Di Balik Seragam SMA

Di Balik Seragam SMA
Bab 3. Di Datangi Debt Collector


__ADS_3

Satu pekan berlalu, setelah kepergian ayah. Awalnya, aku dan ibuku, merasa baik-baik saja, meskipun kami belum bisa sepenuhnya menerima kepergian ayah.


Hingga suatu hari, hal tak terduga pun mengejutkan kami. Beberapa pria, bertubuh besar, berpostur tegap dan sedikit menyeramkan bagiku.


Mereka mengetuk pintu dengan cukup kencang, aku dan ibu yang kebetulan tengah berada di meja makan, lantas terkejut dan saling menatap.


"Siapa ya, Ra? Kok, kenceng banget ngetuk pintunya?" tanya ibu, yang sebenarnya aku pun bertanya-tanya.


"Nadhira gak tahu, Bu. Ibu tunggu di sini dulu ya, biar Nadhira yang liat siapa yang datang." Sahutku, yang kemudian ibu pun lantas menganggukkan kepalanya. Dan, aku lantas berjalan perlahan menuju ruang tamu, untuk sekedar melihat dan membukakan pintu untuk mereka yang datang.


"Ceklik!"


Aku pun membuka pintu rumahku. Dan betapa terkejutnya aku, ketika melihat beberapa laki-laki yang tengah berdiri tegap, sambil bertolak pinggang, seraya menatapku dengan tatapan yang cukup seram.


.


"Maaf, bapak-bapak ini siapa ya? Dan, ada keperluan apa ya?" ucapku, yang berusaha memberanikan diri untuk sakadar bertanya.


"Heh! Mana tuh, Hadi Atmadjaya? Suruh dia keluar!" cetus salah satu dari mereka, yang ternyata ingin menemui ayah.


"Mohon maaf, Pak. Ayah saya baru saja meninggal dunia, satu minggu yang lalu. Kalau boleh saya tahu, ada keperluan apa ya, Pak? Kenapa, bapak-bapak ini mencari ayah saya? Kalau memang ayah saya punya salah, saya mohon dimaafkan ya, Pak!" sahutku, dengan lugu. Yang kemudian, salah satu dari mereka pun kembali menghampiriku.


Saat itu, aku merasa sedikit deg-degan juga ketakutan. Mengingat, tubuh mereka yang begitu besar, juga raut wajah mereka yang cukup garang, tanpa sedikit pun senyuman yang terlihat dari sudut bibir mereka.


"Jangan bohong! Gue minta, panggil bapak lu, sekarang! Suruh dia temuin kita, cepet!" bentaknya, yang tadi sempat menghampiriku.

__ADS_1


"Ta-tapi, Pak. A-ayah saya, dia benar-benar sudah meninggal. Mana mungkin saya bohong tentang kematian ayah." Sahutku, gugup karena ketakutan.


Mungkin, karena bentakan orang itu yang cukup kencang, membuat ibu lantas keluar dan menghampiriku, juga untuk sakadar menemui orang-orang tersebut.


"Ada apa ini ribut-ribut? Kenapa, Ra? Ada apa?" tanya ibu, keheranan.


Belum sempat aku menjawab dan menjelaskan pertanyaan dari ibu, tiba-tiba saja, orang tersebut menggebrakkan tangannya di pintu rumahku, seraya menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke rumah.


"Kita kesini, cuma mau nagih hutang. Uang sebesar 15,5 Milyar Rupiah, yang di pinjam oleh Bapak Hadi Atmadjaya yang terhormat, sampai detik ini belum juga sedikit pun kami terima atas kewajibannya dalam mencicil hutang-hutangnya tersebut. Jadi, kalau sekarang beliau belum juga mampu membayarkan hutang-hutangnya, dengan terpaksa kami akan menyita seluruh aset miliknya. Termasuk, rumah beserta isinya." ucap laki-laki yang berbadan besar, yang membuat kami lantas tercengang.


Saat itu tubuh ibu langsung terjatuh di atas lantai. Seolah ia terkejut, ketika mendengar penjelasan dari mereka. Begitu besar jumlah hutang yang ditinggalkan ayah, sehingga membuatnya seolah tak percaya dan begitu kebingungan untuk membayar hutang-hutang tersebut.


Aku pun dengan cepat menahan tubuh Ibu. Namun rupanya aku tak mampu untuk menopang tubuhnya sendirian. Yang akhirnya, Aku pun juga lantas terduduk dan menyandarkan tubuh Ibu ke depan dadaku, seraya setengah memeluknya.


Dan kini, Kami diharuskan lagi menerima kenyataan pahit dihidup kami. Yang mana, kami harus menanggung semua hutang-hutang Ayah, yang jumlahnya pun sangat besar bagi kami.


Sementara, perusahaan dan juga seluruh toko retail milik ayah telah tersita oleh bank, karena kerugian yang dialami oleh perusahaan ayah. Namun, ternyata semua itu pun belum cukup. Sekarang, mereka pun juga akan menyita rumah beserta isinya.


