
"Kenapa? Kenapa, kamu ninggalin aku secepat ini, Mas? Aku gak sanggup, Mas! Aku gak sanggup!" Teriak ibu, yang semakin santar terdengar.
Aku lantas beranjak dan berlari keluar dari kamarku. Suara pecahan beling pun, kini terdengar. Hatiku semakin tak karuan, ketika aku membuka pintu kamarnya.
Aku melihat ibu yang tengah bertekuk lutut, dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Melihat kamarnya yang sangat berantakan, dan banyak pecahan beling yang berserakan di sekitarnya.
"Ibu!" teriak ku, dengan heran. Perlahan, aku menghampirinya..
"Ada apa, bu? Kenapa semuanya jadi berantakan begini?" tanyaku, perlahan. Sambil membantunya berdiri.
"Kamu! Kamu yang udah membunuh suamiku! Kenapa? Apa salah suamiku? Jahat, kamu!" teriak ibu, yang membuat aku seketika bingung.
Sesaat kemudian, ibu terlihat tertawa, dan kembali berteriak, bahkan mendorongku. Aku benar-benar takut.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu?" Lagi-lagi, hanya pertanyaan itu yang selalu muncul di kepalaku.
Aku kembali menangis, menatap sayu ke wajah ibu. Aku juga berusaha mendekat ke arah ibuku. Aku masih penasaran, dengan apa yang terjadi padanya. Perlahan, aku sentuh bahunya. Namun, kali ini tak ada reaksi apapun darinya.
Hati ini tak lagi mampu menahan tangis, ketika aku melihat tatapan kosong di mata ibu. Aku pun lantas berpikir, "Apa Ibu mengalami gangguan kejiwaan? Apa seperti ini, keadaan orang yang jiwanya tengah terguncang?" pikirku.
"Ah, gak mungkin! Aku tahu, ibu wanita yang kuat. Gak mungkin, kalo hanya karena ditinggal ayah, ibu jadi gila!" lanjut ku, membantah apa yang ada di pikiranku saat itu.
Namun, melihat dan memperhatikan apa yang terjadi dengan ibu saat ini, membuat aku semakin takut. Takut, jika apa yang aku pikirkan pada ibu, ternyata benar.
Aku pun memeluk erat tubuh ibu. Dan, ibu benar-benar tidak membalas pelukan ku saat itu. Ia hanya terlihat melamun, dengan tatapan kosong, dan wajah yang terlihat sendu.
Tangis pun semakin pecah, ketika aku melihat sikap aneh ibu. Ia kembali mendorongku, dan berlari mengambil sebuah guling, yang ada di atas tempat tidurnya.
Ia lantas terduduk, sambil kakinya bertekuk dan kedua tangannya memeluk guling tersebut. Air matanya kini mulai menetes. Namun, tak ada sepatah kata pun yang aku dengar dari mulutnya.
Aku pun bergegas keluar rumah untuk meminta pertolongan pada salah seorang tetangga ku. Beruntungnya, ia mau menolongku, untuk sakadar melihat kondisi ibu.
"Ra! Gimana awalnya, sampe ibu kamu bisa kayak gini sekarang?" tanya Tante Rina, sedikit cemas.
"Nadhira gak tahu, Tante. Sebelumnya, ibu baik-baik aja. Dan, ibu juga masih sempat nyuruh Nadhira untuk beres-beres. Karena katanya, kita akan segera pindah dari rumah ini. Sampe akhirnya, Nadhira denger teriakan ibu. Dan, waktu Nadhira masuk ke kamarnya, Nadhira udah lihat sikap ibu yang aneh, juga kamarnya udah berantakan kayak gini." Jawabku, yang sebisa mungkin menjelaskan kepada Tante Rina.
"Tante gak bisa berbuat apa-apa, Ra. Apa lagi, liat kondisi ibu kamu yang seperti ini. Ada baiknya, kita bicarakan dulu dengan Pak Rt ya, Ra. Siapa tahu, beliau bisa bantu kita untuk memastikan kondisi ibu kamu saat ini. Seenggaknya, mungkin dia bisa panggil dokter atau yang lainnya. Kalo Tante yang ambil sikap, takutnya Tante salah, Ra." ucap Tante Rina, membuat hatiku semakin tak karuan.
__ADS_1
Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku, sambil meminta tolong kepada Tante Rina, untuk membantuku membicarakan soal kondisi ibu kepada Pak Rt.
