Devara

Devara
Cp. 05 Menerima


__ADS_3

Hari ini, Dev sangat tidak fokus dengan pekerjaan nya. Itu hanya membuat pekerjaan nya berantakan. Dev menutup laptopnya, ia menyadarkan bahunya di kursi kebesarannya. Matanya terpejam.


Ingatan tentang perkataan dari Ayahnya membuat Dev meradang. Perjodohan? Ck, itu adalah sebuah ide konyol untuk Dev. Apalagi ia tak terlalu memikirkan tentang pernikahan.


Semalam, Baskara memang membicarakan soal perjodohan nya. Dev hanya bisa terdiam mendengar keputusan dari ayahnya itu. Namun Dev juga tak memungkiri bahwa ia menolak dengan keras.


" Harus gimana sekarang..." Lirihnya.


Tak


Tak


Tak


Suara haig hells terdengar jelas. Dev mendongak, melihat asisten nya berjalan ke arah meja dengan membawa secangkir kopi. "Maaf pak jika saya lancang. Saya sudah ketuk pintu namun tidak ada jawa--".


"Mau apa ke ruangan saya?" Dingin Dev.


Aluna meredam emosi nya, karena ucapannya terpotong. "Ini saya bawakan bapak kopi" Menaruh nya di meja.


Dev berdehem sebagai jawaban. "Get out!" Titahnya.


Aluna menyipitkan matanya. "Luna... Lo harus sabar. Lo ngga mau kan dia ilfeel sama Lo" Batinnya.


"Baik pak. Permisi!" Pamit nya.


Aluna keluar. Dev menghela nafasnya, dasinya ia longgar kan, entahlah ini begitu terasa panas. Suara panggilan telepon terdengar. Dev mengangkat nya.


Bunda: Dev, siang ini kita akan makan di luar. Kamu bisa kan?


Dev: Untuk apa, Bun? Tumben sekali.


Bunda: Ngga ada apa-apa, tapi kan kita sudah lama tidak makan bersama di luar. Bagaimana?


Dev: Baiklah Bun... Dev akan datang. Bunda kasih tahu aja tempat nya di mana.


Bunda: Ok... makasih Dev. Bunda tunggu nanti siang.


Dev mengakhiri telepon nya. Dev tidak mengetahui untuk apa Bundanya mengajak ia makan siang di luar, namun Dev tidak akan bisa menolak.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" Sahut Dev.


Pintu terbuka, Zion datang dengan membawa beberapa berkas di tangan nya. Dev hanya mengangkat alisnya, seakan bertanya 'berkas apa itu?'.


"Pak, ini berkas yang harus bapak tanda tangan. Untuk kerja sama yang kemarin, saya sudah berikan kontrak kerjasama nya" Ucap Zion.


Dev mengangguk. Ia segera menandatangani berkas yang perlu tanda tangan nya. "Kalo sudah ada kabar dari perusahaan Albion, tolong segera hubungi saya".


"Baik. Jika begitu saya permisi" Pamit Zion.


"Tunggu!".


Zion menoleh ke arah Dev. "Kamu temani saya pergi makan siang hari ini".


"Tapi pak saya--"


"Tidak menerima penolakan!" Tegas Dev.


Zion menelan ludahnya seketika. Akhirnya ia mengangguk sebagai jawaban, setuju. Dev menunjukkan mimik wajah senang dengan keputusan Zion, asisten pribadinya itu.


Zion berlalu, karena harus menyelesaikan pekerjaan.


...***...


"Lea nanti siang Lo bisa ngga anterin gue ke toko buku?" Ucap Kiara.


Lea tak menanggapi. Tatapannya lurus ke depan seraya memegang pulpen yang ia hentakan kemeja. Itu bagai irama bagi Lea yang bisa membuatnya tenang.


"Woy!" Sentak Kiara.

__ADS_1


Lea berdecak. "Apaan si? Gue lagi ngga mau di ganggu".


"Gue cuman nanya, Lo bisa ngga anterin gue. Kok ganggu, si? Ngga jelas, Lo!" Kesal Kiara.


"Ngga tahu deh. Lo minta anterin sama Dian aja. Gue lagi ngga bisa".


"Loh kenapa? Tumben".


"Ish gue tuh lagi sebel plus kesel!" Pekiknya.


