Delusi Dalam Elegi

Delusi Dalam Elegi
2. Janji?!


__ADS_3

..."Laila! Gue janji bakal buat Lo ngejar-ngejar Gue sampe mata Lo bengkak karena nangisin Gue!"...


***


Seusai bel sekolah berbunyi melengking, Laila tidak langsung memboyong tubuhnya untuk pulang ke asrama. Benar sekali, Laila adalah salah satu santriwati di asrama yang letaknya tak jauh dari SMA Nusa Dharma. Sekitar 15 menit perjalanan menggunakan angkutan umum jarak antara sekolah dengan asramanya. Nama tempat itu adalah Asrama Putri Miftahul Huda Jakarta


Laila memilih untuk mengenal lebih dekat peta bangunan sekolah itu sendiri dan ketika semua siswa sudah berhamburan untuk pulang kembali menemui induk-induknya. Hanya tersisa beberapa guru yang masih bersiap untuk pulang serta beberapa siswa yang kebetulan mengikuti ekstrakulikuler hari itu. Tapi tak mengapa, asalkan tempat itu tak seramai tadi pagi maka Laila tidak akan canggung apabila mengelus salah satu tembok dengan ukiran-ukirannya yang memanjakan mata.


Diedarkannya pandangan ke seluruh penjuru bangunan sekolah. Tapi dia tertuju pada satu lorong kecil di samping bangunan kelas XII MIPA 1. Dia semakin penasaran ketika melihat ada dua kupu-kupu berwarna cokelat dan dipadukan dengan warna merah juga hitam yang terbang indah masuk ke lorong. Laila mengejar kedua kupu-kupu tersebut hingga masuk ke lorong.


"Subhanallah ...!"


Mulut Laila menganga. Netranya dimanjakan oleh pemandangan yang sangat memanjakan mata siapa saja yang memandangnya. Taman bunga dengan aksesoris kolam ikan dan air mancur di atasnya membuat takjub gadis itu. Diucapkannya kalimat pujian kepada Sang Mahakuasa sekali lagi.


"Subhanallah ...!"


Imajinasi mengambil alih kesadarannya. Laila terpukau dengan pemandangan memesona di depannya. Sudah tidak diragukan lagi, jika otaknya di buka maka akan didapati banyak sekali khayalan-khayalan yang Laila ciptakan. Dirinya terjun dengan sukarela dalam dunia imajinasi. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu. Dia melamun lumayan lama.


"Gue gak suka liat orang halu"


Laila terperanjat. Imajinasi brutal yang sedang bercumbu dengannya tiba-tiba menghilang tanpa pamit begitu saja. Dan itu semua karena suara yang Laila dengar barusan. Suara itu ....


"Eh ... kak- " Kalimat Laila terpotong oleh seorang laki-laki yang sedari tadi dia melamun sudah berdiri di sebelahnya.


"Akhirnya Lo sadar juga. Gue kira halu Lo gabisa Gue ganggu," cerocosnya tanpa dosa.


"Hehe" Laila terkekeh mendengar pernyataan itu.


"Lo udah kenal Gue kan? Gue yakin pasti udah, ya meskipun Lo baru aja pindahan tapi wajib buat seluruh siswa SMA Nusa Dharma tahu nama gue," terangnya dengan mimik wajah meremehkan lawan bicara.


"Iya. Aku tahu nama kakak. Kakak namanya kak Senja kan?"


"Lo gak capek apa berdiri disitu dari tadi" Senja justru menembakkan kalimat pertanyaan.

__ADS_1


"Ngg ... eh-" Ucapan Laila terhenti ketika Senja menarik lengannya dan membawanya untuk duduk di kursi tak jauh dari mereka berdiri.


Laila dan Senja duduk berdampingan. Namun Laila tetap menjaga jarak dari lelaki di sebelahnya itu.


"Sambil duduk aja ya ngobrolnya, Gue capek kalo berdiri mulu" ajaknya.


Laila hanya diam membisu. Ia tidak berminat untuk menanggapi kalimat-kalimat yang berderaian dari mulut Senja. Laila hanya menikmati atmosfer keindahan taman bunga di sekolah barunya itu.


"Biasanya cewek yang dideketin Gue itu pada dag dig dug atinya. Terus bakat aktingnya tiba-tiba keluar dengan sempurna. Secara, gue kan cowok pentolan sekolah paling ganteng. Tapi ini? Lo kenapa sih? Duduk milih jauhan. Diajak nomong ga ada tanggapan. Berasa lagi pacaran sama arca batu Gue tuh," dengusnya kesal.


