Devara

Devara
Cp. 08 Rasa bersalah


__ADS_3

Satu jam berlalu, kini mobil Dev telah sampai di apartemen Alucrad. Apartemen milik keluarga nya sendiri. Dev melihat Lea dengan mata yang terpejam, Dev melihat wajah cantik dan tenang milik Lea itu.


"Cantik" Gumamnya.


Dev ingin membangunkan Lea namun ia tak tega. Namun tanpa di duga, kini Lea telah terbangun. "Udah nyampe?" Tanya nya seraya melihat ke sekeliling.


Dev mengangguk. "Ya udah yuk turun".


"Hem".


Dev dan Lea turun secara bersamaan. Pak satpam yang tau itu adalah putra dari Baskara beliau mendekati Dev. "Sore Den, mari saya parkirkan mobil nya" Ucapnya sopan.


Dev menyerahkan kunci mobilnya. "Ini kuncinya, kalo sudah simpan saja di repseonis".


Pak satpam mengangguk dan mengambil kunci nya. Sedangkan Dev melangkah kan kakinya yang di ikuti oleh Lea dari belakang.


Dev dan Lea memasuki lip dan akan naik ke lantai 35. Lea yang berdiri di samping Dev ia menghela nafasnya, sungguh canggung karena tak tahu apa yang mau di bicarakan, terlebih lagi Dev tak mengawali pembicaraan apapun.


Sampai lah Dev di pintu apartemen nya yang bernomor 305. Dev memasukan pin yang samar-samar Lea lihat adalah tanggal pernikahan mereka.


Pintu terbuka lebar, terlihat apartemen yang luas dengan pemandangan yang indah juga. "Masuk! Rapihkan saja baju-baju mu di dalam lemari" Tutur Dev.


Lea hanya mengangguk.


"Ini apartemen--"


"Apartemen bokap" Jawab Dev yang sudah tahu arah pembicaraan Lea.


Lea menyeritkan dahinya, sikap Dev yang di rumah dan sekarang terlihat berbeda. Mungkin ini hanya pikirannya saja, pikir Lea.


Tring


Notif kesan masuk. Lea segera membuka room chat nya.


Aksa🖤: Kamu kemana sih? Kok ngga ada kabar, dari kemarin lho...


Lea menatap ke arah Dev sekilas. Lalu jemarinya mengetikan sesuatu.


^^^**Anda: Maaf Aksa dari kemarin aku sibuk, jadi ngga sempat mengabari kamu.^^^


.../Send**/...


Lea meng-non aktif kan handphone nya. Lalu ia menyimpan handphone nya di meja.


"Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Dev, yang menatap Lea sejak tadi.


Lea menoleh kearah Dev. "Ngga pa-pa kok".


"Pacar mu?".


Lea menatap mata manik Dev, kepalanya mengangguk pelan, namun mulutnya seakan kelu untuk menjawab itu.


"Kamu belum mengatakan apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Dev lagi.

__ADS_1


"Belum, gue takut. Takut kalo dia kecewa karena gue mengkhianati nya. Gue juga takut, kalo dia ngga menerima keputusan gue, gue juga ngga siap buat ngomongin soal ini" Tutur Lea jujur.


Dev mengangguk, tangan nya ia masukkan ke dalam celana pendeknya. "Kamu takut jika dia kecewa? Lantas bagaimana dengan saya? Yang sudah jelas di sini saya adalah suami kamu" Ucapnya.


Deg


Hati Lea seakan tersindir dengan kata-kata itu. Matanya menunjukkan rasa bersalah, bersalah karena belum juga menerima Dev sebagai suaminya, bahkan untuk teman pun belum. "Gue--"


"Kamu juga belum siap ngomongin soal ini? Lalu kapan kamu siap? Nunggu dia tahu semuanya dulu, baru kamu akan cerita semuanya?" Tutur Dev lagi.


"Gue juga ngga tau sampe kapan. Lo ngga akan ngerti karena Lo ngga punya seseorang yang spesial di hidup Lo kan?".


"Iya... saya memang tidak memiliki nya".


Mendengar itu, hati Lea merasakan rasa bersalah lagi. "Sorry... gue ngga maksud buat ngomong gitu".


"Tak apa. Saya keluar sebentar" Pamit Dev.


Lea semakin merasa bersalah, melihat Dev pergi ia hanya menghela napasnya perlahan.


