Delusi Dalam Elegi

Delusi Dalam Elegi
4. Harga Diri


__ADS_3

..."Gue gak punya banyak waktu. Langsung aja ya. Tuan Putri, apakah anda bersedia menjadi pendamping hamba?" Senja membungkuk layaknya seorang pelayan yang menyambut tamu....


***


Genteng asrama menjadi tempat favorit Laila setelah taman sekolah. Malam ini dia memutar otaknya dengan keras. Di atas genteng asrama, dia menumpahkan seluruh kebimbangannya. Pertanyaan yang terlontar dari mulut Senja berhasil membuat otak Laila berputar keras.


_


"Gue bakal balikin novel ini dengan syarat ..." Senja mengatur napas dan detak jantungnya yang semakin membuncah.


"Dengan syarat, Lo mau jadi pacar gue," jelas Senja kemudian pergi meninggalkan Laila, disusul kedua temannya.


Blush .... Pipi Laila memerah. Hatinya campur aduk antara malu dan marah. Tubuhnya lemas seketika.


"Kayaknya aku harus pindah haluan deh La" Setelah pertunjukan selesai akhirnya Jingga angkat suara. Kekecewaan tergambar jelas dari wajahnya.


Laila terkekeh mendengar pernyataan temannya.


"Udahlah gak usah dipikirin. Mending kamu fokus sama sepertiga malammu. Aku yakin yang kak Senja bilang tadi itu karena dia mau mancing aku ke kandang tempat dia bully aku nanti, kayak yang kamu bilang waktu itu, dan menurutku ini baru permulaan. Tapi tenang aja kok, aku tahu cara mengatasinya" Laila menenangkan sahabatnya itu.


"Tapi aku gak yakin La. Masa dia mau bully kamu tapi dia ngajak kamu pacaran sih. Kan gak lucu Laa ... " rengeknya.


"Udah udah. Yuk pulang, aku cape kalo tiap pulang sekolah harus bersihin lima kamar mandi asrama gara-gara pulang telat." Laila berjalan keluar kelas disusul Jingga.


_


Hati Laila berdesir. Otaknya pun tak mau kalah, dia berpikir tanpa henti. Otaknya berpikir dengan sangat keras tentang apa yang akan Laila jawab kepada Senja besok.


"Terima atau tolak ya? Kalo tolak nanti novelku gimana? Mana belum selesai lagi bacanya. Tapi kalo terima .... Arghh " Kepala Laila berdenyut hebat. Laila tak kuasa lagi menahan sakit di area kepalanya. Dia memutuskan untuk turun dan beristirahat. Berharap, dia dapat menemukan jawaban dalam mimpi.


"Andai aja bukan kak Senja yang nanya. Udah aku tolak mentah-mentah dari tadi dan gak bakal bikin aku frustasi kayak gini. Tapi ... apakah ini benar-benar kak Senja yang dulu?" batinnya.

__ADS_1


***


"Gimana La? Kamu udah pikirin mateng-mateng tentang jawabanmu nanti?" Cerocos Jingga tanpa henti. Sedari tadi mereka bertemu di gerbang sampai mereka sampai di kelas, Jingga menembakkan kalimat-kalimat tanya namun yang ditanyai tidak selera untuk menjawab. Apalagi saat perjalanan menuju kelas ada banyak sekali siswa yang kemungkinan besar mendengar pertanyaan Jingga. Jadi Laila memilih untuk menjawab pertanyaan Jingga setelah mereka sampai di kelas.


"Udah sepuluh kali loh kamu nanya kayak gitu" Laila mulai buka suara setelah mereka menduduki bangkunya masing-masing.


"Lagian kamu gak Jawab-jawab sih dari tadi. Kan aku kepo La ...." Jingga memanyunkan bibirnya membuat Laila terkekeh geli.


"Kepo apa khawatir sih. Hm?" Laila justru menggoda Jingga. Dengan tujuan menetralkan pikirannya yang sedang berkelahi dengan hatinya.


"Kamu ih." Jingga memanyunkan bibirnya semakin maju.


"Lucu kamu tuh kalo manyun gitu," godanya ditambah kekehan kecil.


"Laila mah gitu," rengeknya sekali lagi.


"Tunggu aja, nanti kamu bakal tahu kok. Atau, biar hatimu tenang nanti kamu temenin aku ya pas aku ngasih jawaban ke kak Senja," tawar Laila disambut dengan senyum sumringah insan di sebelahnya.


Laila hanya mengangguk dan tersenyum.


***


Bel istirahat pertama berbunyi. Tanpa aba-aba ketiga pentolan sekolah memasuki pintu kelas X MIPA 11. Tatapan-tatapan heran dan kagum dari kaum hawa atas ketampanan Seja menyambut mereka. Seketika Laila dan Jingga mematung di tempat duduknya. Tetapi mereka berdua paham apa motif kedatangan ketiga pentolan sekolah ke kelasnya.


