Dendam Atas Kematian Ibuku

Dendam Atas Kematian Ibuku
Dunia Sangat Sempit


__ADS_3

    Alena terkejut ketika andreas tidak sengaja menyenggol hp nya dan terjatuh, kesempatan itu alena buat untuk pura pura bangun dari tidurnya. bagaimana pun alena begitu takut.


  "Uughhh, kenapa and?" tanya alena pura pura terbangun dari tidurnya


  "Ee-Enggak apa apa kok al, cuma gk sengaja nyenggol hp" ucap andreas dengan groginya.


  "Kirain kenapa and haha" ujar alena, sembari tertawa di ujung percakapan.


    Di sepanjang perjalanan alena memilih tidak tidur, was-was jika andreas berani macam macam padanya. Sehingga mereka telah sampai di rumah alena.


  "Makasih ya and, ayo mampir dulu ke rumah" tawar alena, saat sudah turun dari mobil andreas.


  Andreas sebenarnya ingin mampir, namun mengingat kejadian tadi masih membuat jatungnya hampir lepas.


  "Lain kali aja al, aku buru-buru karena ada sedikit urusan" ucap andreas,


  Alena masih diam di gerbang, sembari melihat kepulangan andreas. Hingga mobil itu sudah berlalu jauh dari pandangan alena.


  "Hufftt untung saja, gk diapa apain tadi" ujar alena dalam hati, seraya masuk ke dalam rumah. Tak lupa, tangannya yang menenteng paper bag hasil shopping.


 Saat alena di kamar, alena langsung membuka paper bag itu dan menggunakan dress yang andreas belikan tadi.


Alena berputar-putar di depan kaca menggunakan dress yang andreas belikan, sungguh cantik dress nya. Dipadukan dengan tubuh alena yang ramping.


Merasa gerah, alena memutuskan untuk berendam. lama alena berendam, memutuskan menyudahinya.


Kini alena sudah berada di balkon kamarnya, menikmati cuaca yang mendung dan angin sepoi sepoi yang menerpa rambut panjangnya.


Namun saat melamun, alena langsung kepikiran soal siska yang tempo hari dijebak orang suruhannya. Alena tiba tiba merasa gelisah takut nanti rencananya gagal.


Alena menyambar hp yang ada di meja depan kursi yang ditempati duduk, "Hallo bos" ucap seseorang diseberang ketika panggilan sudah tersambung.


"Hhmm, kamu yakin kan kalau waktu itu kamu mengeluarkan kurcaci kurcaci kamu saat berhubungan dengan siska?" tanya alena to the point


"Saya yakin boss, tapi saya gk tau juga itu akan benar-benar membuatnya hamil atau tidak" ucap pria tersebut, dengan lirih.


"Aargghhh, kamu gk boleh kabur dulu sebelum aku mendapatkan kabar kalau dia benar-benar hamil" tegas alena, sedangkan seseorang diseberang sana hanya mampu patuh pada alena.


Alena memutuskan panggilannya sepihak, dan beranjak turun ke bawah untuk menyuruh bi inem membuatkan minuman serta cemilan.


"Bi, tolong buatkan saya minuman dan cemilan ya. nanti bawa ke kamar saya" ucap alena, setelah mendapatkan jawaban dari bi inem alena beranjak ke kamarnya kembali.


Alena kembali lagi ke balkon, di saat yang bersamaan hujan turun membasahi tanah dan memberikan bau yang khas tanah basah.


Tak berselang lama, bi inem sudah datang beserta cemilan di nampan yang dibawanya. Bi inem meletakkan minuman dan cemilan di atas meja depan alena duduk.


"Makasih bi" ucap alena


"Iya non sama-sama, ohh ya non. Maaf sebelumbya persediaan dapur udah hampir habis non" ucap bi inek dengan lirih.


"Iyakah bi? Nanti jam 4 kita belanja ke supermarket ya bi" ajak alena pada bi inem

__ADS_1


"Iya non" ucap bi inem, dan beranjak pergi ke belakang kembali.


Alena begitu menikmati hujan, hingga tanpa terasa air matanya menetes. Disaat seperti ini alena teringat ibu nya, saat hujan dan ada suara petir pasti ibu nya alena yang memeluk nya.


Duuuaarrr


Suara petir itu mengagetkan alena dan membuatnya berteriak sangat kencang.


"Ibuuuuuuuuu, Al takuttt bu" teriak alena yang membekap telinganya.


"Hikkss hikkss, ibu al takutt" lirihnya dengan suara yang terisak.


Bayangan-bayangan akan kenangan dirinya dan ibunya berputar putar di kepalnya, yang semakin membuatnya menangis.


Hingga beberapa saat, hujan mulai reda. Alena menyukai hujan tapi tidak dengan petirnya. Tanpa terasa, alena tertidur di kursi hingga jam menunjukkan pukul 3.30 menit alena terbangun.


"Uugghh" alena terbangun dari tidurnya dan beranjak ke kamar mandi, untuk cuci muka dan berganti kaos pendek berwarna hitam dan celana panjang yang warnanya senada.


Setelahnya alena memilih membawa minuman dan cemilan nya dibawa ke bawah, sekalian menyuruh bi inem bersiap-siap.