Arrhhggg!


Teriak Lea. Satu kelas kini memperhatikan dirinya. Lea tak mempedulikan itu.


"Lo kenapa sih? Aneh banget" Tanya Dian yang baru saja datang.


"Ngga tahu nih! Dari tadi dia ngga jelas" Sahut Kiara.


Tanpa menjawab ucapan mereka, Lea meninggalkan kelas dengan langkah yang cepat. Dian dan Kiara hanya saling pandang, dan mengangkat bahunya acuh.


Entahlah, Lea bingung harus memutuskan yang mana. Mudah saja mungkin bila Lea memilih lebih menerima Aksa, akan tetapi apakah orang tuanya akan setuju?


Ataupun jika Lea menerima perjodohan itu, apakah ini tepat dan baik untuk nya?


Suara panggilan telepon terdengar. Lea segera merogoh sakunya dan menerima panggilan telepon itu.


Lea: Iya halo kenapa?


Mamah: Sayang kamu bisa kan ikut mamah makan siang di luar, hari ini?


Lea: Ngga tahu deh Mah. Soalnya Lea masih ada kelas. Emangnya kenapa?


Mamah: Oh... Ngga kenapa-napa. Mamah cuman mau makan siang aja, kan udah lama.


Lea: Ya udah, Lea usahain dateng. Mamah kasih tahu aja tempatnya di mana.


Mamah: Iya sayang... Mamah Sherlock ya.


Lea: Iya


...***...


Siang hari nya, Albion dan Tulsa sudah berada di tempat di mana akan menjadi pertemuan dua keluarga. Tepat pukul 13.15 Baskara dan Senna telah datang, dengan satu lelaki yang berjalan di belakang nya.


Spontan Albion dan Tulsa berdiri untuk menyambut mereka. "Gimana kabarnya?" Tanya Albion seraya mempersilahkan duduk.


"Kabar kami baik. Gimana kabar kalian?".


"Kabar kami juga baik" Jawab Tulsa.


"Oh iya. Kenalkan ini putra kami, Devara" Jelas Tulsa.


"Dev, kenal kan saya Tulsa ini suami saya Albion" Sahutnya.


"Saya Devara" Dev bersalaman dengan Albion dan Tulsa.


"Anakmu sopan sekali" Cibir Albion.


Baskara dan Senna terkekeh. "Bisa aja".


"Oh iya, dimana putri kalian?" Tanya Senna.


"Dia sedang dalam perjalanan. Mungkin sebentar lagi".


Senna mengangguk. Dev, ia hanya diam. Tidak tahu harus berbicara apa, karena ia tipikal orang tak banyak bicara. Sungguh canggung bila keadaan nya seperti ini.


Dari kejauhan, Lea melihat keseliling ruangan. Tatapannya kini tepat ke arah meja yang sudah di isi oleh kedua orangtuanya. Lea berjalan ke arah mereka. "Kok rame banget. Siapa mereka? Teman Mamah sama Papah, atau siapa ya?" Lea bertanya-tanya.


"Pah, Mah, maaf Lea telat" Ucapnya seraya bersalaman.


"Ngga papa, sayang. Ayo duduk!" Titah Tulsa.


Lea menurut, ia duduk di sebelah Tulsa. "Mereka--?" Tanyanya.


"Kenalkan mereka sahabat baik mamah sama papah. Yang ini Om Baskara dan ini Tante Senna" Jelas Tulsa.

__ADS_1


Lea mengangguk, lalu ia berdiri dari duduknya dan bersalaman. Baskara dan Senna menyambut tangan Lea dengan senyuman ramahnya.


Lea belum ngeh jika ada seorang lelaki muda juga di meja mereka. Berbeda dengan Dev, ia melihat Lea dengan tatapan yang sulit di artikan. Ini adalah gadis yang ia temui kemarin di dekat mall, gadis yang berhasil membuat Omanya menyuruh Dev untuk dekat dengannya.


"Ck. Kenapa harus dia? Sungguh, ucapan Oma menjadi doa yang sekarang terkabulkan, mungkin" Batin Dev.


"Saya Lea Tante, Om" Ucapnya.


"Kenal kan ini Dev" Tutur Senna.


