Dewi Nastiti

Dewi Nastiti
persaingan sehat...


__ADS_3

yudha dan nino banya bisa menahan kecewa karena pengusiranku terhadapnya... tap ibankehnya mereja berdua tak kunjung meninggalkan teras rumahku.


saat mereka berdua sama-sama diluar rumahku mereka mulai saling menyadari kesalahan masing-masing mereka saling berunding sdan berembuk..


"eh kamu,ngapain kesini?" ucap yudha marah.


"kamu yang ngapain disini?"sarkas nino ikut-ikutan marah.


tiba-tiba mereka berdua terkekeh bersamaan. aku yang mengintip mereka dari balik jendela hanya bisa mengelus dada sambil geleng-geleng, merasa lucu melihat tingkah mereka yang kekanak-kanakan.


"kamu beneran suka sama titi?" nino bertanya dengan suara baritonnya.


"jelas aku suka sama titi, kalau tidak kenapa aku disini!" balas yudha dengan kekehan sedikit mengejek.


"aku juga jatuh cinta sama titi pada pandangan pertama." jelas nino penuh penekanan.


"bulshit, mana ada cinta pada pandangan pertama!" terang yudha dengan perasaan ambigu, karena sejujurnya yudha juga sama jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap titi, tapi dia gengsi untuk mengakuinya pada nino.


"hahahaha...kamu bisa ngomong seperti itu karena belum mengalaminya anak muda."


"oke... kalau kamu benar-benar suka sama titi mari kita bersaing secara sehat untuk memperebutkan titi." yudha berteriak dengan mata melotot.


"deal" nino menjabat tangan yudha.


dari jarak yang tidak terlalu jauh seorang gadis yang baru membuka mata sedikit terusik dengan teriakan seorang pemuda yang menjadi pujaan hatinya.


"yudha, ngapain pagi-pagi udah disitu?" gumam dhini dari balik jendela kamarnya.


tanpa menunggu lama gadis itu segera membasuh muka dan berlalu keluar dari dalam kamar tanpa memperdulikan rambutnya yang berantakan khas bangun tidur.


"yudha" teriak dhini sambil bergelendot manja dilengan yudha.


"cckk..."


yudha hanya bisa berdecak kesal dengan sikap dhini yang mengacaukan acara paginya.


"kamu ngapain dhini datang kemari dengan rambut acak-acakan seperti itu, gak tahu malu." ucap yudha kembali menahan kesal.


"heheee... aku kangen kamu yudh." bisik dhini manja.


tanpa menunggu lama dhini menarik tangan yudha menuju rumahnya.


"kamu kenapa sih narik-narik aku dhin!" yudha kebingungan menahan tubuhnya agar tidak terseret oleh dhini menjauh dri teras rumah titi.


"ayo main kerumah aja yudh."


"udah ahh, aku mau pulang ada urusan!" yudha berlalu menjauh untuk menghindari keagresifan dhini.


dhini hanya bisa melengos menahan kecewa segera berlalu menginggalkan nino yang menahan tawa.


melihat yudha dan dhini, nino tertawa ngakak sambil mengejek yudha.


"sukurin loh, ketahuan." ledek nino.


nino yang merasa menang kembali mengetuk pintu rumahku, kebetulan ibu yang sedang pulang dari pasar segera membukakan pintu untuk nino,


ibu menyuruh nino masuk kedalam rumah tapi menolaknya dengan santun membuat ibuku terenyuh.


"tunggu sebentar ya nak nino, itu ??sepertinya titi lagi mandi." ibu menjelaskan kepada kak nino.


"iya tante" ucap nino lembut.


ibu mengetuk kamar mandi seraya berkata bahwa nino mencariku.


tok...tok tok...


"kak buruan mandinya diluar ada nan nino."


"iya bu."sahutku dari dalam kamar mandi.


"ini ada apa nak nino pagi-pagi udah kesini?" ibu mulai bertanya kepada kak nino seletelah menghidangkan secangkir teh hangat untuk dia.


"begini tante, saya mau ajak titi jalan. Boleh ya tante!" ucap kak nino dengan penuh keyakinan.


"boleh saja, tapi nanti yang diajak mau gak ya?" goda ibu sambil tersenyum manis kaya harum manis pasar malam.

__ADS_1


"hiihihiii" kak nino memjadi sedikit kikuk mendengar candaan ibuku.


"gak usah kikuk begitu nak nino ibu tadi cuma bercanda." jelas ibu.


"iya tante,saya tahu tante cuma bercanda" ucap bang nino lalu ikut tersenyum.


"mau jalan kemana sih pagi-pagi gini?" tanya ibu kepo.


"saya mau ajak titi joging tante."


"ooo.."


selesai dengan ritual mandi. aku segera keluar mengajak adikku.


"biar gak jalan berdua mending aku ajak si adik" monologku dalam hati.


"dik ayo ikut kakak jalan-jalan." ucapku seraya menggandeng tangannya.


"asyik nih kak, biar aku jadi obat nyamuk" celetuk adiku sambil terkekeh.


"kak.." dari ambang pintu aku memanggil kak nino.


ibu dan kak nino langsung mendongakkan kelapa tanpa berucap,


"iya tii, udah siap?" dia mulai bertanya setelah tadi dia terbengong agak lama seraya mendongakkan kepala.


"udah siap, emang mau kemana?" kataku pura-pura bingung padahal aku udah siap dengan kostum jogingku.


tanpa menjawab kak nino berdiri seraya mangacak rambutku karena gemas dengan candaanku.


"kak, jadi beratakan lagi kan," ucapku besengut,


"rambut udah rapi wangi ini" rusak lagi kan." adiku mengejek.


kak nino hanya tersenyum menahan malu.


