
Hola gees. Gimana nih kabarnya?? Semoga sehat selalu yaaaa
Happy reading
_____________
..."Dasar jal@ng berengs*k! Di mana kamu bawa pergi suamiku hah? Kamu tahu? Semenjak dia pergi bersamamu kehidupanku amatlah buruk! Disuntik berkali-kali! Disuruh makan makanan yang gak enak setiap hari! Dan dikurung di tempat ini sendirian! Gak ada teman! Kamu tahu itu ****** berengs*k!" paparnya panjang lebar. Tak lupa, jari telunjuknya ia gunakan untuk menuding wajah Laila....
***
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh."
Santriwan dan santriwati TPQ Al-Ikhlas berhamburan keluar dari masjid. Sebagian ada yang memilih langsung pulang dan sebagian yang lain memilih bermain-main di teras masjid.
Laila memang ditugasi untuk mengajar di TPQ ini sejak dirinya masuk asrama. Dengan kepiawaiannya dan kefasihannya dalam membaca Alqur'an, dirinya ditugasi untuk menggantikan pengasuh asrama yang sedang sakit.
Senyumannya mengambang ketika melihat satu anak laki-laki dan satu anak perempuan yang sedang akur bermain kejar-kejaran. Memori tentang masa lalunya kini berputar kembali.
_
"Kak Senja curang!" rengek Embun dengan napas tersengal. Dirinya tidak terima akan kemenangan Senja. Pasalnya, dari dulu Embun selalu mengalahkan Senja karena Senja tak bisa berlari apalagi dengan badan gemuknya. Tetapi ini? Senja justru lebih dulu menginjak garis finish dibanding Embun.
"Aku gak curang Mbun. Aku sekarang udah pinter lari tau. Selama ini aku berlatih keras biar bisa ngalahin kamu. Kan aku malu kalo tiap lomba sama kamu tapi aku kalah mulu," jawab Senja diiringi kekehan kecil.
"Tapi kan sama aja. Kakak curang!" Embun memanyunkan bibirnya.
"Enggak"
"Curang!"
"Enggak"
"Curang!"
"Iya deh terserah kamu yang penting jangan marah ya sama aku," jawab Senja pasrah.
"Nah gitu dong." Embun mengacungkan jempolnya dan tertawa.
_
Laila mengembuskan napasnya kasar. Ia tahu, kebersamaannya dengan Senja tak akan bisa kembali. Kebersamaannya dengan Senja tak akan bisa seperti dahulu lagi. Kini sudah berbeda. Momen persahabatan mereka tidak akan bisa terulang kembali.
"Assalamu'alaikum La," salam seorang laki-laki kemudian berdiri menjajari Laila. Laila bergeser satu langkah untuk menjaga jarak.
__ADS_1
"Eh. Wa'alaikumussalam kak Fajar," jawab Laila dengan sedikit terkejut.
"Kamu ngajar di sini ya?" tanya Fajar.
"Iya kak," jawab Laila namun pandangannya masih tertuju pada anak-anak di depannya.
"Udah berapa lama?"
"Baru satu minggu kak, gantiin pengasuh asrama yang lagi sakit," jawab Laila dengan senyuman namun tidak dilemparkan kepada Fajar, melainkan dilemparkan lurus ke depan entah kemana sebenarnya.
"Oh. Maasya Allah."
"Kak Fajar di sini ngapain?" tanya Laila karena heran, tak biasa-biasanya Fajar ada di sini.
"Oh, tadi kebetulan aku lewat di sini terus denger adzan akhinya aku salat di masjid ini. Terus tadi pas mau lanjut perjalanan, aku liat kamu lagi ngajar. Jadi aku mutusin buat nunggu kamu, aku mau kamu sekalian ikut aku jenguk ibu di rumah sakit. Kamu mau kan La?" papar sekaligus tawar Fajar.
"Ibu kak Fajar di rumah sakit?" tanya Laila dengan ekspresi sedikit terkejut.
"Iya. Kamu mau temenin aku kan? Aku janji insya Allah gak sampai maghrib kok."
"Hm. Gimana ya?" Laila memutar otaknya. Dirinya tidak tahu apa hukuman yang akan dia dapat jika Laila pulang lebih sore dari biasanya. Sekaligus dirinya takut jika harus pergi berdua dengan seorang laki-laki yang bukan mahramnya, walaupun Laila tahu kalau Fajar adalah laki-laki yang baik.
"Kamu tenang aja La. Kita gak cuma berdua. Ada sopir aku yang ikut jadi nanti kita di mobil gak berduaan." Fajar meyakinkan Laila.
"Insya Allah."
***
Rumah Sakit Jiwa Al-amanah namanya. Laila tertegun setelah mobil yang mereka tumpangi masuk ke parkiran RSJ Al-amanah. Kenapa rumah sakit jiwa? Sebenarnya apa penyakit yang sedang di derita oleh ibunya kak Fajar? Ingin sekali Laila menanyakan semuanya kepada Fajar. Namun dia lebih memilih untuk mengurungkan niatnya. Dia tahu, jika dia bertanya sekarang sangatlah tidak pantas.
"Yuk La kita masuk," ajak Fajar kemudian diangguki Laila.
Mereka berdua keluar mobil menuju gedung di depannya. Sedangkan pak sopir hanya menunggu di dalam mobil. Menyusuri taman dengan bunga-bunga indah dan pohon-pohon rindang. Laila berjalan beriringan dengan Fajar. Sore ini matahari sudah mulai berselunjur ke barat. Sekitar tiga puluh menit lagi matahari sudah benar-benar tenggelam, hanya menyisakan kegelapan.
