
Sekitar pukul 16.15 sore, Senna berniat untuk menghubungi Dev dan Lea agar bisa makan malam bersama. Apalagi, Oma nya mengatakan jika ingin lebih dekat dan kenal dengan Lea.
Telepon bersambung namun belum kunjung mendapatkan jawaban dari Dev.
Dev: Assalamualaikum Bun, kenapa?.
Bunda: Wa'alaikumusalam, kamu sama Lea bisa kan makan malam di sini? Oma nanyain Lea terus.
Dev: Oma hanya bertanya soal Lea? Sedangkan cucunya ngga?.
Bunda: Kamu ini, masa sama istri sendiri sirik. Bisa apa ngga, Bunda tanya?.
Dev: Kalo bisa Dev sama Lea ke rumah Bun, jika tidak bisa mungkin kapan-kapan saja.
Bunda: Iya Bunda tunggu kabarnya ya?
Dev: Iya Bun... assalamualaikum.
Bunda: Wa'alaikumusalam.
Senna menyimpan handphone nya di meja makan. Verrel sejak tadi sudah berada di samping Bunda nya itu.
"Verrel, dari kapan kamu disini?" Tanya Senna.
"Sejak tadi Bun. Bun, kalo Dev ngga bisa kita saja yang ke apartemen mereka" Usul Verrel.
"Boleh tuh, ide yang bagus. Nanti Bunda nunggu kabar dari adik kamu dulu".
"Shiapp Bun" Pekik Verrel tersenyum lebar.
...***...
Tepat pukul 17.30 Dev baru pulang dari kantor nya. Pekerjaan nya banyak sekali membuat Dev agar sedikit lelah dan pusing. Selepas memakirkan mobil nya, Dev berjalan ke arah lip.
Sampailah di ambang pintu apartemen dengan masih terkunci. "Apa Lea belum pulang?" Gumamnya, seraya membuka pintu.
Pintu terbuka, terlihat ruangan yang rapih dan tidak ada siapapun. Dev membuka arloji dan juga jas nya. Kemudian ia memasuki kamar mandi. Selepas selesai Dev merebahkan tubuhnya di kasur, dengan mata yang melihat ke langit-langit kamar.
Namun karena lelah, Dev pun tertidur pulas. Dengan rambut yang masih basah karena belum sempat di keringkan.
__ADS_1
Lea yang baru saja sampai dan masuk, melihat Dev terbaring ia hanya menghela napasnya. Bag belanjaan ia simpan di atas meja riasan nya. Melihat jam yang menunjukkan pukul 18.15 malam, Lea tahu pasti Dev belum makan.
Akhirnya ia memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dulu. Setelah itu, Lea memasak mei instan karena ia tidak tahu harus masak apa. Ia memasak hanya satu porsi karena Dev yang belum bangun.
Setelah matang, Lea menyantap nya seraya menonton acara televisi. Karena suara itu, Dev terbangun. Ia melihat Lea yang duduk seraya memakan Mei instan, itu membuat Dev tergoda karena ia juga merasakan lapar.
Dev datang dengan muka bantal dan rambut berantakan, ia duduk di samping Lea. La menoleh sekilas lalu meletakkan mangkuk nya di meja. "Lo mau juga, kalo iya gue masakin dulu" Tutur Lea datar.
Dev tak menjawab, karena Lea langsung berlalu ke dapur. Dev melihat masih tersisa mie bekas Lea, namun ia menyantapnya dengan lahap. Lea yang sudah kembali dengan membawa mangkuk membuat ia mendengus kesal, sedangkan sang empu hanya menatap Lea tanpa ekspresi.
Lea duduk di samping Dev. "Gue capek-capek buatin ini, eh Lo nya makan bekasan gue" Tuturnya.
Dev tak menjawab malah ia berbaring, menjadikan paha Lea sebagai bantal. Lea tak bergerak, ia diam tak bergeming. Jantung nya berdetak kencang, sesekali Lea menatap wajah tampan milik Dev, suaminya itu.
"Kenapa?" Tanya Dev, yang melihat Lea berdiam.
"Ngga pa-pa, gue lagi kesel hari ini".
