
Tap
Tap
Tap
Lea menuruni anak tangga. Ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi.
"Mah, Papah mana? Kok ngga keliatan?" Tanya Lea seraya duduk di kursinya.
Terlihat Mamah nya yang sedang menuang kan milk ke dalam gelas milik Lea. "Papah sudah berangkat ke kantor sayang. Ayok cepet sarapan nanti telat" Seru Tulsa.
Lea mengangguk. "Ya udah mah, Lea udah selesai. Lea ke kampus dulu, ya?" Pamit Lea.
Cup
Lea mencium pipi Tulsa sekilas, lalu ia meninggal ruang makan. Tulsa hanya menggeleng pelan. "Hati-hati sayang!" Teriaknya.
"Ya mah!" Seru Lea.
Di jalan yang senggang itu, Lea mengemudi kan mobilnya dengan kecepatan sedang. Terik matahari pun sudah menaik. "Pagi ini cerah banget" Batinnya.
Sekitar cukup lama di perjalanan, kini Lea sudah berada di area kampus. Lea keluar dari mobil, dan dengan cepat berjalan menuju ke kelasnya.
"Lea! Tunggu!" Teriak seseorang dari kejauhan.
Lea menoleh ke belakang. "Dian" Lirihnya.
Dian berada di hadapan Lea dengan napas yang memburu. "Gue dari tadi panggil Lo. Lo ngga nyaut-nyaut dasar, budeg!" Pekik Dian.
Pletak!
Lea menyentil kening Dian sengaja. "Lo ya, bener-bener. Temen sendiri di ledekin!" Kesalnya.
"Ya elah baperan Lo. Ya udah daripada ribut mending caw lah ke kelas!" Ajak Dian.
Tanpa menjawab ucapan Dian, Lea dengan sengaja berjalan begitu saja. Itu membuat Dian sedikit kesal dengan tingkah Lea.
Di kelas, Lea duduk di bangku nya. Namun di meja terlihat sebuah cokelat yang berukuran agak besar. Lea menyeritkan dahinya. "Cokelat siapa nih? Kok ada di meja gue" Ucapnya.
Dian yang melihat itu hanya melihat Lea dengan tatapan malasnya. "Ya... palingan juga dari Aksara, kalo bukan dari dia dari siapa lagi, coba?" Tutur Dian.
Lea tersenyum tipis. Ia mengambil cokelat itu dan memasukkannya ke dalam tas. Entahlah, hanya sebuah cokelat saja membuat ia begitu bahagia.
Sore harinya. Di rumah, Lea hanya berbaring di kasur seraya memutar film-film yang di gemari nya.
Tring!
Notif pesan membuat Lea terusik. Ia melihat pesan, tertera nama 'Aksađź–¤' di layar handphone nya.
Aksađź–¤: Cokelat nya di makan ngga?
Aksađź–¤: Maaf baru ngabarin, sibuk.
Lea tersenyum. Ia langsung saja membalas pesan dari Aksa, kekasih nya.
^^^Anda: Belum. Lagi ngga mau...^^^
^^^Anda: Ngga pa-pa.^^^
Aksađź–¤: Ya sudah kalo gitu. Nanti mau makan malem bareng?
__ADS_1
^^^Anda: Boleh... tapi kamu yang minta ijin sama papah mamah, ya?^^^
Aksađź–¤: Shiap. Nanti malam sekitar jam tujuh aku jemput.
^^^Anda: Ok, di tunggu📍^^^
Lea off
...***...
"Pak malam ini anda akan ada meeting dengan perusahaan Albion crop" Ujar Aluna.
"Jam?" Ucap Dev tanpa menoleh tatapannya dari laptop.
"Sekitar pukul 19.30 malam" Jawab Aluna.
"Di mana?".
"Di kafe anggrek, pak".
"Ya sudah siapkan semuanya".
"Baik pak. Kalo begitu, saya permisi".
Aluna melenggak-lenggok kan tubuhnya dan keluar dari ruangan Dev, sang atasan.
Dert
Dert
Dert
Handphone Dev bergetar, ia menghiraukan nya karena sedang fokus membereskan laporan yang sedang ia buat. Kemudian, suara telepon. Dev menghela nafasnya dan mengangkat telepon.
Bunda: Sayang... kamu pulang ya sekarang. Di rumah ada Oma.
Dev: Kapan Oma datang?
Bunda: Tadi siang. Oma nanyain kamu terus, kamu pulang ya.
Dev: Iya Bun, Dev segera pulang.
Dev menutup teleponnya. Lalu ia menghubungi orang kepercayaan nya. "Zion, keruangan saya sekarang!" Titahnya.
Tanpa menunggu lama, suara ketukan pintu terdengar. "Masuk!" Ijin Dev.
Zion berjalan ka arah Dev. Lalu ia membungkuk sekejap sebagai bukti penghormatan. "Ada apa, Pak?" Tanya nya.
