
Holaaa, absen dungs kalian baca part ini jam berapa hehe?
Oh yaa, kalo ada typo minta tolong ingetin yaw ehe. Maaciwww..
Happy reading ....
_____________
...Rasulullah SAW pernah bersabda,...
..."Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahram baginya"...
...(H.R Thobroni dalam Mu'jam Al Kabir 20 : 211)...
***
"Aku boleh gabung?"
Laila dan Jingga kaget dengan kedatangan Fajar. Laila melongo begitupun dengan Jingga lebih melongo. Keduanya saling beradu pandang.
"Aku boleh gabung gak nih?" tanya Fajar sekali lagi.
"Eh, iya silahkan kak." Laila mempersilahkan Fajar untuk duduk di bangku yang kosong. Mereka bertiga duduk satu meja.
"Kenalin namaku Fajar, kelas XII IPS 3" Fajar memperkenalkan dirinya kepada Jingga.
"Namaku Jingga, satu kelas sama Laila" Jawab Jingga dengan senyum tercetak jelas di wajah seraya mengulurkan tangan.
Fajar tidak membalas uluran tangan Jingga. Dia hanya tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Kenapa kak Fajar ga mau salaman sama Jingga? Tangan Jingga gak kotor kok, Jingga juga nggak penyakitan," tanya Jingga polos.
"Maaf Jingga kalo aku bikin kamu tersinggung atau sakit hati. Tapi alasanku tidak mau menjabat tanganmu itu karena ...
Rasulullah SAW pernah bersabda,
"Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahram baginya"
__ADS_1
(H.R Thobroni dalam Mu'jam Al Kabir 20 : 211)
Jingga terkesiap. Dia malu sekaligus kagum dengan pria di depannya. Dia malu karena sebagai seorang muslimah sudah seharusnya dia tahu hukum ini. Jingga merasa paling kerdil diantara mereka bertiga.
"M-maaf ...."Jingga menarik kembali tangannya yang sudah terlanjur terulur.
"Iya, tidak mengapa. Aku paham kok, yang penting kamu jangan lupakan sabda Baginda Rasulullah yang tadi aku lantunkan ya. Dan semoga kita semua bisa menjalankan sabda Rasulullah tadi ya." Fajar tersenyum simpul.
Laila menatap pemandangan di depannya dengan sorot mata kagum. Hati Laila berdegup kencang. Tanpa sadar wajahnya sudah sempurna melukiskan senyuman dan kekaguman.
"La, kamu tinggal di asrama kah?" tanya Fajar kepada Laila. Yang ditanyai justru gelagapan membenarkan ekspresi wajahnya.
"Iya kak."
"Pantas saja kamu berbeda dengan yang lain."
Ketiga insan yang duduk di satu meja berbentuk persegi panjang tenggelam dalam perbincangan-perbincangan menyenangkan. Sesekali ketiganya tertawa lepas ketika menjumpai perbincangan yang menggelitik.
Laila tak bisa menyangkal lagi akan kekagumannya kepada Fajar. Menurutnya Fajar adalah laki-laki yang patut diidamkan. Bacaannya yang fasih dalam membaca kitab suci, kepiawaiannya dalam hal agama, serta adabnya yang tidak semena-mena membuat Laila kagum tak ketulungan. Namun dalam hati kecilnya dia sudah menanamkan satu nama yang tak bisa diganggu gugat oleh siapapun selain dirinya dan Tuhannya.
Tak jauh dari tempat Laila, Jingga dan Fajar saling adu kata dan cerita. Ada sepasang mata yang memandangi mereka dengan sorot mata murka.
***
Senja merutuki kebodohannya sekali lagi. Dipandanginya lekat-lekat pemandangan di depannya. Bunga-bunga bermekaran menghiasi taman sekolah hari ini. Namun pemandangan ini tak senada dengan perasaannya yang penuh emosi. Senja mencabut dengan beringas tanaman-tanaman bunga di depannya sembari mengumpati nama Fajar.
"Sialan Lo Jar!" Senja menendang pot di depannya.
"Dasar munafik!"
"Dasar hidung belang!"
"Gue gak akan biarin Laila masuk ke perangkap Lo!"
"Gak akaaaaan!" Senja mencabik-cabik tanaman hias bunga di sekitarnya.
Di tempat tak jauh dari Senja berada meluapkan emosinya. Laila berdiri dengan lemas menjalar di sekujur tubuhnya. Laila menatap pemandangan di depannya dengan tatapan nanar.
__ADS_1
Dengan tubuh gemetar Laila memberanikan diri mengayunkan kakinya ke tempat Senja berdiri.
"Laa taghdhab wa lakal jannah. Jangan marah bagimu surga" Laila membuka suara setelah kakinya berhenti berayun tepat dua meter di belakang Senja.
"Innalloha ma'as-shobiriin. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar," sambungnya.
