Delusi Dalam Elegi

Delusi Dalam Elegi
10. Harga Sebuah Percaya


__ADS_3

Assalamu'alaikum. Gimana nih kabarnya?


Semoga sehat selalu yaaa ...


Happy reading kawan ๐Ÿ’


_______________________


..."Kak Senja. Kenapa ingkar janji? Apa kakak udah lupa sama aku? Apa kakak bener-bener gak tahu kalo aku adalah sahabat kecil kak Senja? Apa salah aku kak? Kenapa kakak bikin aku kecewa?!" rintihnya dalam hati. Kerongkongannya sudah kering kerontang menahan kalimat kekecewaan yang terpendam. Laila hanya bisa menangis melihat kepercayaannya dikhianati begitu saja....


...***...


"Kenapa Lo Bro?" tanya Laut setelah mendapati Senja yang tak karuan perasaannya.


"Harus Gue kasih pelajaran kayaknya si Fajar!" Senja naik pitam. Dia mendudukkan dirinya di kursi yang tersedia. Senja mengambil botol mineral lalu meneguknya langsung satu botol tanpa jeda.


"Pelajaran apa? Biologi? Kalo itu mah dia udah ahlinya Nja," ledek Laut bersama tawa yang berderaian dari mulutnya.


"Emangnya Lo kenapa sih? Lo juga dari mana? Ditungguin dari tadi juga, kenapa baru nyampe?" cerocos Bintang.


"Kebanyakan tanya Lo, kayak cewek aja. Gue kudu jawab yang mana dulu nih?" Kepala Senja semakin pusing ditambah pertanyaan tanpa jeda dari temannya.


"Tau nih si Bintang, kayaknya dia udah ketularan virus girls," celetuk Laut.


Pletak!


"Enak aja Lo." Bintang tidak terima. Dia menjitak kepala temannya yang menurutnya kalo ngomong gak dipikir dulu.


"Kalian bisa diem gak sih? Bikin Gue nambah emosi aja!" bentak Senja. Sontak membuat kedua temannya mematung.


"Gue tadi sebelum kesini mampir ke mesjid dulu. Nah pas Gue mau lanjut perjalanan, Gue liat si Laila masuk mobil bareng Fajar. Gue khawatir kalo Fajar ngelakuin yang enggak-enggak sama Laila, akhirnya Gue kejar tuh mobil. Eh, pas di tengah perjalanan Gue kehilangan jejak dia! Gue khawatir sama Laila!" paparnya panjang lebar. Senja *******-***** botol mineral yang tadi sudah habis diminumnya kemudian membuangnya asal.


"Wah wah. Bisa gawat nih kalo Laila sampe dibawa ke basecamp penampungan jalangnya si Fajar," celetuk Laut.


"Nah, maka dari itu Gue kayak gini. Lo tahu kan Laila itu orangnya kayak gimana? Gue gak bisa bayangin kalo masa depan dia ancur!" timpal Senja.


Sekian menit hening. Senja tak karuan pikirannya. Dirinya terus-terusan memegangi kepala yang semakin menjadi pusingnya. Dirinya gusar tak karuan.


"Lo kalo gak tenang gini mending ngisep nih nikotin," tawar Laut seraya menyodorkan sebatang rokok kepada Senja. Melihat sebatang rokok di tangan Laut. Senja memutar memori tentang masa kecilnya dahulu.


_


"Kak Senja. Itu apa?" tanya Embun ketika melihat seorang preman sedang menikmati sebatang nikotin.


"Itu namanya rokok Mbun," jawab Senja.


"Rokok? Oh rokok yang kata di tivi-tivi itu 'membunuhmu' ya kak?" tanya Embun dengan antusias.

__ADS_1


"Iya mungkin."


"Kak Senja gak ngerokok kan? Kak Senja janji gak akan ngerokok kan? Sampai kapanpun? Aku gak mau kakak mati terus ninggalin Embun gara-gara kakak ngerokok," tanya Embun kepada Senja dengan penuh pengharapan. Pandangannya yang tadi biasa saja kini menjadi sangat serius.


"Insya Allah Mbun."


_


"Lo mau cari mati sama Gue!" Senja melototi Laut.


"Lo kali Nja! Lagian Gue baik-baik ngasih nih rokok. Beruntung Gue gak suruh Lo bayar. Harusnya Lo terima kasih dodol!" papar Laut.


