
..."La, kamu harus tahu nama para pentolan sekolah itu. Kalo nggak nanti kamu bakalan dibully mereka habis-habisan," tandas Jingga sesekali mengunyah batagor di dalam mulutnya....
***
19 Agustus 2015
Kesiur angin membuat jilbab Laila melambai-lambai seakan menyapa orang-orang yang berada di sekitarnya. Gadis bermata jelita bernama Laila, dengan anggun melangkahkan kakinya di koridor utama sekolah menuju ruangan ber-AC yang diketahui adalah ruang kelas X MIPA 11.
Dengan mengenakan seragam sekolah barunya, yang dipadukan dengan jilbab segiempat berwarna putih dan pastinya tidak menerawang. Dia menginjakkan satu persatu kakinya, menaiki ubin tangga satu-persatu, perlahan tapi pasti juga dengan hati-hati.
Gemuruh di dadanya tak bisa disangkal lagi. Hari pertama ia bersekolah di SMA Nusa Dharma membuat dadanya berdegup lebih kencang dari biasanya. Nafasnya memburu. Keringat dingin seakan membasahi tubuhnya. Dalam hatinya terbit beraneka ragam pertanyaan, keraguan, kebimbangan, dan pastinya sedikit bumbu semangat yang sengaja dia ciptakan sendiri. Ya, sendiri!
Tak jauh dari tempat Laila mengayunkan kaki. Daun-daun berjatuhan dari tangkainya. Perlahan, meliuk-liuk, mendayung seakan mengikuti irama sebuah lagu elegi, kemudian jatuh tersungkur di tanah gembur di bawah pohon yang daun itu tinggalkan. Namun, dia tak pernah membenci angin yang menjatuhkannya. Tak akan pernah!
***
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh," salamnya sembari mengetuk pintu yang diketahui adalah kelas X MIPA 11
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh," jawab seorang wanita cantik, dengan menyunggingkan senyuman khasnya yang manis. Sembari meraih gagang pintu kemudian membukanya.
"Selamat pagi Bu." Laila memajang senyumnya kepada seorang guru perempuan yang membukakan pintu untuknya. Namanya Bu Arun.
"Pagi, Laila. Silahkan masuk," titah Bu Arun sedetik kemudian diaminkan oleh Laila.
Laila berdiri tepat di depan para murid-murid yang nantinya akan menjadi teman sekelas Laila. Dia memajang senyumnya dengan tulus. Kemudian memperkenalkan diri setelah diberi titah oleh seorang guru yaitu Bu Arun.
"Silahkan perkenalkan dirimu Nak," titah Bu Arun.
"Baik Bu," jawabnya anggun.
Laila menarik napasnya panjang. Dikumpulkannya kepingan-kepingan keberanian dan semangat meski sedikit jumlahnya. Dalam hatinya dia mengucapkan "Bismillahirrahmanirrahim ..." Kemudian disetirnya kepala bersama sepasang bola mata hitam menuju audiensi di depannya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh." Laila mengawali dengan sederet salam menurut agamanya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh." Seisi kelas menjawab salam Laila. 'Rupanya seisi kelas ini beragama Islam' batinnya.
"Perkenalkan, nama saya Laila Safitri. Bisa dipanggil Laila. Saya pindahan dari SMA 'Aisyah Jawa Tengah. Sekian, terima kasih. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh."
Perkenalan yang singkat tapi jelas. Setelah mengucapkan salam penutup dan kemudian dijawab oleh para audiensi Laila dipersilahkan untuk duduk di bangku yang kosong. Dia menuju bangku pojok belakang paling kanan. "Yah, anak pindahan pasti dapet tempat duduk di belakang," gumamnya dalam hati.
"Salam kenal Laila, namaku Jingga," ucap Jingga setelah Laila duduk di sebelahnya. Orangnya cantik, kulitnya putih bersih. Bola matanya berwarna jingga, seperti namanya.
"Salam kenal Jingga," jawabnya sembari melemparkan senyum sumringah.
"Semoga kita jadi teman yang baik ya La," harap Jingga dengan penuh harap tulus dari hati.
"Aamiin."
***
Bel istirahat pertama berbunyi.
"Hmmm ... yuk." Mereka kemudian berjalan menuju kantin.
Laila dan Jingga duduk di bangku bagian kanan paling belakang. Bukan karena kantin ramai, melainkan Jingga lebih suka tempat duduk yang berada di belakang apalagi pojokan.
"Kamu duduk disini dulu biar aku yang pesen kesana. Kamu mau pesen apa La?" tanya Jingga.
"Es teh sama batagor aja, ada kan?"
