Di Balik Seragam SMA

Di Balik Seragam SMA
Bab 9. Terpaksa!


__ADS_3

Aku berjalan menyusuri setiap lorong rumah sakit. Air mata yang tak hentinya mengalir di pipiku, menggambarkan kesedihan yang entah sampai kapan akan usai.


Hingga aku pun hampir lupa, jika aku sama sekali tidak tahu di mana tempat ibuku di rawat.


Aku lantas berbalik arah, menuju front office rumah sakit tersebut. Namun, di tengah langkahku, aku tak sengaja melihat seseorang yang sepertinya aku kenal.


"Pak Rt!" aku pun memanggilnya, seraya menghampiri ke arahnya yang tengah duduk di ruang tunggu.


"Nadhira, syukurlah kamu ke sini, nak." timpalnya, yang lantas berdiri ketika melihat aku yang tengah mendekat ke arahnya.


"Gimana kondisi ibu, pak? Ibu kenapa, pak? Ibu baik-baik aja 'kan?" tanyaku, sedikit panik.


"Kamu tenang dulu ya, Ra. Ibu kamu pasti baik-baik aja. Maafin bapak ya, Ra. Bapak gak bisa menjaga ibu kamu dengan baik." Jawabnya, seraya menepuk bahu ku.


"Tapi, kenapa ibu bisa sampai masuk rumah sakit, Pak? Apa yang sebenernya udah di lakuin sama ibu?" tanyaku lagi, penasaran.


"Begini, Ra. Sewaktu kamu berangkat sekolah, saya langsung menyempatkan diri untuk terlebih dulu melihat kondisi ibumu di rumah. Tapi tiba-tiba saja, saya dapat telepon dari orang kelurahan, beliau menyuruh saya untuk segera datang ke sana. Sekitar pukul 09.15wib tadi, saya baru menuju ke rumah mu. Dan ketika saya sampai di rumah mu, saya sudah melihat ibu mu dalam kondisi tak sadarkan diri. Dengan pecahan beling yang berserakan, juga darah yang mengalir dari bagian tangannya. Saya juga tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi sama ibu kamu. Tapi, melihat kondisi ibumu yang seperti itu, ada kemungkinan jika ibumu telah menyakiti dirinya sendiri dengan pecahan beling tersebut." jawabnya lagi, seraya menjelaskan atas kejadian yang menimpa ibuku.


Mendengar penjelasan dari Pak Rt, aku juga tak pernah menduga sebelumnya, jika ibuku akan melakukan hal yang membahayakan tersebut.


Jika memang benar kejadiannya seperti itu, memang benar kemungkinan yang menyatakan ibuku mengalami gangguan jiwa.

__ADS_1


Lantas, aku harus bagaimana? Aku tidak memiliki daya apapun untuk bisa menyembuhkan ibu. Sekarang, aku tidak mungkin meninggalkan ibuku sendirian di rumah. Tapi, aku juga tidak mau jika sampai sekolahku terhenti. Lagi-lagi, pilihan ini begitu sulit untuk ku.


*****


Beberapa hari telah berlalu, ibu masih terbaring lemah di rumah sakit. Aku juga kembali bolos dari sekolahku, dan memilih untuk menjaga ibu.


Siang itu, aku di minta suster untuk ikut ke bagian administrasi. Karena perawatan ibu di rumah sakit ini, mengharuskan ku untuk membayar setengah dari biaya rawat, juga obat yang telah di terima ibu selama dua hari ini.


Biaya perawatan ibu di rumah sakit ini sekitar Rp. 5.000.000. Padahal, baru dua hari ibu di rawat di sini. Tapi, sudah begitu besar biaya yang harus di keluarkan.


Aku pun berusaha untuk meminta kelonggaran waktu pada pihak rumah sakit. Namun sayangnya, pihak rumah sakit hanya bisa memberikan waktu sampai hari esok.


Aku tidak bisa berpikir apapun saat itu, selain menyanggupinya. Karena mau bagaimana lagi? Karena posisinya ibu juga butuh perawatan dan sudah terlanjur berada di sini.


"Kalo lo mau, gue bisa minta bantuan om gue buat bayarin semua biaya perawatannya ibu lo, Ra." Celetuk seseorang, yang suaranya tak asing lagi bagiku.


Ucapannya juga sontak membuatku lantas menoleh. "Rima!" ucapku sedikit heran.