"Terima kasih buat apa heh? Lagian Lo tahu kan kalo Gue anti sama yang namanya nikotin!" geram Senja. Tangannya kini mencengangkan kerah Laut.


"Gue heran sama Lo Nja. Lo itu leader tawuran sekolah kita tapi ngisep nikotin aja Lo gak pernah, apalagi minum alkohol!" Laut tak mau kalah.


"Karena Gue anti sama yang begituan!" bentak Senja.


"Eh, Gue yakin kalo sebenernya Lo itu kepengen kan ngisep nikotin kayak Gue. Tapi Lo udah terlanjur janji sama tuh cewek alim iya kan Nja?! Lo itu sebenarnya ada apa sih sama dia? Cewek cantik nan glowing di SMA kita aja banyak yang ngejar-ngejar Lo, tapi Lo kenapa malah ngejar-ngejar tuh cewek! Mana kulitnya item lagi! Mata Lo di taroh di mana sih?!" sarkas Laut membuat Senja semakin naik pitam.


"Rak sah cangkeman bisa gak sih! Lo kalo ngomong jangan sembarangan! Kalo gak tahu jangan asal nilai! Apalagi sampe ngerendahin dia! Lo mau cari mati apa gimana heh?!" Senja semakin kuat mencengkram kerah Laut, kemudian dia menghentakkan tubuh Laut. Dirinya duduk dengan kasar di kursi lalu tanpa sadar mengambil satu batang rokok yang tergeletak di meja kemudian menghisap nikotin yang terkandung dalam rokok itu.


Melihat Senja tanpa sadar mengambil rokoknya, mata Laut memicing. Bola matanya diputar malas. Tak lupa Laut memamerkan senyum miring kemenangan.


"Gue yakin si Fajar nggak ngapa-ngapain Laila hari ini. Gue yakin pasti dia ngambil hati Laila dulu. Dengan begitu, Fajar akan dengan mudah narik Laila ke sarangnya, bahkan Laila dengan senang hati masuk perangkapnya." Bintang angkat suara setelah bosan melihat keributan di depannya.


"Tuh." Bintang mengangkat dagu. Dia menjadikan dagunya sebagai alat penunjuk. Di mengangkat dagunya dan mengarahkan ke suatu tempat.


"Oh merda!(ยน)" umpat Senja.


***


"Kamu mau tahu apa alasan Ibukku manggil kamu jal@ng?" tanya Fajar membuat Laila antusias untuk mendengarkan penjelasannya.


"Mau kak," jawab Laila. Dirinya memasang lebar-lebar telinga untuk mendengar penjelasan dari Fajar.


Fajar memejamkan matanya. Kenangan masa lalu menghantam Fajar, telak. Hatinya miris mengingat kejadian kelam dahulu.


_


"Ibu kapan pulang? Fajar sendirian di rumah, Fajar takut Bu, Fajar lapar, Fajar pengen makan. Ibu di mana?" Mata Fajar sembab. Dia menangis sesenggukan di pojokan kamar. Dia menangisi nasibnya, Sang ibu sedari pagi sampai jam 23.50 tak kunjung pulang. Tangan mungil Fajar memegangi lututnya.


Dia menumpahkan air mata ketidaktahuan akan perlakuan ibunya akhir-akhir ini; tak pernah memikirkan dirinya, tak pernah memasakkan lagi untuknya, dan bahkan seringkali tidak pulang ke rumah entah karena apa. Keadaan ibunya pun sekarang amatlah miris, rambut yang tak pernah disisir, baju yang tak pernah di ganti sebelum dipakai satu minggu lamanya, dan air mata ibunya yang selalu menetes.


_


"Karena dulu suami ibuku pergi ninggalin aku sama ibuku gara-gara jal@ng. Waktu itu aku masih umur 6 tahun." Fajar mengembuskan napasnya lalu melanjutkan cerita, "semenjak kejadian itu ibuku stres, bisa dibilang gila. Setiap hari dia nyari suaminya, pergi pagi pulang tengah malam, malah kadang nggak pulang. Ibuku gak pernah ngurusin aku. Kalo ngigau selalu yang dicari 'mana suamiku' 'mana suamiku' haha." Fajar tertawa hambar.