"Bagaimana? Bisa dibayarkan sekarang?" lanjut pria tersebut, sambil membungkukkan badannya.


Aku pun hanya bisa tertunduk sambil menangis. Sementara Ibu, ia hanya bisa diam dan juga menangis seperti aku. Kami berdua benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Hutang yang sebesar itu, tidak mungkin bisa kami lunaskan sekarang juga. Sekalipun kami meminta waktu, dari mana uangnya untuk kami bisa membayar.


"Oke! Kita kasih kalian kelonggaran waktu, satu bulan dari sekarang. Ingat! Kalo kalian gak bisa bayar juga, kita gak segan-segan buat bawa permasalahan ini kemeja hijau. Ingat, itu!" bentaknya lagi, membuat kami semakin menunduk ketakutan.


Beruntungnya, para debtcollector tersebut akhirnya pergi dengan sendirinya. Aku pun sedikit merasa lebih lega, karena mereka telah pergi dari hadapan ku.

__ADS_1


Sementara itu, aku berusaha untuk membangunkan Ibu dari pangkuanku. Aku sangat mengerti bagaimana perasaan Ibu saat ini.


Ia pasti sangat bersedih, sangat berat beban hidup yang akan ibuku tanggung setelah kepergian ayah. Belum lagi, ibu harus terus memikirkan kelanjutan hidup kami. Terlebih, biaya hidup yang tak murah di zaman sekarang ini.


"Ra! Ibu gak sanggup, Ra! Ibu gak bisa nanggung semuanya sendirian. Dari mana, ibu bisa bayar hutang-hutang ayah kamu yang sebesar itu? Biaya sekolah kamu, belum lagi biaya makan sehari-hari, Ra. Ditambah, biaya kita untuk sewa rumah kontrakan. Ibu gak tau, Ra. Ibu gak sanggup." Keluh Ibuku, yang terlihat sangat sedih.


"Bu! Ibu tenang aja ya, Bu. Ada Nadhira di sini, yang bakal bantuin Ibu. Nadhira bisa kok, kerja buat bantu bayar biaya-biaya itu. Sepulang sekolah, Nadhira bisa langsung kerja biar Nadhira bisa bantuin Ibu bayar hutang-hutang ayah," ucapku, seraya meyakinkan dan menenangkan Ibuku.


"Kerja? Kerja apa, Ra? Kerja juga paling dapet gaji berapa si, Ra? Gak bakal cukup buat nutup hutang-hutang ayah kamu! Udah, sekarang ibu mau ke kamar. Kamu juga, cepet beres-beres! Karena kita, akan segera kosongkan rumah ini." perintah ibuku, sambil berjalan ke arah kamarnya.


Aku yang cukup terkejut dengan ucapan ibu, yang menyuruhku untuk bersiap-siap mengosongkan rumah ini, aku pun kembali bertanya pada ibuku.


"Kosongin rumah ini? Apa, kita bakalan pindah dari sini, Bu?" tanyaku, yang membuat ibu menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arahku.


"Ya, iya, Ra! Apa kurang jelas ucapan ibu? Kamu tahu kan? Ayah kamu itu pergi dengan meninggalkan hutang yang sangat besar. Semuanya udah disita sama bank, termasuk rumah ini! Apa masih ada alasan buat kita tetap tinggal disini? Enggak ada, Ra! Gak ada!" sahut ibu, yang terlihat begitu marah. Seketika aku terdiam, sambil menitikan air mataku. Sementara ibu, ia langsung kembali berjalan menuju arah kamarnya.


Sejujurnya, aku tidak rela meninggalkan rumah ini. Begitu banyak kenangan di rumah ini. Termasuk kenangan aku bersama ayah.


Tapi, apa boleh buat? Aku hanya bisa berharap saat ini, jika kelak aku akan bisa menebus kembali rumah ini. Karena hanya rumah ini, yang bisa terus membuat kami mengenang ayah dan kebersamaan keluarga kecil kami.


Aku pun ikut beranjak masuk ke dalam kamar. Dengan berat hati, aku keluarkan beberapa koper, yang tersimpan rapih di dalam lemariku.


Sedikit demi sedikit, aku menurunkan tumpukkan baju yang masih tersusun rapih di dalam lemari. Sambil terus mneteskan air mata, aku pun menyempatkan untuk melihat ke setiap sudut kamar ku.


Rasanya, sangat amat berat! Tapi, inilah kenyataan yang harus aku terima. Ditinggal ayah dengan begitu cepat, meninggalkan rumah, dan menjalani hidup dengan jauh dari kata biasa. Sebagaimana kehidupanku, sebelum ayah pergi meninggalkan kami. Hingga akhirnya, jeritan ibu membuat aku seketika melupakan semua kenangan itu.

__ADS_1


__ADS_2