Devara

Devara
Cp. 04 Menolak


__ADS_3

Oma dan Dev baru saja pulang. Dev ingin pergi ke kamar nya, akan tetapi Oma mengajaknya untuk berbicara. Sungguh, Dev paling tidak bisa menolak permintaan dari Omanya.


"Ada apa, Oma? Apakah penting?" Tanya Dev.


Oma mengangguk. "Oma sangat kagum dengan perempuan tadi. Perempuan yang sopan, di tambah lagi dia cantik, dan masih muda" Beliau basa basi.


Dev yang mendengar hal itu hanya mendengarkan dengan baik ucapan Omanya. "Lalu?" Tanyanya.


"Oma mau kamu dekat dengan perempuan itu" Pekiknya.


Dev memegang pelipis nya. "Oma... bagaimana bisa Oma berfikir seperti itu, Dev saja tidak mengetahui dan mengenal siapa dia. Perempuan baik atau ngga pun Dev tidak tahu".


"Dev... Oma yakin kok dia perempuan yang baik. Tadi juga kamu lihat sendiri kan cara dia memperlakukan Oma seperti apa?".


"Oma... bisa saja kan dia pura-pura baik atau apa. Kita tidak pernah tahu. Sudahlah Dev mau istirahat, lelah".


Dev meninggalkan Oma nya. Oma hanya tersenyum kecewa, padahal niat beliau hanya ingin mencarikan perempuan yang baik untuk Dev.


...***...


"Bi tolong panggil Lea ya. Suruh temuin saya di ruang tamu" Ucap Tulsa.


Bibi mengangguk dan segera berlalu untuk memenuhi permintaan dari majikannya. Sampailah di lantai atas, tepatnya di depan kamar Lea.


Tok


Tok


Tok


"Non... Non di panggil nyonya!" Ucap Bibi dengan suara yang agak keras.


Ceklek...


Pintu terbuka. Terlihat Lea yang berdiri dengan wajah bantal nya dan rambut yang berantakan. "Huamm" Lea menutup mulutnya karena menguap.


"Mamah yang panggil?".


Bibi mengangguk.


"Ya udah bilang sama Mamah, Lea mau mandi dulu. Nanti kalo udah selesai baru turun".


"Iya non"


Bibi berlalu, dan Lea ia masuk kembali ke dalam kamarnya.


Kini, Lea sudah berada di ruang tamu dengan kedua orangtuanya. Lea agak sedikit penasaran dengan apa yang akan di bicarakan, karena terlihat mimik wajah dari mereka yang saling berkode untuk berbicara lebih dulu.


"Ada apa sih, Pah, Mah? Kok kayaknya serius banget" Ucap Lea.


Albion dan Tulsa saling tatap. Mereka bingung harus dari mana mereka memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Pah...?" Ujar Lea lagi.


"Iya sayang... Papah ingin berbicara serius sama kamu".


"Hem... terus?".


"Papah ingin melihat kamu menikah, karena kan umur kamu juga sudah cukup".


Lea membulat kan matanya sempurna. Lea mulai tertawa pelan. "Pah... papah serius kan? Oh ayolah Pah, Lea masih muda lho... umur Lea masih 19 tahun. Lea juga masih kuliah".


"Lee... Papah sama Mamah serius tentang hal ini. Umur segitu bagi kami sudah cukup untuk kamu menikah, dan soal kuliah kamu kan masih bisa, walaupun sudah memiliki suami. Lagipula kamu sebentar lagi wisuda, iya kan?" Tulsa ikut berbicara.


Seketika mimik wajah Lea berubah. Ia menatap kedua orang tuanya bergantian. "Gimana mau nikah Pah... Lea aja ngga punya calonnya" Celetuk nya.


"Itu sih gampang!" Sahut Albion.


"Huh! Kok gampang?" Pekik Lea.


"Karena papah sudah menjodohkan kamu dengan anak sahabat papah".


Lea mematung. Ia berusaha menetralkan ucapan dari Papahnya itu. Ketika sadar, ia menelan ludah nya kasar. "What's? Pah... Lea ngga mau di jodohin".


"Sayang... Mamah sama Papah sudah berjanji waktu itu, bahwa kita akan menjodohkan putri kita untuk putra mereka".


"Kalian yang membuat janji, lalu kenapa Lea yang kena imbasnya" Kesal Lea.


"Lea. Papah tidak ingin penolakan dari kamu. Papah sama Mamah akan mengurus semuanya".


Di kamar, Lea memejamkan matanya. Sungguh ini keputusan yang tidak pernah ia sangka, lalu bagaimana dengan kekasihnya?