Tante Rina pun mengiyakan permintaan tolong yang aku ajukan padanya. Sementara, Tante Rina lantas bergegas pergi menuju rumah Pak Rt, aku pun tetap menemani ibu, yang masih terlihat terpuruk atas kesedihannya tersebut.
Hingga akhirnya, tak lama kemudian Tante Rina pun kembali, bersama Pak RT dan juga beberapa warga yang juga ikut memastikan kondisi ibu.
"Neng, saya minta maaf sebelumnya. Apa kiranya ada saudara atau keluarga lain yang bisa dihubungi? Biar saya dan juga para warga tidak melakukan kesalahan karena takut dipikir nantinya kita seenaknya mengambil keputusan," ucap Pak Rt, membuatku sedikit bingung.
"Gak ada, Pak. Ibu udah gak punya siapa-siapa. Ayah saya juga cuma sendirian, gak ada saudara atau pun keluarga lain, selain saya, Pak." sahutku, membuat Pak Rt terlihat sedikit bingung dan mungkin merasa kasihan padaku.
"Yang sabar ya, neng. Gimana, kalo kita bawa ibu kamu untuk periksa kejiwaannya? Mohon maaf kalo sebelumnya mungkin, Neng Nadhira tersinggung. Tapi, ini demi kebaikan ibunya Neng Nadhira juga." Ucapnya lagi, membuat Aku sebenarnya tak terima. Tapi, melihat kondisi ibu, mungkin memang ada baiknya untuk ibu diperiksakan kepada yang ahlinya.
Namun lagi-lagi, aku merasa berat atas biayanya. Aku hanya bisa tertunduk, ketika Pak Rt, Tante Rina, dan juga beberapa warga yang menunggu jawabanku.
"Gak perlu khawatir, Ra. Insya Allah, Tante akan bantu untuk biayanya." Celetuk Tante Rina, yang membuatku sedikit tak percaya, namun merasa begitu lega.
"Iya, Neng. Tenang aja ya. Neng Nadhira gak usah khawatir soal biaya. Kebetulan, kami masih ada uang kas yang memang di peruntukkan jika ada warga yang sakit atau kesusahan." timpal Pak Rt, yang lagi-lagi membuatku merasa sangat lega.
Aku pun mengangguk dan tersenyum lebar, ketika mendengar ucapan Pak Rt dan juga Tante Rina. Sementara itu, Pak Rt pun langsung bergegas menyiapkan mobilnya, untuk membantu membawa ibuku menuju salah satu rumah sakit terdekat.
Aku juga bersiap-siap dan mengajak ibu untuk keluar dari kamarnya. Beruntungnya, kali ini ibu sama sekali tidak memberontak, ketika aku mengajaknya berjalan keluar kamar.
Setibanya kami dirumah sakit, ibu pun langsung diperiksa. Tak ada satu pun orang yang boleh masuk menemaninya, termasuk aku.
Aku dan yang lainnya disuruh sabar untuk menunggu, hingga beberapa lama kemudian, dokter yang tadi memeriksa ibu pun, terlihat keluar dari ruangannya.
Dokter tersebut memanggilku, dan tiba-tiba memintaku untuk masuk ke dalam ruangannya. Mungkin, karena ia tahu jika aku adalah salah satu keluarga dari ibu.
"Silahkan duduk, Dek!" ucap Dokter tersebut, sambil tersenyum.
Sebenarnya, Aku sangat takut dengan penjelasan yang akan disampaikan oleh dokter yang baru saja memeriksa keadaan ibu. Sementara itu, aku melihat buku yang masih terduduk disebelahku, dengan tatapan kosong.
"Bagaimana, dok?" tanya ku, yang memberanikan diri untuk memastikan keadaan ibuku.
"Baik. Begini, dek. Saya tidak bisa memastikan seratus persen, tentang kondisi dan keadaan Ibu Tania saat ini. Namun, saya hanya bisa memberi saran, jika ada baiknya Ibu Tania dibawa ke psikiater terlebih dahulu. Hanya untuk memastikan kondisinya saja saat ini. Karena itu, saya akan memberi surat rujukan untuk Ibu Tania, agar beliau bisa segera dibawa dan diperiksa oleh tenaga medis yang ahli dalam pemeriksaan kejiwaan." Jawab dokter tersebut, membuat pikiranku semakin tak menentu.