"Bii" panggil alena pada bi inem, namun tak kunjung dijawab.


Alena mencoba mencari bi inem di kamar, namun tidak ada. Hingga suara dari kamar mandi membuat alena berfikir, mungkin bi inem sedang mandi.


Setelah mandi, dirasa sudah selesai mandi. alena kembali memanggil bi inem yang kali ini di jawab.


"Bii" panggil alena


"Masih bersiap siap bi?" tanya alena, yang membuat bi inem mengangguk mengiyakan alena.


"Iya non, bentar ya non. Bibi pakai jilbab dulu" Ucap bi inem, yang alena lihat menggunakan baju gamis warna biru tua yang warnanya luntur.


Setelah menunggu bi inem, alena yang nyetir menyuruh bi inem duduk di sampingnya yang diangguki bi inem.


Sepanjang perjalanan ke supermarket, bi inem selalu mengajak alena bercanda.


Sesampainya di supermarket, alena mengambil dua troli satu dibawa alena dan satunya lagi dibawa bi inem.


Setelah satu jam an, alena habiskan belanja bersama bi inem dan keranjangnya sudah penuh, alena dan bi inem menuju tempat kasir.


Setelah pembayaran selesai, alena tidak beranjak pulang. Melainkan melajukan mobil ke butiknya.


"Non, kemana ini?" tanya bi inem yang sudah di depan butik


"Udah bibi ikut al aja" ajak alena, seraya menggandeng tangan bi inem masuk ke butik bi inem pun hanya pasrah mengikuti alena.


"Bii pilih baju apapun yang bibi mau" ucap alena yang membuat alena terkejut.


"Ee-eehh apa non? nggak non" tolak bi inem, namun alena tetap memaksa bi inem. hingga akhirnya bi inem hanya menurut saja, ketika salah satu karyawan alena panggil dan suruh menemani bi inem.


"Baik bu, akan saya temani si ibu nya" ujar karyawan tersebut.

__ADS_1


Alena kini beranjak ke kasir melihat karyawan nya yang bernama intan, intan yang diperhatikan Alena begitu grogi hingga tangganya bergetar. Saat melihat itu, alena tak kuasa menahan tawanya.


"Hahahaha... ya ampun kamu ini kenapa?" tanya alena pada


"Gee-gerogii bu saya" kikuk intan dengan kepala yang menduduk kebawah.


"Yang ngajak kamu bicara ada di depan, bukan dibawah yaa" tegur alena, pada intan.


"Iiyaa iyaa bu" ucap intan dan melihat alena.


"Ohh iya, kamu sama teman teman mu yang lain sudah makan?" tanya alena kembali.


"Belum bu, mungkin nanti habis magrib" ujar intan, yang kini sudah berani melihat alena dan tidak melihat bawah kembali.


"Saya sudah pesankan kalian makanan, nanti kalau ada grabfood datang kalian terima makanan nya dan jangan lupa dimakan yaa" Ucap alena, sembari berlalu mencari bi inem yang masih muter muter.


Tanpa sengaja alena tertabrak seseorang hingga jatuh, saat alena mendongak ke atas ternyata yang menabraknya siska.


Apes banget fikir alena, lagi lagi bertemu siska. memang ya dunia ini sempit se sempit daun kelor.


"Lo lagiiii? Emang ya lu tuh ada dimana mana" tanya siska, dengan alisnya yang bertaut.


Malas menanggapi, alena bergegas menyusul bi inem yang masih bersama karyawan nya tadi.


"Kamu kembali bekerja aja, sama teman teman kamu ya" ucap alena pada karyawannya tersebut.


"Baik bu" ucap karyawan tersebut, seraya pergi meninggalkan bi inem dan aku.


"Bi? mana baju pilihannya kok belum ada?" tanya alena mengernyitkan dahi


"Mahal mahal non" lirih hi inem.


"Yaampun bi, kenapa harus milih harga. bibi bisa langsung ambil aja" ucap alena, sembari melihat lihat baju di gantungan dan memilihkan beberapa untuk bi inem.


Bi inem yang dipilihkan baju alena dan mencobanya merasa nyaman dan pas, akhirnya beberapa baju pilihannya udah dapat.


Alena bersama bi inem bergegas menuju kasir untuk membayar baju yang dibelinya.


"Udah berapa?" tanya alena sembari membuka dompet dan menyodorkan kartu black card nya.


"Gk usah bu" Tolak intan, yang langsung mengembalikan kartu black card milik alena.


"Gk usah saya tetap bayar" alena kembali menyodorkan kartu black card nya namun di tolak kembali oleh intan.


"Maaf bu, tapi kami udah dapat amanah dari bu zara. Kalau bu Alena belanja jangan dibolehin bayar gitu" ucap intan blak blak an dan alena yang mendengarnya pun mlongo ada ada saja zara fikir alena.


"Yaudah kalau gitu ya mbak, makasih" ucap alena, dan mengajak bi inem kembali ke mobil.


Tanpa alena sadari, sedari tadi siska mengintip alena saat berada di kasir namun tidak bisa mendengar jelas apa yang alena katakan dengan kasir tersebut.


*******

__ADS_1


__ADS_2