Delusi Dalam Elegi

Delusi Dalam Elegi
8. Kecap Dan Cokelat


__ADS_3

Kalian baca part ini jam berapa nih? Ada yang tengah malem ga? Hihi


Kalo ada typo mintol ingetin yawww maaciww


Happy reading gaes


________


..."Dan janganlah kamu mendekati Zina. Sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk."...


...(Q.s Al-Isra : 32)...


***


"Yang namanya Laila disuruh ke perpustakaan," panggil seorang ketua kelas X MIPA 11.


Laila yang merasa dirinya dipanggil langsung meminta izin kepada guru yang sedang mengajar kemudian langsung memenuhi panggilan. Dirinya bertanya-tanya, sebenarnya siapa yang memanggilnya? Mungkin guru. Tapi, apa alasannya? Sembari berpikir langkah kakinya berayun menuju ke perpustakaan. Dada Laila berdegup kencang, keringat dingin mengucur meski tak deras. Dalam hatinya terbit beraneka macam pertanyaan.


Setelah sampai di ambang pintu Laila membaca basmallah dan mengatur deru napasnya.


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh"


Hening. Tidak ada jawaban sama sekali. Karena tidak mau menunggu lama Laila memberanikan diri untuk membuka pintu.


Ckrek ...


Tidak dikunci! Laila membuka pintu perlahan. Diedarkannya seluruh pandangan menatap tiap-tiap sudut ruangan. Namun nihil! Ruangan itu sepi! Laila mengayunkan kakinya masuk ke dalam ruang perpustakaan. Perlahan, sama saja sepi. Tidak ada orang kecuali dirinya. Bahkan penjaga perpustakaan tidak ada.


"Lho, tadi katanya aku dipanggil kesini. Tapi kenapa ini sepi?" Laila mengerutkan dahi.


Laila memutuskan untuk menunggu saja. Barangkali guru yang tadi memanggilnya sedang buang hajat. Laila menyusuri tiap-tiap rak. Semoga saja ada novel yang bisa dipinjamnya sekaligus bisa menemaninya saat ini.


Laila mengambil salah satu novel yang menurutnya lumayan menarik. Setelah dapat, dia berniat untuk duduk di kursi yang sudah tersedia. Hening. Laila masuk dalam dunia novel yang ia baca. Dirinya bercumbu mesra dengan alur kisah yang dia baca. Sampai pada akhirnya, ada seseorang yang mengejutkannya.


"Udah dibilangin jangan suka halu tapi kenapa masih suka halu La? Halunya sama novel lagi, mana senyum-senyum sendiri kek orang gila tau gak," cerocos Senja tanpa dosa.


Laila sama sekali tidak menjawab perkataan Senja. Dirinya masih asyik bercumbu mesra dengan novelnya.

__ADS_1


"Woy Laila Safitri yang budegnya gak ketulungan!" teriak Senja membuat Laila terperanjat.


"Astaghfirullah kak Senja ganggu aja. Orang lagi baca novel juga digangguin," jawab Laila dengan muka sebal.


"Ckck. Gitu aja ngambek Lo. Nambah manis tau La kalo Lo ngambek gitu, apalagi sambil marah-marah, tuh muka udah mirip daging sapi panggang aja, ya meskipun muka Lo gak seputih temen-temen Lo tapi muka Lo itu kayak kecap, hitam manis," celetuknya diiringi kekehan kecil.


Entahlah. Entah perasaan dari mana. Senyuman Laila mengambang. Kebersamaan ini, kebersamaan yang Laila rindukan. Kembali memorinya berputar pada kenangan masa Lalu. Dimana seorang Senja Bagaskara tak kenal lelah menggoda Laila dan memberinya sebutan 'kecap' kepada Laila.


_


"Kak Senja kenapa nasi gorengnya gak dikasih kecap?" tanya Embun sembari melihat trik chef ala Senja.


"Gak usah Mbun ntar kemanisan. Gak enak jadinya ntar," jawab Senja. Tangannya masih lihai memainkan spatula dan mengaduk-ngaduk nasi goreng di depannya.


"Kemanisan? Belum juga dikasih kecap kok kemanisan kak?" tanya Embun dengan mengerutkan dahi.


"Karena nanti kita makannya bareng Mbun. Dan kamu tuh kayak kecap, hitam manis. Aku takut kalo nasi gorengnya dikasih kecap terus makannya sambil ngeliatin kamu, kan nanti kemanisan, gak enak Mbun." papar Senja membuat mulut Embun mengerucut.


"Kak Senja mah gitu, suka ngatain kalo Embun kecap." Embun mendengus kesal membuat Seja tertawa.


"Heh, sudah-sudah. Embunya jangan diledekin terus Nja, dia kalo ngambek bahaya." Lerai Bu Nika- Ibu Embun.


_


Dengan segala keyakinannya. Laila yakin, bahwa Senja adalah teman masa kecilnya dahulu. Ya! Dahulu, dan sekarang mungkin Laila tidak ingin kisah persahabatan mereka kembali utuh, meski sebenarnya hati kecil Laila sangat menginginkan persahabatannya kembali seperti dahulu lagi.


