Di Balik Seragam SMA

Di Balik Seragam SMA
Bab 1. Kabar Duka


__ADS_3

Pagi itu, aku melangkahkan kaki untuk menuju ke sekolah. Pagi yang membuatku selalu merasa bersemangat karena di setiap pagi itu, aku merasakan hal terindah dalam hidup. Bertemu dengan teman-teman, bercanda dan bergurau, hingga saling berbagi kisah kepada mereka. Terlebih, akan selalu ada goresan tinta dalam buku harian yang membantu mengukir indah di setiap kejadian di hidupku.


Hari ini, tak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Hingga saat itu tiba, aku dipanggil oleh Bu Ani, selaku guru BK yang memintaku untuk segera berkemas dan bergegas pulang. Jujur, saat itu aku merasa bingung. Aku pun berpikir apa kesalahanku? Sehingga diminta untuk segera berkemas dan bergegas pulang. Hingga aku akhirnya kembali menemui Bu Ani yang saat itu tengah berada di ruang guru.


"Permisi, Bu." sapaku, sambil mengetuk pintu ruangan tersebut.


Saat itu, seluruh guru yang berada di ruangan tersebut menatapku dengan sorot mata tajam. Membuatku semakin bingung dan sedikit takut. Aku sejenak melupakan tentang tatapan seperti mengiba. Sampai salah satu dari mereka menghampiriku, sambil lantas merangkulku.


"Nadhira! Kamu yang sabar ya, sayang! Ibu, beserta guru-guru di sini juga turut berduka cita yang sedalam-dalamnya," ucap Bu Dina yang membuatku sedikit tercengang.


***


Ya! Namaku, Nadhira Atmadjaya. Aku Siswi kelas XI, jurusan IPA. Aku sekolah di salah satu SMA yang cukup elite di kawasan Jakarta. Ayahku, Hadi Atmadjaya. Beliau adalah seorang pengusaha yang mememiliki perusahaan dan toko retail dan telah tersebar di beberapa kota besar. Kalau ibuku bernama Tania Soedrajat. Beliau seorang dokter umum yang telah menjadi kepala bagian di salah satu rumah sakit besar dan juga berada di kawasan Kota Jakarta.


Mendengar profesi dari kedua orang tuaku saja, kalian sudah pasti tahu kan, seperti apa gambaran kehidupanku yang tak pernah merasakan kekurangan akan materi sedikit pun.

__ADS_1


***


Saat itu juga, kakiku mulai melemas. Jantung ini mulai berdegup dengan cukup kencang dan pikiran mulai tak karuan karena mendengar Bu Dina turut mengucapkan rasa dukanya kepadaku.


"Maksudnya apa ya, Bu? Kenapa Ibu bilang kalau turut berduka cita? Ada apa sebenarnya, Bu? Kenapa tiba-tiba saya disuruh pulang? Saya salah apa, Bu?" tanyaku, yang mulai begitu panik. Membuat dadaku terasa sesak karena tak lagi mampu untuk sekedar mengatur napas.


Aku kembali melihat tatapan sendu dari mereka yang kemudian sedikit menunduk, seolah tak ada yang bisa untuk sekedar menjelaskan kepadaku tentang apa yang sebenarnya terjadi. Hingga Bu Dina pun akhirnya memelukku. Seketika, air mataku menetes. Aku merasakan ada sesuatu yang terjadi, terlebih dengan kata-kata Bu Dina yang membuat hatiku begitu takut. Takut, jika ada suatu hal yang terjadi dengan keluargaku.


Dan benar saja! Ketika Bu Ani mencoba menghampiriku, kemudian ia berusaha untuk menjelaskan secara perlahan. Saat itu, Bu Dina tetap merangkulku. Seolah tak ingin melepaskan tangannya dari bahuku. Ia sedikit mengelus lembut tanganku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Begini, Ra. Sebelumnya, jujur. Ibu dan semua guru di sini sebenarnya gak mau bikin kamu jadi sedih. Namun, tadi salah satu keluargamu menghubungi pihak sekolah. Ia mengabarkan, jika ...," ucap Bu Ani yang seketika terhenti. Seolah ia tak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya tersebut. Terlihat dari raut wajahnya yang begitu ragu. Namun, hal itu membuat aku semakin penasaran dan membuat hatiku seketika tidak tenang.


"Ayahmu, telah berpulang, Ra. Kamu yang sabar ya," celetuk Bu Ani tanpa ragu.


Bagaikan disambar petir di siang bolong! Kabar duka itu membuatku sangat terkejut ketika mendengarnya dari Bu Ani. Napasku semakin memburu, kakiku pun melemas, hingga aku pun tak sadar, jika seketika terjatuh dan berlutut dengan dipegangi dan ditahan oleh Bu Dina. Air mataku seketika tak mampu untuk kubendung. Meskipun begitu, aku masih saja tak percaya dengan apa yang Bu Ani sampaikan.

__ADS_1


"Gak mungkin, Bu! Ayah saya gak kenapa-kenapa! Ibu pasti salah denger! Itu bukan ayah saya, Bu! Bukan!" teriakku histeris.


Hal itu ternyata membuat seluruh guru yang berada di ruangan itu beranjak dari tempat duduk. Seolah hanya untuk sekedar menenangkanku. Hingga Bu Dina dibantu oleh Pak Ari terasa mengangkat tubuhku. Aku melepaskan seluruh tangisku. Seolah pasrah dengan tubuhku yang entah mereka menyandarkanku di mana. Berharap, semua itu hanyalah mimpi buruk dari tidur lelapku. Namun, kenyataan yang baru saja telah menyadarkanku.


Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja Pak Darmo telah berada di sampingku. Pak Darmo, adalah salah seorang sopirku. Ia diminta oleh keluargaku untuk menjemput. Aku dengan jelas melihat raut wajahnya yang juga menatapku dengan sayu. Wajahnya begitu sedih ketika aku mencoba meraih dan bergelayut pada lengan tangannya.


"Pak! Ini semua gak bener kan, Pak? Ayah baik-baik aja kan, Pak? Iya, kan? Jawab, Pak!" paksaku sambil kembali berteriak.


Saat itu, Pak Darmo hanya diam dan tertunduk. Aku merasakan tangannya membelai rambutku. Aku pikir, ia juga tengah menahan tangisnya dihadapanku, juga seluruh guru yang berada dihadapannya. Hingga akhirnya, Pak Darmo membujukku untuk segera pulang.


"Permisi ya, Pak, Bu. Saya izin untuk membawa Neng Nadhira pulang dulu. Terima kasih dan mohon maaf sudah merepotkan Bapak, Ibu, semuanya." Pak Darmo pamit dengan sedikit membungkukkan badannya.


"Iya. Silakan, Pak. Sekali lagi, kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya," sahut Bu Ani, yang kemudian Pak Darmo pun hanya mengangguk. Sementara, aku hanya bisa terus menangis.


Pak Darmo kemudian membawaku keluar dari ruangan tersebut. Menuntunku perlahan menuju area parkir untuk mendekat ke mobil yang telah di parkirnya di sana.

__ADS_1


"Pak! Nadhira cuma mimpi kan, Pak? Ini semua gak beneran ‘kan? Ayah gak mungkin ninggalin Nadhira sendirian kan, Pak? Ga mungkin, Pak!" ucapku sambil terus bergelayut di lengan Pak Darmo.


"Sabar ya, Neng. Doakan supaya Ayah Neng Nadhira baik-baik aja," sahut Pak Darmo yang kembali menenangkan diriku.


__ADS_2