Di Balik Seragam SMA

Di Balik Seragam SMA
Bab 2. Pemakaman Ayah


__ADS_3

Sesampainya kami di area parkir, Pak Darmo lantas membukakan pintu mobil seraya menuntunku untuk segera masuk. Pak Darmo ikut masuk ke dalam mobil dan kemudian menyalakan mesin. Hingga akhirnya, kami segera melaju menuju rumah.


Tak lama kemudian, kami tiba tepat di depan gerbang rumah. Sesaat setelah Pak Darmo menghentikan laju mobil yang dikendarainya, aku lantas bergegas turun dan berlari menuju pintu rumah. Betapa hancurnya perasaanku saat itu ketika melihat ada beberapa bendera kuning yang berkibar di teras rumahku yang juga tertulis nama ayahku dengan cukup jelas. Aku berusaha menguatkan kaki untuk terus berjalan masuk ke dalam rumah. Namun, lagi-lagi, aku mulai histeris.


Aku melihat seseorang yang tengah terbaring dan diselimuti kain panjang dengan wajah tertutup kain berwarna putih. Ia dikelilingi banyak orang yang membacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Aku seketika kembali berlari, menghampiri dan memastikan siapa sebenarnya orang yang tengah terbaring karena wajahnya tertutup kain putih.


Namun, saat itu orang-orang dengan cepat menahan langkahku. Aku berusaha untuk sedikit memberontak. Hingga aku sadar, ketika ibuku datang menghampiri dan langsung memeluk. Aku dan ibu seketika menumpahkan segala tangis serta kesedihan kami. Hingga ibu akhirnya terkulai lemas, seolah tak sadarkan diri. Mereka yang tengah duduk mengelilingi jasad ayahku, dengan cepat beranjak dan membawa ibuku masuk ke dalam salah satu kamar yang ada di rumah.


Bukan aku tak peduli dengan keadaan ibuku. Namun, aku ingin memastikan jika seseorang yang tengah terbujur kaku itu adalah benar-benar ayahku. Hingga kesempatanku untuk memastikan hal tersebut akhirnya kudapati. Ketika mereka yang tengah sibuk membawa ibuku masuk ke dalam kamar, aku perlahan mendekat ke arah orang itu, dan menyingkap kain putih yang menutupi wajahnya. Dengan masih berharap, jika itu bukanlah ayahku.


Namun, aku kembali menumpahkan segala tangis ketika kudapati wajah ayah terlihat dengan begitu jelas. Aku langsung memeluk jasad ayah yang berada tepat dihadapanku. Seolah berharap jika ayah hanya tertidur pulas saat ini. Aku menggoyangkan seluruh tubuhnya, berharap ayah terbangun dan memelukku.


"Ayah! Bangun, Yah! Jangan tinggalin Nadhira dan Ibu! Ayah pasti gak tega ‘kan, liat Ibu nangis dan sedih kayak sekarang. Nadhira mohon, Yah! Bangun!" teriakku sambil terus mengoyak tubuh ayah yang telah terbujur kaku.


Sebagian orang yang mendengar teriakan ku akhirnya kembali menghampiri. Mereka memegangi dan menahanku untuk tidak mendekat ke jasad ayah. Saat itu, dunia terasa kejam bagiku. Aku tak lantas bisa menerima kenyataan, jika ayah telah pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Begitu juga dengan ibuku yang faktanya, telah beberapa kali kehilangan kesadaran ketika mengingat kenyataan jika suaminya telah berpulang untuk selamanya.

__ADS_1


Hingga waktu pemandian ayah pun tiba. Mereka telah menyiapkan segala sesuatu untuk membersihkan tubuh ayah terakhir kalinya. Aku dan ibuku benar-benar tak sanggup melihatnya. Ketika tubuh kaku ayah diangkat oleh beberapa orang untuk segera dimandikan.


Pak Rahmat, selaku orang yang membantu untuk mengurus jenazah ayahku, lantas meminta aku dan ibuku untuk mengikhlaskan kepergian orang terkasih kami. Beliau juga meminta kami untuk sekedar mencium kening ayah sebagai tanda kasih sayang dan juga penghormatan terakhir yang sebentar lagi akan dikebumikan.