"Ngalamunin apa sih hm? Sampe ada orang ganteng disini gak digubris!" celetuk Senja membuat lamunan Laila buyar seketika.


"Nggak apa-apa kok. Kak Senja kenapa disini? Mending kakak keluar aja deh, soalnya Laila lagi nungguin guru yang manggil Laila disini. Laila gak mau ada fitnah, kakak bisa kan keluar dulu?" pintanya, sebenarnya Laila ingin sekali menghabiskan waktunya bersama sahabat kecilnya dahulu. Tapi dia tahu, dia sudah dewasa. Dia bukanlah anak-anak yang tidak diemban dosa ketika bersentuhan dengan lelaki atau sekadar berduaan dengan lelaki di satu ruangan. Ini sudah berbeda!


"Ckckck. Emang siapa guru yang ngundang Lo ke perpustakaan hm? Yang ada Gue kali yang manggil Lo kesini!" Senja tertawa geli.


"Ha? Jadi, ini semua? Pembohongan? Astaghfirullah. Yaudahlah kalo kayak gitu mending Laila balik ke kelas aja." Laila beranjak dari tempat duduknya.


"Eh eh eh. Tunggu dulu, belum juga Gue kasih tahu apa alasan Gue ngundang Lo kesini," cegah Senja.


"Emang ada urusan apa kak Senja sama aku? Gak ada kan? Kalo gak ada aku pamit. Assalamu'alaikum," cerocosnya tanpa dosa.


"Woy emang Lo gak mau bilang makasih ke Gue apa?" Senja menembakkan kalimat tanya yang justru membuat Laila bertanya-tanya.

__ADS_1


"Makasih? Buat apa?" Kening Laila berkerut.


"Eh, Lo kan tadi Gue boncengin pas berangkat sekolah. Gue nagih disini karena tadi pas udah sampe Lo langsung nyelonong aja sih," papar Senja dengan raut muka dongkol.


"Eh iya ya. Tadi aku belum ngucapin makasih sama kakak hehe. Yaudah aku ucapin makasih banyak sama kak Senja karena tadi udah mau boncengin Laila."


"Sama-sama kecap."


Deg. Kecap? Apakah Senja masih mengingatnya? Apakah Senja tahu kalau yang sedang bersamanya adalah sahabat kecilnya? Tapi, kenapa selama ini dia tidak sedikitpun menyinggung tentang itu?


***


"Sorry Ngga. Gue gak doyan cokelat. Mending tuh cokelat Lo makan aja. Biasanya kan cewek paling doyan sama yang namanya cokelat," jawab Senja setelah sekian lama hening. Hanya ada mereka bertiga di kelas Senja, yaitu Jingga, Laila, dan Senja sendiri yang dicegat oleh mereka saat ingin pergi ke kantin, karena kedua adik kelasnya memaksa Senja untuk meluangkan waktu untuk mereka akhirnya Senja menyanggupi permintaan itu.


"Yaudah kalo kakak nggak mau. Nggak papa kok, Jingga permisi ya kak. Assalamu'alaikum," ucap Jingga kemudian berjalan keluar kelas Senja diikuti Laila. Matanya sembab. Hatinya hancur seketika. Hanya sebatang cokelat saja ditolak, apalagi perasaannya?


"Wa'alaikumussalam," jawab Senja.


Setelah keluar dari kelas Senja. Mereka memutuskan untuk pergi ke kantin. Sedari tadi mendengar penolakan atas cokelat yang diberikan kepada Senja, Jingga hanya membungkam mulut. Dia sama sekali tidak mengajak Laila berbicara.


"Ngaa," panggil Laila yang sudah tidak tahan melihat sahabatnya bagaikan arca batu yang mengenaskan.


"...." Tidak ada jawaban.


"Ngga. Aku tahu kalo kamu sedih. Tapi kalo boleh aku kasih nasehat, mending kamu jangan terlalu peduli sama penolakan kak Senja tadi. Mungkin saat ini kak Senja emang gak mau, tapi suatu saat kalo ternyata kalian berjodoh pasti kak Senja bakal mau Ngga."


"Lagian aku bersyukur loh. Dengan begini sahabatku enggak terjerumus ke hal yang berbau dosa. Aku takutnya tuh ntar kak Senja malah nglakuin yang enggak-enggak sama kamu. Inget ya Ngga. Allah telah berfirman, yang artinya ...


"Dan janganlah kamu mendekati Zina. Sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk."


(Q.s Al-Isra : 32)


Mendekati aja nggak boleh. Apalagi sampe melakukannya Ngga? Aku nggak mau kalo sahabatku satu-satunya ini terjerumus ke hal-hal yang begituan," papar Laila membuat hati Jingga sedikit lega.


"Iya La makasih," ucap Jingga setelah sekian lama membekap mulutnya sendiri.


"Sama-sama."


*****

__ADS_1


Hayoloh siapa nih yang deket-deket ama Zina? Hihi...


__ADS_2