Devara

Devara
Cp. 02 Gagal


__ADS_3

Sekitar pukul 18.30 malam, keluarga Baskara berkumpul di meja makan, untuk makan malam bersama.


Senna sudah sejak tadi sibuk menyiapkan makanan dan menata nya di meja makan.


"Dev, Verrel mana? Masa jam segini belum pulang" Ucap Bunda Senna.


Dev memegang gelas yang berisi air putih. "Verrel udah pulang Bun, cuman lagi mandi mungkin" Sahut Dev.


Senna mangangguk. "Oma mau makan apa? Biar Senna ambilin".


Oma melihat ke seluruh makanan. "Oma ingin kentang, sayur, sama ayam aja".


Senna langsung mengambil apa yang di inginkan Ibu mertua nya itu, yang lebih suka di panggil Oma. Selesai dengan Oma, kini dengan sang suami Baskara.


"Mas mau makan apa?".


"Mas mau sayur sama ayam aja".


Dengan telaten Senna mengambil kan nya. Ia melupakan dirinya yang sedang lapar juga, yang terpenting adalah keluarga nya. Pikir Senna.


Selepas melayani, Senna duduk di kursinya. Ia juga mulai mengambil makanannya. Sedang kan Dev, ia sudah mengambil sendiri makanannya.


"Malam semuanya" Sapa Verrel.


"Ayo sayang makan" Sahut Senna.


"Iya Bun" Jawab Verrel, yang langsung duduk di sebelah Dev.


Semuanya makan dengan sangat tenang. Hanya terdengar suara dentuman sendok dan garpu saja.


Selesai. Bahkan makanan dan piring kotor pun sudah di bersihkan oleh para maid. Hanya tersedia buah-buahan dan cemilan saja.


"Oh iya Ayah, Dev abis ini ijin keluar" Ucap Dev.


Baskara menyeritkan dahinya. "Ijin? Ijin kemana, kamu?".


"Meeting ayah sama teman ayah".


"Teman ayah? Siapa?".


"Albion mas, teman SMA kita dulu" Timpal Senna.


"Oh Albion... baru bulan lalu ayah ketemu sama dia. Belum ketemu lagi, bilang ke dia ayah titip salam".


Dev mangangguk.


"Verrel... gimana kerjaan kamu hari ini?" Tanya Oma.


Verrel tersenyum tipis. "Semuanya baik Oma. Verrel juga ada rencana ingin membuka bisnis sendiri, seperti Dev".


"Lakukan apa yang menurut mu baik. Oma akan selalu mendukung nya".


"Ayah setuju. Kamu harus memulai bisnisnya dari awal, ya walaupun nanti perusahaan ayah akan di teruskan oleh kamu".


Verrel menatap mata manik ayahnya. "Ayah yakin? Kenapa tidak Dev saja?".


"Ayah yakin. Dev kan sudah mengurus perusahaan nya sendiri".

__ADS_1


"Iya bang. Gua udah pusing sama perusahaan gua sendiri, masa mau di tambah sama yang punya Ayah".


Verrel hanya mengangguk.


Oma dan Senna tersenyum bahagia. Dimana di antara mereka sama sekali tak berbebut akan kekuasaan. Bahkan mereka saling mendukung satu sama lain.


"Ya udah Oma, ayah, bunda, bang, Dev siap-siap dulu mau meeting".


Semuanya mengangguk.


...***...


"Pah, sebentar lagi Lea udah mau wisuda. Lea juga lagi mikirin buat skripsi" Ucap Lea, yang kini duduk di samping sang papah.


Albion mangangguk. "Mau lanjut s³ kemana?".


Lea membulat kan matanya mendengar penuturan sang papah. "Pah... Lea ngga akan ngambil s³ Lea udah cukup s² aja".


"Loh kenapa begitu sayang? Mamah berharap lho kamu bisa lanjut s³" Timpal Tulsa.


Lea menghela napasnya. "Lea capek mah... udah Lea mau buka bisnis aja, tapi sesuai dengan passion Lea".


"Marketing?" Tanya Papah.


Lea mengangguk. "Mending kamu ikut di perusahaan papah".


"Not Lea mau berjuang sendiri. Lea yakin, Lea mampu dan bisa kok".


Albion dan Tulsa hanya bisa mendukung keputusan putri satu-satunya itu. Mereka juga tidak ingin memaksa.


"Ya sudah ikutin apa mau kamu. Papah sama mamah akan selalu dukung".


