
Selepas makan malam bersama, Lea beranjak dari duduknya. Albion dan Tulsa hanya memandang ke arah Dev yang sejak tadi hanya diam. "Dev, apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Tulsa.
Dev mengadahkan pandangan nya. "Dev, ngga pa-pa kok Mah. Dev ke atas dulu" Pamit nya.
Tulsa tersenyum dan mengangguk.
Dev bingung ia akan tidur di mana. Apakah iya, ia akan tidur sekamar dengan Lea yang sekarang menyandang status istri baginya? Sudahlah, mau bagaimana mana lagi? Bukankah ia sudah menikah, dan sekarang Lea telah menjadi milik nya bukan?
Dev terus bermonolog. Kaki nya benar-benar melangkah ke depan kamar Lea. Ia sudah memegang knop pintu, ragu-ragu ia buka. Ia berjalan memasuki kamar yang agak luas itu.
"Sudah tidur" Gumam Dev.
Melihat Lea yang tidur di tengah-tengah kasur, membuat Dev berfikir mungkin tidur di sofa lebih baik. Ia mencari selimut di dalam lemari milik Lea.
Selesai dengan itu, Dev segera merebahkan tubuhnya di sofa dekat jendela. Tak lama ia terlelap karena sudah sangat mengantuk.
Mendengar tak ada suara apapun lagi, Lea membuka matanya. Ia membalikkan tubuhnya, melihat Dev yang dengan tenang tidur di sofa dekat jendela. Memang sejak tadi ia belum tertidur. Angin malam yang cukup kencang membuat gorden nya berterbangan.
Lea bangun dari tidurnya. Ia mengambil dan memasang kan selimut lagi yang cukup tebal untuk Dev yang mungkin kedinginan.
Entah Lea baik atau kasihan, ataupun mungkin ia hanya tak tega melihat Dev kedinginan.
...***...
"Eeuhhgg" Dev melenguh. Ia mengerjap kan matanya, tatapan matanya mengarah ke seluruh ruangan. Masih di tempat yang sama, monolog nya.
Dev melihat ia memakai dua selimut, ia bertanya-tanya dalam hati. "Kok bisa pakai dua selimut? Bukannya saya memakai hanya satu?" Batinnya.
Tatapannya kini mengarah pada Lea yang masih tertidur lelap. Pikirannya mengarah pada Lea. Dev memutuskan untuk bangun dan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Belum bangun ternyata" Gumam Dev, yang sudah keluar dari kamar mandi.
Dev lupa bahwa ia tidak membawa sehelai baju pun. Kemarin Bunda, bahkan Oma nya tak mempersiapkan itu.
"Hey bangun!" Pekik Dev kepada Lea.
Lea yang masih mengantuk mulai membuka matanya. "Aaaa!" Pekiknya. Dengan cepat ia bangun dan menutupi wajahnya. Dev menyautkan kedua alisnya. "Kamu kenapa? Pake teriak-teriak gitu?".
"Lo yang kenapa? Kenapa ngga pake baju!" Pekik Lea. Ia sempat melihat bagian atas milik Dev, dan bawahnya di tutupi oleh handuk.
"Ohh... saya lupa ngga bawa baju. Makanya saya bangunin kamu".
"Lah apa hubungannya sama gue?! Ngga mungkin kan Lo pakai baju gue? Ya kali".
"Maksudnya saya ingin meminta kamu untuk meminjam baju. Baju Papah kamu".
Lea menghela napasnya. "Ngomong dari tadi kek! Ngga usah berbelit-belit" Pekiknya.
"Ya sudah cepet" Pinta Dev.
__ADS_1
"Minggir dulu Lo nya. Gue ngga mau liat tubuh Lo".
"Haa? Bukan nya ini hak kamu?" Jail Dev.
Lea memejamkan matanya agar bersabar. Akhirnya ia menyibakkan selimut dan berjalan keluar kamar. Dev tersenyum tipis.
Tok
Tok
Tok
Lea mengetuk pintu kamar Albion dan Tulsa. Tak lama pintu pun terbuka. "Ada apa Lee? Masih pagi lho ini" Ucap Tulsa.
Lea menggigit bibirnya. "Itu Mah..." Jawaban Lea menggantung.
Tulsa menyeritkan dahinya. "Apa sih? Kalo ngga mau ngomong Mamah mau masuk lagi nii".
"Ish Mamah. Itu Lea mau pinjem baju Papah".
"Buat Dev? Baju kerja atau baju apa?".