__ADS_1


"Sekitar dua tahun lamanya. Aku tak terurus, aku kelaparan, aku bagaikan sebatang kara, aku seperti gak punya siapa-siapa di dunia ini, aku ... gelandangan. Setelah dua tahun kelam itu akhirnya budheku bawa aku ke rumahnya, dia nyekolahin aku meski udah telat dua tahun. Dia ngajarin aku ilmu agama, dia ngajarin aku ngaji, dan dia yang bawa Ibukku ke rumah sakit ini," paparnya. Mata Fajar sudah mulai memunculkan bulir bening.


"Dia manggil kamu jal@ng karena di mata dia semua wanita itu jal@ng La. Bukan hanya kamu yang dipanggil ******, tapi suster dan dokter yang pernah ketemu sama dia semuanya dipanggil ja@ang. Aku minta maaf ya La kalo ibuku bikin hatimu sakit." Fajar menundukkan kepalanya.


"Iya kak gak papa, aku ngerti. Kakak yang sabar ya ngejalanin ini semua, aku yakin kesabaran kakak yang luar biasa ini akan dibalas semuanya sama Allah," jawab Laila dengan senyum penenang yang mengambang. Sebenarnya hatinya ikut teriris mendengar cerita Fajar. Tapi, untuk saat ini dia tidak boleh menangis, dia harus menguatkan lelaki di sampingnya.


"Kamu tahu siapa jal@ng yang udah ngerebut ibu aku?" tanya Fajar. Sontak membuat Laila mengerutkan dahi dan melebarkan telinga.


"Siapa?"


"Ibunya orang yang lagi ngerokok di sana," jawab Fajar sembari telunjuknya mengacung ke sebuah tempat dimana ada tiga orang laki-laki yang sedang atau lebih tepatnya baru saja memandangi Laila. Laila tersentak setelah tahu siapa yang sedang merokok sekaligus seorang anak dari ****** perebut suami ibunya Fajar.


"Kak Senja?" Kening Laila berkerut. Mata Laila dan Senja bertemu. Beradu pandang. Setiap pandanganya menyiratkan sesuatu.


"Iya. Ibunya Senja."


Hati Laila hancur. Dia tidak percaya bahwa sahabat kecilnya adalah seorang anak jal@ng. Sekaligus dirinya sudah merasa terkhianati oleh janji Senja beberapa tahun lalu, Senja pernah berjanji untuk tidak merokok. Tetapi ini? Senja mengingkari janjinya. Kepercayaannya terhadap Senja kini mulai pupus, perlahan. Mata Laila tak kuasa menahan airnya. Dia menumpahkan kekecewaan yang mendalam.


"Kak Senja. Kenapa ingkar janji? Apa kakak udah lupa sama aku? Apa kakak bener-bener gak tahu kalo aku adalah sahabat kecil kak Senja? Apa salah aku kak? Kenapa kakak bikin aku kecewa?!" rintihnya dalam hati. Kerongkongannya sudah kering kerontang menahan kalimat kekecewaan yang terpendam. Laila hanya bisa menangis melihat kepercayaannya dikhianati begitu saja.


***


Kejadian tadi sore membuat Laila tak abis pikir. Apakah Senja melupakan janjinya? Dan, benarkah jika Senja adalah anak seorang ******? Namun pikiran itu semuanya ia tepis jauh-jauh. Laila kembali fokus pada tilawahnya. Memang, kegiatan di asrama sehabis sholat subuh adalah tilawah.


"Nih La ada telepon buat kamu," ucap Najwa seraya menyodorkan gagang telepon kepada Laila.


Laila yang sudah selesai mengaji langsung dengan senang hati menerima. Kemudian Laila mendekatkan gagang telepon ke telinga.


"Halo?" sapa Laila.


"Halo? Kiye Laila? (Halo? Ini Laila?)" tanya seseorang di seberang sana yang tak lain adalah tetangga Laila.


"Nggeh, niki Laila. Wonten nopo nggeh budhe? (Iya, ini Laila. Ada apa ya budhe?)" tanya Laila.


"Ibukmu Laila," ucapnya menggantung membuat Laila tidak sabar.


"Ibuk kenapa budhe?" tanya Laila antusias. Dirinya membayangkan hal yang tidak-tidak.


"Ibukmu ...." suara orang di seberang sana sedikit parau. Sesenggukannya mulai terdengar di telinga Laila.


"Apa?!"


****


Mmmmm


Kecoa aku kecoaaaa ๐Ÿ˜

__ADS_1


1 : Oh Sial!


__ADS_2