Pacaran? Kening Laila berkerut setelah mendengar kata 'pacaran' keluar dari bibir Senja. Namun, sedetik kemudian pikirnya beralih kepada asrama. Dia harus pulang! Dia sekarang tidak tinggal di rumahnya lagi yang bebas pulang jam berapa saja asalkan sebelum temaram. Dia sekarang tinggal di asrama yang banyak peraturan-peraturan dan harus ia indahkan.


"M-maaf kak. Aku harus pulang. Assalamu'alaikum" Laila beranjak dari tempat duduknya dan berlalu meninggalkan Senja.


Cewek sialan!!


"Tunggu!" Cegah Senja membuat kaki Laila berhenti berayun.


"Nama Lo siapa?" sambungnya.


"Laila! Gue janji bakal buat Lo ngejar-ngejar Gue sampe mata Lo bengkak karena nangisin Gue!"


'Fuh, emang kamu siapa?' batin Laila sambil berlalu pergi meninggalkan pentolan sekolah yang kata Jingga paling ganteng.


Laila menghentikan angkot lalu naik dan menyebutkan tujuannya yaitu asrama.


***


Seperti tertusuk besi. Sesampainya ia di asrama memang diharapkan. Namun, bukan diharapkan dalam hal positif, melainkan untuk dibentak dan diomeli oleh senior-seniornya.


"Oh, bagus ya. Anak baru tapi udah berani pulang telat! Dikira kita gak tahu apa!" bentak salah satu senior yang sedari tadi sudah menunggu kepulangan Laila dengan melipat tangannya di dada.


"M-maaf mbak, tadi macet di jalan" Entah keberanian dan ide dari mana Laila memberi alasan yang logis tapi dengan bumbu kebohongan.

__ADS_1


"Maaf maaf! Enak aja kamu minta maaf!" bentak Mia. Dia seangkatan dengan Laila tetapi beda sekolah dan dia lebih awal menempati asrama.


Laila menundukkan kepalanya dan diam seribu bahasa. Bulir bening berhasil keluar dari kandangnya. Pipi Laila basah kuyup dihujani air matanya.


Ibu ... Laila takut ....


"Kenapa cuma diem heh!" kak Najwa, senior yang tadi membentak Laila kembali murka.


"Cepet sana bersihin semua kamar mandi yang ada di asrama!" Kini justru Mia yang mengambil peran untuk memberikan hukuman kepada Laila.


"Udah sana gak usah mewek kamu!" Mia mendorong tubuh Laila hingga tubuhnya tersungkur di lantai ruang tamu.


Ibu ... Laila ingin pulang ... Laila gak kuat Bu ... Laila rindu Ibu ....


"Iya mbak ...." Tidak ada pilihan lain selain mengindahkan hukuman yang diberikan kepadanya.


Dengan langkah gontai. Laila menghapus sisa-sisa air yang ada di pipi juga pelupuk mata lalu berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Laila mencoba menerima semuanya dengan lapang dada. Ia tahu bahwa kehidupan di asrama tidak akan sama seperti kehidupannya di rumah.


'Laa haula wa laa quwwata illa billah'


***


Tepat saat adzan maghrib berkumandang, Laila selesai membersihkan kelima kamar mandi di asrama. Ditambah dengan jadwal piket yang wajib dia kerjakan.


Lemas dan perih yang menjalar di tubuh serta hatinya ia tepis jauh-jauh. Dia sudah tidak memikirkan dirinya lagi. Yang ada di pikirannya hanyalah patuh! patuh! dan patuh! Demi Ibu yang mengembuskan napas nun jauh disana, serta ayah yang sudah menghadap Sang Kuasa.


Dia harus kuat mengarungi terjalnya kehidupan. Dia harus tegar dan tabah menghadapi hidangan yang tak diharapkan. Dia harus bisa melewati semua ini!


Pukul 22.13


Seperti biasa, jika semua insan yang satu atap dengannya sudah menggantikan aktifitasnya dengan tidur. Laila memandori pena yang ada di tangannya untuk menari-nari di atas buku diary yang sudah hampir penuh isinya.


Bersama kesunyian, tetesan air mata seta deru nafas kepedihan menemani Laila malam itu. Dituangkannya seluruh perasaan dan pikiran menjadi sebuah puisi dalam suatu buku berharga. Entah sudah berapa lamanya dan entah sudah berapa kata yang sudah ia tuliskan. Baru, mata Laila sudah bisa terpejam untuk mengarungi mimpinya, dan sejenak melupakan kenyataan pahit serta ironi dalam hidupnya.

__ADS_1


***


__ADS_2