
Whoss! Whoss! Whossss
Zen Xin yang sedang menatap gunung aktif tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah pepohonan di bawah tebing. Zen Xin menyipitkan matanya karena merasa aurah kuat yang di pancarkan di bawah sana.
Di antara pepohonan, puluhan sosok hitam melesat seperti hantu. Pedang panjang di tangan mereka memberikan rasa dingin serta aurah membunuh yang kuat.
Merasa ada yang memantau dirinya dari atas tebing, sosok hitam itu berhenti lalu mengalihkan pandangannya ke arah tebing yang tinggi. Sosok itu merajut alisnya karena tidak menemukan apapun di atas sana.
Sosok itu memiliki wujud setengah manusia dan setengah ular, bagian lehernya di penuhi sisik-sisik dingin.
"...Ada apa?. Apa kau menemukan sesuatu?.."Tanya salah satu dari anggota sosok hitam tersebut.
Sosok yang melihat ke arah tebing itu menggelangkan kepalanya kemudian berkata."...Tidak. Ayo! kita harus segera mencapai wilayah perbatasan sebelum para manusia sialan itu masuk lebih jauh ke dalam pegunungan.."
Mereka semua menggangguk kemudian menghilang di antara pepohonan.
Zen Xin yang bersembunyi di antara pepohonan akhirnya menghela nafas legah. Beruntung Zen Xin masih sempat menyembunyikan aurah miliknya, jika tidak. Mungkin saat ini dia sudah menjadi target dari rombongan sosok hitam tersebut.
"...Tidak di sangka ras siluman ular mengutus tentara hitam untuk mencegah para menusia memasuki pegunungan. Sepertinya keberuntungan berpihak kepadaku.."Ucap Zen Xin. Sudut bibirnya tertarik membentuk seringai jahat.
Tentara hitam adalah pasukan khusus yang di miliki ras siluman ular. Saat perang besar beberapa tahun yang lalu, tentara hitam dari ras siluman ular berhasil membunuh ribuan pasukan Kekaisaran dan mengakibatkan pasukan Kekaisaran untuk mundur dari garis perbatasan. Sekarang ras siluman ular telah mengirim tentara hitam untuk mencegah orang lain memasuki pegunungan, hal ini tentu saja membawa manfaat bagi Zen Xin. Dengan tentara hitam yang berurusan dengan kelompok lainnya, Zen Xin bisa dengan leluasa mendekati api langit tanpa harus melakukan pertarungan yang sia-sia.
-
-
-
Tak jauh dari tempat tersebut, kelompok yang beranggotakan tiga orang terlihat sedang melesat di antara pepohonan.
"... Berhenti!.."Pria bertongkat tiba-tiba mengangkat tangannya untuk menghentikan kelompok.
"...Ada apa Elder Chu?.."Tanya seorang gadis penyihir yang menggunakan gaun merah.
Pria yang di sebelah mereka juga menatap ke arah pria tua bertongkat untuk menunggu jawaban.
__ADS_1
Pria tua bertongkat mengamati pepohonan di depannya kemudian berkata.".. Karena kau sudah di sini. Kenapa tidak menunjukkan dirimu?.."
"....Hahaha. Chu Liandi memang sesuai dengan reputasinya!.."
Setelah suara Elder chu terdengar, sosok hitam tiba-tiba muncul dari balik pepohonan sambil mengeluarkan tawa aneh.
Sosok yang muncul itu memiliki wujud setengah manusia dan setengah ular. Di tangan sosok itu ada pedang panjang yang memberikan perasaan dingin bagi kelompok Chu Liandi.
"....Jendral Barsa..."Chu Liandi terkejut melihat sosok yang di kenalinya itu.
"... Hahaha. Chu Liandi, sudah lama sekali sejak terakhir kali kita bertarung. Tidak di sangka kau berani memasuki wilayah ras siluman ularku. Kau memang cari mati.."Ucap sosok hitam itu yang di ketahui bernama Jendral Barsa.
"... Basra. Kau jangan begitu sombong. Kedatanganku ke sini hanya untuk mendapatkan api langit.."Kata Chu Liandi.
"...Oh. Jadi karena api langit.."Ucap Jenderal Barsa.
