
Dev sudah siap dengan pakaian kerja nya. Lea juga sudah memakai pakaian kampus nya. Namun Dev tak suka dengan pakaian Lea, karena Lea memakai baju 'haram'.
Dev menatap Lea dari atas sampai bawah, membuat Lea menautkan kedua alisnya, bingung. "Ada apa? Apa baju gue aneh?".
"Tidak aneh, akan tetapi saya tidak suka melihat kamu memakai pakaian seperti itu".
Lea menghela napasnya. "Lo ngga suka gue pake baju kek gini?".
Dev mengangguk. "Kamu ganti atau kamu mau mendapatkan hukuman, hm?".
"Masa sih gue ganti, ini udah mau telat".
Cup kiss...
Dev dengan cepat menekan tengkuk leher jenjang milik Lea, Dev menempel kan bibirnya pada bibir ranum milik Lea, cukup lama. Lea melotot mendapatkan perlakuan tiba-tiba itu dari Dev. Lea melihat Dev yang memejamkan matanya, seakan menikmati itu.
"Ini hukuman, kamu" Bisik Dev tepat pada telinga Lea.
Lea menghela dan mengatur napasnya, napasnya seakan berhenti setelah mendapatkan perlakuan itu dan merasakan deru napas Dev, yang beraroma mint itu.
"First kiss gue!" Pekik Lea memegang bibirnya, yang masih terasa basah.
"Itu juga first kiss saya" Jawaban Dev santai.
Melihat wajah kesal Lea, Dev menghela nafasnya. Mungkin itu berlebihan, pikir Dev. Dev menarik tangan Lea dan membawa nya keluar dari Apartemen. "Kita ngga sarapan dulu? Gue laper..." Rengek Lea, di sela-sela langkahnya.
"Sarapan. Saya sudah pesan bubur".
"Bubur? Mana?".
"Di mobil".
Turun menggunakan lip. Ketika sudah sampai di lantai bawah para karyawan menatap Lea sinis. Lea yang memerhatikan itu pun hanya diam, tidak terlalu menanggapi.
Dev dan Lea memasuki mobil yang sudah standby di depan lobi. Hari ini Dev akan mengantarkan Lea ke kampus nya. Dengan cepat Dev melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Dev mana bubur nya? Gue laper".
"Di belakang".
Lea menoleh ke kursi belakang. Terdapat kantong kresek berwarna putih dan sudah berisi satu wadah bubur. "Kok cuman satu?".
"Kata tukang bubur nya tinggal satu" Santai Dev.
Lea hanya mengangguk. Lea memulai membuka tutupnya dan menyendok kan bubur nya. Satu suap pertama untuk Lea. "Emm...enak, beli di mana?".
"Depan apartemen tadi".
Lea menyuapi Dev. "Nih aaa..."
Spontan Dev menatap Lea sekilas dan menerima suapan dari Lea. "Satu sendok?" Tanya Dev, membeo.
"Iya lah, emang kenapa? Ngga mau?".
"Ngga-- mau kok mau..."
"Ya udah nih aaa...lagi".
Dev melanjutkan makannya, seraya tangan nya aktif menyetir.
__ADS_1
Cukup lama di perjalanan, kini kampus Lea sudah di depan mata. Lea melihat ke arah Dev. "Makasih, udah nganterin gue".
"Hm" Jawab Dev.
Lea tersenyum ke arah Dev. "Gue masuk dulu, bye!".
"Bye!".
Lea keluar dari mobil, dan melangkah memasuki area kampus. Selepas itu, Dev melanjutkan lajunya ke kantor.
Ketika sedang menyetir, Dev ingat sekali perlakuan manis Lea padanya. Begitupun dengan perlakuan nya tadi pagi, yang menurut nya itu adalah moment terbaik. Dimana untuk pertama kalinya, Dev melakukan itu.
...***...
Lama dengan pikiran nya sendiri, kini kantor 'D.A' sudah terlihat oleh Dev. Dev memakirkan mobil nya, di tempat yang khusus. Dev keluar dari mobil, dan berjalan gagah serta cool, dengan tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya.
Tatapannya lurus ke depan. Jas rapih, tampan,cool dan berkharisma itu semua ada pada diri Dev.
"Pagi Pak!"
"Pagi Pak!"
"Pagi Pak!"
Sapaan itu hanya di jawab anggukan oleh Dev, tanpa berniat menjawab langsung ataupun dengan senyuman.
"Pak, hari ini bapak ada meeting dengan Pak Robert, di kafe anggrek" Ucap Aluna.
"Pukul berapa?" Jawab Dev seraya berjalan.
"Pukul sepuluh pagi".
Dev memasuki ruangan nya, bokongnya duduk di kursi kebesarannya. Dev membuka laptop dan memulai pekerjaannya. Aluna yang melihat itu pun berjalan ke arah Dev.
