Di Balik Seragam SMA

Di Balik Seragam SMA
Bab 10. Lagi-Lagi Soal Biaya


__ADS_3

Kala itu, Rima hanya tersenyum menyeringai. Ia lantas berbalik badan, dan terlihat membayar biaya perawatan ibu.


"Udah beres, Ra." ucapnya, yang membuatku sedikit lega. Tanpa berpikir apapun lagi, aku lantas mengejar para suster yang membawa ibu ke ruang ICU.


Sesampainya di ruangan tersebut, aku kembali tak di perbolehkan untuk sakadar masuk ke dalamnya. Padahal, aku sangat ingin melihat dan memastikan kondisi ibu.


Hingga salah seorang suster pun memanggil dan menghampiriku, seraya memberi selembar kertas untuk aku tanda tangani.


"Apa ini, sus?" tanyaku, sedikit bingung.


"Mohon maaf sebelumnya, Mbak Nadhira. Kami perlu tanda tangan dari pihak keluarga Ibu Tania, untuk kiranya dapat di lakukan tindakan operasi secepatnya." jawab suster itu, membuatku kembali syok.


"Operasi, sus? Sebenarnya ada apa dengan ibu saya, sus? Kenapa harus di operasi?" tanyaku lagi, penasaran.


"Karena gumpalan darah akibat luka yang di alami oleh Ibu Tania, yang mengakibatkan terjadinya penyumbatan pada aliran darahnya. Dan, kalau di biarkan terlalu lama, kami khawatir akan mengakibatkan pembengkakkan pada bagian pergelangan tangannya, sehingga tidak dapat melakukan aktifitas seperti biasanya. Karena pembengkakkan tersebut menimbulkan rasa nyeri yang sangat luar biasa." jawabnya lagi, seraya menjelaskan padaku.


Saat itu juga, aku menyetujui dan menandatangani surat tersebut. Berharap, jika ibu dapat segera sembuh. Dan seketika, ibu pun langsung di pindahkan ke ruang operasi.


*****


"Gimana keadaan nyokap lo, Ra?" tanya Rima, yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapanku.


"Gue belum tahu, Rim. Semoga aja operasinya lancar, dan nyokap gue baik-baik aja." jawabku, sedikit berharap.


Rima pun mengangguk, dan lantas terduduk di sampingku. Saat itu, aku sempat terpikirkan akan biaya yang telah ia bayar untuk perawatan ibu tadi.


"Rim, gimana caranya gue bisa bayar hutang-hutang gue? Jujur, gue gak bisa kalo harus bayar secepatnya." ucapku, yang lantas bertanya pada Rima.


"Ra! Sekarang, mendingan lo gak usah dulu deh pikirin soal biaya. Mending lo fokus dulu jagain ibu lo, fokus ke kesehatannya. Biar soal biaya, itu jadi urusan gue sama om gue ya. Lo tengang aja, Ra!" sahut Rima, sedikit membuatku lega. Tanpa sadar, aku pun tak kembali bertanya tentang sebutan om yang sedari tadi ia sebutkan.

__ADS_1


Aku malah hanya mengangguk, dan kembali terdiam memikirkan kondisi ibu yang sudah hampir satu jam di ruang operasi.


Beruntungnya, tak lama kemudian seorang dokter pun akhirnya keluar dari ruangan tersebut. Aku lantas berdiri dan menghampirinya.


"Dok! Gimana keadaan ibu saya?" tanyaku, begitu cemas.


"Alhamdulillah, operasi Ibu Tania berhasil, dan berjalan dengan cukup lancar." jawab dokter tersebut, sambil tersenyum lebar.


"Alhamdulillah," ucapku, bersamaan dengan Rima.


Rasanya sangat amat lega, ketika mendengar operasi ibu yang berhasil, dan kondisinya baik-baik saja.


Aku sangat tak sabar ingin masuk dan menjenguk ibu. Namun, dokter masih belum memperbolehkan aku untuk menjenguknya, sebelum ibu di pindahkan kembali ke ruang rawat inapnya.


*****


Beberapa jam telah berlalu, ibu pun telah di pindahkan ke ruang inap. Suster juga telah memberitahu, jika aku telah di perbolehkan untuk menjenguknya.


Aku masih tak menyangka, jika akan separah ini kondisi ibu ketika aku yang meninggalkannya sendirian di rumah.