"Kesel kenapa?" Tanya Dev menatap wajah Lea dari bawah.
"Gue liat laki-laki lagi makan berduaan sama cewek lain, ngga tahu siapa".
"Bukan, itu tadi laki-laki yang pake jas, di kafe anggrek, deket kampus gue".
Dev mencoba memahami perkataan Lea. "Pake jas, dia kafe anggrek, cewek?" Lirih nya.
"Masih ngga sadar juga lagi. Sekarang malah manja-manja ke gua!" Sindir Lea.
"Oh... cemburu, hm?" Tanya Dev.
"Ngga ih siapa juga yang cemburu?" Pekik Lea.
"Masa? Terus kenapa nyindir-nyindir, hm?".
"Suka-suka gue lah" Acuh Lea.
Dev tersenyum tipis, ia suka jika melihat Lea cemburu seperti itu. Wajahnya semakin terlihat cantik. "Kamu tenang aja, itu sekretaris saya. Saya tidak akan pernah selingkuh, walaupun saya belum mencintai kamu tapi saya sudah membukakan pintu hati saya buat kamu".
Deg
__ADS_1
Lea tak dapat berbicara apapun mendengar pengakuan dari Dev. Hatinya merasakan tenang dan juga bahagia, namun ia juga merasa bersalah karena belum juga membuka pintu hati untuk Dev, padahal Dev sangat baik pada Lea.
"Bodo! Ngga peduli juga!" Acuh Lea menahan tawanya.
Dev memegang dagu Lea untuk menatap wajahnya. "Yakin, hm?".
Sial, ucapan itu membuat Lea tersenyum tipis. Namun ia segera mendongak lagi. "Diem ih tangan nya" Tutur Lea.
Dev memainkan ujung rambut panjang milik Lea yang lembut. Lea membiarkan saja itu, tangan nya kini terangkat untuk memegang perut Dev. Dev tersenyum, entah ia sudah cinta ataukah nyaman, ia tak tahu. Yang jelas jika sudah seperti ini, hatinya begitu senang dan tenang.
"Tangan nya nakal ya, pegang perut".
"Ish, ngga sengaja" Lea memindahkan tangannya, namun berhasil di cegah oleh Dev. Dev memegang tangan Lea dan meletakkan nya di perut.
Beberapa menit hening, hanya ada suara dari televisi. "Mau makan lagi?" Tanya Dev.
Lea menggeleng pelan. Dev mengangguk dan mengeratkan pelukannya, tangan nya tepat pada pinggang ramping milik Lea. Wajahnya ia tenggelam kan di perut Lea.
Lea terpaku, melihat begitu manja sikap Dev padanya. Lea merasakan pelukan hangat dari Dev. Tangan Lea spontan memegang rambut Dev, mengelus nya lembut. Dev di bawah sana tersenyum lebar.
"Belum ngantuk?" Tanya Dev.
"Belum, masih juga jam tujuh".
"Oh iya Bunda ngajak makan malam, gimana?".
"Boleh aja, kasian sama Bunda pasti udah masak banyak. Lagian gue nya mau kenal sama keluarga Lo, waktu itu hanya sekilas aja".
"Iya udah, ayo siap-siap".
Dev bangun dari rebahan nya, begitu pun Lea yang berdiri dari duduknya. Dev hanya memakai kemeja item, celana hitam selutut, dan jam tangan tak lupa. Lea memakai rok rempel pendek hitam, dan Hoodie oversize berwarna pink muda.
"Cantik" Gumam Dev, terlihat Lea yang sedang berjalan ke arah lemari, itu di manfaatkan Dev untuk mengambil swag foto Lea. Hanya terlihat Hoodie dan rambut nya saja, dari belakang.
Foto itu ia simpan, siapa tahu Dev membutuhkannya. "Ayo!" Ajak Lea.
Dev mengangguk, ia menggenggam jemari Lea lembut dan erat. Lea hanya menatap genggaman itu dan kembali dengan tatapan lurus.
Dev membelah perkotaan yang masih cukup ramai dengan kendaraan. Dingin nya angin malam itu dan ada Lea di sisi nya membuat suasana malam itu terasa berbeda, bagi Dev.
__ADS_1