Spontan Lea menatap seorang lelaki muda dan tampan, ia akui itu. Namun, ia merasa tak asing dengan dia. Lea mematung dengan pikirannya sendiri.


"Lee" Ucap Senna.


"Eh, iya-- saya Lea" Sapa nya, duduk.


"Dev" Singkat nya.


"Cih. So ganteng, tapi emang iya sih" Cibirnya.


Mereka mengobrol seraya memakan makanan yang sudah tersedia di atas meja.


"Dev, ini adalah gadis yang Ayah jodohkan sama kamu" Ucap Baskara.


Uhuk


Uhuk


Uhuk


Lea tersedak makanan, akibat ucapan sahabat papah nya ini. Lea mengelap mulutnya dengan tisu. Lalu ia memandang Papah dan Mamahnya. "Papah, jadi menjodohkan Lea? Dan dia orang nya?" Tanyanya seraya menunjuk Dev. Tatapannya beralih.


"Iya sayang. Kan kemarin kamu bilang, lakukan apa yang papah mau. Ya, ini kemauan Papah" Jelas Albion.


Lea memegang pelipis nya. "Maksud Lea bukan soal itu Pah, kemarin" Lirihnya. Kenapa papah nya ini salah paham, ia berbicara seperti itu soal ijin untuk pergi, bukan soal perjodohan.


"Lea kan sudah bilang, jika Lea menoleh" Jelasnya.


Baskara dah Tulsa saling pandang. Pasalnya kemarin, Albion sudah berbicara lewat telepon, bahwa Lea setuju akan hal ini. Kenapa sekarang menjadi seperti ini?


"Lee..." Lirih Tulsa.


Lea memejamkan matanya, mungkin ini saatnya ia bilang jika ia telah memiliki kekasih dan ia tadi malam di lamar olehnya. "Pah, Mah... Lea sudah memiliki kekasih. Dan dia melamar Lea tadi malam".


Deg


Albion dan Tulsa saling pandang. Kenapa mereka tak pernah tahu soal ini. Dan bagaimana dengan perjodohan nya? Pikir keduanya.


"Kamu bohong kan? Ini hanya alasan untuk kamu menolak, iya kan?" Seru Albion.


Lea menggeleng pelan. "Ngga Pah... Lea ngga bohong ataupun apa. Papah inget, Aksa? Dia itu bukan teman Lea tapi kekasih Lea" Lirihnya.


Baskara, Senna, dan Dev hanya mendengarkan pembicaraan mereka.


"Pria itu? Ck, sampai kapanpun papah tidak akan mengijinkan kamu untuk berhubungan dengannya!" Tegas Albion.


"Pokoknya kamu, mau tidak mau harus menerima perjodohan ini. Karena papah sudah berjanji untuk itu, Papah dan Mamah tidak ingin penolakan!" Tegasnya lagi.


"Lalu bagaimana dengan Aksa Pah? Lea tidak mungkin mengkhianati cinta Aksa Pah..." Lirihnya.


"Papah tidak peduli! Ingat, Dev lelaki yang baik dan papah yakin dia bertanggung jawab. Kamu akan menikah dengan nya, lusa".


Deg


Jantung Lea berpacu lebih cepat. Ia memandang Dev yang tengah berdiam dengan tatapan yang mengarah padanya. "Jika Lea tidak menerima dan menolak, Papah akan apa?" Tegas Lea. Tatapannya tak menoleh dari Dev.


Albion terdiam. Ia menghela napasnya perlahan. "Papah tidak akan menganggap kamu sebagai anak" Ucapnya.


Lea tersenyum getir, papahnya bisa mengatakan hal itu tanpa ragu. Lea membuang napas nya kasar. "Baiklah. Lakukan apa yang menurut Papah baik, Lea menerima keputusan Papah dan Mamah" Lirih nya seraya berdiri dari duduknya dan hendak pergi.


Tapi sebelum itu, ia melihat kedua orang yang akan menjadi calon mertua nya. "Om, Tante, saya pamit. Maaf jika sikap saya tidak sopan" Ucapnya bersalaman, tak lupa juga dengan kedua orangtuanya.


"Tidak apa. Kami mengerti, pasti ini berat untuk kamu" Sahut Senna.


Lea tersenyum, lalu berlalu.

__ADS_1


__ADS_2