"Bi tolong pintu!" Ucap Tulsa.


"Maaf nyonya, tuan di depan ada seorang lelaki yang mencari non Lea".


"Laki-laki" Batin Lea.


Damn! Itu pasti Aksa. Kenapa Lea bisa lupa akan hal itu. Lea menggerutuki dirinya sendiri.


"Biar saya yang temuin Bi" Sahut Albion.


Albion ke depan. Melihat seorang lelaki muda yang tengah duduk, Albion menatap dia dengan tatapan yang tak bersahabat.


"Ada perlu apa mencari putri saya?" Tanya Albion.


Aksa menelan saliva nya. Sungguh aura dan suara Papah dari kekasihnya ini membuat tubuh Aksa menegang seketika. "Saya ingin mengajak anak Om untuk makan malam, apakah bisa?".


Albion menatap nyalang Aksa. "Ada hubungan apa kamu sama putri saya?".


"Kami--".


"Kami cuman teman Pah" Sahut Lea yang tiba-tiba saja datang.


Aksa yang melihat kedatangan Lea bernapas lega. "Iya Om kami hanya teman" Ia menuruti perkataan Lea.


"Teman? Teman tapi ingin mengajak keluar, malam pula. Tidak! Lea harus ada di rumah".

__ADS_1


"Tapi Pah... ini hanya makan malam, apa tidak boleh?" Ujar Lea.


"Not baby!"


Lea sudah mengira ini. Ia hanya bisa menatap Aksa sendu, karena malam ini mereka gagal untuk makan bersama.


"Ya sudah Om jika tidak boleh, saya permisi" Pamit Aksa.


Jujur, dirinya ini sangat kecewa dengan ucapan papahnya Lea. Akan tetapi, Aksa juga tak ingin memaksa itu hanya akan membuat hubungan dirinya dan papah Lea menjadi buruk.


"Ya sudah. Lain kali, jangan ajak putri saya keluar malam, karena sudah pasti saya tidak akan mengijinkan nya".


"Baik Om" Pasrah Aksa.


Aksa berlalu. Sebelum itu, ia sempat melihat Lea yang berdiri mematung dengan mimik wajah yang sendu. Seakan meminta maaf padanya.


Aksa hanya tersenyum menanggapi itu. Tak apalah malam ini gagal, tapi lain kali harus. Pikir Aksa.


Setelah Aksa berlalu, Lea menatap sang papah. "Papah posesif" Pekiknya.


Albion hanya tersenyum. "Sudahlah papah mau keluar ada meeting".


Lea tak menanggapi, mungkin ia sedikit kecewa. Jelas, kekasihnya harus kembali pulang padahal jarak rumah keduanya cukup jauh.


...***...


Lea menopang dagunya. Ia melamun di kelas nya. Dian, dan Tia yang melihat itu hanya menatap Lea dengan tatapan heran.


"Woy! Lo kenapa, dah? Pagi-pagi udah bengong... aja" Pekik Tia.


Lea menatap jengah keduanya. "Gue lagi kesel sama bokap".


"Lah kesel kenapa, Lo?" Tanya Dian.


"Gini, tadi malem kan Aksa ngajak gue makan malam di luar, eh... bokap gue ngga ngijinin dengan alesan sudah malam" Kesal Lea.


"Bokap Lo kayak ngga pernah muda aja, Lee! Tapi... Lo beruntung punya bokap yang posesif" Tutur Dian.


Tia mangangguk. "Iya bener tuh kata Dian. Gue aja di bebasin sama bonyok langsung kek Dajjal njir-".


Lea menggeleng pelan. "Sumpah ya... curhat sama kalian berdua ngga guna banget".


"Ya elah Lee... Lee.. malahan ya kalo gue di posisi Lo mungkin gue dah bersyukur parah" Papar Dian.


Lea hanya tersenyum menanggapi itu.


"Eh iya, gimana kalo siang ini kita jalan. Udah lama kan ngga jalan bareng" Usul Tia.


"Boleh tuh, gue juga ada beberapa barang yang mau di beli" Sahut Lea.


"Lo gimana, Dian? Bisa kagak?" Tanya Tia.


"Gue mah selalu bisa. Nanti jam satuan aja kali, ya?".


"Emang dah selesai kelasnya?" Tanya Lea.


"Udah lah, kita hari ini cuman ada dua kelas doang" Jawab Tia.

__ADS_1


Lea dan Dian mengangguk pelan.


__ADS_2