"..Benar. Jika kau mengizinkan kami lewat, maka keluarga Chu ku akan memberikanmu hadiah. Bagaimana?.."Kata Chu Liandi yang berusaha memberikan tawaran kepada jenderal Barsa.
"...Humm. Sungguh penawaran yang menggiurkan, tapi sayang sekali. Kepala suku memintaku untuk menghabisi siapa saja yang melewati perbatasan meskipun orang itu berasal dari keluarga Chu."Kata Jendral Barsa dengan wajah dingin.
Wajah Chu Liandi berubah menjadi jelek saat mendengar tawarannya di tolak begitu saja.
"..Baik.."
Energi Qi meledak dari tubuh Ketiganya hingga merubah suhu sekitar menjadi panas.
Chu Liandi adalah Elder pertama dari keluarga Chu, rana kultivasinya berada di tingkat Elite bintang 9 sementara pria tua di sebelahnya berada di rana kultivasi Warrior bintang 9, di tambah Chu Lian Mei yang berada di rana kultivasi Warrior bintang 3. Lineup ini cukup kuat untuk kota kekaisaran.
"... Hahaha. Kalau begitu, mari kita bertarung.."Jendral Barsa merenggangkan tubuhnya lalu meledakkan energi Qi yang jauh lebih kuat daripada ketiganya.
"...Qi Master.."
Chu Liandi, pria tua dan Chu Lian Mei terkejut melihat aurah kuat yang di pancarkan oleh jenderal Barsa. Aurah kuat itu hanya di miliki oleh Kultivator tingkat Master.
Jenderal Barsa tersenyum dingin. Dia menekuk tubuhnya seperti busur kemudian melesat ke arah kelompok Chu Liandi seperti meteorit.
__ADS_1
"...Serang bersama-sama.."Teriak Chu Liandi. dia melambaikan tangannya dan tombak sepanjang tiga meter muncul dari udarah kosong. Tombak itu di balut dengan energi Qi berwarna ungu pekat.
Di sisi lain, pria tua dan juga Chu Lian Mei sudah siap dengan pedang perak di tangan mereka masing-masing.
"...Serang!!.."Chu Liandi berseruh kemudian dia memimpin keduanya menuju Jendral Barsa.
Duarrr!!!
Ledakan energi Qi mengguncang pepohonan serta menggetarkan tanah. pertarungan antara tiga melawan satu menjadi semakin memanas. Percikan bunga api serta hempasan energi Qi menggema di dalam hutan tersebut.
Pedang panjang Jenderal Barsa di retas ke arah Chu Liandi, melihat datangnya serangan, Chu Liandi dengan cepat membenturkan tongkat panjangnya ke arah pedang jendral Basra.
Clang!!
Gesekan antara tombak dan pedang menciptakan bunga api. Jenderal Barsa merasakan bagian belakangnya menjadi dingin, dia dengan cepat membalikkan badannya lalu menepis serangan gabungan dari pria tua dan juga Chu Lian Mei.
Clang!!
"...Hamp.."Pria tua dan Chu Lian Mei mendengus dingin lalu terhuyung ke belakang karena berturan senjata itu. Tangan mereka berdua bergetar dan memberikan perasaan mati rasa, terutama Chu Lian Mei yang memiliki basis kultivasi lebih rendah dari keduanya.
Setelah memaksa pria tua dan Chu Lian Mei untuk mundur. Jenderal Barsa kembali melancarkan serangan beruntun ke arah Chu Liandi.
Clang!
Clang!
Clang!
Pertarungan keduanya menjadi semakin intens. Kecepatan keduanya juga menjadi semakin cepat hingga sulit untuk di lihat dengan mata telanjang.
Namun, jika di perhatikan dengan sangat baik. Chu Liandi secara bertahap jatuh ke dalam kerugian. Setiap kali bertukaran dia akan di paksa untuk mundur beberapa langkah.
Sementara itu, dari atas tebing. Zen Xin mengamati pertarungan yang terjadi di mana-mana. Zen Xin tersenyum dingin kemudian berubah menjadi gugus cahaya hitam dan menghilang di antara pepohonan.
-
__ADS_1
-
-