Dev menatap nyalang Zion. "Ck. Jangan panggil saya bapak. Panggil saja nama".
"Baik. Dev, ada apa?".
"Ngga usah formal gitu. Kita kan lagi berdua".
"Gua sekarang mau balik. Lo urusin semau yang ada di sini, Lo handle semuanya. Kalo soal meeting nanti malem itu urusan gue" Tuturnya lagi.
Zion mengangguk. "Ya udah Lo tenang aja gue bakalan handle semuanya".
"Bagus!" Sahut Dev. Ia berdiri dari kursi kebesarannya, memakai jas nya dan segera keluar dari ruangan.
Zion mempersilahkan sang bos, yang tak lain adalah sahabat nya sendiri untuk keluar.
__ADS_1
Dev berjalan dengan gagahnya. Para karyawan yang melihat sang bos, spontan membungkuk dan menyapa. Walaupun, Dev hanya mengangguk sebagai tanda jawabannya.
"Sore pak!" Sapa nya.
"Sore pak!" Sapa nya.
Lagi dan lagi, Dev hanya mengangguk sambil sesekali melihat jam yang berada di pergelangan tangannya. Tatapan nya ke dapan lurus.
Sampai di lobi, mobilnya langsung standby. Dev hanya perlu menaiki nya. Kali ini ia mengemudikan sendiri.
Sore hari dengan cuaca yang cukup mendung. Dev menambah kecepatan lajunya karena melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 16.00.
Cukup lama di perjalanan, kini Dev sudah memasuki pekarangan rumah nya. Dev keluar dari mobil dan segera memasuki rumah nya. "Pak tolong ya parkirin" Ucap Dev.
Dengan senang hati, pak satpam mengambil kunci mobil dan segera memarkirkan mobilnya. "Baik Tuan" Jawabnya.
"Makasih, pak" Sahut Dev.
Dev memasuki rumahnya. Pertama yang ia lihat adalah Bundanya, Senna yang sedang berjalan ke arah nya. "Sayang... ayok ketemu sama Oma".
"Iya Bun".
Dev dan Senna berjalan beriringan. "Gimana kantor hari ini?" Tanya Senna.
"Baik Bun. Tapi teman papah ada yang ngajakin Dev kerja sama".
"Oh ya? Siapa?".
"Albion crop. Itu milik temen papah, kan?".
Senna mengusap punggung Dev. "Iya. Itu temen bunda juga. Gimana, udah kerja sama nya?".
"Belum Bun, baru mau meeting".
Senna mengangguk. Kini keduanya sudah ada di ruang keluarga, terlihat Oma nya yang sedang meminum teh.
"Cucu Oma udah pulang. Gimana kabar mu nak?" Tanya Oma. Cangkir yang beliau pegang di simpan di atas meja.
Dev tersenyum. Ia duduk tepat di samping Omanya. "Dev baik Oma. Gimana kabar, Oma?".
Oma mengusap kepala Dev pelan. "Oma baik-baik saja. Oma senang akhirnya bisa ketemu kamu".
Dev mengambil tangan Oma yang sudah keriput itu. Ia genggam erat. "Dev apalagi, Oma. Oma, Dev ada tempat yang bagus untuk kita bisa jalan-jalan, Oma mau?".
Oma tersenyum lebar. "Mau. Oma sangat... mau, sekalian ajak pacar mu, Oma ingin sekali bertemu dengannya".
Terdiam. Dev menghela nafasnya, Omanya ini selalu saja begitu. Padahal sudah Dev katakan beberapa kali bahwa ia tak memiliki seorang kekasih. "Oma... Dev tidak punya kekasih" Lirihnya.
"Makanya kamu cari. Jangan pekerjaan terus yang kamu urusin" Pekik Oma.
Senna yang sejak tadi mendengar pembicaraan Ibu mertua dan putra lelaki nya hanya bisa tersenyum bahagia. Keluarga yang selalu di impikan oleh semua orang, Senna beruntung.
"Oma... Dev hanya sibuk bekerja. Makanya Senna sama Ayahnya Dev ingin sekali menjodohkannya. Tapi Dev menolak" Ujar Senna.
Oma menyadarkan bahu nya ke kursi. "Dev... hidup itu harus di manfaatkan dan di nikmati dengan baik. Oma juga ingin melihat kamu bahagia".
Dev tidak bisa berkata-kata lagi. "Oma... sedari dulu Dev sudah mencari, tapi memang belum menemukan yang tepat saja".
"Ya baiklah. Oma tunggu calon istri mu, jika sudah ada langsung kenalkan pada Oma".
"Siap Oma. Ya sudah Dev mau mandi dulu. Tubuh Dev rasanya lengket sekali".
__ADS_1
Oma hanya mengangguk. Kemudian, Dev berdiri dan berlalu.
..._____...