesai Silvia lalu berangkat ke sekolah. Jangan lupa, Rainno yang menjemput Silvia.
****
***see you again***
__ADS_1