
kak nino segera meninggalkan rumahku menuju masjid terdekat dari rumahku..
aku pun masuk kedalam rumah untuk segera mandi mengingat badan ini udah sangat lengket.
"dik, tolong kalau kak nino datang di buatin minum ya!" ucapku pada si adik sambil menepuk bahunya.
"kakak mau kemana?" balas si adik.
"mandi dulu dik, lengket." ucapku seraya masuk kedalam kamar mandi.
si adik yang baru keluar dari kamar langsung menuju kedapur. 15 menit kemudian aku sudah selesai mandi segera masuk untuk melakukan kewajibanku untuk sholat.
"kak nino belum balik dari masjid ya dik?"
tanyaku membuyarkan konsentrasi si adik yang setia berjaga di depan pintu rumahku.
"belum kak." gumamnya pelan. "kenapa lama banget ya kak?"
"iya juga yax! aku aja udah selesai mandi dan sholat, masa iya kak nino gak balik juga." aku yang jadi kebingungan karena menunggu kak nino tak kunjung pulang.
"apa perlu kita cariin kali kak?" si adik memberi usul padaku.
"apa nunggu isyak sekalian ya dik." sebuah jawaban terbesit dalam pikiranku.
"bisa jadi kak." adik menjawab dengan ragu.
"kita tunggu sampai habis isyak aja kak, baru kita cariin kak nino." adiku memberi jalan tengah dari kebingungan kami.
"oke..."oku menautkan jari tanganku membentuk huruf O di depan dada.
__ADS_1
sekitar lima belas menit setelah terdengar bunyi ikhomah dari toak masjid. terdengar suara pintu depan rumahku diketuk.
tok..tok tok....
"assalamuallaikum"
"waallaikum salam" jawabku segera membuka pintu dan ternyata kak nino yang datang. dengan membawa kantong kresek di kedua tangannya sambil berkata
"minta piring tiii buat naruh ini." sambil mengangkat kresek yang dibawanya tadi.
"apa itu kak?" jawabku canggung.
"ini...tadi ada ibu-ibu ngasih ini saat habis sholat magrib."
"kenapa tadi habis sholat magrib gak langsung pulang aja kak?" tanyaku penuh selidik.
"idih...ngapain segala mampir ke rumah pak RT kak?" tanyaku kepo.
"tadi diajak main aja sama bapak-bapak yang lain tiii." kak nino mulai berdalih.
"tapi nanti bisa jadi kena gosip kak, pasti tadi kakak dibrondong pertanyaankan sama mereka?" aku mulai berasumsi sendiri.
"heehehe..." kak nino tersenyum masam.
"jawab atuh kak, jangan cengar-cengir!" nada bicaraku semakin tinggi saja.
"iya tiii, tapi mereka maklum kok. gak banyak bertanya."
aku hanya bisa menepuk jidat. menahan kesal di dalam hati.
__ADS_1
"kenapa jadi begini kak?" si adik keluar dari dapur sambil membawa piring yang diminta kak nino.
"udah ahhh, udah terjadi ini. pura-pura tuli aja." jawabku yakin.
"maaf ya tii... aku gak tahu." kak nino mulai merengut penuh penyesalan.
"iya iya kak...santai aja kali."
aku mulai membuka bungkusan kresek yang dibawa oleh kak nino, ternyata berisikan beberapa potong ayam bakar beserta lalapnya. segera ku pindahkan kedalam piring.
"ada lauk kak, kita makan malam sekalian aja gimana?" aku memberi usul untuk sekedar mencairkan suasana.
"iyaa ahhh aku juga belum makan dari siang.. kak nino mulai menyungingkan senyum termanisnya.
"assalamuallaikum" suara ibu dari luar teras menggema.
"waallaikum salam" sahut kami berbarengan lagi menyalami tangan ibu bergantian dengan adik dan kak nino.
"kebetulan ibu udah pulang kita makan sekalian yuk bu..." ajakku sambil menggandeng tangan ibu menuju ruang makan.
ini ibu tadi beli sayur urap sekalian ambil tempatnya aja. ibu mengeluarkan bungkusan dari dalam paper bag yang dia bawa.
kami pun makan dengan tenang melupakan semua yang tadi sempat menjadi ganjalan dalam hati masing-masing.
selesai makan pun kak nino pamit pulang kepada ibu sambil mencium punngung tanganya.
"hati hati ya kak." ucapaku saat mengantarkan kak nino di depan teras.
"iya tiii..." kak nino mengacak rambutku sambil berlalu masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1