
Pagi itu, aku bertekad untuk kembali bersekolah. Aku mulai berkemas, merapikan semua buku-buku beserta alat tulisnya.
Meskipun berat untuk meninggalkan ibu di rumah, tapi aku harus mencobanya. Jujur, aku sangat khawatir dengan keadaan ibu, tapi aku juga tidak ingin berlama-lama meninggalkan sekolahku.
Begitu banyak impian yang harus aku capai, salah satunya adalah dapat segera lulus dari sekolah ini.
Jika aku telah lulus sekolah, itu artinya aku punya banyak waktu di setiap harinya. Dengan waktu tersebut, aku dapat pergunakan waktu ku untuk terus bekerja.
Karena dengan bekerja, aku akan mendapatkan penghasilan. Berapa pun penghasilannya, yang penting aku bisa terus membiayai pengobatan ibu, juga membiayai kebutuhan sehari-hari.
Sebelum berangkat ke sekolah, aku sempatkan diri untuk sejenak menengok ibu. Aku juga telah menyiapkan beberapa makanan, juga minuman untuknya.
Ku taruh semua itu di atas meja kamarnya. Karena saat itu, aku melihat ibu yang masih tertidur lelap. Aku pun perlahan menghampirinya, ku kecup lembut keningnya, juga ku basuh rambut hitamnya.
"Nadhira pamit ke sekolah dulu ya, bu. Ibu baik-baik di rumah. Nadhira harap, ibu bisa cepat kembali sehat seperti sedia kala. Nadhira kangen sama ibu, kangen sama ayah, kangen sama semua kebersamaan kita dulu. Nadhira juga gak tahu, bu, apa Nadhira bisa ngejelanin ini sendirian. Ngelewatin semua cobaan ini tanpa dukungan dari ibu, dan juga ayah. Nadhira takut, bu! Takut!" bisik ku perlahan, di telinganya. Hingga tak sadar, jika ternyata air mataku menetes.
Setelah memastikan jika ibu baik-baik saja, aku pun lantas keluar dari dalam kamarnya. Tak lupa, aku kunci pintu kamar tersebut. Berharap, agar ibu bisa tetap berada di dalam kamarnya, hingga aku pulang nanti.
****
Pagi ini, pagi di mana pertama kalinya aku merasa benar-benar sendirian. Tak ada lagi kecupan kasih sayang, yang biasa aku dapatkan dari kedua orang tuaku.
Bahkan, ucapan selamat pagi ketika aku baru saja terbangun dari tidurku, tak lagi ku dengar pagi ini.
Pagi, di mana aku memulai segala sesuatunya seorang diri. Hal yang tak pernah aku lakukan sebelumnya, kini harus aku lakukan.
Di mana aku harus bangun lebih awal, untuk sakadar menyiapkan sarapan untuk ibuku. Menyiapkan seragam sekolah, yang akan aku kenakan. Karena sebelumnya, semua di kerjakan oleh asisten rumah tanggaku.
"Ya, Tuhan. Aku mohon, sembuhkanlah ibuku. Aku tidak akan pernah sanggup untuk menghadapi dunia ini sendirian. Aku butuh ibu, untuk terus menemani perjalanan hidupku." Do'a ku, dalam mengawali langkah untuk menuju ke sekolah.
Sebelum menuju ke sekolah, aku menyempatkan diri untuk sakadar mampir ke rumah Pak Rt. Aku ingin meminta tolong padanya, agar beliau dapat sesekali melihat kondisi ibu, selama aku berada di sekolah.
__ADS_1
Beruntungnya, Pak Rt langsung mengiyakan permintaanku. Aku pun lebih lega, dan merasa jauh lebih tenang meninggalkan ibu. Meskipun, rasanya masih terlalu berat.
Dari rumah Pak Rt, aku pun langsung berjalan kaki menuju ke sekolah. Hingga tak lama kemudian, aku pun tiba tepat di depan gerbang sekolahku.
Ku hentikan sejenak langkah kaki ku. Ku rasakan denyut jantungku yang berdegup cukup kencang. Keraguan pun tiba-tiba saja datang, membuatku lantas mengurungkan niatku untuk terus melangkah ke dalamnya.
"Bismillah," ucapku dalam hati, sambil ku mantapkan tekad untuk terus melanjutkan sekolah.
Ku pasang wajah ceriaku, dan bergegas melangkah memasuki perlahan koridor sekolah. Aku berharap, semua masih sama seperti sebelumnya.
"Hai, Ra!" terdengar seseorang yang menyapaku. Aku pun menoleh, dan terlihat ada Dhea yang tengah tersenyum menghampiriku.
