
Waktu seolah berjalan dengan cepat, Keluarga Tanu kini berhenti di masjid yang ada di jaakn karena suara panggilan sudah memenuhi pendengaran nya. tentu merelan tak ingin menunda kewajiban nya itu.
Mamanya Hans memang belum berhijab, Namun menatap Fafa, ia semakin yakin.... jika kita menjatkan hal yang baik, Allah akan memberikan yang terbaik.
' Tuhan, berikanlah aku hidayah-Mu agar aku bisa menutupi semua aurat kita dengan sempurna, berikan aku kesempatan untuk berubah di dunia ini, ' bathin Mamanya Hans saat menatap wajah Fafa, Ia tersenyum dan berdoa saat selesai sholat, ia ingin Fafa menjadi anggota dalam. keluarga nya, bersyukur jika bisa menjadi nistri dari anaknya, memiliki istri sebaik Fafa tentu adalah keinginan semua orangtua, dan itu kimi. menjadi doa rutin bagi mamanya Hans.
...----------------...
Hingga malam, Arash masih berada di depan rumah Fafa.
__ADS_1
'Fafa, Aku ingin menjelaskan semuanya padamu Aku berharap kau tidak percaya dengan klarifikasi yang ada di media Aku hanya ingin membersihkan nama baik Alina,' batin Aras
Aras kini menetap gambar apa yang berada di layar ponselnya, dia begitu merindukan keceriaan di masa lalu, tawa yang selalu menghiasinya, mata yang saling menatapnya dengan lembut. kata mengusap layar itu sekolah yang mengusap pipi Fafa.
' aku mohon kembalilah padaku, aku berjanji... tidak akan pernah mengulang kesalahan yang sama,' batin Aras. di saat Aras masih terus menunggu kedatangan papa tiba-tiba langit terlihat tambah gelap, menunjukkan bahwa sebentar lagi hujan akan turun.
tiba-tiba di saat Aras masih enggan meninggalkan kediaman, Fafa ada bapak-bapak yang mendekatinya.
'' Terima kasih Pak, sebentar lagi aku akan perg,''i ucap Aras tanpa melihat ke arah bapak-bapak itu.
__ADS_1
Lelah aku mendengar manisnya kata cinta, Lebih baik aku sendiri. tiba-tiba disaat Aras ingin meletakkan ponselnya di saku jasnya ternyata ada pesan yang masuk, Aras mengira itu adalah balasan pesan dari sang istri, tapi ternyata ia salah.
[ Aras kau tidak apa-apa kan, Kenapa jam segini kau masih belum sampai di rumah?] pesan itu ternyata dari Alina
Namun ternyata Aras enggan untuk sekedar membalas pesan itu, karena dia yakin nanti akan ada alasan lain sehingga Alina tidak terbukti bersalah. terlihat menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu ia menggusar rambutnya dengan kasar, berusaha meredamkan amarah yang ada di hatinya.
' oh Tuhan aku benar-benar menyesal dengan apa yang sudah aku lakukan, Kau boleh menghukumku, tapi jangan jauhkan aku darinya, aku begitu mencintainya, ya Tuhan,' bathin Arash
Dadanya terasa sesak, hatinya sangat perih, Apakah ia bisa menerima kenyataan, jika ia dan Fafa benar-benar akan saja bercerai.
__ADS_1
Lama Arash menutup wajahnya dengan kedua tangannya, rasa lapar benar-benar ia tak perduli kan.
sehingga ia pun memutuskan untuk pergi, berulang kali Aras menoleh ke arah pintu berharap Pintu itu terbuka dan ada Fafa yang menyambutnya dengan kedua tangan yang terbentang. namun khayalan tetaplah khayalan. Fafa benar-benar telah pergi dari kampung itu. mobil pun keluar dari pekarangan rumah Fafa dan memecah Kesunyian malam, Laras mendapat sekeliling Jalan banyak sekali pemandangan yang begitu indah meskipun sudah malam tiba.