Di Balik Seragam SMA

Di Balik Seragam SMA
Bab 5. Rumah Yang Di Sita


__ADS_3

"Ibu!" teriak ku, dengan sangat kencang. Sambil berlari menghampiri Ibuku yang hampir saja tertabrak oleh sebuah truck yang melintas.


Beruntung, sang sopir itu dengan cepat menahan rem mobilnya. Hingga Ibuku pun terbebas dari kecelakaan, yang mungkin bisa saja dengan cepat merenggut nyawanya.


Tapi, karena sang sopir yang mendadak menahan remnya, membuat kendaraan yang di belakangnya pun tak sengaja menabrak truck tersebut.


Dan beruntungnya lagi, tidak ada korban jiwa dari kecelakaan tersebut. Hanya saja, mereka menuntut ganti rugi atas kerusakan yang terjadi, akibat Ibuku yang dengan sembarang menyebrang jalan.


Aku tak memiliki pilihan lain, selain uang bantuan yang di berikan para warga tadi, akhirnya aku serahkan kepada mereka, sebagai uang ganti rugi yang sebagaimana mereka tuntut kepada ibu.


Awalnya, mereka tidak mau menerimanya. Karena uang itu masih jauh dari kata cukup untuk menggantikan biaya kerusakan yang mereka alami.


Namun, setelah Pak Rt dan beberapa warga lainnya yang membantuku untuk menjelaskan tentang kondisi Ibu saat itu, akhirnya mereka bisa mengerti dan mau menerima uang tersebut.


Tapi karena kejadian itu, aku sama sekali sudah tidak ada bayangan lagi untuk biaya, agar bisa membawa ibu ke psikolog.


Hingga akhirnya, kami pun kembali masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Ibu. Yang mana setelah kejadian tersebut, ibu terlihat begitu ketakutan. Terlihat dari sikapnya, dan juga kedua tangannya yang selalu menutup kedua telinganya. Dan sesekali, aku pun berusaha untuk terus memeluknya.


Tak lama kemudian, kami semua tiba kembali di rumahku. Dan betapa terkejutnya aku ketika turun dari mobil, aku mendapati rumahku yang telah terpasang segel.


Aku pun melihat ada sebuah papan yang menempel tepat di depan pintu rumahku. Papan tersebut bertuliskan jika rumah ini telah di sita oleh bank.


Tubuhku seketika melemas, air mataku juga tak mampu lagi untuk ku bendung. Aku hanya bisa bertekuk lutut, melihat rumah ku tersegel rapat. Melihat pula beberapa tas dan juga koper, telah berjejer di depan teras rumah ku.


"Ya, Tuhan! Apa salahku? Kenapa cobaanMu begitu berat?" batinku, yang terasa begitu pilu.


Isak tangisku ternyata tak mampu lagi utntuk bisa aku sembunyikan. Hingga salah seorang warga pun menghampir dan sejenak membantuku untuk sakadar berdiri.


Om Setyo, warga yang tadinya membantuku untuk sakadar berdiri. Kini, ia lantas memelukku dengan air mata yang terlihat mengalir deras di pipinya.


"Menangislah! Jika memang hanya tangisan, yang bisa membuatmu tenang." ucap Om Setyo, begitu lirih.

__ADS_1


Aku tak begitu menghiraukan ucapannya saat itu. Namun, aku lantas melepaskan pelukanku, dan seketika beralih untuk memeluk ibuku.


Sabar, sabar, dan sabar! Itulah yang selalu ku dengar dari beberapa ucapan mereka. Tapi, saat itu aku hanya berpikir, jika mereka hanyalah berusaha untuk menenangkan ku. Jika mereka yang berada di posisiku saat ini, aku yakin mereka juga tidak akan sanggup untuk menerimanya.


Tapi, masa bodo dengan semua itu. Yang jelas, hari ini rasanya seluruh kekuatanku telah sedikit merapuh. Terlebih, aku tidak tahu lagi kemana aku dan ibuku akan bernaung. Membawa badanku, juga ibuku yang tengah sakit.


Beruntungnya, saat itu ada Rima, teman sekolahku. Ia tak sengaja lewat di depan rumahku, dan melihat keadaan ku yang seperti ini.


Telah beberapa hari aku tidak masuk ke sekolah, sejak ayah di kabarkan telah meninggal dunia pada saat itu.


"Ra!" panggilnya, dengan cukup lirih.


Aku pun sedikit terkejut dengan kehadiran Rima yang secara tiba-tiba. Sontak saja membuatku sedikit takut, jika Rima akan menceritakan kondisiku saat ini kepada teman-teman di sekolah. Karena, tak terbayang jika mereka meledek kondisiku yang sekarang ini.


"Rima! Pelase, Rim! Jangan bilang-bilang ini semua ke temen-temen, ya. Tolong! Tolong banget, Rim!" ucapku, sambil menggenggam kedua tangan Rima, seraya sedikit memohon dan juga berharap padanya.


"Tenang aja, Ra! Gue gak bakalan kok, bilang semua ini ke mereka. Malah, gue pengen banget bantuin lo, Ra." Sahut Rima, yang membuatku lantas merasa sedikit tenang.


