Delusi Dalam Elegi

Delusi Dalam Elegi
7. Ibu Negara


__ADS_3

Kalo ada typo minta tolong ingetin yaw. Maaciwww...


Happy reading kawaaan


____________________________


Biarkan aku menjadi Fatimah


Yang mencintaimu dalam diam


Jangan tuntut aku menjadi Khadijah


Karena aku tahu, kau bukanlah Muhammad


Yang sanggup menerima semua kekuranganku.


-Laila Safitri


***


"Buruan Laila!" Laila dengan sigap memakaikan sepasang kaos kaki di kaki Mia. Hatinya meringis menerima bullyan dari teman sebayanya itu. Ingin rasanya Laila memberontak, tapi ia tahan sekuat tenaga karena ia memikirkan kedepannya. Jika ia memberontak mungkin pembullyan yang diberikan padanya akan bertambah sadis karena saking sewotnya si Mia.


Entah apa alasan yang mendasari Mia melakukan pembullyan demi pembullyan, Laila tak mengerti. Bahkan dengan perasaan tega Mia pernah membuang bahkan menggunting-gunting kerudung berharga milik Laila. Tidak hanya itu, bahkan Mia pernah memberi Laila minuman yang sudah dicampur dengan darah hewan.


Laila tak pernah berpikir untuk membalas kejahatan demi kejahatan yang Mia lakukan. Dia hanya berharap, semoga pengasuh yang ditugaskan mengatur santri-santri di asrama segera sembuh dari penyakitnya dan segera kembali ke asrama. Laila berharap kembalinya pengasuh ke asrama mendatangkan kabar baik berupa berakhirnya pembullyan yang dilakukan Mia. Meski Laila tak tahu seperti apa tipikal pengasuhnya karena dari awal dia menginjakkan kaki di asrama, dia tidak pernah sekalipun melihat pengasuh asrama ini. Tapi dia yakin sekaligus berharap semoga pengasuhnya tidak sejahat seperti di novel-novel yang dia baca.


"Ambilin bekal Gue La!" Terdengar suara dari dalam asrama. Mendengar namanya dipanggil. Laila langsung berdiri hendak memenuhi panggilan.


"Eh eh eh. Mau kemana Lo! Pakein sepatu Gue dulu!" Bentakan sekaligus titah Mia menghentikan tubuh Laila yang hampir sempurna berdiri tegak.


"Tapi Laila dipanggil sama mbak Najwa. Laila juga belum mandi. Ini udah jam setengah tujuh, nanti Laila telat. Mia bisa pake sepatu sendiri kan?" jawab Laila sesekali melihat jam kenangan dari almarhum ayahnya di pergelangan tangan.


"Emang Gue peduli heh?! Udah cepetan jangan kebanyakan omong Lo!"


"Iya." Laila tak bisa apa-apa. Dia hanya bisa mengindahkan titah Mia. Hatinya benar-benar menangisi ironi kehidupannya. Namun Laila tak bisa apa-apa.


06.35


Setelah punggung Mia hilang dari pandangannya. Laila langsung berlari masuk asrama. Dia pontang panting menyiapkan bekal untuk Najwa dan dirinya. Diletakkannya bekal Najwa dan bekalnya di meja lalu dia berlari menuju kamar untuk bersiap.


Nafasnya tersengal. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 6.45. Hatinya gusar. Tak ada lagi waktu untuk sarapan. Laila berlari sekencang mungkin menuju halte. Dalam hatinya dia berdoa semoga Tuhan memberinya keajaiban, entah manipulasi waktu atau terserah yang penting Laila bisa sampai di sekolahnya tanpa ada hukuman yang bisa membuat nama baiknya tercoreng.

__ADS_1


Sesampainya di halte Laila ngos-ngosan. Diedarkannya seluruh pandangan ke ruas-ruas jalan mencari angkutan. Tapi nihil! Hatinya meringis. Laila tidak melihat satupun angkutan atau taksi. Ingin sekali Laila menangis saat itu juga.


"Kalo lari Lo gak bakalan sanggup, meskipun dipaksa. Dan kalo pun nunggu angkot atau taksi, tetep aja waktu Lo bakal kesita banyak. Bisa-bisa Lo dihukum lari keliling lapangan sepuluh kali"


Laila terperanjat. Kedatangan Senja kali ini, entah mau menolongnya atau justru menjebaknya, Laila tak tahu. Tetapi entah dari mana dan mengapa senyum Laila mengambang ketika dilihatnya Senja yang menyodorkan helm di tangannya. Dia terlihat sangat keren duduk di motor hitamnya. Senja yang sekarang sangat berbeda jauh dengan Senja yang dulu dia kenal.


"Astaghfirullah ... zina mata La. Sadar La sadar!"


"Buruan dipake. Kalo gak bisa pake bilang La, biar gue pakein"


Melihat lawan bicaranya hanya menunduk, Senja hanya bisa pasrah dan sedikit memberi pencerahan, "Terserah Lo deh La. Gue gak maksa, kalo Lo nolak juga yang nanggung hukuman Lo sendiri. Masih mending kalo Lo cuma dihukum lari keliling lapangan, kalo ternyata hukuman buat Lo ditambah berjemur di tengah lapangan sampe istirahat, otomatis Lo ketinggalan pelajaran sekaligus kealiman Lo tercoreng. Gue gak bisa bayangin La. Kalo buat Gue sih itu udah biasa, tapi buat Lo? Gue pikir itu hal yang sangat memalukan," tandas Senja.


"Tapi ... "


"Tapi kita bukan mahram kak, masa boncengan? Iya La?" Seperti tahu kegusaran dan kebimbangan Laila, Senja menimpali kalimat Laila. Senja mengembuskan napasnya kasar.