"Jadi, benar kalo ibu saya sakit jiwa, dok?" tanyaku kembali.
__ADS_1
"Maka dari itu, saya beri surat rujukan agar Ibu Tania bisa mendapat kepastian tentang kondisinya saat ini. Semoga, tidak ada yang mengganggu kejiwaannya." sahut Dokter tersebut, yang terlihat enggan mengakui jika ibuku benar-benar sakit jiwa.
"Baik, Dok. Terimakasih banyak." Ucapku, yang lantas berdiri dan menuntun ibu untuk keluar dari ruangan tersebut. Sementara itu, dokter pun hanya tersenyum dan berusaha membantu kami untuk keluar dari ruangannya tersebut.
Setelah kembali dari ruang pemeriksaan, Pak Rt dan beberapa warga yang menunggu pun melihat kami berjalan menghampiri mereka. Sehingga, dengan cepat pula mereka beranjak dan menghampiriku.
"Gimana, Ra? Apa kata Dokter?" tanya Pak RT begitu penasaran.
Aku pun hanya terdiam, sambil memberikan surat rujukan yang terbungkus amplop berwarna putih kepadanya.
"Apa ini, Ra?" tanyanya, lagi. Yang kali ini terlihat begitu bingung.
"Tadi, dokter gak bisa pastiin gimana kondisi ibu saya, Pak. Beliau cuma bisa kasih surat rujukan, supaya ibu bisa langsung di tangani sama ahlinya. Tapi..." jawabku, yang ragu untuk meneruskan ucapanku.
Rupanya, ucapakanku barusan cukup membuat mereka sedikit bingung dan bertanya-tanya. Namun, aku juga malu untuk berterus terang kepada mereka. Hingga aku hanya bisa terus terdiam dan menunduk.
"Ra!" panggil Pak Rt, yang membuatku sedikit mengangkat kepalaku.
"Ada apa? Terus teranglah! Jangan sungkan!" ucapnya, lagi. Seraya menepuk bahuku.
"Gak! Gak apa-apa kok, Pak. Sa-saya... Saya, cuma gak mau merepotkan bapak, dan semua warga yang ada di sini. Sebelumnya, saya sangat berterimakasih atas bantuan bapak, dan juga bapak-bapak ini. Tapi, saya juga gak tahu lagi harus gimana, Pak. Pengobatan ini sepertinya cukup memakan biaya. Jadi, untuk sekarang lebih baik saya bawa ibu saya untuk kembali dulu ke rumah. Nanti, kalo memang saya udah punya biaya sendiri, saya boleh kan, Pak, minta bantuan lagi ke Bapak, dan warga semuanya?" ucapku, sedikit menahan rasa malu.
"Pasti! Tentu saja boleh, Ra. Tapi, saya harap, Nadhira dan ibu bisa berkenan untuk menerima sedikit bantuan dari kami, ya." sahut Pak RT, sambil menyodorkan sebuah amplop panjang berwarna coklat."
"I-ini, ini apa, Pak?" tanyaku, kebingungan.
"Sedikit rezeky dan bantuan dari para warga. Mungkin gak seberapa, tapi kami harap dengan uang itu, ibu kamu bisa mendapat sedikit pengobatan." jawab Pak Rt, sambil tersenyum.
"Ya Allah, Pak. Terimakasih banyak. Nadhira bener-bener gak tahu, harus dengan cara apa, Nadhira membalas kebaikan bapak dan para warga semua. Terimakasih, Pak! Terimakasih!" sahutku, seraya tak sadar jika air mataku lantas begitu saja menetes.
Tak lama kemudian, kami pun bergegas kembali untuk segera pulang. Namun, ketika di tengah perjalan pulang, tiba-tiba saja ibu kembali mengamuk.
Hingga akhirnya, mobil yang kami tumpangi pun lantas berhenti. Kemudian, ibu memaksa untuk segera membuka pintu mobil tersebut. Yang akhirnya, kami pun menuruti keinginannya.
Ibu terlihat terburu-buru menungguku membukakan pintu mobil, hingga ketika aku berhasil membukanya, ia pun dengan cepat turun dan berlari menyebrang jalan. Hingga tak ada satu pun dari kami yang mampu menahannya. Saat itu juga, kami bermaksud dengan cepat menyusul Ibu.
Namun,
__ADS_1
"Brruuugggggg!"
Suara itu mengejutkan kami.