"Engga! Gak usah, Rim. Gue bisa cari rumah sewaan yang murah kok, buat gue tinggal sama nyokap gue. Thanks ya, Rim! Gue, cuma gak mau ngerepotin siapa pun." Ucapku, yang lantas menolak tawaran Rima.


"Kalo gitu, kalian bisa kok, tinggal di rumah kontrakan saya. Dan, kamu gak usah khawatir buat biaya sewanya." celetuk Om Setyo, yang seketika Pak Rt dan para warga pun setuju dengan tawarannya. Begitu juga dengan aku, yang saat itu tidak bisa berpikir apa pun lagi, selain aku bisa memiliki tempat tinggal yang layak untuk ibuku.


Akhirnya, kami pun berjalan perlahan menuju rumah sewaan tersebut. Dengan di antar oleh Om setyo, dan juga Rima, temanku.


Tak membutuhkan waktu lama, untuk kami bisa sampai di rumah tersebut. Om Setyo pun langsung memberikan kunci rumahnya, sambil ia mengatakan jika akan membebaskan uang sewanya untuk tiga bulan pertama.


Aku begitu bahagia ketika mendengarnya. Beribu terimakasih pun aku ucapkan padanya. Kemudian, Om Setyo pun lantas pamit untuk segera pulang ke rumahnya.


Karena hari semakin sore, aku pun mengajak Rima untuk sakadar masuk ke dalam rumah kontrakan ku. Aku juga mengantar ibuku masuk ke dalam kamarnya.


Betapa bersyukur dan beruntungnya aku, memiliki tetangga yang begitu peduli padaku dan juga ibuku. Meskipun rumah ini tidak terlalu besar, tapi rumah ini memiliki dua kamar tidur yang cukup luas untuk kami berdua.

__ADS_1


Apalagi, rumah ini sudah di lengkapi dengan segala perabotan rumah tangga, seperti tempat tidur, lemari baju dan juga beberapa alat-alat rumah tangga lainnya.


Aku pun meminta ibu untuk sejenak berbaring di atas kasur yang telah tersedia di dalam kamarnya, untuk sejenak dapat beristirahat. Karena, aku melihat jika ibu masih sedikit merasa ketakutan atas kejadian tadi yang menimpanya.


Ibuku lantas menurutinya, ia pun terbaring hingga akhirnya tertidur pulas. Aku pun bergegas keluar dari kamarnya, setelah aku memastikan jika ibu telah benar-benar terlelap.


Kemudian, aku kembali menghampiri Rima yang tengah terduduk di ruang tamu. Rima pun terlihat tersenyum, ketika ia mengetahui kehadiranku.


"Ra!" panggilnya, seakan ada sesuatu yang ingin ia sampaikan padaku.


"Kenapa, Rim?" tanyaku, sedikit penasaran.


"Gue bener-bener turut prihatin ya, sama keadaan lo yang sekarang. Sorry! Gue gak bisa bantu apa-apa, Ra." sahutnya, membuatku lantas membalas senyumannya.


"Thanks, Rim! Lo bisa care kayak gini aja, gue udah seneng banget kok. Tapi, Rim, gue bener-bener minta tolong, ya. Jangan sebarin kondisi gue ini ke siapa pun, please!" timpalku, yang kembali memastikan agar Rima menutup rapat kondisi ku saat ini.


"Tenang aja, Ra! Gue janji, gue gak bakalan bilang ke siapa pun soal ini. Tapi, Ra..." ucap Rima, yang terlihat ragu untuk meneruskan ucapannya.


"Tapi? Tapi apa, Rim?" tanyaku, penasaran.


"Gimana sama nyokap lo? Gimana sama sekolah lo? Gimana sama biaya lo sehari-hari, buat makan lo, sama nyokap lo?" jawab Rima, yang ternyata tengah memikirkan aku dan juga ibku.


"Gue bisa kerja kok, Rim. Apa pun! Uangnya nanti bisa gue pake buat bayar sewa rumah, sekolah, dan biaya sehari-hari gue sama nyokap gue. Ya, syukur-syukur gue bisa nabung buat biaya berobat nyokap gue, Rim." Ucapku, sambil sedikit tersenyum untuk menyembunyikan rasa pedihku di hadapan Rima. Padahal, aku sendiri belum tahu, aku bisa secepatnya dapat pekerjaan, atau tidak.


"Kerja apa pun?" tanyanya, lagi. Sedikit tak percaya padaku.


"Iya, kerja apa pun itu. Yang penting, gue bisa menghasilkan uang, demi kelanjutan hidup gue." Jawabku, sedikit asal.


"Termasuk jadi cewek bayaran?" celetuknya, membuatku sedikit tercengang dan seolah tak mengerti dengan apa yang Rima ucapkan saat itu.


"Maksud lo, Rim?" tanyaku, menegaskan.

__ADS_1


"Eemmm.. Enggak, Ra. Gak ada maksud apa-apa kok." jawab Rima, terlihat berbohong. Aku pun hanya mengangguk, tanpa ingin tahu lebih lanjut.


__ADS_2