Delusi Dalam Elegi

Delusi Dalam Elegi
3. Pacar?!


__ADS_3

..."Lo tahu gak? Gue rela gak makan siang gara-gara nungguin Lo di taman, tapi kenapa Lo malah gak dateng heh!" Senja mendekatkan wajahnya persis di depan wajah Laila. Dengan tangan bertopang lutut dan membungkuk agar sejajar dengan gadis di depannya....


***


Sudah lima hari Laila menginjakkan kaki di SMA Nusa Dharma. Namun, perasaannya masih sama, asing. Dia masih merasa asing di tempat menimba ilmu itu. Hanya ada satu orang yang bersedia menjadi temannya yaitu Jingga. Yang lain? Mereka hanya sebatas teman kelas atau sekolah saja, bahkan untuk bertegur sapa banyak yang lebih memilih acuh tak acuh.


Tapi dengan penuh sadar diri Laila paham. Dia memang sama tapi berbeda. Dalam hal fisik memang sama. Laila memiliki dua tangan, dua kaki, dua mata, dan dua lubang hidung. Tetapi yang membedakan antara dirinya dengan yang lain adalah, karena pakaiannya! Pakaian yang Laila kenakan memang sangat kontras dengan siswi-siswi lain, bahkan Jingga sekalipun.


Bagaimana tidak? Pakaian siswi-siswi yang lain memang sangat umum bagi mereka, tapi bagi Laila pakaian mereka mirip seperti pakaian kurang bahan! Lengan panjang yang terkancing rapih dipadukan dengan rok panjang bahkan menutupi sepatu, serta jilbab menjulur panjang menutupi dada dan pantat. Dibandingkan dengan lengan di atas siku dan rok mini di atas lutut serta aksesoris bando ataupun kuncir rambut. Memang tidak sepadan dan sangat kontras!


***


Sudah seperti satu hati. Laila dengan taman sekolah yang dia jumpai keberadaannya lima hari yang lalu. Beruntung taman itu jarang disambangi oleh para siswa. Bahkan serasa taman itu hanya Laila yang tahu keberadaannya. Sehingga taman itulah tempat favorit Laila di sekolahnya.


Setiap jam istirahat Laila hanya menghabiskan waktunya untuk muorja'ah, membaca Alqur'an, membaca novel atau sekadar membuat puisi dan sebagainya di taman sekolah favoritnya. Dia pergi ke kantin hanya ketika Jingga mengajaknya. Tetapi Jingga lebih sering menghabiskan waktunya di kelas ataupun kantor, karena dia memang anak kebanggaan guru matematika kelas sepuluh. Sehingga dia lebih sering keluar masuk ruang guru dibanding menemani Laila ke kantin.


"Baca apa sih Lo sampe Gue panggil-panggil gak denger?" Senja mengambil secara tiba-tiba novel yang berada di tangan Laila. Sehingga novel dengan judul 'Delusi Waktu' yang sedari tadi dipegang Laila kini sudah berpindah haluan ke tangan Senja.


"Eh kak Senja balikin novel Laila!" mohonnya agak sedikit mengeraskan volume suara. Sebenarnya Laila ingin sekali langsung merebut kembali novelnya. Hanya saja, dia menjaga jarak dengan laki-laki yang bukan mahramnya, jadi Laila hanya memohon tanpa adanya pergerakan tangan.


"Lo mau nih novel balik ke tangan Lo?" Senja mengangkat novel yang berada di tangannya.


"Iya"


"Ada syaratnya!" Senja tersenyum semirk.


"Syarat apa?" tanya Laila antusias.


"Tapi kayaknya Lo gak bakal sanggup deh dengan syarat ini," jelasnya seraya memamerkan senyum semirk sekali lagi.


"Cepat katakan apa syaratnya! Laila bakal lakuin apapun itu!" Kini Laila naik pitam. Dia sudah tidak tahan lagi karena bel sebentar lagi akan berbunyi.


"Santai dong, santai .... Masa ukhti bentak-bentak cowok sih" Senja memanyunkan bibirnya.


Laila hanya diam.

__ADS_1


"Kalo Lo emang bener-bener pengen novel ini balik ke tangan Lo .... Syaratnya adalah-"


Teng teng teng ....


Bel berbunyi menandakan waktu istirahat sudah selesai.


Laila berdecak kesal. Dia benci situasi ini.


"Yah udah bel ..." Senja mengkondisikan mimik wajahnya menjadi seperti layaknya orang yang kecewa.


"Sampe ketemu istirahat kedua La. Gue tunggu Lo disini kalo emang Lo bener-bener pengen novel ini balik," sambung Senja seraya mengayunkan kaki menuju kelasnya.


Laila kembali berdecak kesal. Ingin sekali dia mengumpati si pentolan sekolah yang satu ini. Tapi dia urung, dia lebih memilih untuk beristighfar seperti biasanya.


"Astaghfirullah ...."


***


Bel istirahat kedua berbunyi. Hati Laila berdegup kencang. Pertanyaan antara 'datang atau tidak datang' menjadi topik trending di otaknya. Laila gusar.