"Oke. Tunggu bentar ya La"
"Iya." Laila duduk. Dipandanginya kantin dengan seksama. Ruangannya sekitar 15 × 20 meter, catnya krem, ada beberapa bangku dan juga meja disana. Serta beberapa lukisan indah yang terpajang di dinding.
__ADS_1
Jingga nenghampiri Bu Nova -Penjual kantin- berada kemudian memesan pesanan yang tadi disebutkan Laila juga untuknya dengan menu yang sama.
"Bu Nov. Jingga pesen batagor dua sama es teh dua ya." Jingga mengucapkan pesanannya setelah sampai di depan meja yang berisi banyak dagangan Bu Nova.
"Siap Jingga" Bu Nova mengacungkan jempol kanannya. Tak lupa ia tunjukkan sederet gigi putih bersih nan berkilau membuat siapa saja yang memandanginya pasti mengira gigi Bu Nova adalah berlian mahal.
Sekitar tiga menit menunggu akhirnya pesanan berada di tangan Jingga. Dia berjalan menuju meja dimana Laila berada sembari membawa pesanan.
Mereka mengunyah batagor dengan semangat. Sesekali menyeruput es teh yang terhidang di depannya. Sembari berkenalan lebih dekat dan membicarakan banyak pembicaraan tentang sekolah ataupun yang lainnya.
"Woy minggir Lo!" Terdengar suara gertakan seorang laki-laki di meja bagian kiri paling belakang. Laila dan Jingga terkejut kemudian diarahkannya pandangan menuju asal suara berada.
Para pentolan sekolah SMA Nusa Dharma sudah keluar dari kandangnya. Senja, Laut dan Bintang. Tiga pentolan sekolah yang dikenal sering berbuat seenak jidatnya, datang terlambat, langganan masuk ruang kepala sekolah dan bimbingan konseling, tentunya karena selalu membuat onar di sekolah.
Tiga serangkai itu mengusir adik kelas yang sedang duduk menyantap makanan di depannya. Lelaki dengan postur tubuh kurus, ditambah aksesoris kacamata hitam bundar pergi membawa piring dan gelas menuju meja lain karena ia tak mungkin melawan tiga pentolan sekolah. Meski hatinya memberontak tapi ia lebih memilih untuk mengalah.
"La, kamu harus tahu nama para pentolan sekolah itu. Kalo nggak nanti kamu bakalan dibully mereka habis-habisan," tandas Jingga sesekali mengunyah batagor yang ada di mulutnya.
"Oh ya?" tanya Laila tidak mengerti.
"Iya La. Aku kasih tahu kamu aja sekalian ya. Kamu liat yang paling pendek itu, namanya kak Bintang. Dia orangnya paling kalem diantara mereka bertiga, tapi sama aja sih kelakuannya, tukang bikin onar. Terus yang paling kurus namanya kak Laut. Dia paling elegan penampilannya, tapi sama aja tukang bikin onar juga," terang Jingga bersama tawa kecil yang berderaian dari mulutnya.
"Kalo yang satunya?" tanya Laila karena Jingga kurang lengkap memperkenalkan tiga pentolan sekolah itu.
"Kalo yang paling ganteng itu namanya kak Senja. Btw jangan diambil yah, aku udah ngincer dia sejak masuk ke sekolah ini, hehe." Jingga cengengesan mengucapkan kalimat barusan.
"Cie cie cie Jingga rupanya udah punya sasaran busur panahnya nih. Aku doain semoga harapanmu terkabul. Bisa bersanding dengan pangeran Senja," goda Laila dengan senyum geli.
"Aamiin ya Allah." Jingga mengamini doa Laila dengan girang juga dengan volume suara yang lumayan keras sehingga membuat dirinya menjadi sorotan perhatian para siswa SMA Nusa Dharma yang sedang berada di kantin.
"Ssst ...." Laila menyikut perut Jingga sehingga membuat sang empunya meringis kesakitan. Tapi sama saja, dia tidak peduli dengan tatapan heran semua siswa yang memandanginya dengan tanda tanya.
__ADS_1
Sebenarnya ada sedikit kejanggalan dalam hati Laila setelah mendengar nama 'Senja' keluar dari mulut temannya. Tapi dia tidak tahu apa kejanggalan itu. Memang benar dirinya pernah mengenal seseorang yang bernama Senja. Tetapi ini beda, Senja yang dia kenal dahulu adalah Senja si gendut yang cengeng dan sering dibully teman-temannya. Sedangkan yang ini? Tak ada persamaan diantara mereka, Senja yang ini tidak gendut, dan bukan korban bullying, bahkan Senja yang ini adalah pentolan sekolah dan banyak digandrungi para kaum hawa. Tapi dia merasa ada sesuatu dalam diri salah satu pentolan sekolah yang katanya paling ganteng itu. Ada sesuatu yang tak asing bagi dirinya. Apakah dia ...?
***