Rasa penyesalan dalam diriku pun tiba-tiba saja muncul. Hingga air mata kembali tak tertahan, dan akhirnya menetes.


Perlahan, aku mendekat ke arah ranjangnya, tempat di mana ia tengah berbaring. Ku sibakkan rambut ibu yang sedikit menempel di dahinya.


Tak lupa juga aku mengecup keningnya, seraya berbisik di telinganya, "Nadhira sayang banget sama ibu. Ibu cepet sehat ya! Banyak banget hal yang Nadhira mau ceritain ke ibu. Cuma ibu, satu-satunya orang yang Nadhira punya saat ini. Cuma ibu, yang Nadhira butuhin saat ini. Cepet sembuh ya, bu. Nadhira kangen banget sama ibu, kangen pelukan ibu." bisik ku dengan lirih.


Hingga tiba-tiba, ibu menggerakkan jari tangannya. Matanya pun ikut terbuka secara perlahan, sontak membuatku sedikit terkejut.


Aku pun berteriak memanggil dokter dan suster. Beruntungnya, beberapa suster dengan cepat menghampiriku dan kembali memeriksa kondisi ibu.

__ADS_1


Namun, hal tak terduga pun terjadi. Begitu suster menyatakan jika ibu telah sadar, pasca operasi yang di jalaninya beberapa jam lalu.


Ibu terlihat berontak, dan seketika melepas selang oksigen yang tengah menempel di hidungnya. Ia juga lantas beranjak duduk, seraya ingin mencabut selang infusnya.


Beberapa suster yang tengah memeriksanya pun dengan cepat menahannya, begitu juga dengan aku. Kemudian, salah seorang dari mereka terlihat berlari keluar, seraya meminta bantuan kepada satpam yang tengah berjaga.


Kepanikan kembali muncul, ketika kami tak kuat menahan ibu yang semakin berontak. Hingga terlihat tangannya yang mengeluarkan banyak darah, akibat ibu yang banyak melakukan perlawanan.


Hingga tak lama kemudian, beberapa satpam pun lantas masuk dan ikut menahan ibuku.


Yang kemudian, suster dengan cepat menyuntikan obat ke punggungnya. Berharap, ibu bisa menjadi sedikit lebih tenang.


Dan benar saja, beberapa saat kemudian, ibu menjadi lebih tenang, sehingga tak ada lagi pemberontakan yang di lakukan olehnya.


Hingga ketika itu, salah seorang dokter pun masuk dan kembali memeriksa keadaannya. Di barengi dengan suster yang tengah membersihkan darah dari tangannya tersebut.


*****


Beberapa saat kemudian, dokter memintaku untuk ikut ke ruangannya. Membuat aku takut dan sedikit khawatir dengan keadaan ibu.


Meski begitu, aku langsung mengiyakan permintaan dokter tersebut. Aku mengikutinya dari belakang, dan kemudian menyempatkan diri untuk meminta tolong kepada Rima, agar dirinya dapat sejenak menemani ibu di dalam kamar inapnya.


Setibanya aku di ruang dokter, ia pun terlihat memasang wajah seriusnya. Membuatku menjadi semakin bertanya-tanya, "Ada apa ya, sama ibu?"


"Begini, nak. Mohon maaf sebelumnya, jika saya akan sedikit menyinggung perasaan kamu dan juga keluarga Ibu Tania yang lainnya." ucap dokter, seraya memintaku untuk duduk.


"Menyinggung? Menyinggung bagaimana maksudnya, dok? Ada apa?" tanyaku, heran.


"Ada baiknya, jika Ibu Tania lekas di bawa ke rumah sakit jiwa. Demi untuk menghindar dari seseuatu yang buruk terjadi lagi. Kami juga khawatir, jika kondisinya di biarkan saja, maka akan terus-terusan Ibu Tania bisa menyakiti dan melukai dirinya sendiri. Bukan hanya dirinya sendiri, tapi juga orang lain yang berada di sekitarnya." sahut dokter tersebut.

__ADS_1


Aku tak bisa berkata apa pun saat itu, selain menganggukkan kepala ku. Mau ku sebenarnya juga seperti itu, tapi lagi-lagi soal biaya yang menghambat niatku untuk membawa ibu ke rumah sakit jiwa.


__ADS_2