Rima pun mulai berjalan mendekat ke arah ku.


"Gue tau, Ra. Beban ini berat banget buat lo, dan gue cuma mau bantuin lo aja. Karena gue tau, lo gak bakal mampu buat bayar biaya rumah sakit ini. Mau bayar pake apa? Lo itu cuma seorang pelajar, Ra. Jangankan duit segitu banyaknya, buat lo makan hari ini aja, apa lo punya duit? Enggak 'kan?" ucap Rima, yang membuatku sedikit geram. Namun, aku rasa juga tidak ada yang salah dengan ucapannya.

__ADS_1


Memang kenyataannya aku sama sekali tidak memiliki uang. Bahkan, jika hari ini aku bekerja pun, aku tidak akan bisa menghasilkan uang sebesar itu hanya dalam waktu satu hari.


Aku hanya bisa diam, seolah tak ada satu kata pun untuk aku bisa menampik ucapan Rima. Namun, seketika aku berpikir, "Om? Om siapa yang Rima maksud barusan? Bukannya, Rima pernah bilang kalo dia gak punya siapa-siapa lagi di sini?" pikirku, keheranan.


"Gimana, Ra? Mau kan, lo terima bantuan dari om gue? Demi kesembuhan ibu lo, Ra." paksanya lagi.


"Sorry, Rim. Lo gak perlu repot-repot buat bantu biaya rumah sakit nyokap gue. Gue bisa cari sendiri kok!" sahutku, menolak.


"Dengan cara apa, Ra? Lo mau, nyokap lo kenapa-kenapa? Kalo lo gak bisa bayar, apa lo mau kalo nyokap lo di buat jaminan biaya rumah sakitnya? Gue gak habis pikir ya, Ra. Kalo gue jadi lo, gue bakal lakuin apapun demi kesembuhan nyokap gue. Gue juga gak mau, Ra, lo ngerasain penyesalan kayak apa yang gue rasain sekarang! Kehilangan orang yang paling berarti dalam hidup gue, hanya karena gue miskin! Dan, apa lo mau semua orang mencibir lo? Liat perubahan kondisi lo dari yang dulu waah, sekarang sampe melarat kayak begini? Malu, Ra! Malu!" ucap Rima, membuatku merasa tertekan.


Saat itu, entah apa lagi yang terjadi dengan ibu. Aku melihat beberapa suster begitu panik berlarian masuk ke dalam kamar rawat ibu.


Aku pun membiarkan Rima, dan meninggalkannya sendirian di meja administrasi. Aku lantas bergegas mngejar suster tersebut.


"Ada apa, Sus? Kenapa dengan ibu saya?" tanyaku, ikut panik.


"Mohon maaf, mbak. Kami harus pindahkan Ibu Tania ke ruang ICU. Keadaannya semakin memburuk, terlihat tubuhnya yang sering kali mengejang. Kalo terus di biarkan, maka kami khawatir jika Ibu Tania tidak bisa di selamatkan, kami juga akan melakukan beberapa tindakan secepatnya. Maka dari itu, kami mohon agar mbak bisa segera melunasi administrasinya, guna membantu kami dalam menjalankan tindakan terhadap Ibu Tania." Ucap salah seorang suster, yang sontak membuatku cukup syok ketika mendengarnya.


Lagi-lagi, hanya air mata yang menetes di pipiku. Dan saat itu juga, ibuku langsung di pindahkan ke ruang ICU.


Tanpa berpikir panjang, aku pun kembali mencari Rima. Aku berlari kecil menghampirinya, yang kebetulan ia masih berdiri di dekat meja administrasi.

__ADS_1


"Oke, Rim! Gue mau ngelakuin apapun demi kesembuhan nyokap gue. Demi nyokap gue! Tapi please, Rim! Lo jangan bilang tentang keadaan keluarga gue ke siapa pun, please! Beban gue udah banyak banget, jadi tolong jangan tambah lagi dengan lo bilang ini semua ke mereka. Gue gak mau, semua pandangan mereka tentang gue, malah bikin batin gue ngerasa semakin tersiksa. Gue gak mau, Rim!" sahutku, yang entah kenapa seperti mengiyakan hasutan Rima.


Aku tahu, ini bukan pilihan yang terbaik. Tapi, aku juga tidak mungkin membiarkan ibuku yang tengah berjuang melawan rasa sakitnya, sementara aku hanya diam dengan ketidak berdayaanku.


__ADS_2