Saat itu, aku hanya bisa terdiam. Dan entah apa yang aku rasakan, ketika Dhea menyapaku. Seketika aku sangat bingung, bingung bagaimana untuk bersikap di hadapan teman-temanku.
"Ra! Kenapa? Masih sedih ya? Sorry ya, Ra. Gue gak bisa nemenin lo kemaren-kemaren ini. Karena, lo tau sendiri kan? Tugas banyak banget, Ra. Tapi, gue seneng banget, akhirnya lo bisa cepet balik ke sekolah. Lo sehat kan, Ra? Ibu lo, gimana? Sehat juga kan?" tanya Dhea, yang membuatku lantas berpikir jika mungkin, Dhea tengah mengetesku, atau dia benar-benar tidak tahu kondisiku.
Aku hanya membalas senyumannya saja, dan memilih untuk tidak menjawab satu pun di antara pertanyaan tersebut.
Karena segala kisah apapun, aku pastikan untuk bercerita padanya. Tapi, entah kali ini rasanya sulit untuk menceritakan semuanya pada Dhea.
Padahal, aku sangat butuh seseorang untuk berbagi cerita pilu ini. Seseorang yang mau mendengarkan keluh kesahku. Tapi, aku merasa malu untuk menceritakannya kepada siapa pun.
"Ra! Lo, marah ya sama gue?" lanjutnya lagi.
"Enggak, Dhe. Ngapain juga gue marah sama lo?" sahutku, yang lantas merangkulnya.
"Uuh! Kangen banget sama lo, Ra. Kalo lo ada apa-apa, jangan sungkan ya, buat cerita sama gue. Gue, akan selalu jadi pendengar yang baik buat lo, Ra." ucap Dhea, yang juga membalas merangkulku.
Aku kembali tersenyum, dan rasanya ingin sekali aku menceritakan semuanya pada Dhea. Namun, sebisa mungkin aku menahannya. Selain karena malu, aku juga tidak ingin jika Dhea menjauhiku.
Kami pun akhirnya berjalan menuju ruang kelas. Melihat dan bertemu dengan semua teman-teman, membuatku sedikit melupakan tentang beban hidup yang tengah aku pikul saat ini.
__ADS_1
Suara sapaan mereka, yang terlihat begitu antusias menyambut kembali kehadiranku di sekolah, membuatku merasa semakin bersyukur dan bahagia.
Hingga tiba-tiba, kehadiran Rima yang membuatku kembali merasa deg-degan. Karena hanya dia yang tahu kondisiku saat ini seperti apa.
"Hai, Ra!" sapanya, dengan wajah yang sedikit jutek.
"Hai, Rim!" jawabku, penuh ragu.
"Gue kira, lo gak bakal balik lagi ke sekolah ini. Karena kan..." celetuknya, yang dengan cepat aku alihkan pembicaraannya.
"Eemmm, sorry, Rim. Kayaknya, gue pengen cepet-cepet duduk deh." Aku pun dengan cepat meninggalkan Rima, dan sedikit menarik tangan Dhea, untuk mengajaknya ikut bersamaku.
Aku tahu, jika Dhea menatapku seolah bingung dengan sikapku terhadap Rima, yang terkesan enggan untuk menanggapinya.
Tapi, aku berusaha bersikap biasa saja. Aku tidak ingin jika Dhea menjadi penasaran, karena sebelumnya aku dan Rima memang tidak pernah ada masalah yang membuat kita terlihat saling menjaga jarak seperti sekarang ini.
"Krriinnggg.. Krriinnggg.."
Terdengar suara bel yang berbunyi, karena waktu telah menunjukkan pukul 07.00wib, yang mana berarti jam pelajaran akan segera di mulai.
Saat itu, seluruh murid di kelasku terdiam, sambil mereka menunggu kehadiran Pak Roni, selaku guru matematika, juga wali kelasku yang akan mengisi mata pelajaran pertama.
Terdengar langkah seseorang yang hendak berjalan menuju ruang kelasku.
"Ssssttt! Eh, ada Pak Roni, dateng. Cepet-cepet, duduk yang rapih!" ucap Hani, selaku ketua kelas.
Suasana kelas pun seketika menjadi hening, dan ku dengar suara Pak Roni yang tengah mengucap salam, seraya masuk ke dalam kelas.
"Assalamu'alaikum, selamat pagi, semuanya!" ucap Pak Roni.
"Wa'alaikumsalam, pagi juga, Pak!" jawab seluruh murid, secara serentak.
__ADS_1
Namun, ku lihat Pak Roni tak sendirian. Ia masuk bersama seorang siswa, yang wajahnya belum pernah ku lihat sebelumnya.