"Soalnya dari bau-baunya kak Senja tuh mau bully kamu. Kayak di novel-novel yang aku baca, biasanya kalo ada pentolan sekolah yang nyari gara-gara itu dia bakal bully orangnya. Tapi semoga saja endingnya antara kamu dan kak Senja enggak sama kayak yang di novel-novel" sambungnya.


"Maksudnya?" Kening Laila berkerut gara-gara kalimat terakhir Jingga.


"Hehe. Kalo yang di novel-novel itu endingnya kalian jadian gitu. Kan gak lucu La ...." Jingga memasang ekspresi sedih di mukanya ditambah beberapa kekehan kecil.


"Tapi novelku gimana nasibnya?" Kini ganti Laila yang merengek ditambah manyunan di bibirnya. Dia tidak berminat menanggapi ending dari novel-novel yang sudah tertancap di memori temannya itu.


"Hmm ... gimana ya La. Aku juga bingung ...." Jingga menempatkan ujung telunjuknya di dagunya.


***


Bel pulang sekolah berbunyi sangat nyaring. Laila memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Kemudian mengayunkan kakinya menuju pintu untuk keluar kelas diiringi Jingga berjalan di sebelahnya.


"Gue kira novel ini berharga banget buat Lo. Ternyata B aja ya"

__ADS_1


Laila dan Jingga menghentikan langkahnya. Keduanya syok dengan seseorang yang bertengger manis di ambang pintu kelas X MIPA 11 dengan dua teman yang berada di belakangnya layaknya seorang pengawal.


"Lo tahu gak? Gue rela gak makan siang gara-gara nungguin Lo di taman, tapi kenapa Lo malah gak dateng heh!" Senja mendekatkan wajahnya persis di depan wajah Laila. Dengan tangan bertopang lutut dan membungkuk agar sejajar dengan gadis di depannya.


Laila hanya menunduk kemudian mundur beberapa langkah diikuti Jingga. Laila tahu apa yang ada di perasaan Jingga dan Senja. Perasaan Jingga campur aduk, antara bingung, heran, cemburu, sebel, dan entahlah tetapi yang lebih mendominasi adalah bingung dan heran. Sedangkan Senja, yang Laila tahu dia hanya marah, marah dan marah.


"Kenapa cuma diem ukhti?" Senja mengambil sesuatu yang ada di sakunya.


"Laila cantik, lihatlah kemari .... " Senja memperlihatkan novel dan benda yang tadi dia ambil dari sakunya yaitu pulpen.


Senja memberi tanda kepemilikan di halaman pertama novel Laila. Dengan entengnya Senja menandatangani novel itu serta diberinya tulisan 'milik Senja yang ganteng sedunia'.


Laila menatap nanar pemandangan di depannya. Laila ingin sekali meluapkan emosinya kepada Senja. Bayangan tinju sudah berada di ancang-ancang Laila.


"Katakan syaratnya asalkan kak Senja bener-bener ngembaliin novel itu ke aku!" Laila naik pitam. Entah keberanian dari mana dia membentak kakak kelasnya. Dipandanginya bola mata hitam milik Senja. Dalam hatinya dia bermonolog, "Ini bukan pembullyan. Melainkan permohonan La!"


"Eits ... eits .. eits ... santai dong. Masa junior bentak senior sih?" Kini Laut mengangkat suara. Tak lupa dia memamerkan senyuman mematikan.


Laila diam seribu bahasa. Dia tidak tahan lagi. Pikirannya berkecamuk. Dalam hatinya dia bermonolog. Dia harus pulang! Jika dia terlambat lagi maka dia harus menerima apapun hukumannya! Tapi tiga pentolan sekolah yang berada di depannya mengepung Laila! Dia tidak bisa keluar dari ruangan ini!


"Laut, Bintang. Usir semua kuping-kuping yang masih setia disini demi gosip!" Senja menyuruh kedua temannya. Laut dan Bintang langsung mengindahkan titah Senja. Mereka berdua mengusir siswa-siswi yang ternyata dari tadi menguping dan menonton pertunjukan antara Senja dan Laila.


"Cepat katakan syaratnya kak Senja Bagaskara!" Sekali lagi Laila membentak laki-laki di depannya. Dia tidak sadar sudah menyebut nama lengkap Senja.


"Lo ... berani-beraninya ... !" Laut naik pitam. Entah mengapa sedari tadi Bintang hanya menonton adegan di depannya. Dia tidak berminat untuk terjun atau sebatas mengatakan sepatah dua patah kata pun.


"Santai Bro ... santai ...." Senja menenangkan Laut tetapi pandangannya tetap tertuju pada Laila. Laut hanya mendengus kesal.


Langkah kaki senja berayun dengan tujuan yaitu keberadaan Laila. Senja dan Laila yang tadi jauh jaraknya karena Laila mundur saat dibentak Senja. Kini mereka berhadapan dengan jarak dua ubin saja. Laila tidak bisa menggerakkan kakinya untuk mundur selangkah sekalipun. Dia membeku.


"Gue bakal balikin novel ini dengan syarat ..." Senja mengatur napas dan detak jantungnya yang semakin membuncah.


"Dengan syarat, Lo mau jadi pacar Gue"


Blush ...

__ADS_1


***


__ADS_2