"Gue tahu apa yang Lo pikirin. Tapi La, ini darurat. Kalo Lo emang ga mau sentuhan ya Lo gunain itu tas buat pembatas La. Masa cewek cantik ga bisa berpikir jernih. Tapi tetep La, Gue gak maksa. Niat Gue itu nolongin Lo bukan maksa Lo."


Tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Laila memutuskan untuk mengambil helm yang sedari tadi Senja sodorkan. Secepat kilat Laila menaiki motor di depannya, meski agak sedikit kesusahan karena motor didepannya sangat tinggi. Laila mengindahkan saran Senja, dia meletakkan tasnya di antara dirinya dan Senja sebagai pembatas.


"Siap-siap La" Senja mengegas motornya. Dia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Melewati padatnya jalan Jakarta. Berkali-kali dia menyalipi kendaraan lain membuat si pengendara mengumpati Senja.


Keberuntungan kali ini berpihak kepada mereka. Gerbang sekolah rupanya belum tertutup sempurna. Senja menambah kecepatan laju motornya. Mata Laila ditutup, dia tidak mau melihat pemandangan mengerikan di depannya. Moge Senja dengan sangat lentur memasuki gerbang yang sebentar lagi akan tertutup sempurna.


"Kebiasaan," umpat pak satpam kepada Senja.


Lagi-lagi keberuntungan berpihak kepada mereka terutama Laila. Seluruh koridor sudah sepi, tinggal beberapa guru yang berjalan menuju kelas-kelas. Laila bersyukur karena hanya pak satpam serta orang-orang tak dikenal di jalanan yang mengetahui Laila dan Senja berboncengan. Laila tidak tahu apa jadinya jika satu saja siswa tahu dirinya datang ke sekolah diboncengi pentolan sekolah.


"Wah wah ... anak baik, besok-besok kalo berangkat jangan sama Senja. Nanti kamu bakal kena imbasnya kalo sampe telat gini."


Laila dan Senja hanya terkekeh geli mendengar nasihat pak satpam.


"Ibu Negara masa gak boleh berangkat bareng Presiden sih pak," gerutu Senja. Laila kembali terkekeh, rupanya dia tidak paham yang dimaksud 'Ibu Negara' oleh Senja. Senja tahu ketidaktahuan Laila, jika Laila tahu mukanya akan memerah padam. Tapi ini, muka Laila biasa saja.


Sembari berjalan atau lebih tepatnya berlari-lari kecil menuju kelasnya Laila berharap, "makasih kak. Laila berharap semoga suatu saat kakak tahu siapa aku sebenarnya."


***


Laila menatap wajah temannya yang merona. Tercetak jelas di wajah Jingga kegembiraan yang amat sangat menggembirakan hati Jingga. Sebaliknya, tercetak jelas dahi Laila yang berkerut.


"Kamu kayaknya lagi bahagia banget Ngga. Ada apa sih?" tanya Laila.

__ADS_1


"La, kamu beneran gak suka kan sama kak Senja?" Jingga justru kembali bertanya.


"Maksudnya?" tanya Laila tak mengerti.


"Pas kamu ditembak kak Senja terus kamu nolak itu bener-bener dari hati kan?" tanya Jingga memastikan.


"Iya, tapi katanya kamu mau pindah haluan?" Laila semakin kebingungan.


"Nggak jadi. Aku udah terlanjur kesengsem sama tuh cowok. Lagian kamu juga nolak dia kan? Kamu gak akan keberatan kalo aku ngincer kak Senja lagi kan?" Jingga menjawab dengan girang.


"Keberatan? Emang aku keberatan karena apa Ngga? Kenal dia aja baru beberapa hari. Malah kamu yang lebih dulu kenal sama dia." Dalam hati Laila terbit beraneka ragam kekecewaan. Hanya saja dia menutupinya dengan senyuman tercetak jelas di wajahnya.


"Kamu mau kan nemenin aku ngasih cokelat ke kak Senja? Biar kamu jadi saksi dari pihak cewek La ...." Jingga memohon kepada Laila.


Hati Laila berdesir sekaligus bertanya. Ada apa ini? Kenapa aku nggak ikhlas gini? Kenapa aku khawatir kalo kak Senja bakal nerima cokelat dari Jingga? Tapi ini sahabatnya, tidak mungkin Laila menyakiti dan menghancurkan hati sahabat satu-satunya itu.


"Tapi Ngga ..."


"Tapi apa?"


"Bukannya aku nggak dukung kamu sama kak Senja. Tapi ini kamu mau nembak dia atau cuma sekedar ngasih cokelat doang?" Hati Laila meringis. Dia tidak tahu perasaannya jika lelaki yang dia rindukan bertahun-tahun lamanya menjadi kekasih sahabatnya sendiri.


"Pelan-pelan La, gak berani aku kalo nembak dia langsung. Aku bakal baperin dia dulu," jawab Jingga diiringi kekehan kecil.


"Tapi jangan sampe kelewatan ya Ngga. Aku gak rela kalo sahabatku sampe terjerumus ke hal-hal yang gak aku inginkan." Hati Laila sedikit lega.


"Iya La tenang aja."


'Aku hanya bisa mencintainya dalam diam layaknya Fatimah Az-Zahra yang mencintai Ali'


***


.


Eh, si Lail Koo boncengan Ama si Senjaaaa kan gak boleeee gimana sih author 😶 sabar-sabar!!! Ntar ada part khusus si Lail tobat kok 🤣


Oh ya. Janlup pencet votenya ya wkwkwk...


Semoga sehat selalu...




__ADS_1


__ADS_2