"maaf deh tiii, sini aku rapiin lagi rambutnya" dengan sigap dia menyisir rambutku pake tangannya.


"udah-udah aku bisa rapiin ndiri" tanpa sengaja aku menyentuh pungung tangan bang nino yang berada datas kepalaku.


sedikit lama aku menggengam tanyanya dengan lembut.


ehm ehm..adiku berdehem


"ehh maaf bang aku gak maksud pengang-pengang" ucapku malu-malu seraya menangkupkan kedua tanganku didepan dada untuk minta maaf.


santaii aja kali tii, kak nino menggenggam tanganku.


aku yang malu dengan adiku, langsung mencoba melepas genggaman tanganku,bukan semakin lepas malah semakin erat kak nino menggenggam tanganku.


bukan membantuku si adik malah menertawakanku dari belakang.


"aku tahu kamu risih aku genggam gini" bang nino kembali berucap


"iya tuh bang, malu si kakak" adik menggodaku lagi.


"bang pamit sama ibu dulu ya." aku sengaja menyeret bang nino untuk pamitan pada ibuku, sekaligus untuk menahan rasa gugup akibat candaan si adik.


"tante saya pamit dulu ya mau ajak titi sama adik jalan-jalan." bang nino pamit sama ibu yang baru memulai aktifitas di dapurnya.


bang nino melepas tanganku dan segera menyalimi ibuku dengan khidmat.


"hati-hati nak, ibu titip titi sama adiknya ya!


"iya tante. saya permisi assalamuallaikum..."


"waallaikumsalam..."


tak lupa aku dan adiku juga berpamitan sama ibu, ibu mengelus pundakku lembut sambil berujar. "hati-hati ya kalian" ibu kembali berpesan.


"iya bu" sahutku bebarengan sama si adik.


kami bertiga berlalu menuju mobil kak nino, tak lupa dia membukakan pintu untuk aku dan si adik.


"terima kasih kak." ucapku bersamaan sama si adik.

__ADS_1


bang nino sedikit berputar untuk menempati bangku bagian kemudi, lalu secara perlahan dia melajukan mobilya. Sekitar 35 menit kami sampai di sebuah taman kota yang sangat indah.


Setelah selesai memarkirkan mobilnya kami berdua turun dari mobil tanpa menunggu bantuan bang nino untuk membuka pintu.


"kok udah pada turun sih?" ucap bang nino kecewa.


"gak papa bang kita bisa buka sendiri" ujarku pelan.


"kita sarapan dulu ya!" bang nino menunjuk sebuah warung soto tak jauh dari taman.


"nanti aja bang sarapan kita jalan dulu." adiku berusul.


"makan aja dulu." tanpa banyak kata dia menggandeng tangan kami berdua menuju warung soto yang sangat ramai pengunjung tersebut.


dia memesan 3 mangkuk soto beserta jeruk hangat sebagai minumnya.


10 menit berselang, makanan kami pun datang.


"makan dulu yuk." dia menginterupsi.


tanpa bersuara kami makan dengan lahap karena memang soto ini juara rasanya,


sangat pas dilidah kami.


selesai makan kami keluar dari warung sedang bang nino menuju kasir untuk membayar soto kami. aku dan si adik menunggu bang nino didepan warung soto tersebut, bang nino menepuk pundakku selesai membayar makanan kami dan lagi-lagi dia mengagetkanku.


"si abang ngagetin aja." ucapku.


tanpa malu dia menggandeng tanganku dan si adik.


"huhhh nyamannya."batinku tak menolak, apa begini rasanya punya kakak cowok, batinku berandai - andai.


"kemana dulu kita bang?" ucapku seraya mendongakkan kepala karena tinggi badan bang nino jauh diatasku.


"ternyata kak nino tampan juga yax, tubuh tinggi atletisnya, tangannya yang kokoh menggenggam jemariku, kulit putih, wajah tampannya. idaman banget" aku mulai ngelantur membatin kak nino.


"kakak kenapa senyum-senyum ndiri?" si adik dan kak nino menoleh ke arahku dan melambaikan tanganya membuyarkan lamunanku.


aku yang terkejut hanya bisa tertawa kikuk menahan malu.


"udah ah yux kita mulai lari."bang nino menginterupsi


"oke kak..." ucap si adik penuh semangat.


sambil ngacir lari duluan.


sedang aku dan kak nino berlari kecil beriringan...


"kenapa yuli gak diajak kak?" tanyaku pelan.


"gak ahh, dia mah orangnya rese' males aku."


aku kembali diam tak banyak kata sekitar 2 kali putaran mengelilingi lapangan kami berteduh dibawah pohon,,


bang nino segera mencari penjual minuman dingin dan menyodorkan ke aku dan adik.


"minum dulu tii,dik." bang nino meyuruhku.


aku menerima minuman seraya berucap


"terimakasih kak."


"pulang yuk kak" ucapku setelah meneguk minuman dingin pemberian bang nino.


"boleh...tapi bentar yax. masih engap." bang nino menolehku dari jarak yang cukup dekat karena kita duduk bersebelahan.


"aduh kenapa hati ini rasanya ser-seran pengin lompat keluar nih hati" aku memegang dadaku menahan gejolak hati.


"ayok ahh pulang bang." nino menarik tanganku, kamipun menuju parkiran dan segera masuk kemobil diikuti oleh si adik.


kak nino mengantar ku pulang dengan selamat tanpa mau mampir dulu kerumah,,


dia hanya menitipkan sebuah brownis panggang untuk oleh-oleh ibuku yang dia beli dijalan dalam perjalanan pulang kami tadi.


"makasih ya bang udah dianterin pulang dengan selamat." ucapku pada kak nino.

__ADS_1


"sama-sama cantik"bang nino tersenyum sambil melambaikan tangan kokohnya.


__ADS_2