Tring


Satu pesan masuk dari Aksa.


Aksa🖤: Sayang... gimana jadi ngga?


Lea menghela nafasnya.


^^^Anda: Iya jadi kok. Btw mau kemana?^^^


Aksa🖤: Nanti juga kamu akan tahu, aku sharelok ya... see you


^^^Anda: Shiap...^^^


Lea off. Lea bangkit dari duduknya dan segera bersiap.


Sekitar pukul 19.30 Lea sudah siap dengan setelan perginya. Lea juga memoles wajah nya agar lebih fresh.


Ketika sedang bercermin, ucapan-ucapan orangtuanya terus terngiang-ngiang. Huhf, entahlah Lea akan membuat keputusan apa. Berjalan turun di anak tangga, Lea tidak menemukan kedua orangtuanya, mungkin mereka sudah masuk ke kamar. Pikir Lea.


"Mau kemana kamu?" Suara Albion menggema.

__ADS_1


Langkah Lea terhenti. Ia membuang napas panjang sebelum menoleh ke belakang. "Lea ijin pergi, Pah. Udah ada janji".


"Ngga. Papah tidak mengijinkan kamu pergi. Lebih baik kamu pikirkan apa yang di ucapkan papah".


Lea mencebik kan bibirnya. "Pah... Lea udah ada janji. Lea ngga bisa batalin gitu aja. Pokoknya terserah mau Papah apa, yang penting sekarang Lea mau pergi" Ucapnya.


Lea melangkah pergi. Albion tersenyum manis melihat punggung putrinya yang perlahan-lahan sudah menghilang.


...***...


Di sebuah taman yang indah, dengan kemerlap lampu warna-warni begitu menyejukkan mata, siapa saja yang melihatnya. Di sana sudah ada meja yang tertata dengan rapi.


Lea yang sedang berjalan perlahan melihat itu... ia sedikit berhati-hati, karena lampunya yang remang-remang. "Ini beneran tempat nya? Indah sih, tapi Aksa nya mana" Lirih Lea.


"Aksa!" Panggil Lea.


Hening


"Aksa!" Panggil nya lagi.


Hening


"Aksa! Jangan becanda deh ini ngga lucu. Kamu beneran ada di sini, kan?" Teriakan nya.


Ketika Lea sedang mencari keberadaan Aksa, ia di kejutkan dengan kedatangan seseorang seraya membawa bunga. Aksa, ya ia berdiri di hadapan Lea, keduanya saling bertatapan.


"Aksa--" Ucapan Lea terhenti tak kala melihat Aksa berjongkok. Tangannya memegang sebuah kotak kecil berwarna merah yang berisi cincin.


"Lee... aku udah lama menantikan moment ini. Aku sudah yakin, bahwa kamu adalah yang terbaik untuk aku. So... kamu mau menikah denganku? Menjadi Ibu dari anak-anak ku?" Ucap Aksa tulus dan lembut.


Lea menutup mulutnya. Perlahan air matanya jatuh, ia memegang tangan Aksa untuk bangkit. Lea mengambil napas panjang, ia bingung harus menjawab apa. Sementara, papah nya baru saja mengatakan akan menjodohkan nya.


"Gue sekarang harus gimana? Gue terima Aksa atau gue terima perjodohan itu" Batinnya.


"Sayang... jawab aku" Ucap Aksa. Tangan nya terangkat untuk menghapus air mata Lea.


Lea tersenyum manis. "Aksa... ini terlalu dadakan untuk aku. Tolong kasih aku waktu untuk menjawab ini" Lembut nya.


Aksa tersenyum tipis. Ia mengangguk, kemudian mengambil cincin nya dan memasang nya di jari manis Lea. Lea hanya membiarkan Aksa melakukan itu.


"Aku akan tunggu jawaban kamu. Apapun itu..." Aksa menggantung kan ucapannya.


Wajah Aksa mendekat ke arah wajah Lea. Lea memejamkan matanya, deru napas Aksa begitu terasa di pipinya. "Tapi aku tidak ingin penolakan, baby" Seru Aksa, dengan suara yang serak.


Deg


Lea tersentak dengan perkataan Aksa. Tubuhnya seketika memegang sempurna. "Ayo kita makan malam" Alihnya, canggung.


Aksa kembali dengan posisi awalnya. "Ayo".


Aksa dan Lea makan malam bersama, dengan keindahan tempat itu. Namun, perasaan Lea sekarang campur aduk. Sungguh ia tak mengerti dengan ini.

__ADS_1


..._____...


__ADS_2