Senja menetralkan hatinya yang penuh emosi. Dia tidak mungkin menyakiti gadis di belakangnya tanpa sadar karena emosinya. Diaturnya deru nafas yang memburu. Dia mencoba tersenyum dan menyimpan emosinya sebentar. Senja membalikkan badan, ditatapnya manik mata Laila dengan lekat-lekat. Dalam hatinya dia bermonolog, "Gue gak akan biarin Lo masuk ke perangkap buaya yang bakal bikin hidup Lo ancur La!"
"Kenapa kemari ukhti? Apakah anda masih mempedulikan hamba yang sudah kau tolak mentah-mentah ini?" Senja memasang eskpresi heran, sedih dan sedikit senyuman.
"Laila gak peduli sama kak Senja! Tapi yang Laila peduliin itu tanaman-tanaman yang udah kak Senja ancurin!"
Senja tertohok dengan pernyataan Laila. Senja terkseiap, dia sadar apa yang sudah dilakukannya beberapa detik yang lalu. Sialan!
"Eh, sorry La. Gue ga sadar ... Gue ... Gue ..." Senja kehabisan kata-kata.
"Laila gak peduli apapun itu alasannya! Pokoknya kak Senja harus ngembaliin taneman ini seperti semula!" Laila tak tahan dengan pemandangan bunga-bunga bergeletakan tak berdaya di sekitarnya. Ingatannya melayang pada hari-hari dimana dahinya dipenuhi peluh karena kelelahan menanam pohon-pohon bibit bunga.
"Tapi dengan usaha kakak sendiri! Jangan nyruruh-nyuruh-nyuruh orang!" sambungnya membuat Senja terkejut. Jika hanya disuruh merenovasi taman favorit Laila saja Senja akan sanggup. Secara dia adalah orang kaya, dengan entengnya dia akan menyuruh orang lain dengan modal uang. Tetapi permintaan Laila yang satu ini! Senja tak aja sanggup!
"Emang Gue peduli hah?!" Senja berjalan meninggalkan Laila. Sangat terlihat ketidakpedulian Senja di mata Laila. Tetapi dalam hati kecil Senja dia mengucapkan maaf berkali-kali. "Maafin Gue La, udah ngancurin tempat favorit Lo di sekolah ini. Gue tahu kalo Lo sedih atau kesepian, pelarian Lo itu ke taman ini. Sekali lagi Gue minta maaf. Kalo Lo udah gak punya tempat bersandar lagi, Gue siap bahkan gue nunggu Lo bersandar di bahu Gue."
Laila berdecak kesal. Dia benci situasi ini. Kembali pikirannya dipenuhi ajang voting antara Senja dan Fajar. Perbedaanya sangat kontras! Sangat kentara! Untuk saat ini, Fajar lah yang menduduki level di atas Senja. Laila memberi Fajar bintang delapan sedangkan Senja hanya diberinya bintang Lima
Dengan perasaan sendu, Laila merenovasi kembali taman favoritnya. Ditatapnya nanar pot yang pecah akibat tendangan Senja. Dalam hati Laila merintih, "Kenapa kakak gak kayak dulu lagi? Kenapa kakak sekarang beda? Kak Senja, Laila rindu kakak yang dulu!"
"Mau aku bantu La?" tanya Fajar secara tiba-tiba. Sontak membuat Laila terkejut.
"Eh, kak Fajar. Nggak usah kak, Laila bisa sendiri kok. Ini cuma kerusakan kecil" tolaknya dengan perasaan pekewuh, menurutnya ini bukan kesalahan Fajar sehingga mengharuskannya ikut merenovasi tanaman ini. Melainkan, ini kesalahan Senja!
"Jangan tolak tawaranku La, aku tahu kamu bakal dihukum kalo kamu pulang telat. Kamu enggak tinggal di rumahmu sendiri La, kamu itu anak asrama yang harus nurut sama semua aturan asrama, termasuk pulang tepat waktu" Argumen Fajar menghantam Laila telak. Dia tidak bisa mengelak lagi. Laila hanya bisa mengangguk pelan menyetujui tawaran Fajar.
Sore itu, sore yang membuat hati Laila kembali berdesir hebat. Kekagumannya atas Fajar kian membuncah. Namun, di sisi lain. Sore itu, adalah pemandangan yang menjijikan! Kemarahan Senja terhadap Fajar kian membuncah! Ingin sekali Senja langsung melabrak Fajar. Tapi ia urung, ia tahu ini bukanlah waktu yang tepat.
"Sorry La, tadi Gue malah nolak permintaan Lo dan sekarang Lo semakin dalam masuk ke perangkap tuh buaya" Senja merintih.
"Gue bilang juga apa. Lo itu justru ngerusak segalanya. Lo liat kan akhirnya Laila semakin jauh dari kita. Lebih parahnya lagi kalo dia malah benci sama Lo! Kalo itu bener-bener terjadi, terpaksa Gue harus tarik paksa tuh cewek dari kandang buaya. Dan gue harus tutup telinga Gue biar gak denger tangisan dia" Bintang beranjak meninggalkan Senja yang hanya mematung menikmati pemandangan menjijikan di depannya.
__ADS_1
***
Ada yang tahu gak Senja dulu tuh kek mana?