
Malam telah tiba, sudah banya orang yang melakukan tahlilan di kediaman Fafa, banyak yang bertanya dimana suami Fafa, kenapa sedari tadi siang ia tidak nampak.
Fafa dan Bibinya hanya diam mendengar kan gosip itu, itu bukanlah gosip tapi kenyataan. Beberap saat kemudian, suara deru mobil terdengar di telinga beberapa warga. Semua menoleh kearah luar rumah.
Bibinya Fafa yang sudah mendengar cerita dari Hans kini sangatlah geram, namun... Mamanya Hans mencegahnya untuk membuat keributan.
''Kita selesai kan setelah acara ini selesai, Arash dan keluarganya harus tahu nilai dari seorang Fafa, Aku juga tidak bisa menerima jika anakku Fafa di perlakukan seperti ini, mereka yang datang melamar, tapi mereka juga yang membuat luka di hati anakku,'' ucap Mamanya Hans yang sudah menganggap Fafa sebagai anaknya, tanpa mereka tahu jika anak kandung nya menyimpan rasa untuk adik angkatnya itu.
''Selamat malam, maafkan kami yang datang terlambat, '' ucap kakeknya Arash seraya menangkup kedua tangannya di depan dadanya sebagai permohonan maaf.
Fafa keluar dan menyalami semua anggota keluarga Arash, termasuk mencium punggung tangan Arash.
''Tidak apa-apa, orang kaya seperti kalian pasti sangat lah memiliki kesibukan, bahkan seorang suami saja tidak bisa menghendle pekerjaan nya saat mendengar kabar duka tentang Nenek dari istrinya, sungguh... kami terkesan dengan kegigihan kalian dalam mengejar harta dunia," Ucap ramah Mamanya Hans yang merupakan kalimat sindiran pedas pada keluarga besar Nugrohojordy.
Kakeknya Arash menatap Arash dengan tatapan sengit. Yang di lakukan Arash memang lah sangat salah besar.
"Baiklah, silahkan duduk, Fafa... kau duduklah nak, kau tidak perlu melayani mereka, ada para tetangga yang akan melayani mereka, cukup kau di jadikan babu disana oleh suamimu, tapi tidak di sini sayang, " ucap Mamanya Hans menatap sinis pada Arash, tentu itu adalah fakta baru untuk kakek dan neneknya Arash.
"Tuan, Nyonya, silahkan di nikmati, " ucap Mamanya Hans sedangkan bibinya Fafa hanya diam, Neneknya Arash sudah melihat raut wajahnya yang tak nyaman.
Mereka belum menyadari siapa Mamanya Hans di depannya, begitu juga dengan Arash, ia tidak tahu akan orang tua Hans.
__ADS_1
Acara tahlilan itupun berjalan dengan lancar, Semua warga sudah pulang kerumah masing-masing, dan kini tinggal lah keluarga Arash dan Keluarga Fafa.
"Maafkan kami, kami benar-benar minta maaf, tapi masalah Fafa menjadi pembantu itu tidaklah benar," ucap neneknya Arash seraya menatap Fafa
"Sayang, katakan pada mereka, kalau kau bukan pembantu di sana," ucap neneknya Arash pada Fafa
"Iya, Nek. Fafa bukan pembantu, "jawab Fafa
"Benar, tapi lebih rendah dari pembantu, Pembantu saja.... masih di gaji dan di beri uang untuk belanja, tapi Fafa, dia masak dan membeli bahannya dengan uangnya sendiri, Mana ada Arash memberikan ia uang belanja sepeserpun, apa begini jika orang kaya menafkahi istrinya? dengarkan saya baik-baik Nyonya Nugrohojordy, Fafa bukanlah wanita rendahan yang kalian lamar lalu menikahkan anak kalian lagi setelah membawa Fafa kami kerumah kalian, kalian anggap apa Fafa kami, masih banyak lelaki luaran sana yang jauh lebih baik dari Arash yang menginginkan Fafa, tapi apa! hanya karena Fafa mencintai Arash kalian, dia menerima lamaran, jika bukan karena neneknya, Fafa juga tidak akan bersedia bertahan dengan lelaki egois yang menikahi wanita lain di hari yang sama saat menikahi istri pertamanya, Kalian benar-benar keluarga bajing4an, !" ucap Mamanya Hans dengan dada yang bergemuruh. Sontak seluruh keluarga sangat terkejut dengan fakta baru yang datang bertubi-tubi, begitu juga dengan Arash, ia baru menyadari jika ia tidak memberikan Fafa uang sepersen pun tapi masakan tiap hari selalu mewah dan dari daging semua.