Tanpa disuruh apa-apa. Seperti sudah dibuat skenario oleh Senja. Laut dan Bintang langsung mengusir seluruh siswa yang berada di kelas X MIPA 11 terkecuali mereka berlima. Adegan pengusiran diakhiri dengan Bintang menutup pintu dan Laut menutup tirai jendela.


"Sorry kalo kedatangan kami mengejutkan" Kalimat permintaan maaf Senja mengawali perbincangan.


"Tuh sahabat Lo biar di sini aja ya. Buat nemenin Lo dan biar jadi saksi dari kontingen cewek," sambungnya diiringi kekehan kecil.


Laila dan tiga manusia yang lain hanya diam.

__ADS_1


"Gue gak punya banyak waktu. Langsung aja ya. Tuan Putri, apakah anda bersedia menjadi pendamping hamba?" Senja membungkuk layaknya seorang pelayan yang menyambut tamu.


Laila memandang lekat-lekat manik mata Senja setelah tubuh Senja kembali tegap. Matanya menyiratkan suatu permintaan. Bahkan Laila merasa bahwa tawaran ini tak sekadar tawaran biasa. Laila merasa tawaran ini memiliki penafsiran yang butuh kelemahlembutan dalam mencernanya. Namun, sama saja. Tawaran ini ... menyangkut martabatnya dihadapan seluruh siswa SMA Nusa Dharma dan lebih parah lagi menyangkut Tuhannya.


Ruangan dengan ukuran 5 × 7 meter itu hening beberapa menit. Hanya terdengar suara embusan napas dari lima insan yang berada di dalamnya.


"Hahaha." Setelah sekian lama hening, tiba-tiba Laila melepaskan tawanya sehingga membuat empat orang di sekitarnya menatapnya sembari mengerutkan dahi kebingungan.


"Kak Senja. Aku akui memang kakak itu tampan, bahkan banyak kaum hawa yang terpesona dengan keindahan wajah kakak. Tapi ... kakak bukan tandingan Nabi Yusuf dan Muhammadku!" Laila mengembuskan napasnya kasar. Sedangkan yang lain menungggu kalimat selanjutnya dengan antusias.


"Selain tampan kak Senja itu hebat. Dan aku yakin banyak cewek-cewek di SMA ini yang ngincer kak Senja. Tapi Laila heran sama kakak. Kenapa harus aku yang kakak tembak? Kalo kakak emang niatnya mau nyari gara-gara dan ujung-ujungnya mau bully aku sih menurutku mending kakak jangan pake cara ini deh kak, soalnya cara ini gak akan mempan!" jelasnya panjang lebar tak lupa kekehan kecil menemani penjelasan Laila.


"Dengan argumen-argumen yang sudah Laila sebutkan tadi, Laila tahu kak Senja paham dan bisa mengambil pengertian bahwa Laila ..."


Dalam hati, Senja memohon. "Jangan tolak Gue La. Please, Gue mohon. Karena ini satu-satunya cara biar Gue bisa jagain Lo." Tapi Senja tahu, apa yang dia mohonkan tidak akan terkabul.


"Laila menolak tawaran untuk menjadi pacar kakak," sambung Laila diiringi senyum kemenangan ditambah senyum penyesalan yang dia simpan dalam-dalam.


Kalimat Laila benar-benar menohok. Hati Senja berdesir. Tersirat perasaan kecewa di wajah Senja. Namun dia menyembunyikan kekecewaannya dengan sebuah tawa.


"Hahaha .... Udah Gue tebak kalau Lo bakal nolak tawaran Gue. Secara, yang jadi taruhannya antara novel seharga nggak lebih dari seratus ribu dibanding dengan neraka dan harga diri Lo," jawabnya dengan berat hati namun dia tutupi sehingga yang terlihat hanyalah senyum kemenangan.


"Gue terima penolakan Lo. Tapi jangan lupa janji gue La. Dan Gue bakal nepatin janji itu!" Senja mengakhiri diskusi kali ini dengan bentakan kecil. Kemudian ketiga pentolan itu meninggalkan kelas X MIPA 11.


Laila menatap nanar punggung Senja yang semakin menjauh kemudian menghilang dari pandangannya. Laila melihat ada sepercik kekecewaan lewat bola mata Senja saat mendengar penolakan Laila. Dia tahu perasaan Senja yang sebenar-benarnya tetapi ia tutup-tutupi. Tapi Laila tak punya pilihan lain. Suasana kembali senyap. Hanya tinggal dua insan yang berada di ruangan itu.


"Kenapa kamu tolak La? Kalo penolakanmu bener-bener dari hati, aku hargai. Tapi kalo penolakanmu cuma gara-gara jaga perasaan aku .... Aku gak tahu kudu ngomong apa La" Jingga menatap nanar sahabatnya.


"Jingga. Aku tahu kok kalo kamu pasti paham apa alasanku nolak tawaran kak Senja. Termasuk yang tadi kamu ucapin dan kak Senja ucapin juga. Dan aku mutusin jawaban ini dengan mateng-mateng." Laila memegang tangan sahabatnya dengan perasaan yang berkecamuk ditambah senyum getir.


***

__ADS_1


__ADS_2