Aku menarik napas dalam-dalam karena tidak cukup yakin untuk bisa melakukan hal tersebut, begitu juga dengan ibu. Ibuku terlihat tengah berusaha untuk menguatkan hatinya ketika ia akan mencium kening ayah. Rupanya, tak bisa untuk sejenak menahan rasa sedihnya. Tangisnya kembali pecah, ketika wajahnya berhadapan dengan wajah ayahku yang telah memejamkan mata untuk selama-lamanya.


"Mas! Kenapa kamu tega? Ninggalin aku, dan Nadhira, di rumah yang sebesar ini. Kamu pernah janji sama aku, Mas! Kamu gak akan pernah pergi, apa lagi secepat ini. Nadhira masih butuh kamu, Mas! Begitu juga dengan aku! Bangun, Mas! Aku mohon, bangun! Bangun, Mas! Bangun!" terdengar teriakan ibuku, yang semakin kencang.


Aku pun seketika menghampiri ibu, yang tengah berlutut dan membungkukkan badannya, seraya memeluk jenazah ayah.


Hingga akhirnya, wajah ayah pun tertutup rapat dengan kain putih yang juga membungkusnya, yang sebelumnya telah dilapisi dengan kapas. Pak Rahmat pun kemudian melanjutkan dengan mengikat kain putih tersebut di bagian atas kepalanya. Kemudian, seluruh tubuh ayah akhirnya tak lagi dapat terlihat sedikit pun. Jenazah ayah kini siap untuk segera disholatkan.


Aku dan ibuku terus berusaha untuk tegar dan kuat. Hingga akhirnya, kami pun bisa sejenak melupakan kesedihan ini. Demi bisa mengantar ayah, untuk ketempat peristirahatannya yang terakhir.


Beberapa orang terlihat mengangkat jenazah ayah, untuk di letakkan pada sebuah keranda yang akan membantunya dalam perjalanan menuju liang lahat.

__ADS_1


Dengan dilapisi tikar pandan, tubuh ayah kini telah berada di dalam keranda tersebut. Yang kemudian, mereka pun menutup kerandanya dan meminta izin kepadaku dan juga ibuku, untuk lantas membawa jenazah ayah ke sebuah Masjid, untuk segera disholatkan.


Aku dan ibuku juga dengan cepat mengiyakannya. Hingga jenazah ayah akhirnya telah siap untuk di gotong dan dibawa ke sebuah masjid, yang tak jauh dari rumah.


Tak lama kemudian, kami pun tiba di masjid. Jenazah ayah kini diletakkan tepat di belakang mimbar. Para jama'ah seketika mengambil posisi, dan merapatkan shaf mereka, atau yang biasa juga disebut dengan barisan sholat, dan kemudian langsung mulai mensholatkan jenazah ayah.


Sebuah keranda yang kini menjadi kendaraan terakhir ayah, lantas di gotong oleh beberapa orang yang juga turut hadir dalam membantu pemakamannya.


Hingga pada akhirnya, kami pun tiba pada salah satu tempat pemakaman umum. Sambil terus melafalkan kalimat Tauhid, yang kemudian mengantarkan ayah sampai pada liang lahatnya.


Keranda yang menjadi kendaraan ayah saat itu pun kembali di letakkan tepat disamping makam ayah. Mereka pun terlihat berusaha membuka penutup keranda tersebut, dan kembali menggotong jenazah ayah untuk segera dimasukkan ke liang lahat.


Terlihat beberapa orang yang telah berada dan mengambil posisi di dalamnya,, untuk sakadar membantu proses pemakaman ayah, agar dapat segera dikebumikan.


Jenazah Ayah akhirnya telah berhasil masuk ke dalam liang lahat. Yang kemudian, salah seorang dari mereka pun mengumandangkan adzan, dan juga iqomah.

__ADS_1


Hingga akhirnya, dinding ari yang menjadi penutup bagi jenazah ayah. Mereka yang berada di dalam kubur, akhirnya kembali naik ke atas permukaan. Dan kemudian, jenazah ayahpun lantas ditimbun oleh tanah.


__ADS_2