
Happy reading gaes
______
..."Kak Fajar juga pria idaman kok. Jarang sekali Laila ketemu sama pria kayak kakak apalagi di kota-kota besar ini," cerocos Laila tanpa sadar. ...
***
"Kira-kira kamu tahu gak apa alasan yang bikin kak Senja dua hari ini sama sekali nggak keluar kelas?" tanya Laila kepada Jingga seraya mengaduk-aduk batagor di depannya. Dia tidak berminat memasukkan sesuap pun batagor di depannya.
"Malu sama kamu mungkin" Jingga menjawab asal.
"Nggak mungkin lah. Masa pentolan sekolah bisa punya rasa malu sama anak baru?" Laila terkekeh diiringi tawa Jingga.
Dalam hati Laila terbit beraneka ragam pertanyaan dan juga rasa bersalah. Sudah dua hari Senja tidak terlihat batang hidungnya di kantin. Entah ada apa dengan lelaki itu. Namun, ketiadaan Senja di kantin membuat Laila gusar.
"Dia baik-baik aja kok La. Lo gak usah khawatir" Bintang tiba-tiba datang lalu bergabung bersama mereka. Tanpa dipersilahkan duduk, dia langsung duduk di bangku kosong sebelah Laila.
"Gue tahu Lo bakal nyari-nyari dia. Tapi kalo Lo mau Gue kasih saran sih mending Lo cuek aja. Mau dia sakit kek, mau dia sehat kek, mau dia sekarat sekalipun, mending Lo cuekin dia. Kalo Lo terus-terusan mikirin dia, yang ada dia malah ngelunjak La," sambungnya dengan nada serius.
Laila sebenarnya terkejut dengan kedatangan Bintang. Tetapi dia lebih memfokuskan perhatiannya pada saran Bintang. Dirinya juga berpendapat demikian. Tentang janji Senja, mungkin ini adalah awal dari rencananya.
"Iya kak" Laila hanya mengiyakan saran Bintang.
"Kalo Lo bingung atau udah gak kuat sama kelakuan tuh cowok. Lo bisa dateng ke Gue La, barangkali Gue bisa bantu." Bintang beranjak dari tempat duduknya.
"Dan jangan lupa tuh batagor dimakan. Jangan cuma diaduk-aduk doang, ntar mubadzir," sambungnya kemudian pergi meninggalkan Laila dan Jingga yang mengerutkan dahi tanda tak mengerti apa yang Bintang maksudkan. Laila terkekeh setelah sadar apa yang Bintang katakan di kalimat terakhirnya. Batagor di depannya campur aduk tak karuan. Sama halnya pikiran dan hatinya.
***
Istirahat kedua kembali menuntut Laila untuk menyambangi taman sekolah. Jingga dengan kesibukannya di ruang kantor memaksa dirinya untuk tidak memiliki waktu kepada Laila. Dalam hati kecil Jingga dia selalu merasa bersalah. Setiap saat, ketika ditatapnya sahabat itu, desir hatinya yang kian membuncah selalu menyiratkan penyesalan. Dan pandangannya selalu menyiratkan kata maaf. Bukan tentang waktu yang Jingga habiskan di kantor, melainkan tentang sebuah rencana yang sama sekali tak pantas dilakukan oleh seorang sahabat satu-satunya. Tetapi Jingga tidak punya pilihan lain.
"Sorry La. Gue gak bisa jadi sahabat yang baik buat Lo" Tanpa sadar, air mata Jingga sukses menggenang di lautan penyesalan.
"Wa izaa quri-a 'alaihimul-qur-aanu lama yasjuduun"
__ADS_1
(Dan apabila Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka tidak (mau) bersujud,)
"Balillaziina kafaruu yukazzibuun
(bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya))
"Wallohu a'lamu bimaa yuu'uun"
(Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka).)
"Fa basysyir-hum bi'azaabin aliim"
(maka sampaikanlah kepada mereka (ancaman) azab yang pedih,)
"Illallaziina aamanuu wa 'amilush-shoolihaati lahum ajrun ghoiru mamnuun."
(kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya.
"Shodaqallahul'aziim."
(Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya)
Hati Laila berdesir. Air matanya berhasil meleleh dengan sempurna. Lemas menjalar ke seluruh tubuhnya. Ditatapnya dengan sorot mata sayu seorang pria yang tengah duduk sembari menggemakan firman Illahi. Hatinya berkecamuk, ia merasa kecil dan sangat-sangat kecil di hadapan Tuhannya. Mata Laila sembab. Dia teringat satu persatu dosa yang dia lakukan entah sengaja maupun tidak. Dia sangat-sangat merasa berdosa. Dia menyesali semua perbuatannya yang menimbulkan dosa meski sekecil zarrah.
"Kenapa cuma berdiri di situ? Sini duduk," titah seorang pria sembari menutup kitab suci yang tadi dia baca kemudian menepuk-nepuk sisa ruang kursi yang ia duduki.