Kakek dan Nenek nya langsung menatap tajam pada Arash.
''Arash... !" teriak kakeknya dengan murka.
"Mas Arash, ia benar... dia sudah memiliki istri lain selain Fafa, tapi itu bukan salah mas Arash, itu salah Fafa karena hadir diantara mas Arash dan mbak Alina, Satu bulan, itu waktu yang lama, aku bertahan demi nama nenek, tapi sekarang nenekku sudah tidak ada, bisakah kalian melepas kan Fafa, Fafa bukanlah wanita yang sempurna, Fafa tahu, perceraian sangat lah di benci Allah, tapi... bertahan dengan seseorang yang sudah jelas menolak kehadiran kita, itu malah semakin membuat hati semua orang terluka, hati mas Arash, Mbak Alina dan juga hati mama," ucap Fafa yang kini menahan kakeknya Arash untuk mendekati Arash.
"Katakan Arash, katakan jika itu tidak benar, kakek tidak pernah mengajarkan mu untuk menjadi lelaki bajing*an, Katakan jika itu tidak benar!" bentak kakeknya Arash
"Semua nya benar kakek, Arash tidak mencintai nya," ucap Arash
"Talak Fafa saat ini juga, Arash," ucap Mamanya Hans
__ADS_1
Seketika semua orang menatap kearah Mamanya Hans
"Talak sekarang, dan segera urus perceraian kalian, dan ingat! kami juga akan menuntut pernikahan kedua kalian, karena kalian menikah tanpa seizin dari Fafa, " ucap Mamanya Hans menatap Arash dengan lekat.
"Eh, jeng. Jangan asal bicara ya, lelaki mau menikah berapapun itu sah-sah saja, kenapa harus di laporkan, " jawab mamanya Arash
"Itu ada aturannya, Jika ada izin dari istri pertama, kau ngerti hukum kan? " ucap sinis Mamanya Hans
"Tidak usah tante, Tidak usah tuntut itu, cukup kita bercerai itu saja, semoga Mas Arash dan Mbak Alina bahagia, " ucap Fafa seraya menatap Arash yang mana tatapan mereka kini saling bertemu.
"Talak Fafa sekarang juga, dan pergilah dari sini, Kehadiran kalian sungguh sangat tidak kami inginkan, " ucap Mamanya Hans.
"Arash, Kau masih seorang lelaki kan, mengaku kaya dan dari keluarga terkaya, tapi makan dari uang istri, Apakah kau masih punya urat malu, oh tidak ada, kalau ada tidak mungkin kau akan malam berdua dengan istri mudamu di meja makan yang masakannya hasil dari uang istri pertama, " cebik Mamanya Hans..
"Akan aku ganti uang itu, " ucap Arash
"Kami tidak butuh, anggap saja itu sumbangan dari kami untuk pengantin baru kalian, jatuh kan talak pada Fafa sekarang dan segeralan urus perceraian itu," ucap Mamanya Hans mendesak agar Arash segera menceraikan Fafa.
"Jatuhkan talak,!" ucap sang kakek dengan amarah hang memuncak.
"Fatimah Az-zahra, Mulai detik ini, aku bebas kan kau dari ikatan suami-istri, dan mulai detik ini, semua ikatan kita sudah berakhir," ucap lantang Arash, tentu itu membuat Fafa terjatuh lemas di sofa, tanpa di sadari Niqabnya terjatuh tanpa Fafa rasa bersamaan dengan air mata nya.
__ADS_1
Betapa terkejut nya Arash saat melihat wajah itu dengan tatapan kosongnya.