Lea menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Baju apa aja deh, abisnya dia ngga bilang".
"Kamu dong yang nanya, gimana sih?".
"Hhe... lupa".
"Nih baju nya, Mamah yakin ini pas--".
"Makasih Mamah..." Ucap Lea mengambil bajunya, dan melangkah pergi. Sedangkan Tulsa, hanya menggeleng pelan karena Lea memotong ucapannya.
Kini, Lea sudah memasuki kamarnya kembali. Di sana terlihat Dev yang masih menggunakan handuk. "Nih bajunya" Ucap Lea menyerahkannya.
Dev menyatukan kedua alisnya. "Kemeja?".
"Iya kemeja, mau apa lagi?".
Dev tak menjawab lagi. Dengan cepat ia mengambil kemeja dari tangan Lea dan memakai nya. Tak lupa dengan celana pendek selutut nya.
Lea memandang Dev dengan tatapan yang berbeda. Entahlah apa yang ada dalam pikirannya.
...***...
Hari sudah berganti sore. Sejak tadi Dev berada di kantor, dengan menggunakan setelan baju yang di berikan oleh Lea.
"Zion, hari ini saya akan ke apartemen Alucrad. Jadi kamu bisa pulang lebih awal" Tutur nya seraya menandatangani sebuah berkas.
"Baik Pak. Pak bagaimana dengan pernikahan bapak?" Tanya Zion. Ya memang kemarin Zion tak ikut, karena Dev membatalkan perkataan waktu itu.
__ADS_1
Dev menghela nafasnya. "Lancar-lancar saja" Singkat nya.
Zion mengangguk.
Dev berdiri dari duduknya, iya dia akan pulang cepat hari ini karena ia harus ke rumah mertuanya terlebih dahulu. Sedangkan Zion di belakang ia menggeleng kan kepala, aneh dengan atasan nya itu. Aneh dengan sikapnya dan penampilan nya hari ini, namun ia tak berani untuk bertanya.
Dev memasuki mobilnya, ia menyetir sendiri kali ini. Dev melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 16.30.
Setengah jam berlalu, mobil Dev memasuki pekarangan rumah Lea. Dev turun dan memasuki rumah mertuanya. Di dalam ternyata sudah ada Albion, Tulsa, dan Lea.
Dev berjalan ke arah mereka. "Sore Pah, Mah" Sapanya.
Albion tersenyum. "Sore, bagaimana hari ini nak?".
"Semuanya baik-baik saja. Bagaimana Pah, Mah apakah Dev bisa membawa Lea pergi sekarang? Dev akan ada rapat malam ini".
"Bisa Dev, lain kali Mamah akan main ke apartemen kamu".
"Silahkan Mah, pintu apartemen selalu terbuka untuk kalian".
Albion dan Tulsa mengangguk. "Lee bagaimana, sudah siap semuanya?".
Lea menatap Tulsa. "Sudah Mah, semuanya sudah beres".
"Ya sudah ayo, Lea" Ucap Dev. Sungguh, baru kali ini Dev memanggil nama Lea, namun hatinya entah kenapa berdetak dengan begitu kencang. "Ayo" Singkat Lea.
Dev dan Lea berdiri. Begitu pun dengan Albion dan Tulsa, keluarga kecil itu berpelukan dengan erat. Matanya sudah berkaca-kaca, Dev dapat melihat itu dengan jelas. Ia membiarkan saja.
"Lee ingat pesan Papah dan Mamah tadi, ya?" Tutur Albion.
"Iya Pah..." Jawab Lea mengangguk seraya tersenyum.
Perpisahan itu di akhiri dengan senyuman manis dan tulus dari kedua orangtuanya untuk putri tercinta mereka, yakni Lea.
Dev juga memeluk Albion dan Tulsa sekilas, lalu berpamitan.
"Jaga baik-baik putri kami" Ucap Tulsa.
"Pasti" Jawaban mantap dan yakin dari Dev.
...***...
Di dalam mobil, Dev dan Lea saling diam. Keduanya diam dengan pikirannya masing-masing. Dev melihat wajah Lea dari samping, wajah yang hampir sempurna itu terlihat begitu suram.
Dev menghela nafasnya. "Maaf" Ucapnya.
Lea menoleh. "Untuk?" Ia bingung dengan penuturan Dev, sang suaminya.
"Jangan di pikirkan".
__ADS_1
Lea menyatukan kedua alisnya dan mengangguk walaupun tak paham.