"Bapak mau saya bikin kan kopi atau teh?".
"Tidak usah".
"Oh jika begitu--"
"Bisa keluar?".
Aluna menghela napasnya seraya meremas ujung rok pendeknya. "Baik Pak, permisi" Aluna tersenyum paksa.
Dev mencoba menghubungi Zion asisten nya. "Zion, keruangan saya sekarang".
Tut
Dev memutuskan teleponnya sepihak. Tak lama, pintu terbuka. "Ada yang saya bisa bantu Pak?" Tanya Zion.
"Kamu temani saya meeting hari ini".
"Tapi Pak, hari ini saya akan terjun langsung ke lapangan".
"Hm.. baiklah kamu selesaikan itu, bilang pada Aluna untuk bantu saya memikirkan materi meeting hari ini".
"Baik Pah, jika begitu saya permisi".
__ADS_1
Zion berlalu. Dev memegang pelipisnya berat.
...***...
Tepat pukul sepuluh, Dev dan Aluna keluar dari kantor untuk meeting. Aluna seperti biasa menggunakan moment ini untuk mengambil keuntungan. Ia sudah sejak lama mengejar-ngejar Dev, namun Dev selalu saja menghindari dan tak menanggapi sikap berlebihan dari Aluna.
Aluna duduk di samping Dev yang mengemudi. Aluna tersenyum lebar, dan sesekali menatap wajah tampan milik Dev. Lama di perjalanan, dan tidak membicarakan apapun membuat Aluna mendengus kesal.
akhirnya, kini kafe anggrek sudah di depan mata. Dev dan Aluna turun dari mobil. Keduanya memasuki kafe secara bersamaan, Dev berjalan di depan dan Aluna berada di belakangnya.
Dev menjadi perhatian seisi kafe hari ini. Dan ya, langsung saja Dev menemui Pak Albert yang sudah ada di sana.
"Selamat pagi Pak" Ucap Dev seraya berjabat tangan, dengan senang hati Pak Albert menyambut tangan Dev.
"Selamat siang Pak Devara. Senang bisa bertemu dengan anda hari ini".
"Begitupun dengan saya" Tutur Dev.
"Selamat siang Pak, saya Aluna" Sapa Aluna.
"Siang Bu Aluna" Sapa Oak Albert.
"Jadi bagaimana Pak dengan kerjasama kita?" Tanya Dev.
Mereka membicarakan perihal kerja sama antara perusahaan 'D.A dan Albert'. Aluna mempresentasikan materi yang ia tadi pelajari. Aluna dengan cerdasnya mempresentasikan itu dengan baik, ya Aluna memang cerdas tapi sifatnya saja yang agak kurang.
...***...
"Nah jadi gitu guys... bukannya gue ngga mau ngabarin kalian, tapi ya gue sakit kemarin" Ucap Lea. Lea menceritakan bagaimana ia tidak kuliah dua hari ini, walaupun ia mengatakan jika dirinya sakit bukan menikah.
"Lo beneran sakit kan? Lo ngga bohongin kita berdua kan?" Tanya Kiara.
"Ngga lah, masa ia gue bohong. Emang gue pernah bohong sama kalian? Engga kan?".
"Iya sii... ya udah nanti kalo Lo kaya gini lagi kasih kabar kek".
"Iya.."
"Chat gue kenapa ngga Lo bales?" Tanya Kiara.
"Gue sengaja matiin handphone gue. Gue lagi ada promblen sama Aksa".
"Apaan?" Kepo Dian.
"Dia ngelamar gue beberapa hari yang lalu, gue kan bingung mau jawab apa. Lagian gue ngga ada niatan buat nikah muda dan gue masih kuliah".
Walaupun dalam hatinya ia sendiri merasa bersalah telah berbohong kepada kedua sahabatnya, tak sepantasnya ia berbohong seperti ini. Namun, Lea juga belum siap untuk memberitahu perihal perjodohan nya. Dan kini, ia sudah menyandang status sebagai istri dari Devara.
"Lo di lamar? Kenapa ngga Lo terima aja sih? Jarang-jarang tahu ada cowok kek Aksa modelan sekarang" -kiara.
"Ya udah kalo gitu buat Lo aja, gue ikhlas".
"Gila... mana ada pacar yang kayak Lo, Lee".
Dian dan Kiara tertawa lepas. Sedangkan Lea? Ia memasang mimik wajah kesal setengah melihat sesuatu di sebrang sana.
"Bikin mood gue ancur aja tu orang!" Batin Lea berdecak kesal.
__ADS_1
"Guys jalan yuk! Mata kuliah dah ngga ada akan?".
"Ngga ada, kuy lah!" Sorak Kiara antusias.