...***...


Di ruang keluarga seperti biasa Senna menemani Oma menonton acara televisi. Oma terus mengomel melihat peran pelakor dalam sinetron itu. "Aduh... udah Oma bilang jangan jadi pelakor, kan jadi kena batunya" Tutur Oma.


Senna yang duduk di samping Oma hanya tersenyum pelan seraya bergeleng kepala. "Oma... Oma ngga cape teriak-teriak terus? Mau Senna bikinin teh?".


"Abisanya Oma kesal. Boleh deh, Oma juga agak haus".


"Sayang ... sudah pulang, Ayah kamu mana?".


"Masih ada kerjaan Bun di kantor. Bun Verrel titip kopi".


"Boleh... Verrel boleh Bunda minta tolong?".


"Boleh Bun, minta tolong apa?".


"Kamu anterin baju-baju milik Dev ke apartemen Alucrad ya?".


"Boleh Bun, nanti Verrel anterin".


Senna mengangguk dan melanjutkan langkahnya. Sedangkan Verrel memasuki kamarnya.


Senna datang dengan membawa nampan yang berisi teh dan kopi. "Kopi? Untuk siapa?" Tanya Oma.


"Verrel".


Oma mengangguk. "Oh iya bagaimana dengan Dev dan Lea? Oma ingin sekali kenal sama Lea, waktu Oma hanya ketemu dia sebentar".


"Nanti kalo Dev senggang, Senna suruh Dev untuk menginap di sini ya, Oma. Kali ini mereka lagi sibuk dengan urusannya masing-masing".


"Sibuk apa? Dev kan bisa libur dari kantor nya, jika Lea mungkin ia hanya sibuk kuliah".


"Ya itu dia Oma, Dev dan Lea harus fokus dengan urusannya dulu".

__ADS_1


Oma mengangguk.


"Permisi Bun, Oma... Zion mau ngambil baju-baju Dev" Ucap Zion seraya membungkuk sebentar.


"Kok kamu yang ngambil?" Tanya Senna.


"Tadi Dev sendiri yang menugaskan Zion, Bun".


"Ya sudah, jika begitu. Sebentar Bunda ambilkan dulu koper nya".


Zion hanya mengangguk. "Zion, sini duduk dekat Oma".


"Tidak usah Oma".


"Kau ini... seperti ke siapa saja, Oma ini Oma mu juga, Ayah mu itu anak Oma juga".


Zion terkekeh. "Beneran Oma tidak apa-apa".


"Zion, Oma boleh meminta tolong sesuatu".


"Boleh Oma".


"Zion, ini koper nya".


"Oh iya Bun. Kalo gitu Zion ke apartemen dulu".


"Iya hati-hati, titip salam dari Bunda buat Dev, dan juga Lea".


"Dari Oma juga!" Pekik Oma.


Zion terkekeh. "Siap Bun, Oma, Zion permisi".


Oma dan Senna mengangguk.


...***...


Di sebuah kafe yang cukup ramai, Kiara dan Dian sedang meminum minuman yang tadi mereka pesan. Keduanya sibuk dengan aktivitas nya masing-masing, Dian yang bermain handphone, dan Kiara yang mengerjakan tugas kuliahnya di laptop.


"Dian, Lea kemana sih? Kok ngga ada kabar smaa sekali?" Tutur Kiara.


Dian mengalihkan perhatian nya. "Gue juga ngga tahu, kemarin gue chat dia katanya lagi ngga enak badan. Tapi ngga tahu deh".


"Oh, kita jenguk aja yuk!" Kiara antusias.


"Ngga ahk, gue lagi sibuk. Tugas kuliah gue banyak, nanti aja kalo tugas kuliah gue udah agak beres".


"Ih kok Lo gitu sih? Lea itu sahabat kita kan?".


"Iya Lea sahabat gue, tapi dia juga ngga ngabarin kita apa-apa, padahal dari kemarin gue nunggu chat dari dia, tapi ngga ada".


"Ya udah kalo gitu, nanti malem gue mau coba chat dia. Mungkin dia masih sakit atau sibuk!".


Dian hanya mengangguk dan melanjutkan aktivitas nya. Sedangkan Kiara ia bertanya-tanya, kira-kira ada apa dengan Lea? Tidak biasanya ia begini.

__ADS_1


__ADS_2