Mereka memasuki pintu masuk gedung itu. Fajar memimpin di depan sedangkan Laila mengikuti langkah kaki Fajar di belakang. Lurus terus kemudian belok ke kanan. Ada banyak kamar-kamar yang mereka lewati. Mereka berhenti tepat di kamar nomor 099. Fajar membuka pintu kamar pasien dengan perlahan.
"Assalamu'alaikum ibu," ucap Fajar seraya membuka pintu.
Pandangan mereka tertuju pada seorang wanita paruh baya yang sedang bermain dengan boneka barbie di tangannya. Sorot mata Fajar sangatlah sendu. Begitupun dengan Laila. Laila memandang getir pemandangan di depannya. Tiba-tiba dia teringat akan ibunya sendiri, sedang apa dia di sana? Apakah sehat? Apakah ibunya merindukan Laila sama seperti dirinya merindukan sang ibu? Namun pikirannya tiba-tiba terhenti setelah melihat dengan jelas keadaan perempuan di depannya. Baju kusam, rambut berantakan, dan tubuh tak terawat. Apakah benar kalau perempuan di depannya adalah ibunya kak Fajar?
Perlahan Fajar memasuki kamar itu disusul Laila yang telah diberi kode oleh Fajar untuk masuk. Mereka masuk ke kamar dengan perasaan sendu. Mata mereka sembab. Fajar menghampiri ibunya.
"Assalamu'alaikum ibu. Ini Fajar," ucap Fajar seraya mengambil tangan ibunya lalu mencium punggung tangan sang ibu.
__ADS_1
Tidak ada jawaban apapun dari sang ibu. Ibunya memandang lekat-lekat mata Fajar. Namun, sekian detik setelah mata mereka bertemu, Sang ibu memalingkan wajahnya menuju keberadaan Laila.
"Heh kamu! Kembalikan suamiku! Kembalikan suamiku!" Ibu Fajar membentak Laila. Seketika Laila dan Fajar terkejut.
"Dia temen Fajar Bu." Fajar mencoba menenangkan ibundanya. Namun ibunya justru beranjak menghampiri Laila.
Perlahan, langkahnya gontai. Dipandanginya lekat-lekat manik mata Laila yang sedikit sembab. Sedetik kemudian,
Plak
Satu tamparan berhasil mengenai pipi Laila. Kening Laila berkerut menciptakan tanda tanya. Kenapa ini?
"Dasar jal@ng berengs*k! Di mana kamu bawa pergi suamiku hah? Kamu tahu? Semenjak dia pergi bersamamu kehidupanku amatlah buruk! Disuntik berkali-kali! Disuruh makan makanan yang gak enak setiap hari! Dan dikurung di tempat ini sendirian! Gak ada teman! Kamu tahu itu ****** bergengs*k!" paparnya panjang lebar. Tak lupa, jari telunjuknya ia gunakan untuk menuding wajah Laila.
Setelah puas memaki Laila. Perempuan tadi menangis histeris membuat Fajar dan Laila khawatir.
"Huwaaaa ... suamiku diambil jal@ng .... Huwaaaa ...."
Seperti hari-hari biasanya. Ketika sang ibu sudah seperti ini, Fajar langsung memencet tombol darurat yang berada di tembok dekat pintu. Secepat kilat, satu dokter dan dua perawat masuk ke kamar 099. Dengan berat hati Fajar rela menyaksikan ibunya disuntik berkali-kali agar ibunya tenang. Memang, setiap dirinya membesuk sang ibu, seringkali sang ibu kambuh seperti ini. Tak dapat disangkal lagi, Fajar harus rela melihat ibunya dipaksa untuk diberi suntikan penenang.
Setelah acara penyuntikan selesai. Ibu Fajar terkujur lemas di atas ranjang. Dokter dan kedua perawat sudah beralih ke kamar lain. Hanya ada mereka bertiga di kamar ini. Setelah sekian lama hening. Fajar berjalan keluar kamar disusul Laila yang kebingungan.
Fajar berjalan menuju taman belakang. Dia duduk di kursi yang sudah tersedia, diikuti Laila yang duduk tak jauh dari tempat Fajar duduk.
Senja hari ini telah tiba. Polesan warna jingga mempercantik langit sore. Matahari sudah hampir tenggelam sempurna. Fajar dan Laila duduk berdampingan meski beda kursi. Mungkin jika dilihat dari belakang, mereka bagaikan siluet antara dua pasang kekasih yang sedang bertengkar. Atau, agar lebih romantis, mereka bagaikan siluet dua insan berbeda jenis yang sedang malu-malu untuk saling mendekat.
"La," panggil Fajar mengusir keheningan.
"Iya kak?"
"Maaf ya. Tadi ibuku bentak bahkan nampar pipi kamu," pinta Fajar. Pandangannya tertuju pada keindahan langit sore di depannya.
"Iya kak gak papa kok. Lagian gak sakit juga," jawab Laila. Laila berharap, semoga Fajar tidak terlalu mempedulikan dirinya. Dia tahu semua ini karena ibu Fajar tidak dalam kondisi sadar akan perbuatannya. Meski sebenarnya hatinya tersayat mendengar pengakuan ibu Fajar bahwa Laila telah merebut suaminya, bahkan ibu Fajar menyebut dirinya sebagai ******. Tapi, apa alasannya?
"Kamu pengen tahu apa alasan Ibukku manggil kamu jal@ng?"
***
Ya Allah .... Laila kok dibilang Jal@ng ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Author gak terima! Autor gak terimaaaa!!
HuwaaaðŸ˜
__ADS_1