Kaki Laila berayun. Berjalan menuju kursi taman yang tak jauh darinya. Tubuhnya gontai, Laila duduk di sebelah lelaki yang tadi diperhatikannya. Namun Laila tetap menjaga jarak. Tubuhnya gemetar tak karuan setelah mendengar ayat-ayat suci yang dibacakan pria di sebelahnya dengan fasih.
"Namamu Laila kan?" Pria di sebelahnya angkat suara dengan lembut.
Laila hanya mengangguk pelan.
"Kenalin, namaku Sarayu Fajar. Panggil aja Fajar. Kelas XII IPS 3" Fajar memperkenalkan dirinya kepada perempuan di sebelahnya. Tak lupa dia menarik ujung-ujung bibirnya ke atas.
Lagi-lagi Laila hanya mengangguk pelan. Matanya masih sembab. Pandangannya dia tujukan kepada bunga-bunga bermekaran di depannya. Dia tidak ingin melihat laki-laki yang bukan mahramnya.
__ADS_1
"Kenapa nangis La?" tanya Fajar setelah ditatapnya mata sembab Lila.
Laila buru-buru menghapus sisa-sisa air matanya dengan ujung kerudung. "Laila cuma terharu sama bacaan fasih kak Fajar," jawabnya.
"Maasya Allah. Aku sangat-sangat bersyukur karena dipertemukan dengan seorang yang sangat langka," ucapnya dengan senyum bahagia.
"Langka?" Laila mengerutkan dahi.
"Iya langka. Menurutku kamu itu langka. Nggak biasa-biasanya aku ketemu perempuan yang nangis gara-gara denger bacaan Al-Qur'an. Biasanya sih mereka nangis gara-gara masalah percintaan. Tapi kamu beda La," terangnya.
Laila hanya tersenyum simpul.
"Sejak pertama kali aku melihat kamu sekolah disini. Sebenarnya aku ingin kenal lebih dekat sama kamu La. Aku tahu ada yang beda diantara kamu dan siswi-siswi yang lain. Dari cara berpakaianmu saja perbedaanmu sudah sangat terlihat kentara. Dan aku yakin kalo kamu orang baik-baik. Kamu itu perempuan idaman La," jelas Fajar dengan lugas dan tentunya dengan perkataan yang halus sekali.
"Kak Fajar juga pria idaman kok. Jarang sekali Laila ketemu sama pria kayak kakak apalagi di kota-kota besar ini," cerocos Laila tanpa sadar.
"Uhuk ...." Fajar pura-pura batuk menanggapi pernyataan gadis disampingnya.
Laila yang kemudian tersadar, menutup mulutnya dengan tangan. Mukanya merah merona karena malu sudah mengatakan 'Pria Idaman' kepada lawan bicaranya. Fajar hanya terkekeh pelan.
***
"Gue gak nyangka kalo Lo bisa sebego itu!" Bintang membentak Senja. Namun, yang dibentak hanya diam seribu bahasa.
"Senja Bagaskara!" Bintang naik pitam. Dia tidak tahan lagi dengan temannya itu.
"Lo bisa gak sih santai dikit Ntang!" Kini Laut justru membentak Bintang. Rahangnya mengatup. Deru nafasnya memburu. Dia tidak tahan lagi dengan pemandangan di depannya.
"Gue cuma nyadarin dia La!" Bintang kini tak hanya marah kepada Senja, tetapi kepada Laut yang mendukung kebodohan Senja.
"Gue bilang kalo Lo itu bego karena Lo emang bener-bener bego Senja Bagaskara!" Bintang mencengkeram kerah Senja. Tak lupa jari telunjuknya dia gunakan untuk menuding cowok di depannya.
"Rencana Lo itu gak akan mempan! Kalo Lo emang tahu gimana Laila, seharusnya Lo gak gini! Laila itu cewek alim, bego! Mana mau dia diajak pacaran heh?! Secara yang jadi taruhannya cuma novel gak guna dibanding neraka dan harga dirinya! Dengan cara Lo yang kayak gini, yang ada dia malah semakin jauh dari pengawasan kita! Baru aja dimulai tapi Lo udah ngelakuin kesalahan! Lo udah terlambat! Cara Lo itu salah! Kedudukan Lo di mata Laila udah dia anggap lebih rendah levelnya dibanding kedudukan musuh bebuyutan kita, bego!" Cercaan demi cercaan Bintang tembakan secara brutal membuat Senja tetohok dan sadar akan kebodohannya.
Senja merutuki kebodohannya sekali lagi. Sebenarnya dia sudah dua hari ini merutuki kebodohannya sendiri, bahkan satu detik setelah Laila menolaknya Senja sudah mulai merutuki kebodohannya. Tetapi dia memasang tampang tak acuh sehingga membuat Bintang tak tahan.
__ADS_1
"Musuh?" Senja menaikan satu alisnya.
***